Ada dua cerita yang insya Allah bisa diambil hikmah darinya. Dua cerita ini di masa putra saya masih di kandungan ibunya. Pernah kami kisahkan di suatu majelis Fawaidul Fawaid. Ada baiknya insya Allah kami ceritakan di sini pula.

Di masa itu, saya sedang banyak pikiran. Manusiawi sangat. Namun masa-masa itu, memang sedang ekstrimnya. Selasa siang, saya mengisi majelis Riyadhush Shalihin bersama rekan-rekan kantor; yang merupakan program rutinan kami. Saya bacakan dan jelaskan hadits no. 65, yang masya Allah, memang pas dengan suasana hati. Boleh saya ceritakan sedikit.

Hadits tersebut menceritakan 3 orang. Satunya berkulit belang/buruk, satunya lagi si botak, dan terakhir si buta. Mereka dari kalangan Bani Israel. Zaman dulu. Kemudian, Allah hendak menguji mereka satu persatu. Dikirimlah malaikat dengan berwujudkan manusia normal orang asing. Pertama, mendatangi si belang. Curhatlah si belang. Saat ditanya, “Apa yang selama ini kamu dambakan?” Si belang berharap kulitnya mulus bagus sampai disukai orang. Lalu orang asing itu mengelusnya dan mulus baguslah. Saat ditanya harta apa yang disuka, ia menjawab, “Unta!” Maka dirizkikanlah unta sampai beternak hingga ia kaya dengannya.

Di kesempatan berikutnya, orang asing tersebut (malaikat) mendatangi si botak. Curhat. Dia kepingin rambut bagus. Dioles oleh orang asing itu sampai bagus. Saat ditanya tentang harta paling disukai, dia jawab sapi. Lalu dirizkikanlah sapi bunting sampai kemudian beranak pinak dan dia kaya dengannya.

Di kesempatan terakhir, orang asing tersebut mendatangi si buta. Saat ditanya apa harapannya, ia berharap Allah mengembalikan pandangannya sehingga dia bisa melihat. Ia diusap dan bisa melihat -dengan izin Allah-. Saat ditanya tentang harta yang paling disukai, dia jawab kambing. Lalu dirizkikanlah kambing bunting sampai kemudian beranak pinak dan dia kaya dengannya.

Setelah mereka bertiga kaya di kekayaan masing-masing, Allah kembali mengutus malaikat untuk menguji mereka. Kali ini malaikat itu berwujud orang kere miskin kesulitan. Dimulai dari meminta bantuan pada mantan orang belang. Ditolak. Sombong. Kemudian meminta bantuan pada mantan botak, lebih-lebih. Maka datanglah ia ke mantan buta. Dia mendengar curhatan orang asing itu, “Safar jauh, perbekalan habis dan tak punya apa-apa lagi.” Apa kata sang mantan buta?

قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصري، فَخُذْ مَا شِئْتَ وَدعْ مَا شِئْتَ

“Dahulu saya hanyalah seorang buta, lalu Allah kembalikan penglihatan saya. Maka sekarang kamu ambillah apa yang kamu mau, dan sisakan semau kamu.”

Maka malaikat berwujud orang kesulitan itu pun berkata:

أَمْسِكْ مالَكَ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رضيَ اللَّهُ عنك، وَسَخَطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ

“Tahan punyamu. Sesungguhnya kalian semua hanyalah diuji. Allah telah meridhaimu, dan murka pada kedua temanmu.”

Begitulah kiranya haditsnya.

Hati terasa bergetar menghangat. Namun masih ada sesuatu yang tidak enak di sana. Walau ada haru tangisan di batin karena hadits di atas, tapi belum tersembuhkan sempurna. Ada diri saya membatin, ‘Ya Allah, bagaimana ya kalau saya seperti orang buta itu?” Terenyuh.

*****

Perjalanan pulang kerja. Adzan Isya. Saya menambatkan diri di suatu masjid daerah Cibubur. Shalat di sana. Meminta pada Allah sesuatu yang bisa menghangatkan kembali diri sendiri. Hingga akhir penghujung shalat sunnah ba’diyah, saya ucapkan doa “Allahumma a’inni ala dzikrika (sampai akhir)” dengan harapan tinggi. Selesai shalat, bawa tas, lalu jalan keluar.

