SASIlustrasi/ usdllh

  • “Secara data apa yang dinyatakan oleh Kiai Said itu sudah memfitnah. Ironisnya, kesalahan data itu diulang-ulang  Kiai Said sejak awal menghembuskan isu tersebut beberapa tahun yang lalu,” kata Dr Ainul Haris kepada itoday, Senin (02/09) malam.
  • Data keduabelas yayasan yang disebut Said Aqil juga banyak yang salah. Di antaranya menyebut ketua yayasan al-Sofwa Maman Abdurrahman dan Farid Uqbah. “Padahal yang benar ketuanya adalah Abu Bakar Altway,” jelas Ainul Haris, yang 10 tahun silam aktif menulis di majalah Panji Masyarakat itu.

Ainul Haris mengajak semua pihak untuk berhati-hati dalam mengeluarkan statemen yang belum jelas dan tanpa klarifikasi. Apalagi menyangkut isu yang sangat sensitif, seperti isu terorisme dan wahabi. Ia mengajak semua pihak  untuk bersikap ilmiah, berbicara berdasarkan data dan mendudukkan setiap masalah secara benar.

Nasihat Doktor yang disertasinya tentang Wahabi

Khusus tentang Wahabi yang oleh sebagian kelompok dituding sebagai biang terorisme, Haris menegaskan itu semua tidak benar. Ainul Haris mengajak umat Islam untuk mempelajari ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari karya beliau sendiri, bukan berdasarkan kata orang yang cenderung membenci bahkan menfitnah.

Hal itu dikatakan Ainul Haris, karena ia telah melakukan penelitian doktoralnya tentang ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari berbagai sumber primer terutama karya Muhammad Ibn Abdul Wahhab yang berjumlah belasan jilid. Ia menegaskan, dari penelitiannya tersebut, ia tidak mendapati ada satu pun ajaran Ibn Abdul Wahhab yang menyimpang. Sebaliknya, puluhan ulama diberbagai belahan dunia menganggapnya sebagai mujaddid (pembaharu Islam).  Ainul Haris meulis penelitian doktoralnya dalam disertasi berjudul Pemikiran Muhammad Ibn Abdul Wahhab tentang Kenabian, dan berhasil dipertahankan di hadapan tujuh profesor di IAIN Surabaya hingga ia dinyatakan lulus doktor dengan predikat cumlaude .

Yang membantah Said Aqil Siradj bukan hanya Dr Ainul Haris, tapi ada juga yang sampai menyatakan Said Aqil Siradj munafik atas lontaran terhadap 12 yayasan salafi wahabi tanpa data dan fakta yang benar itu.

Inilah beritanya.

***

 Tuding 12 Yayasan Salafi Wahabi Cikal Bakal Teroris, Said Aqil Munafik

itoday – Pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj hanya didasarkan kebencian dengan menuding 12 yayasan Salafi Wahabi sebagai cikal bakal terorisme.

 Demikian dikatakan pengamat intelijen dan terorisme, Umar Abduh kepada itoday, Senin (26/0).

 Menurut Umar, pernyataan Said itu bukan didasarkan fakta dan data. “Itu pernyataan orang munafik tanpa dasar. Pemerintah saja tidak pernah merekomendasikan 12 yayasan itu sebagai cikal bakal teroris,” ungkap Umar.

 Kata Umar, laporan keuangan yayasan Salafai Wahabi di Indonesia sangat terkontrol dengan baik oleh Badan Intelijen Negara (BIN). “Justru dana NU yang tidak terkontrol, dana NU dari mana saja, proyek-proyek tidak jelas,” papar Umar.

 Umar mengatakan, dalam sejarahnya Salafi Wahabi yang ada di Indonesia itu tidak pernah memberontak di Indonesia. “Salafi Wahabi itu menghormati pemerintah dan tidak akan menjadi teroris. Mereka hanya keras persoalan kuburan, bid’ah, syirik dan khurafat,” jelas Umar.

 Selain itu, Umar juga mengkritik NU yang suka menjilat dengan pemerintah. “Tradisi NU itu tidak ada yang radikal, tetapi menjilat pemerintah atau penguasa,” papar Umar.

 Sebagaimana diberitakan sebelumnya, KH Said Aqil Siradj menuding 12 yayasan Salafi Wahabi yang ada di Indonesia menjadi cikal bakal terorisme.

