Dukun Ningsih Tinampi (di Pasuruan Jatim) Sesat dan Pamer Kesombongan, Ngaku Bisa Panggil Nabi dan Malaikat


Kesesatan dukun Ningsih Tinampi di Pasuruan Jawa Timur semakin parah/ foto ytb

 

SURABAYA – Masyarakat diminta cerdas dalam melihat sebuah peristiwa. Termasuk peristiwa yang dibikin oleh Ningsih Tinampi.

 

Seorang perempuan dukun yang membuat berbagai kontroversi. Mulai mengaku bisa mengobati segala macam penyakit, mengalahkan pasukan dukun yang jumlahnya banyak, hingga ngaku-ngaku bisa memanggil malaikat dan nabi. Ini aneh. Yang lebih aneh lagi adalah orang-orang percaya kepadanya.

Omongannya yang semakin nglantur itu sejatinya tanda bagi masyarakat agar tidak lagi percaya kepada Ningsih Tinampi. Tidak percaya pada semua klaimnnya. Sebuah tanda yang ditunjukkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Karena itu mestinya tokoh agama Islam dan aparat keamanan mestinya segera bertindak, mendatanginya untuk memeriksa apakah semua klaimnya itu benar atau abal-abal. Apakah dia menipu masyarakat? Baik dengan tujuan agar channel youtubenya dibanjiri pemirsa atau agar pasiennya semakin banyak.

Pengakuan Ningsih yang menyebut dirinya bisa memanggil nabi dan malaikat itu terekam dalam video yang diunggah di channel Youtube Ningsih Tinampi. Video itu berjudul ‘Ningsih Tinampi, Penunjukan Ilmu Milik Ningsih’.

Dalam video itu, Ningsih tampak tengah mengobati pasien yang disebutnya punya indra keenam. Melalui pasien perempuan itu, Ningsih seakan ingin menegaskan ke pemirsa channel-nya bahwa ilmu pengobatan dan kesaktian yang dimilikinya bukan berasal dari jin.

Ningsih lalu mengatakan pada pasien perempuan itu, bahwa dia akan menunjukkan makhluk-makhluk yang selama ini bersamanya. Untuk meyakinkan tak ada rekayasa, Ningsih menegaskan bahwa dia sebelumnya tak mengenal si pasien.

Setelah itu Ningsih membaca doa. Sesaat kemudian Ningsih bertanya pada pasien. Pasien kemudian menangis sesenggukan.

“Kenapa nangis? Kamu nggak kuat melihatnya. Padahal ini para malaikat yang aku undang. Sekarang yang saya undang adalah para nabi,” kata Ningsih seperti dalam video yang dilihat paa Jumat (17/1/2020).

Setelah berdoa, pasien kembali menangis. Tangisannya semakin panjang. “Ini yang datang adalah para nabi. Saya tidak bohong. Demi Allah,” katanya.

 

Sudah Sesat

 

Video berdurasi 47.51 menit ini juga menyedot perhatian banyak pemirsa. Video ini sudah ditonton ribuan kali dan menuai beragam komentar. Umumnya banyak yang mengecam Ningsih.

Dalam video itu justru terlihat bahwa Ningsih sendiri yang dikuasai jin. Sifat-sifat jin salah satunya suka menyelinap dalam diri manusia, menguasainya, lalu memengaruhi manusia lain. Jin juga mengajarkan agar manusia menyombongkan diri. Klaim bisa memanggil malaikat dan nabi salah satu pamer kesombongan itu.

Karena itu wajar MUI Kabupaten Pasuruan menilai Ningsih sesat.

 

“Niku lek’e pancene ngaku ketok barang gaib, ketok malaikat, iku sesat. (Itu kalau benar mengaku melihat hal gaib, melihat malaikat, itu sesat),” kata Ketua MUI Kabupaten Pasuruan KH Nurul Huda Jumat (17/1/2020) seperti dikutip dari detik.com.

Gus Huda, sapaan KH Nurul Huda, kemudian menyitir ayat dalam Al-Quran dan hadis. “Dalam Surat Annaml Ayat 65 dikatakan, tidak akan ada yang tahu seluruh penduduk langit dan bumi tentang perkara gaib kecuali Allah yang Maha Mengetahui,” paparnya.

“Kemudian ada hadis nabi, barang siapa datang kepada orang yang sok tahu lalu bertanya tentang sesuatu, lalu ia percaya dengan dia, maka solatnya 40 hari tidak diterima,” tambah Gus Huda, mengutip Hadis Riwayat Muslim. (DutaJatim.com) 21 hours ago.

***

Hukum Bunuh Atas Tukang Sihir

alias Dukun

Posted on 2 Maret 2014

by Nahimunkar.com

 

.

