Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kalau tidak hati-hati, jari-jari dan jempol kita akan membuahkan dosa-dosa tanpa terasa, akibatnya menumpuk dosa-dosa. Misal menulis- nulis atau menggambar-gambar apapun, ketika menjadikan Allah murka, maka tentu saja berdosa. Atau mengandung muatan yang tidak sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, maka berdosa. Bahkan sekadar me-like (tanda jempol kalau di fb) sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan Allah, maka berdosa. Padahal, entah berapa kali itu dilakukan setiap hari.

Demikian pula, sekadar men-dislike (gambar jempol ke arah bawah), kalau itu terhadap tuntunan Allah atau nasihat baik yang sesuai dengan tuntunan Allah dan hal semacamnya, maka (men-dislike itu) akan berdosa pula. Karena telah mengekspresikan ketidak sukaannya terhadap hal yang diridhai Allah Ta’ala. Lebih celaka lagi, ketika tidak sukanya itu lantaran hal-hal yang dilakukan oleh kelompoknya ternyata tidak sesuai syari’at, lalu ada yang menulis nasihat untuknya, kemudian dilecehkan, misalnya dengan komentar: preeeett!!! Itu tentu berdosa.  Bahkan akan mendapatkan bonus/ tambahan dosa dari orang-orang yang mengikutinya, tanpa berkurang dari dosa mereka.

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (Hadits shahih riwayat Muslim NO – 1691).

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun. (Hadits shahih riwayat Muslim NO – 4830).

Semua itu dicatat oleh malaikat, hingga mesti akan dimintai pertanggung jawabannya di akherat kelak.

Hati hati Berkomentar di FB dan Sebagainya

sosial Media

Kita perlu hati-hati dalam berbicara dan berbuat. Walaupun hanya menulis-nulis status di facebook atau sekadar berkomentar, tetap saja akan menjadi catatan amal. Entah itu baik ataupun buruk.

{مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ } [ق: 18]

”Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).

Kelak di akherat, anggota badan manusia akan jadi saksi dalam pertanggungan jawab perbuatannya.

{يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [النور: 24]

”Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al-Nur: 24).

Semua perbuatan manusia di dunia ini akan dipertanggung jawabkan oleh masing-masing di akherat kelak. Termasuk menulis-nulis komentar di fp atau laman-laman jejaring social, menyebarkan pesan singkat sms  bbm dan sebagainya, termasuk sharing ini dan itu lewat berbagai alat. Itu juga akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di Akherat. Maka marilah kita berhati-hati agar selamat. Karena Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Israa’/ 17: 36).

Peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun cukup tegas dan jelas:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“Bisa jadi seseorang mengatakan satu patah kata yang menurutnya tidak apa-apa tapi dengan kalimat itu ia jatuh ke neraka selama tujuhpuluh tahun.” Berkata Abu Isa: hadits ini hasan gharib melalui sanad ini. (HR At-Tirmidzi No 2236)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sungguh seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak memperdulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR Al-Bukhari No. 5997).

Perkataan dan sikap pun dapat mengakibatkan terlaknat bila mengorbankan agama (Islam) demi kepentingan dunianya atau cenderung kepada kekafiran atau mendorongnya, bahkan diam terhadap berlangsungnya kemunkaran pun termasuk dilaknat.

Orang yang berbasa basi kepada kekafiran, kemunkaran, kemaksiatan dan sebagainya dengan mengorbakan agamanya itu disebut mudahin (penjilat). Sikapnya disebut mudahanah.

Sikap mudahanah (berbasa basi namun sampai mengorbankan agamanya) itu tidak mau mengingkari orang-orang yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya (untuk mengingkari itu). Bahkan sebaliknya ia menyerah kepada mereka (yang melakukan atau menyebarkan kemunkaran) dan berbaik-baik  kepada mereka. Hal itu berarti tidak lagi menggubris cinta karena Allah dan benci karena Allah. Yang dicintai oleh Allah tidak dicintainya, sedang yang dibenci oleh Allah tidak dibencinya. Bahkan ia makin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak yang jelas dibenci oleh Allah. Maka orang yang penjilat atau (mudahin) seperti ini termasuk dalam firman Allah :

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ} [المائدة: 78 – 80]

 “Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. “ (Al-Maidah : 78 s.d. 80).

Sekali lagi, mari kita berhati-hati. Apalagi misalnya sampai membela pendapat NU yang membolehkan lokalisasi pelacuran dan praktek zina di dalamnya, maka betapa bahayanya. (Lihat situs resmi NU http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,49730-lang,id-c,syariah-t,Dasar+Hukum+yang+Membolehkan+Lokalisasi-.phpx). (Sekarang masih bisa dibuka di link ini: http://archive.is/6MuPQ#selection-359.0-1717.391

Berjudul Syariah 

Dasar Hukum Lokalisasi

 Itu semua akan dipertanggung jawabkan di akherat kelak, walau sekadar menulis komen yang sangat singkat. Betapa celakanya. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari No. 5997 itu.

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak memperdulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka jahannam.” (HR Al-Bukhari No. 5997).

Wassalam.

Ilustrasi/ foto faqada-kedavra

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.828 kali, 4 untuk hari ini)