Penulis:
Al-Ustadz Drs. A. Subki Saiman, MA.
DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM
Pendiri & Pengkaji Ahli Lembaga Kajian Strategis Al-Maqashid Syariah & Lisan Hal

Jika didapati suatu teks ajaran agama namun bertentangan dengan ajaran Syi’ah, maka menurut doktrin Syi’ah, pada hakikatnya bukan ajaran Islam karena tidak melalui jalur Imam Ahlul Bait. Kalau pun ada persamaan antara Syi’ah dengan Sunni, maka tetap berlaku hukum superioritas, maksudnya kesamaan itu tidak bermakna bahwa ajaran Sunni termasuk kateori yang selamat, tetap berlaku sesat, terkecuali kaum Sunni mengakui ajaran Syi’ah dan meninggalkan ajaran Sunni. Siapa saja yang tidak mengakui Imam Syi’ah adalah “kafir”. Sedangkan “Doktrin Iblis” yang dimaksudkan disini adalah suatu paham yang bertujuan untuk menghapus ajaran Islam yang murni. Terkait dengan doktrin Imamah dengan penerimaan total atas ajaran Syi’ah “tanpa syarat”, telah menjadikan dikotomi antara Syi’ah dengan Sunni. Secara tidak langsung Syi’ah, ingin menghapuskan ajaran Sunni karena dianggap sesat. Di sinilah letak persamaan antara “Doktrin Imamah” dengan “Doktrin Iblis”.

Kita ketahui dan tidak diragukan lagi bahwa Imamah dalam ajaran Syi’ah penuh dengan kedustaaan dan banyak melahirkan perpecahan baik di antara masing-masing penganutnya, apalagi dengan kaum Sunni. Imamah yang menisbatkan ajaran Syi’ah kepada Ahlul Bait adalah suatu kebohongan besar dalam sejarah peradaban manusia. Mereka di satu sisi menisbatkan ajaran Syi’ah kepada Ahlul Bait dengan propaganda sebagai pecinta, pendukung dan pembela, namun di sisi lain mendiskualifikasikan ajaran Sunni. Syi’ah tidak menerima ajaran Islam yang disampaikan melalui jalur (transmisi) para sahabat Nabi dan ummul mukminin, Syi’ah hanya menerima transmisi ajaran hanya melalui Ahlul Bait. Padahal dalam transmisi ajaran Syi’ah telah banyak mengalami perubahan yang cenderung membawa pengikutnya kepada kesesatan yang nyata. Terdapat faktor yang sangat berpengaruh dalam kesesatan Syi’ah dan sekaligus titik tolak perpisahannya dengan Islam yakni Imamah itu sendiri. Dapat dikatakan Imamah merupakan faktor elementer dari semua ajaran Syi’ah.

Bermula dari pemahaman Syi’ah terhadap suksesor Nabi Muhammad, klaim nash dan wasiat (testament) atas kepemimpinan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai suksesor telah membentuk penolakan secara total terhadap kekhalifahan Syaidina Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian terus berlanjut kepada Syaidina Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan. Konsekuensi logis dari penolakan tersebut telah pula menimbulkan beragamnya perbedaan, seperti meyakini adanya perubahan terhadap al-Qur’an (Tahriful Qur’an) penolakan periwayatan hadits dari jalur sahabat Nabi dan ummul mukminin, yang berujung kepada mengkafirkannya (Takhfirus Shahabah dan Ummul Mukminin). Selain itu, juga terdapat faktor pendorong yang menjadi lokomotif kesesatan Syi’ah, yakni faktor religio-kultural, seperti “Ritual Karbala” dan “Idhul Ghadir”.Perilaku menyakiti diri sendiri dalam memperingati hari Syahidnya Sayyidina Husain bin Ali – terbunuh oleh tentara Ibnu Ziyad di Karbala – dibarengi dengan ritual melaknat para Sahabat Nabi, atas kelakuan itu mereka sangat yakin akan mendapatkan pahala yang sangat besar dari Allah .

Adapun Idhul Ghadir – hari raya kaum Syiah – yang dirayakan setiap tanggal 18 Dzulhijjah dimaksudkan untuk memproklamasikan kembali Khutbah Nabi SAW menyangkut deklarasi pengangkatan Syaidina Ali bin Abi Thalib. Namun, sejatinya mereka merayakan hari terbunuhnya khalifah Syaidina Utsman bin Affan ra yang terbunuh oleh makar pendiri Syi’ah, Abdullah bin Saba, oleh karena makar yang menyebabkan khalifah ketiga terbunuh pada tanggal yang sama. Dari pokok masalah Imamah itulh yang menyebabkan terjadinya penyimpangan ajaran agama. Perbedaan transmisi ajaran agama antara Sunni dengan Syiah yang dilatarbelakangi oleh klaim Imamah dapat dilihat dari bagan di bawah ini.

Doktrin Imamah Syiah Adalah Doktrin Iblis
Dari bagan tersebut di atas, menegaskan perbedaan mencolok kedua belah pihak, yakni menyangkut dua sumber hukum Islam, al-Qur’an dan al-Hadits. Perbedaan itu disebabkan penolakan Syi’ah terhadap al-Qur’an (mushaf Utsmani) dan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat dan isteri Nabi Muhammad. Penolakan itu terjadi karena para sahabat dianggap telah menghianati nash dan wasiat Nabi Muhammad tentang hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan kesebelas keturunannya. Penolakan Syiah terhadap para sahabat berimplikasi pula kepada isteri-isteri Nabi Muhammad, oleh karena istri-isteri Nabi merupakan puteri para sahabat Nabi Muhammad .

Transmisi ajaran agama yang berbeda ini tidak mungkin dapat ditemukan persamaannya dalam bentuk pendekatan (taqrib) antar kedua belah pihak. Keduanya saling menegasikan, dan berlangsung secara terus-menerus, sejak masa dahulu hinga saat ini. Berbagai buku-buku yang diterbitkan oleh kalangan Syi’ah saat ini merupakan duplikasi kitab-kitab Syi’ah pada masa lampau yang mengacu kepada 4 (empat) kitab hadits mereka. Oleh karena itu, dalam kepentingan dakwah Syi’ah, senantiasa mengacu keempat kitab hadits Syi’ah. Kesimpulannya tidak mungkin Sunni dan Syi’ah bergandengan tangan! Kalau pun ada segelintir tokoh Sunni yang “bergandengan tangan”, penulis berpendapat mereka tergolong “Syi’ah Relasional”, maksudnya antara dirinya dengan penganut Syi’ah terdapat hubungan simbiosis mutualistik, yang mengandung aspek perikatan tertentu, seperti kerjasama penerbitan karya buku, menjadi pengajar pada institusi pendidikan Syi’ah, pemberian bantuan keuangan dan beragam fasilitas dari kalangan Syi’ah dan lain-lainnya.

voa-islam.com , Selasa, 29 Syawwal 1435 H / 26 Agutus 2014 05:28 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.150 kali, 1 untuk hari ini)