 
 

Dalam Islam, dukun santet alias tukang sihir pun hukumannya adalah hukum bunuh. Hukuman bagi tukang sihir adalah tergantung kepada kegiatan sihirnya. Jika pekerjaan atau ucapan yang berkaitan dengan sihirnya itu menyebabkan kekufuran, maka ia harus dibunuh. Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda: 

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

“Hukuman bagi tukang sihir adalah ditebas dengan pedang.” (HR. At-Tirmidzi dan Ad-Daruquthni, marfu’dan mauquf. Hadits yang mauquf shahih, sedangkan yang marfu’ dha’if. Tetapi hadits ini diamalkan, sejalan dengan pernyataan Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan sebagian besar ulama sebelum mereka, baik dari para sahabat maupun dari tabi’ in).
Jika perbuatan dan perkataan yang dikaitkan dengan sihirnya itu tidak mengakibatkan kekufuran, maka si dukun itu harus dita’zir (diberikan hukuman tertentu) dan diperintahkan untuk bertaubat. Jika ia bertaubat maka tidak dibunuh), tetapi jika menolak, maka ia harus dibunuh, karena sihir itu pada akhirnya tidak akan pernah sepi dari perbuatan atau perkataan yang akan menjerumuskan kepada kekafiran, karena keumuman (pengertian) firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“…Dan keduanya (Harut dan Marut) tidaklah mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir, Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka teiah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akherat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)

