Ma’ruf Amin dan Said Aqil Siradj kini sedang jadi sorotan tajam masyarakat/ foto medanseru.co

Bukan hanya Kyai As’ad Situbondo (KHR As’ad Syamsul Arifin) yang mufaroqoh (memisahkan diri, tidak mau ikut lagi) dengan Gus Dur pemimpin NU yang diibaratkan imam sudah kentut masa lalu; namun kini penerusnya pun mufaroqoh dengan PBNU pimpinan Ma’ruf Amin dan SAS (Said Aqil Siradj).

Dua orang ini (Ma’ruf Amin dan SAS) sekarang sedang menjadi sorotan masyarakat secara luas. Ma’ruf Amin yang juga jadi ketua Umum MUI sedang disoroti tajam karena ditengarai suka runtang-runtung dengan LDII, tahu-tahu kini orang LDII itu nangkring di jajaran kepengurusan MUI. Padahal MUI telah mengeluarkan rekomendasi 2005 bahwa LDII itu sesat sejajar dengan Ahmadiyah, meresahkan masyarakat, maka pemerintah agar membubarkannya. https://www.nahimunkar.org/rekomendasi-mui-untuk-pembubaran-ahmadiyah-ldii-dan-sebagainya-2/

Lebih dari itu, dua manusia pembela nabi palsu yaitu Azyumardi Azra pembela agama nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah) dan Moqsith pentolan JIL pembela nabi palsu Ahmad Mosaddeq diangkat pula jadi pengurus MUI. Begitu juga Muhyiddin Junaidi yang jelas-jelas membela gerombolan syiah yang mengamuk Az-Zikra malah diangkat lagi jadi pengurus MUI. Tak ketinggalan, Nasaruddin Umar yang memberi kata pengantar buku orang kafir Anand Krishna yang membahas tentang Al-Qur’an namun menyesatkan, juga diangkat jadi pengurus MUI. https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/posts/825716810878670

Dalam hal NU, Ma’ruf Amin yang jadi Rais ‘Aam NU itu sama dengan mendukung SAS yang kini sedang ramai dibicarakan Umat karena menyakiti Umat Islam akibat videonya yang beredar dinilai menghujat sunnah nabi berupa memanjangkan jenggot, malah dikatakan oleh SAS, makin panjang jenggotnya makin goblok…

Giliran kini, gelombang penolakan terhadap PBNU pimpinan Ma’ruf Amin dan SAS makin tampak nyata, bahkan sudah ada yang menyatakan mufaroqoh. Paling kurang, sudah dua pesantren, di Situbondo Jawa Timur menyatakan mufaroqoh, sedang pesantren Cipasung Jawa Barat  mengeluarkan maklumat tentang menyelewengnya PBNU-pimpinan Ma’ruf Amin dan SAS.

Inilah beritanya.

***

 

Dianggap Menyimpang, Pesantren Sukorejo Situbondo Mufaroqoh dari PBNU

Senin, 21 September 2015 15:30 WIB

maklumat

Maklumat Mufaroqoh yang ditandatangani langsung oleh pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KH Ahmad Azaim Ibrahimy. foto: BANGSAONLINE

SITUBONDO, BANGSAONLINE.com – Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo yang kini diasuh KH Ahmad Azaim Ibrahimy akhirnya menyatakan Mufaroqoh (memisahkan diri) dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang.

Maklumat mufaroqoh itu dibacakan di depan para kiai yang hadir dalan acara Napak Tilas pendirian NU di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, Senin (21/9/2015). “Setelah mengamati dengan seksama melalui pengkajian secara lahiriah dan batiniah serta bertawassul kepada para ulama pendiri NU, kami melihat adanya penyimpangan tata cara Muktamar ke-33 NU di alun-alun Jombang, 1-5 Agustus 2015 yang kemudian menghadirkan keputusan dan langkah-langkah yang menyimpang pula,” tegas Kiai Azaim Ibrahimy, cucu KHR As’ad Syamsul Arifin.

Menurut dia, keluarga besar pondok pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo (tempat diputuskannya kembali ke khitah 26) tidak ikut bertanggungjawab atas semua proses dan hasil Muktamar NU di alun-alun Jombang baik kepada umat nahdliyin maupun kepada Allah SWT. “Oleh karenanya kami menyatakan Mufaroqoh (melepaskan diri dari tanggungjawab) dan tidak ada kait mengkait antara kami dan PBNU hadil Muktamar ke33 NU di alun-alun Jombang,” katanya.

