Ilustrasi dari twitter dan fb


Gonjang ganjing akan adanya penyalahgunaan duit haji makin santer dibicarakan di Desa Pak Muslim Tukang Becak yang dipimpin Pak Lurah Ndeso. Kabar santer akan adanya penyalahgunaan duit haji membuat mangar-mangarnya masyarakat karena tampaknya Modin Kempros beralasan macam-macam, katanya sah-sah saja duit haji itu disalurkan ke mana saja. Karena kan yang setor duit haji itu sudah menandatangani untuk mewakilkan kepada pihak kami yang boleh menggunakannya untuk apa saja.

Alasan Modin Kempros itu menambah suhu naiknya mangar-mangar warga desa itu. Apalagi menurut catatan warga Desa, Modin Kempros itu suka nyakitin warga, ucapan-ucapannya terutama mengenai Islam. Malah seakan membela pihak yang berseberangan. Lhah, kalau alasannya seperti itu, betapa manisnya kalau ada yang menggunakan duit haji itu untuk biaya-biaya pernikahan di mana-mana. Toh nikah itu justru termasuk sunnah Nabi SAW. Tapi bagaimanapun alasan mau dikemukakan, tetap saja itu namanya penyalah gunaan. Kecuali bagi orang-orang yang sepikiran dengan Modin Kempros di desa ini, yang memang sudah sering berseberangan dengan masyarakat wajar, bahkan sampai masalah LGBT perhomoan pun dia pernah menghadiri acara pemberian hadiah untuk kalangan homo. Nah… jelas kan… duduk soalnya.

Jadi bagaimanapun, duit haji mau digunakan macam-macam, dengan alasan macam-macam, itu maknanya adalah penyalahgunaan.

Lain lagi dengan Satimin hansip galak di desa ini yang suka pentelang penteleng kepada warga. Di saat warga sedang resah gelisah karena duit haji sedang dilirik mau diusik-usik itu, Satimin malah mesam-mesem ngguya ngguyu. Karena dengar kabar, (tentunya atas seizin) Pak Lurah Ndeso mau mengundang sejumlah ledhek sinden dari Korea. Nah, tentu saja ada proyek duit jasa sebagai penjaga keamanan desa ini. Sudah mata Satimin bisa jelalatan melihat para ledhek sinden dari Korea, masih pula nantinya dapat duit. Enak tenaan…! Sambil jaga, bisa ikut jelalatan, bisa pula joget-joget, mungkin malah diwawancarai tivi-tivi Ndeso ini… enak tenan! Dapat duit lagi. Perkara dosa sih, ga’ pernah mikir… Na’udzubillahi min dzalik!

Untuk apa ledhek sinden penyebar maksiat saja didatangkan, dan bahkan didatangkannya dari negeri yang jauh? Apa karena kebanyakan duit, merasa kaya raya?

Katanya sih untuk ulang tahun kelahiran Mbah Bongso yang sudah berumur 72 tahun. Perkara merasa kaya raya, itu relatif; karena orang yang banyak utang pun bisa-bisa pula banyak bertingkah ora nggenah. Dan itulah yang sangat dibenci oleh Allah Ta’ala, miskin tapi sombong.

Mendengar kabar diundangnya ledhek-ledhek Korea itu warga Mbah Bongso ada yang protes keras, biar didengar oleh Pak Lurah Ndeso, Satimin hansip galak, Modin Kempros dan sebagainya; bahwa ngundang para ledhek sinden dari Korea untuk ngulang tahuni Mbah Bongso yang ke 72 ini sama sekali bukan hal yang bagus. Hura-hura, menggesa maksiat, menghamburkan harta, termasuk tingkah mubaddzir, teman setan.

Soalnya, mbah-mbah dukun bayi yang dulu bersusah payah untuk berupaya agar bayi Mbah Bongso ini bisa lahir, itu kini hidupnya melarat-melarat. Anak cucunya juga banyak yang melarat, bahkan tingkat kemelaratannya makin menjepit dan jumlahnya makin banyak. Padahal, betapa sulitnya dulu waktu berusaha melahirkan Mbah Bongso ini, agar merdeka dari serangan asu ajak-asu ajak (srigala) dari Belanda dan singa-singa, macan dan sebagainya yang akan menerkam bayi Mbah Bongso ini. Entah berapa pejuang yang dimakan srigala alias asu ajak dari Belanda selama berupaya melahirkan kelahiran (kemerdekaan) Mbah Bogso itu tahun 1945. Banyak yang gugur di medan peperangan melawan asu-asu ajak itu. Para pejuang itu, sisanya, yang masih hidup, kini banyak yang hidupnya sengsara. Anak cucunya pun banyak yang melarat. Dan yang mau berhaji dengan susah payah mengumpulkan duit berlama-lama pun kini malah diintsruksikan oleh Pak Lurah Ndeso untuk disalahgunakan. Betapa teririsnya hati ini…

Mbah Bongso yang kini sudah tua berumur 72 tahun tampaknya makin utangnya menggunung. Dengan tersengal-sengal menyaksikan tingkah polah yang dengan alasan untuk menghibur anak cucu Mbah Bongso, tapi sampai mengundang para ledhek waranggono dari Korea segala itu menambah beban batin bagi anak cucu Mbah Bongso. Bukan menghibur!

Di antara anak cucu Mbah Bongso masih banyak yang bisa menyampaikan nasihat. Di antaranya bahwa amal perbuatan itu tergantung niatnya. Ketika dalam hidup ini seseorang berniat baik untuk Allah Ta’ala, maka dia berbuat baik untuk tetangga, sesamanya, di samping berbakti kepada Allah Ta’ala, dan kedua orang tuanya, mengikuti perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Sesuai dengan yang dijarkan NabiNya, tidak neko-neko, macam-macam.

Sebaliknya, kalau memang niatnya memang mau nggarong, maka ada kesempatan sedikit saja langsung menggarong. Apalagi merasa punya banyak pendukung dan kedudukan, maka tidak disia-siakan.

Tidak sampai berniat jadi garong pun, bahkan orang baik-baik pun, kalau melihat duit, kadang bisa tergoda. Antara kondisi baik dengan pergaulan yang di desa ini garong-garong pun bisa menyembunyikan niat dan perbuatannya, dapat pula membisiki orang baik-baik untuk menggunakan wewenangnya, misalnya.

Ketika pergaulan dan bahkan kebutuhan pun makin mendera kehidupan, godaan pun makin besar, hingga niat baik kadang bisa luntur. Di saat niat baik sudah luntur dan ada bisikan manis yang tampaknya maslahat tapi hasil olahan para garong, maka tersembullah jurusan ke arah penyalah gunaan wewenang. Pada gilirannya, ketika muncul di permukaan, berwujud tingkah kakean polah (kebanyakan tingkah) bagai orang setengah mabok. Di antaranya: Duit haji dilirik, ledhek sinden Korea diundang.

Itu setengah mabok, atau sudah mabok?

***

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.422 kali, 1 untuk hari ini)