Bahaya Fitnah Dukun

Mestinya masyarakat mengajukan para dukun dan tukang sihir kepada pengadilan agar diadili dan kemudian dieksekusi/dihukum mati. Tetapi yang terjadi justru masyarakat berduyun-duyun ke dukun, termasuk di antaranya adalah para pejabat, bahkan polisi yang tugasnya adalah menyidik tindak kejahatan. Di sinilah rancunya perilaku masyarakat, seakan sudah di ambang kiamat, dan manusia di muka bumi tidak ada yang beriman lagi, yaitu seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallalhhu Ahihi wa Sallam dalam hadits yang panjang, di antara penggalannya adalah: “…Mereka tidak mengenal kebaikan, dan tidak mengingkari kemunkaran…” (HR. Muslim)
Coba kita lihat perilaku masyarakat dalam kaitannya dengan perdukunan. Polisi yang tugasnya menyidik kejahatan justru sering terdengar adanya hubungan dengan dukun atau paranormal. Pejabat dari tingkat desa sampai tingkat negara sering terdengar mereka main dukun alias pergi ke dukun. Sampai-sampai pejabat Departemen Agama pun main dukun, menurut Menteri Agama (1983-1993), H. Munawir Sjadzali MA, hingga beliau sempat mengeluh dan prihatin. Para pejabat yang seharusnya menjadi teladan masyarakat kok malah berdukun.
Logikanya, yang pejabat Departemen Agama saja main dukun, maka apalagi pihak-pihak yang lain. Penulis punya pengalaman tahun 1980-an, mendapat dorongan masyarakat untuk ikut ujian calon lurah/kepala desa. Ujian calon lurah saat itu dilaksanakan secara serempak se-kabupaten. Lalu masing-masing kelurahan diadakan pemilihan lurah bagi yang lulus ujian. Rakyat memilih satu orang dari beberapa calon yang telah lulus ujian. Penulis terus terang tidak lulus, jadi tidak ikut sebagai calon dalam pemilihan lurah. Sampai sekarang masih ada teman yang dulunya ujian calon lurah bersama penulis, kini ia masih jadi lurah dan jadi muballigh sambil berdagang.
Dalam hal perdukunan (tidak ada kaitan dengan teman penulis yang masih jadi lurah tersebut), ada pemandangan yang unik. Seorang calon lurah, waktu berlangsungnya pilihan lurah, dia duduk di depan, berderet dengan para calon lurah (3 orang). Dia pakai jas kroak (bagian belakang dicoak) warna hitam, lengkap dengan keris di pinggang, dan blangkon di kepala. (Blangkon adalah tutup kepala dari batik dilipat-lipat, berbentuk bulat seperti peci, di bagian belakang dibentuk bulatan agak menonjol, namanya mondolan. Kata orang sinis, itu pertanda sikap orang Jawa, di wajah tampak senyum walaupun di hati sebenarnya dongkol). Sementara itu mulut si calon lurah yang satu ini selalu mengisap cerutu terus menerus selama berlangsungnya pemilihan. Penulis heran melihatnya. Orang-orang pun berkata bahwa apa yang dilakukan si calon lurah itu adalah suruhan dukunnya. Karena, si calon itu biasanya tidak pernah mengisap cerutu, walaupun memang suka merokok. Meskipun masyarakat meyakini bahwa si calon itu adalah menjalani persyaratan dari dukun, namun ternyata masyarakat memilihnya juga, hingga menanglah dia.
Kenapa dia dipilih, padahal saat itu ada dua calon lainnya yang tidak ada tanda-tanda main dukun? Para calon itu sendiri, yang pertama adalah yang mengisap cerutu terus menerus itu, kedua adalah bekas lurah yang sudah kurang mendapat simpati massa, dan yang ketiga adalah tokoh Islam, guru agama. Di masyarakat yang 99,9% Islam di desa itu ternyata mereka lebih pilih orang yang telah diyakini main ke dukun dibanding memilih tokoh Islam. Tampaknya masyarakat muslim itu justru ingin dipimpin oleh orang yang membolehkan larangan-larangan agama, termasuk di antaranya berdukun. Hanya saja pilihan mereka itu tidak bertahan lama, karena ternyata kemudian dipecat oleh pemerintah karena menganiaya isterinya, dan isterinya melaporkannya ke atasan.
Sepotong peristiwa nyata itu menunjukkan betapa kentalnya masyarakat dari tingkat bawah sampai tingkat atas perihal perdukunan. Meskipun demikian, masih belum begitu mengejutkan dalam hal fitnah dukun. Peristiwa berikut ini cukup mengagetkan bagi saya.
Suatu ketika saya shalat di masjid sebuah pedusunan daerah Ciamis Jawa Barat, ketika saya sedang bersilaturrahim ke desa itu selama beberapa hari. Setelah para jama’ah bubar siang itu, saya ingin berlama-lama di masjid. Baru saja saya duduk sebentar, saya dipersilakan mampir ke rumah kyai samping masjid. Karena saya menghormati kyai yang sudah tua itu maka tawarannya saya penuhi. Lalu dia menceritakan tentang kebiasaannya yang rutin yaitu mengajari ngaji para imam masjid, musholla dan lainnya di rumah itu seminggu sekali. Kitab yang dikaji dia tunjukkan pada saya, ternyata berbahasa Jawa padahal bahasa di daerah itu jelas Sunda. Kitab itu bernama kitab Majmu’, bukan karangan Imam Nawawi yang terkenal itu, tapi kitab Arab Pegon (Arab Jawi) tentang fiqh. Setelah bercerita tentang kitab itu, tahu-tahu dia memanggil pembantu khususnya (bukan pembantu rumah tangga, tetapi pembantu yang belakangan saya ketahui sebagai pembantu khusus dalam hal perdukunan), seorang laki-laki pendek hitam sudah agak tua. Lalu Pak Kyai itu menghadiahi saya sebuah jimat berwarna indah, hijau tua, bertulisan warna emas. Saya pegang sebentar jimat itu, saya lihat, dan saya yakin bahwa itu jimat, maka langsung saya kembalikan, saya tolak pemberian hadiahnya itu. Pak Kyai plus dukun ini sangat kaget. Karena, menurut dia dalam cerita sebelum “acara serah tidak terima” jimat itu ada orang yang dia anggap memang kenalan saya dan sejalan dengan saya, telah datang padanya. (Sedang untuk datang ke tempat itu tidak mungkin kalau hanya sekadar mampir, karena tempatnya di pedalaman, kecuali kalau memang ada famili sebagaimana saya, atau ada acara lain di tempat itu, tetapi acara apa di sana?) Sehingga Kyai plus dukun itu tidak ragu-ragu menghadiahi saya, sebuah jimat yang menurut pembantu khususnya adalah jimat yang tingkatnya spesial, —karena ada orang yang dia pandang sejalan dengan saya dan pernah datang kepadanya.
Peristiwa itu terngiang dalam jiwa saya. Sehingga saya ingin menemui orang Jakarta yang bergerak di bidang da’wah yang ia sebutkan pernah datang padanya itu. Suatu ketika saya bertemu dengan muballigh yang disebut-sebut oleh kyai dukun itu dalam pertemuan singkat. Tetapi waktunya singkat, yaitu ketika dia bersama isterinya mencegat taksi di depan gedung pertemuan seusai menghadiri undangan pengantin bersama isterinya, maka langsung saja saya tanyakan persoalan yang disebut Kyai dukun itu. Belum sempat terjawab tuntas, dia sudah mendapatkan taksi, sehingga pembicaraan terputus. Jadinya, kasihan muballigh itu. Kalau toh dia tidak berdukun, nama dia telah dijadikan promosi oleh sang dukun. Dan seandainya berdukun, lebih fatal lagi. Tetapi sampai kini saya belum bisa tahu persis, mudah-mudahan saja tidak demikian, Hanya saja masalahnya, nama dia telah dijadikan alat promosi, itu persoalannya, dan itulah yang saya katakan padanya ketika bertemu secara singkat itu. Padahal dia duduk di beberapa lernbaga bidang dakwah. Itulah salah satu fitnah dukun. Baik muballigh itu datangnya tidak untuk berdukun maupun memang untuk berdukun, sama-sama disebarkan fitnah oleh si dukun. Kalau dia tidak berdukun, nama dia telah difitnah dan dijadikan alat promosi dan propaganda. Sedang kalau dia berdukun padahal mungkin kemudian dia bertaubat, nama dia tetap dijadikan promosi.
Dengan pengalaman itu, karena fitnah dukun itu bisa ke mana-mana, maka maaf, saya mohon kesabaran sebentar kepada para pembaca, kenapa saya bercerita tentang itu. Ini adalah untuk menghindari fitnah. Salah satunya jalan adalah menuturkan bagaimana duduk masalah sebenarnya, kenapa saya datang ke tempat dukun itu; yaitu saya habis shalat, kemudian diminta mampir, dan saya sebelumnya sama sekali tidak tahu kalau dia itu dukun. Lalu saya dihadiahi jimat berderajat spesial, langsung saya amati, setelah nyata bahwa itu jimat, maka saya tolak, saya kembalikan padanya.
Kenapa saya menolak ketika diberi jimat, padahal jimat spesial? Karena ada larangan dari Nabi Muhammad Shallaliahu Alaihi wa Sallam.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud masuk ke rumah, sedang di leher isterinya ada kalung (bertangkal), maka ditariknya oleh Ibnu Mas’ud dan dipotong-potongnya, kemudian ia berkata: Keluarga Abdullah harus jauh daripada menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan padanya. Kemudian ia berkata, saya (Abdullah bin Mas’ud) mendengar Rasulullah Shallaliahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، هَذِهِ الرُّقَى وَالتَّمَائِمُ قَدْ عَرَفْنَاهَا ، فَمَا التِّوَلَةُ ؟ قَالَ : شَيْءٌ يَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إِلَى أَزْوَاجِهِنَّ.