“Kami menyerukan kepada para ulama dan warga nahdliyin agar tetap teguh mempertahankan dan menjalankan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah serta mempertahankannya dari serangan aqidah dan ideologi lain,” imbuh Kiai Azaim Ibrahimy.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa maklumat mufaroqoh ini dilakakukan pesantren Salafiyah Syafiiyah. Jadi tidak atas nama siapapun kecuali keluarga besar pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo yang diasuhnya. “Maklumat mufaroqoh ini kami buat dan telah sesuai amanah Hadratussyaikh KHR Syamsul Arifin setelah kami ziarah ke makamnya,” katanya. (tim)

***

Berikut ini berita dari Maklumat Pesantren Cipasung.

Pesantren Cipasung: Muktamar NU Melenceng dari Khitah

Ditandai dengan menurunnya akhlakul karimah an nahdliyyah.

Kamis, 1 Oktober 2015 | 16:14 WIB

Oleh : Mohammad Arief Hidayat

VIVA.co.id – Pesantren Cipasung, Tasikmalaya menyatakan, saat ini Nahdlatul Ulama (NU) telah melenceng dari khitah atau tujuan dasar dan garis perjuangan organisasi itu. Mereka menilai, penyelenggaraan Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015 telah mengabaikan sikap akhlakul karimah atau budi pekerti.

Pemimpin Pesantren Cipasung KH Ahmad Bunyamin Ruhiyat mengatakan, muktamar itu telah mengakibatkan NU kehilangan jati diri dan berkah perjuangan. Hal itu ditandai dengan menurunnya akhlakul karimah an nahdliyyah atau etika berdasarkan nilai dan ajaran NU.

Dia menilai, proses Muktamar ke-33 NU di Jombang dan produk yang dihasilkannya, produk pemikiran/ajaran (manhaji) maupun organisasi, sama sekali tidak mencerminkan dan menjamin tegaknya dua prinsip Khitah NU.

Dua prinsip itu ialah pemurnian dan pengembangan ajaran dan prinsip kemandirian NU dari ketergantungan kepada partai politik. Pemurnian artinya hanya mereka yang berideologi dan mempunyai sikap keagamaan Ahlussunah wal Jamaah An Nahdiyah yang boleh memimpin organisasi NU. Sedangkan pengembangan adalah bagaimana ajaran NU dikembangkan untuk memenuhi perkembangan zaman.

“Pengembangan ini harus jelas miqat-nya (tolok ukur), yakni keaslian ajaran Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Karena tanpa miqat yang jelas akan terjadi pengubahan dan penggeseran arah dan haluan perjuangan NU, sehingga NU akan menjadi NU yang lain dari aslinya,” ujar Bunyamin dalam keterangan tertulis berjudul Maklumat Penegakan Kembali Khittah 1926 yang diterima VIVA.co.id, Kamis, 1 Oktober 2015.

Dia menjelaskan, hal yang dimaksud dengan kemandirian adalah tata nilai yang rahmatan lil alamin ala NU seharusnya menjiwai gerakan kebangsaan, termasuk menjiwai seluruh partai-partai politik. “Bukannya partai politik/firqah yang lain yang menguasai dan mengendalikan haluan NU,” ujarnya menambahkan.

Menurut dia, diperlukan sebuah Majelis Penegakan Khittah NU guna menyelamatkan dan mengembangkan NU menjelang umur seabad usianya. “Kami menyerukan agar para ulama NU dan warga nahdliyyin untuk mempertahankan dan mengembangkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah An Nahdliyyah sesuai prinsip-prinsip Khittah NU.”

Pesantren Cipasung

Pesantren Cipasung adalah salah satu pesantren terbesar dan berpengaruh di Jawa Barat. Didirikan KH Ruhiat di Singaparna, Tasikmalaya, pada tahun 1931. KH Ruhiat juga dikenal sebagai pendiri NU di Jawa Barat.

KH Ruhiat lebih populer disebut Ajengan Ruhiat. Dia sedikitnya empat kali masuk-keluar penjara karena melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda: pada 1941, 1942, 1944, dan 1948.

Pemerintahan kolonial Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung. Pesantren ini dinilai telah menghasut rakyat untuk bersikap anti-penjajahan yang dianggap dapat mengganggu stabilitas.

Meski mendukung sepenuhnya perjuangan Partai NU, ia tak mau menjadi politikus yang berjuang di parlemen. Menurutnya, bagian politik sudah ada ahlinya dan ia cukup memimpin pesantren saja. Kalau pesantren ditinggalkan, ia khawatir pengajar masyarakat di bidang agama akan semakin berkurang.

(mus)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.906 kali, 1 untuk hari ini)