January 08, 2015

 

Atjehcyber.com – Sungguh sangat luar biasa proses pemurtadan dan pendangkalan aqidah di Aceh yang sangat terasa dan sudah terjadi sejak tahun 2004 secara pelan-pelan, sehingga belakangan ini banyak ajaran sesat dan pemurtadan terjadi di Aceh, penyebarannya dalam berbagai bentuk, termasuk yang baru-baru ini yang dijalanksn oleh Rosnida Sari. Baca: (Mahasiswi Berjilbab Belajar Kesetaraan Perempuan di Gereja Banda Aceh)

Rosnida Sari adalah salah satu dosen di UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga lulusan Universitas Flinders, Australia Selatan. Praktek pemurtadan yang dilakukan oleh Rosnidar mengajarkan puluhan mahasiswi UIN Ar-Raniry Banda Aceh secara langsung di gereja Banda Aceh dalam tema “Study Gender Dalam Islam”. Kemudian, kegiatan tersebut dimuat di media Australia Plus. Baca: (Dr A Rani Usman MSi: Rosnida Sari Abaikan Manajemen Pengelolaan Akademik)

Di sisi lain, Rosnidar mengatakan bahwa seluruh upaya yang dilaksanakannya itu sebagai jembatan untuk perdamaian, ini merupakan satu bahasa yang sangat menyudutkan Islam. Islam ini sudah jelas sebagai agama yang damai dan rahmatal lil’alamin, jadi Rosnidar jangan menjual anak-anak Aceh untuk kepentingan misi pribadi. Ini sangat kita kutuk tegas Suadi SUlaiman yang sekarang berjabat sebagai Jubir DPA Partai Aceh, melalui pers rilisnya kepada AJNN, Rabu (07/1). Baca: (Soal Kuliah ke Gereja, Rosnida Sari belum Mau Berkomentar)

“Pemerintah Aceh dan DPRA harus segera memanggil Rosnidar untuk dimintai pertanggungjawaban atas kegiatannya, selain yang bersangkutan juga harus dipanggil Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kegiatan ini bertentangan dengan Fatwa MPU Aceh Nomor 05 Tahun 2010 tentang Pendangkalan Aqidah dan Pemurtadan serta Fatwa MPU Aceh Nomor 08 Tahun 2012 tentang Pemahaman, Pemikiran dan Pengamalan yang menyimpang dari Islam,” pintanya. Baca: (UIN Jatuhi Sanksi pada Dosen Pembawa Mahasiswi ke Gereja)

Kemudia tambahnya, Pemerintah Aceh dan DPRA jangan diam terhadap apa yang dilakukan oleh Rosnidar, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh harus unjuk gigi dalam memberantas upaya-upaya seperti ini, yang berakhir pada upaya pemurtadan dan pendangkalan aqidah di Aceh, kalau ini tidak mampu dilakukan letakan saja jabatannya.

“Terutama, Dinas Syariat Islam wajib berperan aktif dalam hal ini, sebgamai tugas dan tanggungjawab yang sudah diembankan kepada instansi itu. Begitu juga pihak-pihak yang memangku kepentingan lainya,” ujarnya

lanjut Suadi, Banyaknya orang Aceh yang murtad diakibatkan oleh tidak pekanya Dinas Syariat Islam di Aceh dalam melahirkan kader-kader Aceh yang Islami dan Qurani, selama ini Dinas Syariat Islam hanya terpaku pada hal seremonial biasa.

Di sisi lain, Kepala Pemerintahan Aceh saat menempatkan Kepala Dinas Syariat Islam, harus benar-benar melihat latar belakangnya yang sesuai dengan faham, islam dan iman rakyat Aceh.

“Kapasitas seseorang itu tidak hanya ditentukan oleh sandangan gelar, tapi lebih kepada loyalisnya kepada apa yang diembannya, tak ubahnya ‘bek tajue meu-doa bak si bangsat, bek tajue beut kitan bak si buta’ (jangan kita suruh berdoa pada orang bangsat, jangan suruh baca kitab pada orang buta)”. Tuturnya.

 

 

 

***  

Aksi Rosnida Sari di Gereja Gemparkan UIN Ar-Raniry

Foto Australiaplus

Mahasiswa Rosnida Sari sedang mengikuti penjelasan dari seorang pastur di gereja di Banda Aceh.UIN Ar-Raniry Banda Aceh digegerkan oleh Dosen  tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Rosnida Sari, yang mengajak mahasiswanya ke salah satu gereja di Banda Aceh. Tujuannya, mahasiswa bisa mendengarkan langsung bagaimana relasi antara laki-laki dan perempuan pada agama selain Islam.

Aksi wanita jebolan Universitas Flinders, Australia Selatan, tercium setelah tulisan tentang perjalanannya ke gereja bersama mahasiswa ini dimuat media di Australia, australiaplus.com. Tulisan dosen yang mengajar ‘Study Gender Dalam Islam’ ini kemudian dikutip dan diposting oleh beberapa media di Indonesia.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Ar-Raniry, Syamsul Rijal, kepada The Globe Journal, Selasa (6/1/2014) sangat menyayangkan bahwa kejadian ini menimpa universitas yang identik dengan ajaran Islam itu.