“Sesungguhnya tangkal (mantra), jimat, dan tiwalah/pelet itu adalah syirik (menyekutukan Allah). Para sahabat kemudian bertanya: Ya Aba Abdir Rahman! Tangkal (mantra) dan jimat ini kami sudah tahu, tetapi apakah tiwalah/pelet itu? Ia menjawab: Tiwalah/Pelet ialah suatu yang diperbuat oleh orang-orang perempuan supaya selalu dapat bercinta dengan suami mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dan Al-Hakim dengan ringkas darinya, dan dia berkata isnadnya shahih)
Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa ada 10 orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah Shallaliahu Alaihi wa Sallam. Yang 9 orang dibai’at, tetapi yang satu ditahan. Kemudian mereka yang 9 itu bertanya: Mengapa ditahan? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: “Karena di lengannya ada tangkal. Kemudian laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka dibai’atlah dia oleh Rasulullah Shallaliahu Alaihi wa Sallam dan beliau bersabda:

مَنْ عَلَّقَ فَقَدْ أَشْرَكَ.

“Barangsiapa menggantungkan tangkal, maka sungguh dia telah syirik’—menyekutukan Allah.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dan lafazh hadits ini lafazh Al-Hakim, dan para periwayat Ahmad adalah orang-orang terpercaya).

Dari Imran bin Hushain, dia berkata,

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat di lengan seorang laki-laki ada gelang -yang saya lihat, kata Imran, dari kuningan—, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya: Celaka kamu, apa ini? la (laki-laki itu) menjawab: Ini adalah termasuk ‘wahinah’ (aji-aji —sesuatu yang dianggap bisa melemahkan orang lain, sebangsa jimat). Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Dia (aji-aji) itu tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, karena itu buanglah dia, sebab kalau kamu mati sedang wahinah/aji-aji itu masih ada pada kamu, maka kamu tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dan Ibnu Majah tanpa kata: buanglah dan seterusnya).

Hasil Riset, Sebagian Besar Masyarakat Indonesia Percaya Jimat dan Perdukunan

Riset dan survey tentang Akhlak (Moral) Iman kepada Tuhan versus Kepercayaan kepada Kekuasaan Ghaib selain Tuhan, dilakukan oleh Yayasan Nusantara, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang sosial, ekonomi dan pendidikan rakyat. Hasilnya disimpulkan bahwa bangsa Indonesia memang mengalami permasalahan yang sangat mendasar yaitu terjerumus dalam immoralitas.
Survei dilakukan pada 20 Juni hingga 20 Juli 2000, dengan melibatkan 500 responden yang dipilih acak dari seluruh Indonesia melalui telepon. Salah satu temuan dari hasil survei itu adalah 100 persen anak bangsa Indonesia sesungguhnya anak bangsa yang religius dan mengikuti suatu ajaran agama tertentu.
Dari survei terlihat bahwa responden memang percaya kepada hal-hal yang bersifat gaib. Tercatat sebagian besar responden yaitu 64 persen mengaku percaya dan mempunyai hubungan atau pernah punya hubungan dengan praktik perdukunan, santet, klenik, pelet atau susuk. Sedangkan yang tak pernah punya hubungan dengan hal-hal demikian sebanyak 21,6 persen.
Dan yang percaya namun tidak mau telibat dalam praktik tersebut mencapai 14,4 persen.
Yang memprihatinkan lagi, sebagian besar dari responden nyatanya sangat percaya dengan perdukunan, pergi ke kubur-kubur dan tempat yang dikeramatkan, ke peramal dan meyakini kebenaran horoskop.
Sebanyak 50,2 persen dari 500 responden mengaku bahwa hal-hal demikian mereka jadikan landasan berpikir, bertindak dan menentukan sikap dalam kegiatan sehari-hari.
Responden yang juga percaya dan yakin namun tidak memiliki keinginan untuk terlibat sebagai pelaku sebanyak 4,8 persen.
Sedangkan yang sama sekali tidak percaya dengan hal-hal demikian sebanyak 45 persen.
Dari survei ini juga terungkap bahwa masyarakat Indonesia sangat mempercayai jimat atau benda yang disakralkan. Dari 500 responden sebanyak 63 persen menyatakan percaya bahwa jimat-jimat atau benda-benda yang disakralkan lainnya benar-benar memiliki khasiat keghaiban dan manfaat tertentu.
Sedangkan yang ragu mencapai 5,8 persen.
Yang tidak percaya sebanyak 33,6 persen.
Dari penjelasan survei di atas terlihat bahwa masyarakat Indonesia memang mulai kehilangan kepercayaan dan semakin jauh dari Tuhan. Yang muncul justru sifat syirik dengan menjadikan jimat-jimat sebagai Tuhan”. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim yang sesungguhnya merupakan bangsa religius. (mag).