 “12 yayasan Islam sebagai Salafi Wahabi, penebar benih radikal dan teror yang mengajarkan doktrin pengeboman di Indonesia,” kata Kiai Said, Kamis (22/08).

 Kata Kiai Said, salah satu yayasan Salafi Wahabi di Indonesia yang bisa menjadi cikal bakal teroris yaitu Yayasan Al-Fitroh, beralamat di Perumahan Galaxi Ruko 26-30, Jalan Arif Rahman Hakim, Surabaya. Yayasan ini diketuai Ainul Haris.

 Kiai Said melanjutkan di Jakarta juga ada, Yayasan Al-Sofwa di Lenteng Agung, Jakarta Selatan diketuai Maman Abdurrahman dan Farid Uqbah

 Kata Kiai Said, ajaran Salafi Wahabi juga ada di Jalan Kali Tanjung, Kecamatan Grahsan, Cirebon, Jawa Barat dibawah Yayasan As-Sunnah.

 Kiai Said menegaskan salafi Wahabi memang tak mengajarkan cara mengebom. Tapi mereka Islam radikal. Mereka menganggap ziarah kubur itu bid`ah dan menuduh warga NU kafir sehingga halal untuk dibunuh.

 “Ajaran mereka sedikit lagi jadi teroris. NU tegaskan tak terlibat terorisme. NU akan melawan dan siap di belakang Presiden bubarkan ormas radikal,” pungkas Kiai Said.

 Itoday.Co.Id

Monday, 26 August 2013 17:36 Achsin

***

Sebut Yayasan Nida’ul Fithrah Cikal Bakal Teroris, Said Aqil Sebar Fitnah

 itoday – Mantan Ketua Yayasan Nida’ul Fithrah, KH Ainul Haris menilai pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj tentang adanya 12 yayasan beraliran keras yang patut diwaspadai, sebagai pernyataan salah kaprah.

 “Secara data apa yang dinyatakan oleh Kiai Said itu sudah salah kaprah dan memfitnah. Ironisnya, kesalahan data itu diulang-ulang  Kiai Said sejak awal menghembuskan isu tersebut beberapa tahun yang lalu,” kata Ainul Haris kepada itoday, Senin (02/09) malam.

 Alumni Pesantren Gontor itu membantah pernyataan KH Said Aqil Siradj seusai melantik pengurus baru PWNU Jawa Timur.

 Saat itu, Said Aqil mengatakan pihaknya mensinyalir adanya 12 yayasan Salafi-Wahabi penebar benih radikal,  cikal bakal teroris di tanah air dan mengajarkan doktrin pengeboman di Indonesia. Di antaranya ia juga menyebut nama yayasan al-Fitroh, beralamat di Perumahan Galaxi Ruko 26-30, Jl, Arif Rahman Hakim, Surabaya yang diketuai oleh Ainul Haris.

 Lanjut Haris, nama yayasan tersebut adalah Yayasan Nida’ul Fithrah, beralamat di Ruko Galaxi Bumi Permai Blok G6-16 Jl, Arif Rahman Hakim No. 20-36 Surabaya. Haris juga menegaskan bahwa saat ini dirinya bukanlah Ketua Yayasan Nida’ul Fithrah. Ketua Yayasan Nida’ul Fithrah sekarang adalah Muhammad Nur Yasin.

 “Di awal meruyaknya isu terorisme, yayasan Nida’ul Fithrah termasuk salah satu yayasan yang getol mendakwahkan kepada masyarakat bahwa terorisme bukanlah ajaran Islam. Nida’ul Fithrah beberapa kali menyelenggarakan kajian dan ceramah umum, di antaranya di radio, membagikan buku-buku secara cuma-cuma  berisi fatwa ulama yang mengecam keras tindakan terorisme dan menegaskan bahwa terorisme bukanlah ajaran Islam,” papar Kiai Haris.

 Selain itu, lanjut dia, Nida’ul Fithrah juga membantu pemerintah membentengi anak-anak mahasiswa dari berbagai penyimpangan tersebut dengan mengelola Pondok Mahasiswa Thaibah Putra dan Putri. Santrinya adalah mahasiswa ITS, Unair, Unesa, dan berbagai perguruan tinggi swasta yang ada di Surabaya.  “Oleh karena itu, apa yang disampaikan Kiai Said adalah tuduhan yang tidak berdasar bahkan suatu fitnah,” tegas Haris.