Menurutnya, Rosnida Sari tidak menghargai kearifan lokal di Aceh. Kendatipun ia berniat menjadi “jembatan” antara umat Kristiani dan muslim di Banda Aceh.

Dikutip dari Australiaplus.com, Rosnida mengatakan “Selain untuk tahu tentang relasi laki-laki dan perempuan di agama mereka (Kristen), saya juga ingin agar tidak ada ketidaknyamanan mahasiswa pada mereka yang beragama berbeda. Tujuannya tentu saja agar terjadi kesalingpahaman diantara mereka, menghilangkan prasangka yang sudah dibentuk oleh media (Koran dan TV) atau saat mendengar perbincangan orang lain”. 

Samsul Rijal menambahkan bahwa pihak UIN Ar-Raniry telah memanggil Rosnida pagi tadi untuk menanyakan perihal tersebut. Katanya, seluruh keputusan atas tindakan Rosnida bergantung kepada Dekan tempatnya mengajar. Hasilnya, baru diserahkan kepada Biro Rektorat UIN Ar-Raniry.

“Saat ini kita tidak tahu sudah ada hasil atau tidak (keputusan Dekan),”Katanya.

Apakah ada kekhawatiran tercemarnya nama baik UIN Ar-Raniry akibat kejadian ini? Syamsul enggan menjawabnya. “Coba lihat pada salah satu media lain. Statement saya sudah diposting juga di sana,” paparnya.

Rosnida Sari, dalam tulisannya ia mengaku bahwa dana kuliahnya di negeri kangguru itu berasal dari beasiswa yang ia terima dari Pemda Aceh pada tahun 2006. Beasiswa itu diberikan kepada dosen atau guru yang selamat dari musibah tsunami pada 2004 silam.

Tulisan Rosnida dapat dilihat pada couple berikut KLIK DISINI

Di postingan Australiaplus.com, foto Rosnida nampak melepaskan jilbab dan hanya dililitkan di leher.

Article source: “http://www.theglobejournal.com/Politik/aksi-rosnida-sari-di-gereja-gemparkan-uin-ar-raniry/index.php”

acehmail.com

 

UIN Jatuhi Sanksi pada Dosen Pembawa Mahasiswi ke Gereja

Rabu, 7 Januari 2015 15:06 WIB

BANDA ACEH – Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh segera menjatuhkan sanksi akademik kepada Rosnida Sari, dosen di fakultas itu yang membawa sejumlah mahasiswi ke sebuah gereja di Banda Aceh. Kasus yang menarik perhatian masyarakat ini, bermula dari tulisan milik dosen dakwah itu sendiri di situs australiplus.

Kunjungan ke gereja yang menjadi bagian dari mata kuliah Studi Gender dalam Islam itu, sebagaimana ditulis Rosnida Sari, sebagai bagian dari ‘jembatan perdamaian’ dan ‘pembawa damai’ untuk agama dan budaya yang berbeda ini.

Tulisan dengan judul asli “Belajar di Australia, Dosen IAIN Ajak Mahasiswa ke Gereja di Banda Aceh” itu telah menjadi perbincangan hangat di jejaring media sosial. Beragam komentar mencuat, mulai dari yang mendukung dan tak sedikit pula yang menyesalkan tindakan dosen tersebut.

Selain itu, tulisan yang dikutip sejumlah media online di Aceh ini, juga di-share atau dibagi kembali oleh ratusan akun pengguna sosial media di dalam dan luar negeri, sehingga gaungnya meluas.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Dr A Rani Usman MSi, kepada Serambi Selasa (6/1) kemarin mengatakan, pihaknya telah meminta klarifikasi dari dosen bersangkutan terkait kunjungan para mahasiswinya ke salah satu gereja di Banda Aceh sebagai bagian dari perkuliahan.

“Mohon maaf kepada masyarakat Aceh yang terganggu dengan persoalan ini dalam beberapa hari terakhir. Kami segera lakukan  tindakan akademik dan mengevaluasi kinerja dosen dengan mata kuliah yang diampunya tersebut,” katanya.

Ia tambahkan, tindakan dosen yang membawa mahasiswi studi ke salah satu gereja di Banda Aceh itu telah mengabaikan manajemen pengelolaan akademik di kampus Islam tersebut.

Selain itu, Rani Usman yang memberikan keterangan pers seusai memintai klarifikasi dari dosen pengampu mata kuliah Studi Gender dalam Islam itu, mengatakan Fakultas Dakwah akan mempertegas proses perizinan belajar lapangan bagi mahasiswa, terutama yang terkait dengan tempat-tempat yang dianggap sensitif bagi sosial budaya masyarakat Aceh.