(Republika, Jum’at 4 Agustus 2000, hlm. 16).

Ramai-ramai Memberantas Perdukunan

Seharusnya orang muslim beramai-ramai memberantas perdukunan, sedang pemerintah wajib melarang dan mengadili para dukun bahkan mengadili dan mengeksekusi/menghukum mati para tukang tenung alias dukun santet atau tukang sihir. Bukan malah beramai-rami ke dukun yang mengakibatkan keimanan mereka jadi rusak, calon masuk neraka, tidak berani memberantas kebatilan, masih pula hidupnya tidak tenang karena di masyarakat yang doyan berdukun maka mereka khawatir jangan-jangan para saingannya justru punya dukun yang lebih hebat. Apalagi kalau si orang yang berdukun itu tadinya memegang kekuasaan, kemudian jatuh atau bahkan dijatuhkan secara tidak dihormati, seperti Presiden Soeharto yang mengundurkan diri akibat didemonstrasi ramai-ramai oleh puluhan ribu mahasiswa selama dua minggu, tahun 1998, dan Presiden Abdurrahman Wahid yang dijatuhkan ramai-ramai oleh MPR 2001 pimpinan Prof. Dr. HM. Amien Rais karena kasus duit Bulog (Badan Urusan Logistik) dan sumbangan dari Sultan Brunei Darussslam, maka akan sangat merana. Dia kemungkinan memaki-maki para dukunnya yang dianggap bohong, tidak mampu mempertahankan kedudukannya, sedang para dukunnya pun bisa-bisa sebagian kabur/lari tidak mau datang-datang lagi, atau datang tetapi untuk tetap memeras dan menipu serta menyesatkan lebih sesat lagi. Hingga akan lebih jauh sesatnya, dan lebih jauh pula menderitanya, padahal masih hidup di dunia. Belum lagi siksanya nanti di neraka kelak yang tidak habis-habisnya. Maka semestinya orang-orang yang berdukun bahkan para dukun itu bertaubat, tidak lagi-lagi menggeluti kesesatan bahkan kemusyrikan itu. Insya Allah kalau seseorang benar-benar bertaubat maka ia akan Allah ampuni.
Para korban sesatnya perdukunan yang juga telah menyesatkan orang-orang lain hendaknya bertaubat dan kemudian memberantas kesesatan perdukunan, serta mencegah masyarakat agar tidak main dukun. Kegiatan itu belum pernah saya lihat. Padahal, kemungkinan efektif juga apabila ada bekas dukun atau bekas orang yang doyan berdukun lantas terjun ke masyarakat memberantas perdukunan. Sebagaimana para pentolan atau bahkan gembong Islam Jama’ah/LDII setelah menyadari tentang kesesatan aliran sesat itu maka mereka ramai-ramai keluar dan memberantasnya, serta menyiarkan bahwa LDII itu sesat lagi menyesatkan. Demikian pula para bekas pastur, biarawati, pendeta dan lainnya, tidak sedikit yang menyadari dosa-dosanya karena telah menyesatkan orang banyak, maka ketika mereka sudah masuk Islam, mereka menebus dosanya itu di antaranya dengan menyiarkan agar jangan sampai tersesat seperti diri mereka dahulu. Lebih afdhal lagi kalau seandainya presiden yang dikena! dulunya sangat doyan berdukun, lalu bertaubat, dan menyiarkan kepada masyarakat agar jangan sampai berdukun.
Meskipun belum ada tokoh-tokoh bekas seperti tersebut yang terjun memberantas perdukunan, namun tidak usah ditunggu adanya mereka. Kalau seseorang mau bertaubat, cepat-cepatlah bertaubat, tidak usah menunggu Pak Lurah sampai Pak Bekas Presiden dan sebagainya. Sebab setiap orang bertanggung jawab atas diri masing-masing. Jadi tidak usah menunggu orang lain. Kalau untuk bertaubat malah menunggu orang lain, maka bisa jadi yang ditunggu tidak ada, sedang orang yang berdukun makin tambah banyak, hingga justru godaan untuk ikut lagi berdukun tambah santer, sedang umur mungkin tidak panjang. Untuk menempuh jalan yang selamat, maka hendaknya cepat-cepat saja bertaubat, tinggalkan segala hal yang berkaitan dengan perdukunan. Kalau bisa, lantas bertandang untuk memberantas perdukunan. Karena pemberantasan yang dilakukan oleh orang yang telah bertaubat dari kesesatannya kemungkinan besar akan lebih dilihat sebagai contoh bagi khalayak umum. Dan itu merupakan salah satu jalan untuk menebus kesesatan yang telah dijalani masa lalu. Sebagaimana Pak Bambang Irawan Hafiluddin mantan gembong aliran sesat Islam Jama’ah/LDII sering mengatakan, “Saya memberantas LDII yang sesat itu adalah untuk menebus dosa-dosa saya, karena saya dulu telah menyesatkan banyak orang ketika menjadi salah satu tokoh di aliran sesat itu.”
Mungkin akan menjadi pemandangan yang sangat mengejutkan, bila seorang bekas presiden yang dulunya dikenal sangat doyan berdukun, lalu berpidato langsung di televisi: “Saudara-saudara sekalian, seiman dan sekeyakinan. Perkenankanlah saya mengajak saudara-saudara untuk menghindari perdukunan. Sebab, perdukunan itu kental dengan kemusyrikan, yang hal itu merupakan dosa terbesar. Saya menyadari akan bahaya perdukunan itu, yang sangat mengancam bahkan merusak keimanan. Saya takut kalau mati tanpa membawa iman, atau iman dalam keadaan rusak. Sehingga saya bertaubat, dan sekaligus mengajak audara-saudara yang telah terlanjur doyan berdukun seperti saya, agar detik ini pula bertaubat bersama saya. Bahkan para dukun-dukun pun saya anjurkan, agar kalian semua bertaubat dan meninggalkan pekerjaan yang jadi lahan setan itu. Saya berharap, dengan cara demikian, maka insya Allah kita akan menghadap ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan beriman, bukan dalam keadaan tidak beriman atau imannya rusak. Sekian imbauan daripada saya, dan saya ucapkan terima kasih, wassalarmu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.”
Pengandaian ini mudah-mudahan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Nabi Shalhlhhu Alaihi wa Sallam, karena di sini tidak model yang “kalau seandainya saya tadinya begini maka akan begini…” Tetapi pengandaian tentang pidato pertaubatan di televisi ini hanyalah untuk memberikan dorongan betapa pentingnya masyarakat yang sebagian banyak bergelimang di dalam kesesatan perdukunan ini mau bertaubat.

(Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia”, Pustaka Al-Kautsar, Jkt, 2002, sampai kini masih berdar).

(nahimunkar.com)

https://www.nahimunkar.org/hukum-bunuh-atas-tukang-sihir/

***

Ciri-ciri Dukun atau Penyihir


Posted on 2 Maret 2014

by Nahimunkar.com

Berikut ini beberapa ciri dukun, sehingga dengan mengetahui ciri-ciri tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati ciri-ciri tersebut ada pada seseorang walaupun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara ciri dukun atau tukang sihir:

1. Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya, atau semacamnya.

2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya.

3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong.

4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang memuat kesyirikan.

5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas.

6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya terdapat pula huruf-huruf dan nomor-nomor.

7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari.

8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.

9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.

10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya.

11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit.

12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.

13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.

14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr)

Ini sekadar beberapa ciri dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya walaupun terkadang berbalut label-label keagamaan semacam kyai atau ustadz.

 Dilarang Mendatangi Dukun

Bila kita telah mendengar tentang seseorang yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan di atas, janganlah kita mendatanginya. Hal itu sangat dilarang dalam agama Islam. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

Dalam Shahih Muslim disebutkan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

Hukum ini sebagai akibat dari hanya mendatangi dukun saja. Karena (sekadar) mendatanginya sudah merupakan kejahatan dan perbuatan haram, walaupun ia tidak memercayai dukun tersebut. Oleh karenanya, ketika sahabat Mu’awiyah Ibnul Hakam radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam perihal dukun beliau menjawab: ‘Jangan kamu datangi dia.’ Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam melarangnya walaupun sekadar mendatanginya. Jadi hadits ini menunjukkan tentang haramnya mendatangi dukun walaupun tidak memercayainya, walaupun yang datang mengatakan: ‘Kedatangan saya hanya sekadar ingin tahu’. Ini tidak boleh.

“Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” dalam sebuah riwayat “40 hari 40 malam.”

Ini menunjukkan beratnya hukuman bagi yang mendatangi dukun, di mana shalatnya tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak ada pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun ia tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya, karena secara lahiriah ia telah melakukan shalat. Akan tetapi, antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya karena tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala  terima. Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya mendatangi dukun, sekadar mendatangi walaupun tidak memercayai. Adapun bila memercayainya maka hadits-hadits yang akan dijelaskan berikut telah menunjukkan ancaman yang keras, kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam .”

Dalam hadits ini ada dua masalah:

Masalah pertama: mendatangi dukun.

Masalah kedua: memercayainya pada apa yang ia beritakan dari perdukunannya. Hukumnya ia telah dianggap kafir terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena tidak akan bersatu antara membenarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membenarkan berita dukun yang itu adalah pekerjaan setan. Dua hal yang tidak mungkin bersatu, memercayai Al-Qur’an dan memercayai dukun.

Yang nampak dari hadits itu bahwa ia telah keluar dari Islam.

Dari riwayat dari Al-Imam Ahmad ada dua pemahaman dalam hal kekafiran semacam ini. Satu riwayat, bahwa maksudnya kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Riwayat yang lain: kekafiran kecil, di bawah kekafiran tadi.

Ada pendapat ketiga: tawaqquf, yakni kita baca hadits sebagaimana datangnya tanpa menafsirkan serta mengatakan kafir besar atau kecil. Kita katakan seperti kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan cukup.

Tapi yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama, bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena tidak akan bersatu antara iman kepada Al-Qur’an dengan iman kepada perdukunan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala  telah mengharamkan perdukunan, dan memberitakan bahwa itu adalah perbuatan setan, maka orang yang memercayai dan membenarkan berarti telah kafir dengan kekafiran besar. Inilah yang nampak dari hadits. (I’anatul Mustafid)

Demikian penjelasan beliau tentang mendatangi dukun. Adapun tentang bertanya-tanya atau konsultasi dengan para dukun, telah dijelaskan dalam rubrik Manhaji secara lebih detail.

Ada satu hal yang perlu lebih kita sadari, yaitu kecanggihan teknologi yang ada ternyata digunakan para dukun untuk mencari mangsa. Sehingga tidak mesti seseorang datang ke tempat praktik dukun tersebut, tapi justru dukunnya yang mendatangi seseorang melalui radio, televisi, internet, atau SMS. Dengan itu, bertanya kepada dukun jalannya semakin dipermudah. Cukup dengan ketik: “reg spasi ….” selanjutnya mengirimkannya ke nomor tertentu melalui ponsel, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan perdukunan. Bahkan, sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang membuat program khusus untuk menayangkan kompetisi di antara dukun/ tukang sihir.

Subhanallah, cobaan nyata semakin berat. Kaum muslimin mesti menyadari hal ini. Jangan sampai kecanggihan teknologi ini membuat kita semakin jauh dari ajaran agama. Justru seharusnya kita gunakan kemajuan teknologi ini untuk membantu kita agar semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Semoga kaum muslimin menerima dan memahaminya dengan baik sehingga menyadari akan bahaya perdukunan, untuk kemudian kaum muslimin pun bersatu dalam memerangi perdukunan.

 
 

Dukun dan Ciri-cirinya

 Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:

1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Atau;

2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.

Praktik sihir, ramal, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut:

1. Kahin

Al-Baghawi t mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu.

2. ‘Arraf

Al-Baghawi t mengatakan bahwa ia adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, yang darinya ia mengaku mengetahui tempat barang yang dicuri atau hilang.

3. Rammal

Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml.

4. Munajjim, ahli ilmu nujum

Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib.

5. Sahir, tukang sihir

Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan ramalan bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan.

Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui perkara ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan: “Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (dinukil dari Kitabut Tauhid)

Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal ramal-meramal dengan cara-cara semacam di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan saat menjelaskan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘laihi wa sallam:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka dijumpai oleh bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum dijumpai oleh bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah z)

Pada (hadits ini) terdapat keterangan tentang batilnya sihir dan perdukunan, bahwa keduanya sumbernya sama yaitu mengambil dari setan. Oleh karena itu, sihir tidak boleh diterima, demikian pula berita tukang sihir. Juga dukun dan berita dukun. Karena sumbernya batil. Disebutkan dalam hadits Nabi n:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”

Dalam hadits yang lain:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam.”

