Dua orang biksu palsu asal China (berdiri) yang ditangkap Imigrasi Jakarta Barat.


Jakarta (SI Online) – Petugas Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Barat menangkap dua orang biksu palsu berkewarganegaraan China. Mereka diamankan karena sering meminta-minta ke beberarapa masyarakat China di Indonesia.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Barat, Abdulrahman, menjelaskan, pada 16 Agustus 2016 lalu pihaknya melakukan operasi rutin. Hasilnya, ditemukan bahwa ada biksu keturunan China yang sedang mengemis dari pintu ke pintu di jalan.

“Kita tangkap terus kita amankan ke kantor Imigrasi,” kata Abdulrahman kepada wartawan di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Barat, Jalan Pos Kota Nomor 4, Selasa (23/8/2016).

Mereka menargetkan para komunitas etnis China sebagai korbannya. Mereka mengaku sebagai biksu dari Vihara Ekayana di Tanjung Duren.

“Dia ngaku-ngaku dari pihak Vihara Ekayana. Kita lakukan pengecekan ke pihak vihara,” ucapnya.

Kemudian, pihak imigrasi langsung melakukan koordinasi dengan Suhu Vihara Ekayana bernama Santri Putra Yang, guna mengetahui keaslian kedua biksu yang bernama Hu Qiyan dan Yao Xianhua tersebut. Namun Santri Putra Yang memastikan bahwa kedua biksu yang ditangkap itu adalah biksu palsu.

“Menurut Suhu Vihara Ekayana, biksu itu palsu karena dari tutur bahasanya, tata cara berpakaian, biksunya tidak menandakan dia seorang biksu,” paparnya.

Abdulrahman menambahkan, berdasarkan keterangan Suhu Vihara, seorang biksu tidak dibenarkan untuk meminta-minta door to door. Pasalnya, seorang biksu harus selalu berada di dalam vihara dan tidak boleh keluar apa pun yang terjadi.

Dari tangan keduanya, pihak imigrasi mengamankan sejumlah uang, yakni 9.120 yen, 280 dolar Hong Kong, dan Rp240 ribu. Selain itu, pihak imigrasi juga mengamankan Kitab Buddha yang mereka gunakan untuk mengemis, dua pakaian biksu, dua pasang sepatu, serta kalung dan gelang biksu.

Kedua biksu palsu itu  telah melanggar UU Nomor 6 Tahun 2011 dengan ancaman hukuman penjara paling lama lima tahun dan denda Rp500 juta.

“Di tahun 2009 sudah ada modus seperti ini, tapi di tahun itu mereka hanya menggunakan buku bencana untuk meminta-minta. Kalau yang sekarang ini dengan menggunakan Alkitab Buddha,” katanya.

Atas terjadinya kasus ini, pihak Imigrasi mengimbau kepada masyarakat Budha yang menetap di Indonesia untuk berhati-hati dengan adanya orang yang mengaku biksu dan datang ke rumah atau toko untuk mengemis.

red: abu faza

sumber: okezone.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.753 kali, 1 untuk hari ini)