Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar Baca Doa dalam Sidang Tahunan MPR 2019, Jum’at (16/8)/ foto ytb

 

Dua prof lagi ramai dibicarakan.

 

 

  1. Prof Nasaruddin Umar

     

 

Yang satu sesat menyesatkan umat Islam. Yaitu prof Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, ngakunya berdoa cara Islam, tapi pakai salam ‘oplosan’ . Salam Islam -assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh-, tapi disertai salam2 kemusyrikan. Salam kemusyrikan itu di antaranya bermuatan ketuhanan kemusyrikan (lebih dari satu) yang mengandung makna mengecam Allah Ta’ala sebagai Tuhan pemecah belah (jadi mukmin dan kafir).

 

Resikonya, dengan mengucapkan salam ‘oplosan’ itu bisa murtad, keluar dari Islam, karena sama dengan menghujat ayat2 Allah Ta’ala yang telah menegaskan golongan mukminin masuk surga, golongan kafirin masuk neraka.

 

Salam ‘oplosan’ itu Nasaruddin ucapkan dalam berdoa pada sidang tahunan MPR 2019 di Jakarta Jum’at 16 Agustus, setelah Presiden Jokowi berpidato resmi dalam sidang tahunan MPR itu dengan membukanya pakai salam ‘oplosan’ .

 

Pidato Presiden Jokowi yang dibacakan dalam sidang tahunan MPR RI 2019, Jum’at 16 Agustus 2019, dibuka dengan:

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat Pagi,

Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,

Om Swastiastu,

Namo Buddhaya,

Salam Kebajikan,

(Baca selengkapnya di artikel “Teks Lengkap Pidato Presiden Jokowi di Sidang Tahunan MPR 2019”, https://tirto.id/egnu )

(Silakan baca di nahimunkar.org, berjudul:

Salam ”oplosan’ ‘ Merusak Iman dalam Pidato dan Doa pada Sidang Tahunan MPR 16 Agustus 2019
https://www.nahimunkar.org/salam-‘oplosan’ -merusak-iman-dalam-pidato-dan-doa-pada-sidang-tahunan-mpr-16-agustus-2019/

 

Di medsos muncul komentar-komentar, di antaranya ada yang unik:

صني سوسيلو
Agama dioplos-oplos..
Skalian matinya dioplos kafan trs dibakar mau?

 

Lalu ada yang menyahut:


Ramai-ramai TANTANG BALIK SAYEMBARA Mahfud MD



Foto prtlislam

 

Yang satunya lagi, ramai dibicarakan pula, yaitu prof Mahfud MD, lagi ditantang banyak netizen untuk jalan kaki bawa bendera Tauhid dengan dikibarkan di Monas, dengan hadiah 162-an juta rupiah. Tantangan itu merupakan reaksi balik dari tantangan Mahfud MD yang mau menghadiahi 10 juta rupiah ke pihak yang bisa buktikan dirinya (Mahfud MD) anti bendera Tauhid.

Tantangan para netizen itu belum disanggupi, padahal ada komen, RP 162 juta itu lebih gede dari gaji Mahfud di BPIP yang Rp 100 juta.

 

Sebagai tokoh BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila), Mahfud MD

mungkin bisa tersindir pula bila membaca tulisan seorang dosen senior dari Bandung yang berjudul Memberhalakan Pancasila.

Di dalam tulisan itu ada yang menyangkut BPIP yang Mahfud MD salah satu tokohnya, begini:

‘Komunis bergerak diam diam di bawah bendera Pancasila. Mengacak acak perasaan umat beragama. Sementara sang “Badan Pembina” sepertinya kurang kerjaan dan hanya makan gaji buta.’

Nah!

Itulah kisah dua prof yang sedang ramai dibicarakan seputar hari kemerdekaan RI 2019. Kedua-duanya adalah pentolan dari NU.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.393 kali, 1 untuk hari ini)