Dalam hadits ini terdapat keterangan batilnya sihir atau dukun, larangan  membenarkan tukang sihir atau dukun, atau mendatangi mereka. Akan tetapi di masa ini, para tukang sihir dan dukun muncul dengan julukan tabib atau ahli pengobatan. Mereka membuka tempat-tempat praktik serta mengobati orang-orang dengan sihir dan perdukunan. Namun mereka tidak mengatakan: “Ini sihir, ini perdukunan.” Mereka tampakkan kepada manusia bahwa mereka mengobati dengan cara yang mubah, serta menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala  di depan orang-orang. Bahkan terkadang membaca sebagian ayat Al-Qur’an untuk mengelabui manusia, tapi dengan sembunyi mengatakan kepada orang  yang sakit, “Sembelihlah kambing dengan sifat demikian dan demikian, tapi jangan kamu makan (dagingnya), ambillah darahnya”, “Lakukan demikian dan demikian”, atau mengatakan “Sembelihlah ayam jantan atau ayam betina” ia sebutkan sifat-sifatnya dan mewanti-wanti “Tapi jangan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Atau menanyakan nama ibu atau ayahnya (pasien), mengambil baju atau topinya (si sakit) untuk dia tanyakan kepada setan pembantunya, karena setan juga saling memberi informasi. Setelah itu ia mengatakan: “Yang menyihir kamu itu adalah fulan”, padahal dia juga dusta. Maka wajib bagi muslimin untuk berhati-hati. (I’anatul Mustafid)

November 19, 2011 11:41 am | Published by admin

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

http://asysyariah.com/dukun-dan-ciri-cirinya/

(nahimunkar.com)

https://www.nahimunkar.org/ciri-ciri-dukun-atau-penyihir/

***

Terbongkar! Inilah 9 Ciri Dukun

Posted on 9 April 2016

by Nahimunkar.com

 

Meski ustadz dan dukun memiliki perbedaan yang sangat jauh-sejauh jarak antara langit dan bumi-tapi banyak yang tertipu. Banyak kaum Muslimin yang menganggap seseorang sebagai ustadz, padahal dia seorang dukun.

Ustadz adalah pemuka agama Islam yang mengajak kaum Muslimin untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Sedangkan dukun merupakan duta iblis yang mengacaukan tauhid kaum Muslimin hingga menyeret mereka ke dalam siksa neraka yang menyala-nyala.

Agar Anda tidak tertipu, kenali dukun-dukun ini dengan baik. Jangan sampai dikelabui, apalagi dengan mengeluarkan uang dan mengikuti ajarannya.

Pertama, seorang dukun sering mendemonstrasikan kedigdayaannya. Pamer kehebatan yang bertujuan membuat calon pasien berdecak kagum hingga mengikuti.

Kedua, terkadang bisa mengetahui nama pasien dan masalahnya sebelum yang bersangkutan mengenalkan diri dan menceritakan masalahnya. Hal ini mereka lakukan untuk menarik hati calon korban. Dan terjadi lantaran bisikan jin kepada para dukun itu.

Ketiga, mereka sering kali memindahkan penyakit ke media lain. Yang sering digunakan adalah hewan atau telor.

Keempat, mereka meminta syarat yang aneh-aneh kepada pasien atau keluarganya. Entah berbagai jenis hewan dengan banyak kriteria, bunga berjenis-jenis yang berasal dari berbagai wilayah, maupun perintah tidur di berbagai tempat angker seperti kuburan dan sejenisnya. Benar-benar aneh.

Kelima, memberi jimat. Biasanya berbentuk barang, seperti kertas bertuliskan mantra, cincin yang diklaim berpenghuni makhluk halus, kulit binatang yang bertuliskan huruf-huruf arab dari ayat-ayat al-Qur’an yang disalahgunakan, dan lain sebagainya.

Jimat ini bisanya diberi syarat. Misalnya, jangan dibawa saat mandi, harus dilepas ketika mau tidur, dianjurkan dipakai di tempat-tempat tertentu, dan lain sebagainya.

Keenam, mengajak berduaan dengan pasien yang berlainan jenis. Inilah yang menjadi awal terjadinya zina dan maraknya dukun penuh syahwat. Bahkan ada di antara mereka yang mensyaratkan agar pasiennya berhubungan badan dengan si dukun untuk mengusir penyakit atau jin yang ada di dalam diri pasien. Gila!

Ketujuh, bersembunyi di balik kalimat ‘Hanya Allah Penolong’. Jika mengalami kegagalan, mereka akan berdalih beraneka rupa lantas tanpa bersalah mengatakan kalimat tersebut. Meski kalimatnya benar, sejatinya mereka bersembunyi di balik kalimat nan suci itu.

Kedelapan, mereka juga mengenakan pakaian khusus yang diklaim sakti, mendapatkannya dengan berbagai jenis ritual, dan lain sebagainya.

Kesembilan, ujung-ujungnya duit. Ya. Mereka memasang tarif. Bahkan di antara mereka ada yang meminta rumah, mobil, dan lain sebagainya.

Maka waspadalah!

Wallahu a’lam.

Sumber: kisahikmah/beritaislam24h.blogspot.co.id

https://www.nahimunkar.org/terbongkar-inilah-9-ciri-dukun-mengaku-ustadz/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.682 kali, 1 untuk hari ini)