Dalam kegiatan akademik, Rani Usman juga menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak rasis atau alergi dengan agama lain. Namun, dalam hal ini, menurut pria yang mahir berbahasa Mandarin ini, diperlukan pendekatan spesifik dan pendekatan akademik yang signifikan, sehingga tidak menimbulkan keresahan di masyarakat seperti yang terjadi saat ini.

“Untuk kajian akademik seperti ini, sebenarnya ada mekanismenya. Di fakultas lain, pada mata kuliah Perbandingan Agama, misalnya, malah dosennya resmi mengirim mahasiswa ke tempat tertentu. Tapi terlebih dulu dibekali dan itu kegiatan resmi akademik dan tak jadi persoalan,” ujarnya. (ari)/ http://aceh.tribunnews.com

***

Buku Pemurtadan Sudutkan Islam dan Nabi SAW, Teror Masyarakat Aceh

KIBLAT.NET, Jakarta – Orang tak dikenal menyebarkan buku-buku menyudutkan Nabi Muhammad SAW di Aceh. Sedikitnya ada lima buku yang diedarkan. Apa saja isinya?

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Aceh, Faisal Ali, mengatakan, ada lima jenis buku penyimpangan yang disebar ke warga di Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Bireun.

Buku dalam bentuk salinan disebar ke rumah-rumah warga, warung kopi, bahkan pesantren pada tengah malam, sehingga pelakunya belum diketahui. “Antara satu daerah dengan daerah lain bukunya beda-beda,” kata Faisal yang juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Rabu (3/12/2014).

Dari lima jenis buku yang kini diamankan NU dan MPU, jelas Faisal, di antaranya berjudul Yesus, Muhammad dan Saya, Sebutir Intan di Pengujung Alquran: ‘Menangkal Serangan Setan’, dan Jalan Menuju Surga.

“Isinya pemurtadan semua, menyerang Islam, menyudutkan nabi kita (Muhammad SAW), sangat disayangkan. Ini upaya pendangkalan akidah,” ujarnya.

Dalam buku tersebut disebutkan Nabi Muhammad SAW menikah 23 kali. Kemudian, ajaran yang dibawanya dituduh memperbolehkan tindakan terorisme.

“Ini jelas-jelas menyudutkan Nabi kita. Terorisme juga hal yang sangat bertentangan dengan Islam, sangat tidak benar apa yang ditulis buku itu,” kata Faisal.

Dalam tulisan lain, Alquran disebut bukanlah murni produk Tuhan. Alquran juga dikatakan telah memutarbalikkan fakta dari Alkitab. Kitab suci itu dinyatakan hanya untuk orang Arab, tak bisa digunakan untuk semua generasi, dan cacat sejarah.

Selanjutnya isi buku tersebut mengajak umat Islam meninggalkan ajaran-Nya dan beralih ke agama lain. “Ini jelas upaya pemurtadan,” terangnya.

Faisal meminta masyarakat yang menemukan buku tersebut untuk tak menyimpannya, karena dikhawatirkan memengaruhi pemahamannya jika tak kuat iman. “Serahkan saja kepada pihak terkait, baik polisi maupun ulama-ulama terdekat atau kepada MPU setempat,” ujarnya.

Kepolisian diminta segera mengusut kasus ini, sebab sangat meresahkan masyarakat. Jika dibiarkan, Faisal khawatir muncul kecurigaan berlebihan dari masyarakat sehingga dikhawatirkan mengganggu keamanan di Aceh.

Terlebih lagi dalam beberapa pekan ke depan, Aceh akan banyak dikunjungi wisatawan asing yang ingin menyaksikan refleksi 10 tahun tsunami. “Jangan sampai masyarakat mencurigai berlebihan orang-orang yang datang ke Aceh,” tutur Faisal.

Dia meminta masyarakat untuk tidak bersikap curiga berlebihan atau terlalu represif terkait beredarnya buku-buku pendangkalan akidah tersebut. “Curiga berlebihan kepada orang lain juga tidak baik dalam Islam. Tapi, kita tetap harus waspada,” pungkasnya.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam beredarnya buku yang menyudutkan Nabi Muhammad SAW serta ajakan untuk meninggalkan ajarannya di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat. Hal tersebut lantaran dinilai melanggar Penetapan Presiden Republik Indonesia Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama.

“Polisi harus mengusut secara tuntas siapa pelakunya,” ujar Ketua MUI, Amidhan Shaberah kepada Okezone, Rabu (o3/12).

Menurutnya, aksi tersebut sengaja dilakukan oleh pihak tertentu guna memprovokasi warga Aceh yang dikenal taat beragama. Terlebih Aceh merupakan suatu wilayah yang mendapatkan otonomi khusus untuk menerapkan ajaran Islam.

“Ya kan Aceh daerah yang mengawali penerapan syariat Islam,” imbuhnya.

 

Sumber: Okezone

Penulis: Qathrunnada

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.362 kali, 1 untuk hari ini)