Menuruni tangga, saya merasa seseorang berjalan di belakang. Tapi seperti ada sesuatu di hati. Merasa sepertinya dia mau bicara sama saya. Ah, hanya perasaan. Tapi setelah sampai di ujung tangga, orang itu dari belakang ucapkan salam. Assalamualaikum….

Saya menoleh dan membalikkan tubuh. Menjawab dengan senyuman normal. Dalam hati, seperti merasa firasat telah benar. Saat itu masih hanya merasa: ‘Ah, paling anak ngaji yang memang kalau melihat ada ikhwan jenggotan/cingkrangan di masjid umum rasanya mau kenalan’. Saya merasa begitu. Kita pun ngobrol.

Dia bapak-bapak. Berkulit kurang coklat (artinya: hitam). Logatnya sangat medok Jawa Tengah tapi bukan ngapak. Semakin lama ngobrol, semakin saya tahu orang ini tidak terurus. Dia cingkrangan juga. Lalu saya ajak duduk saja di tepian. Kita ngobrol lagi. Tidak ada kesan dia penipu atau tukang bohong. Saya 6 tahun tinggal di Jawa Tengah, tahu persis. Malah sangat terkesan polos dan mudah ditipu. Sendalnya sendal jepit. Aroma tubuhnya tidak wangi.

Saya mulai penasaran. Ternyata dia rutin ngaji di kotanya. Lalu mulailah disebut nama-nama ustadz. Saya introgasi, ternyata dia musafir, mencari rumah saudaranya tapi tidak tahu alamatnya. Sudah 3 hari jalan kaki kemana-mana daerah Cibubur. Saking lugunya. Dia mau cari jalan ke terminal. Jalan kaki! Mau pulang ke kota XXX di Jateng. Saya tanya punya ongkos berapa. Ternyata tidak punya uang. Jawabannya pun sangat membuat saya yakin orang ini benar-benar lugu.

Tanpa pikir panjang, saya berdiri merogoh kantong celana dan baju. Cari uang. Alhamdulillah, saat itu bawa uang sekian. Saya kasih langsung sesuai normal harga bis ke kota XXX kelas eksekutif. Dia yang polosnya langsung ambil saja sambil bingung. Bingung antara senang dengan heran. Lalu dia tanya nama saya siapa. Saya jawab. Selama ngobrol memang belum kenalan. Dia lalu bertanya tentang 2 ustadz besar di Jakarta dan Bogor ini. Saya bilang saya tahu mereka berdua -hafizhahumallah-. Pria ini kaget ala ndeso kejawen (saya ga bisa deskripsikan raut mukanya). Dia nanya lagi tentang ustadz-ustadz. Dan saya bilang bahwa beliau berdua teman ayah saya juga. Ternyata dia kenal ayah kami.

Kegirangan dari mukanya sangat polos. Tidak mungkin dia ini penipu. Yang mungkin: malah kayaknya dia rentan ditipu kalau di Jakarta gini. Saya sebenarnya ingin juga antar dia ke terminal, namun istri menunggu di rumah dan cukup capek kerja tadi. Saya pun pamit sebentar mau ambil motor di parkiran di balik tembok. Di mempersilahkan dengan logat jawanya.

Baru beberapa detik kemudian, saya sudah di lokasi semula dengan motor. Karena jarak lokasi tadi dengan motor parkiran cuma 5-7 meter. Sebentar. Saya sudah tidak melihat ada siapa-siapa lagi. Celingak-celinguk ke sana ke mari, tidak ada siapa-siapa. Ya Allah…siapa dia? Allah…saya langsung teringat kisah hadits yang saya sampaikan tadi siang. Allah….

Pulang ke rumah terasa lebih hangat. Ada mungkin butir-butir air di balik kaca yang menemani saya setiap hari untuk membaca buku….tidak lepas dari rasa di hati.

**********

Esoknya (Rabu), saya kembali diserang perasaan berkecamuk. Kerja selesai. Pulang. Kembali, saya sempatkan Isya shalat di masjid kemarin. Kondisi batin saat memarkir masih seperti kondisi kemarin saat memarkir. Sama-sama sendu batin.

