Jakarta (SI Online) – Merebaknya tuntutan kalangan liberal, agar perkawinan beda agama disahkan negara, pakar hukum Islam Dr Daud Rasyid menolaknya.

“Fungsi negara dalam Islam adalah menjaga agama dan menata dunia,” papar Daud saat memberikan Pengajian Politik Islam di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran, Ahad kemarin (14/9/2014).

Menurut Daud, memang dalam negara sekuler, negara membiarkan masalah agama rakyatnya. Tapi dalam Islam, negara ikut campur dalam mengatur agama rakyatnya.

“Menetapkan puasa Ramadhan dan Idul Fitri, menegakkan syariat dan sebagainya,”tegasnya. Ia juga menegaskan kepala negara atau khalifah harus senantiasa menjaga prinsip-prinsip Islam dalam menjalankan pemerintahannya.

Daud juga menyayangkan adanya pejabat-pejabat Muslim yang bila memerintah terlena dengan keduniaan dan lupa terhadap kewajiban agamanya.

“Sementara non Muslim bila menjadi pejabat, mereka melakukan pembelaan yang keras terhadap agamanya,”tegasnya.

Ia juga mengritik adanya upaya-upaya pemekaran-pemekaran daerah non Muslim menjadi wilayah tersendiri. “Nias dan Mentawai sekarang mereka perjuangkan menjadi provinsi tersendiri, agar mereka bisa menguasai wilayah itu” terang doktor hadits asal Sumatera Utara ini.

Dalam pengajian itu, pakar Hadits ini juga membacakan kitab Al Ahkam Sulthaniyah karya Imam Mawardi. Ia menjelaskan tentang perlunya umat mengenal secara umum kepala negara atau khalifahnya.

“Umat wajib mengenal khalifah dari sifat-sifatnya. Tidak mesti mengenalnya secara personal (detil),”paparnya.

Sedangkan komisioner (ahlul halli wal aqdi) yang mengangkat khalifah, mesti mengenal sifatnya secara personal. Sehingga bisa dipastikan khalifah dapat menjalankan tugas kenegaraan dengan baik.

Imam atau khalifah bisa disebut juga Khalifah Rasulullah, karena mereka pengganti Rasulullah sebagai kepala negara.

“Jumhur ulama melarang penggunaan istilah ‘Khalifatullah’, karena Allah tidak bisa diwakili. Allah tidak bisa mati atau tidak ‘fana’, manusia mati,”terang doktor dari Universitas Al Azhar Kairo ini.

Rep: Nuim Hidayat, Senin, 15/09/2014 16:57:07 si online
***

Aliran Sesat Sengsarakan Umat Dunia dan Akhirat

JAKARTA – Keseriusan pemerintah dalam menangani aliran sesat di Indonesia terkesan pasang surut. Padahal aliran sesat sebenarnya bisa dikategorikan sebagai kejahatan tertinggi, karena dampaknya bisa membuat orang sengsara di dunia dan juga sengsara di akhirat.

Demikian dikemukakan H Hartono Ahmad Jaiz, peneliti aliran sesat di Indonesia pada Harian Terbit di Jakarta, kemarin.

Menurut Hartono ada kecenderungan pemerintah melakukan tebang pilih dalam menangani aliran sesat. Kalau yang skalanya masih kecil seperti Lia Eden yang pengikutnya masih sedikit pemerintah berani mengambil tindakan tegas dengan membawa ke pengadilan dan dipenjara. Tapi terhadap aliran sesat yang pengikutnya besar, seperti Ahmadiyah, Islam Jamaah dan Syiah, pemerintah cenderung tidak berani. Bahkan tidak sedikit di antara politisi yang memanfaatkan aliran sesat yang besar ini sebagai kendaraan dalam event-event politik. Misalnya untuk pilkada, pemilu dan lain-lainnya.

Padahal salah satu kewajiban yang utama bagi seorang pemimpin tertinggi sebuah negeri, kalau merujuk pada pendapat Imam Al Mawardi dalam kitab Al Ahakamu as Sulthoniyyah, sesungguhnya adalah menjaga agama umat. Itu tugas pertama sekaligus yang utama dari sejumlah tugas-tugas lainnya.

Hartono menyebutkan, aliran sesat ini selayaknya mendapat penanganan serius dari pemerintah sebelum pemerintah menangani kejahatan-kejahatan lainnya. Kalau dihitung akibat yang akan ditimbulkan dari kejahatan agama ini sangat luar biasa. Orang yang mengikuti aliran sesat ini sudah sengsara di dunia dan bakal sengsara di akhirat, karena masuk neraka.

Itulah sebabnya, zaman Nabi Muhammad dan sahabat Abubakar penyebar aliran sesat ini diperangi dan dibunuh. Tapi sekarang ini jangankan diperangi, malah ada yang dimanfaatkan.

Seharusnya, kata Hartono, setiap penyebar aliran sesat, masalahnya diselesaikan secara hukum yang berlaku. Tinggal bagaimana keputusan hukum itulah yang nantinya dijalankan. Tentu saja hukum yang adil dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang berlaku dalam ajaran Islam.

Hartono mengatakan, selama ini orang mengembangkan aliran sesat, karena banyak di antara mereka yang bermotifkan ekonomi. Mereka mengembangkan aliran sesat karena tergoda untuk mendapatkan uang yang banyak dari pengikut-pengikutnya. (taryono)

http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=90920
Tanggal : 03 Apr 2010
Sumber : Harian Terbit

(nahimunkar.com)

(Dibaca 348 kali, 1 untuk hari ini)