 Ainul Haris mengajak semua pihak untuk berhati-hati dalam mengeluarkan statemen yang belum jelas dan tanpa klarifikasi. Apalagi menyangkut isu yang sangat sensitif, seperti isu terorisme dan wahabi. Ia mengajak semua pihak  untuk bersikap ilmiah, berbicara berdasarkan data dan mendudukkan setiap masalah secara benar.

 Khusus tentang Wahabi yang oleh sebagian kelompok dituding sebagai biang terorisme, Haris menegaskan itu semua tidak benar. Ainul Haris mengajak umat Islam untuk mempelajari ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari karya beliau sendiri, bukan berdasarkan kata orang yang cenderung membenci bahkan menfitnah.  

 Hal itu dikatakan Ainul Haris, karena ia telah melakukan penelitian doktoralnya tentang ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari berbagai sumber primer terutama karya Muhammad Ibn Abdul Wahhab yang berjumlah belasan jilid. Ia menegaskan, dari penelitiannya tersebut, ia tidak mendapati ada satu pun ajaran Ibn Abdu Wahhab yang menyimpang. sebaliknya, puluhan ulama diberbagai belahan dunia menganggapnya sebagai mujaddid (pembaharu Islam).  Ia mempertahankan penelitian doktoralnya tersebut di hadapan tujuh profesor di IAIN Surabaya dan ia dinyatakan lulus doktor dengan predikat cumlaude .

 Ainul Haris menegaskan, seharusnya kaum muslimin Indonesia, terutama para pemimpinnya berusaha keras mengajak umatnya memahami dan mendalami agamanya secara benar,  membangun pekerjaan-pekerjaan besar di berbagai bidang yang bermanfaat untuk umat dan berusaha untuk membangun kesatuan dan persatuan umat di atas kebenaran untuk mencapai kejayaannya, bukan dengan lontaran statemen-statemen yang tidak perlu bahkan destruktif,  sehingga merugikan berbagaik pihak, dan kaum muslimin secara umum.

 Menurut Haris yang menyelesaikan S-1nya di Fakultas Syari’ah LIPIA Jakarta, data keduabelas yayasan yang disebut Said Aqil juga banyak yang salah kaprah. Di antaranya menyebut ketua yayasan al-Sofwa Maman Abdurrahman dan Farid Uqbah. “Padahal yang benar ketuanya adalah Abu Bakar Altway,” jelas Ainul Haris, yang 10 tahun silam aktif menulis di majalah Panji Masyarakat itu.

 Yayasan Nida’ul Fithrah adalah yayasan resmi yang memiliki legalitas hukum dari Kemenkumham. Kegiatan Nida’ul Fithrah meliputi dakwah, sosial dan pendidikan. Dalam seluruh kegiatannya, Nida’ul Fithrah selalu meniti di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah  sebagaimana yang dipahami dan diteladankan oleh as Salafush Shalih yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

 Yayasan Nida’ul Fithrah kini membina ratusan masjid, pondok pesantren, perguruan tinggi, sekolah, majlis taklim, instansi pemerintah dan swasta di berbagai wilayah di Indonesia yang telah bekerjasama dengan yayasan di bidang dakwah, sosial dan pendidikan. Di antaranya pelatihan aqidah untuk guru-guru Pondok Modern Gontor, pelatihan da’i se-Kalimantan bekerjasama dengan Hidayatullah Pusat,  pelatihan para imam masjid  bekerjasama dengan masjid-masjid di lingkungan TNI AL Surabaya. Ainul Haris sampai saat ini juga tercatat sebagai penasihat Masjid Ibrahim bin Muhammad yang terletak di Kompleks Angkatan Laut Semolowaru Bahari, Surabaya.

 Dalam kegiatan sosial, Nida’ul Fithrah di antaranya pernah membagi-bagikan sembako untuk masyarakat tidak mampu di Bangkalan bekerjasama dengan TNI AL Surabaya dan Pemkab Bangkalan. Hadir dalam acara tersebut di antaranya Wakil Bupati Bangkalan, Ketua dan beberapa anggota DPRD Bangkalan, Kiai Alawi Muhammad dan beberapa pimpinan Pondok Pesantren di Madura.

 itoday.co.id, Monday, 02 September 2013 19:29 Achsin

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 4.548 kali, 1 untuk hari ini)