Shalat berjama’ah. Kali ini agak lebih lama di dalam. Di akhir shalat ba’diyah, saya memohon kepada Allah lagi. Juga memohon supaya berikan saya momentum lagi agar hati saya lebih tenang dan menghangat. Beranjak keluar, di dalam masjid sudah kosong. Tinggal saya. Keluar.

Turun tangga. Saya teringat kejadian semalam.

Ternyata…

Di tempat saya kemarin ajak pria hitam itu duduk, ada nenek-nenek….

Tukang pecel. Sedang jualan. Digelantarkan di sana. Wah, lotek nih, pikir saya. Dulu waktu saya masih di pesantren, saya suka banget sama lotek (pecel). Pesan satu. Ternyata bukan nenek-nenek. Melainkan wanita seusia 35an tapi karena mungkin kebanyakan di jalanan Jakarta jadinya lusuh banget dan kelihatan tua.

Ternyata loteknya sangat tidak enak. Kangkungnya rasa karet. Sambelnya kepedesan dan tidak cocok. Tapi saya tidak mau mengutarakannya. Malah saya ajak ngobrol. Saya lupa beliau darimana. Lalu saya pancing beliau untuk cerita kegiatannya. Masya Allah. Beliau mencari nafkah dari pagi. Pagi beliau rupanya jualan jamu gendong. Lalu sore beliau jualan pecel sampai malam. Dan penghasilan beliau 25.000 per hari. Seingat saya begitu. Terenyuh. Beliau punya anak di kampung, kalau tidak salah 3. Sekolah semua. Suaminya di kampung urus sawah. Ya Allah…

Seketika, kami agak akraban.

Saya menyerah. Tidak bisa meneruskan makan pecelnya. Alasannya sambalnya pedes. Dia siapkan plastik buat bungkus sisa makanan saya supaya bisa saya makan lagi di rumah. Tapi saya menolak.

Sesi pembayaran. Karena tidak tega mendengar ceritanya (padahal beliau bercerita tidak sama sekali karena ingin dikasihani), saya kasih uang bernominal lipatan-lipatan dari penghasilan beliau. Beliau senang sekali. Senang sekali. Saya juga tiba-tiba jadi senang. Beliau tersenyum bahagia.

Sampai dengan semangatnya (sambil medok logat Jawa), beliau berkata: “Mas’e mau didoakan apa sama saya??? Hayo, mau didoakan apa???”

Saya senyum. Saya minta didoakan, “Moga istri saya sehat dan anak saya terlahir selamat nantinya.”

Didoakan.

“Mau laki-laki atau perempuan? Eh, anak ke berapa toh?”

“Pertama, Bu.”

“Woooah, pertama toh. Mesti pinginnya anaknya laki-laki. Iya, toh?”

“Iya, Bu.”

Didoakan.

Dan memang, sejak lama saya memohon pada Allah agar anak pertama ini adalah laki-laki. Nama telah disiapkan. Harapan telah dibaitkan.

Saya pamit ambil motor. Mau pulang. Saya melihat setelah saya naik motor, beliau sudah beberes barang-barang. Tampak beliau senang sekali.

Dan suasana hati saya saat itu berubah. Senang sekali.

************

Bahwa di kelahiran putraku ini, banyak cerita dan sejarah, yang jika dipikirkan, satu sama lain saling bersambungan dan saling mendukung. Yang tadinya berawal dari peranjatnya diri melihat sebuah kitab milik ibu di gudang rumah dengan tulisan tangannya tahun 70an, sampai kemudian putraku kini…

…kadang abahnya membacakan surat-surat dari kalam Rabbnya, dan Shahih al-Bukhary di sampingnya, atau saat menggendongnya.

Harapan itu begitu tinggi, namun yang memberikan yang terbaik hanyalah Ilahi Robbi.

Pesan:

Jika Anda sedang bingung dan sedih, bersedekahlah. Sedekah itu, mendekatkan diri kepada Allah, dan juga makhluk Allah.

#kifayatul_akhyar
#kafi_alakhyar

By: Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.633 kali, 1 untuk hari ini)