(Benar-benar terbalik)

Ilustrasi tanda tanya terbalik

Waktu jadi Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi dikabarkan membuat Perda Wajib Baca Al-Quran bagi kaum muslim. Tahu-tahu ketika jadi Menteri Dalam Negeri Indonesia dia mencabut Perda Larangan Miras. Benar-benar kontras bahkan bertolak belakang. Ada apa?

Tampaknya, jabatan itu dapat digunakan untuk kebaikan, tetapi juga sangat berbahaya ketika digunakan untuk perusakan masyarakat, misalnya memberi peluang bebasnya peredaran miras (minuman keras) yang sangat membahayakan masyarakat.

Orang yang naik jabatan dapat juga berubah sikapnya. Ketika jadi gubernur pernah membuat peraturan daerah (perda) wajib membaca Al-Qur’an bagi kaum muslim dan melarang orang menikah bila belum bisa membaca Al Quran. Tetapi ketika jabatannya naik hingga jadi menteri, ternyata lain lagi. Malahan miras (minuman keras/ khamr) yang diharamkan oleh Al-Qur’an justru dia dukung untuk dijual secara longgar, dengan cara mencabut  9 perda yang melarang peredaran miras. Keruan saja kantornya digeruduk massa Ummat Islam yang marah, dan jangan salahkan ketika mereka sampai melempari kaca, karena itu justru menunjukkan ghirah Islamiyahnya, yang tidak bernilai merusak sama sekali bia dibanding penyebabnya, yakni mencabut perda larangan miras itu. Berapa ribu orang nantinya bila peredaran miras dilonggarkan “berkat” sikap “menteri miras” itu. Anehnya justru yang dipersoalkan adalah yang melempari kaca kantor dan dilaporkan ke polisi. Rupanya lebih sayang-sayang kaca daripada nyawa manusia bahkan agama Islam.

Di negeri ini banyak pemegang kekuasaan dan pemegang kendali media massa yang pikirannya terbalik serta mempengaruhi masyarakat untuk berpikir terbalik. Contohnya ya itu: lebih menyayangi kaca kantor yang sekadar pecah daripada berantakannya kehidupan manusia sampai mati bergelimpangan akibat miras dan rusak agamanya. Bahkan para tokoh Islam pun sudah banyak yang keblinger, lebih sayang kepada aliran sesat daripada Islam itu sendiri. Sehingga ketika ada kasus Syi’ah yang merusak Islam di Sampang Madura dan jadi ramai di sana, langsung serentak sontak para tokoh ormas Islam terbesar  dan lainnya menyuara bernada membela aliran sesat syiah, bagai wadyabala syetan yang sedang uring-uringan melihat aliran sesat yang dicintainya diusik orang. Astaghfirullah… kok begini jadinya. (lihat nahimunkar.com   Kasus Sampang dan Para Tokoh yang Nadanya Membela Aliran Sesat Syi’ah 6 January 2012 | https://www.nahimunkar.org/10545/kasus-sampang-dan-para-tokoh-yang-nadanya-membela-aliran-sesat-syiah/). Itu belum lagi mediamassa yang tadinya dari saham Ummat Islam tahu-tahu juga seolah jadi corong yang sesat itu dengan berbagai cara. Apalagi media-media liberal lainnya yang sudah terbiasa bernada tidak suka kepada Islam, maka seakan mendapatkan berita empuk dan renyah untuk mengganyang Islam.

Apakah mereka tidak ingat peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.”  (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169).

Di antara usaha untuk mengembalikan atau menda’wahi orang-orang yang sedang lupa itu adalah penyampaian nasihat.

Inilah berita tentang nasihat berkaitan dengan kasus miras.

***

Sekjen FUI Nasehati Mendagri Agar Tak Langgar Hukum Allah, Tuhan YME

Shodiq Ramadhan | Sabtu, 14 Januari 2012 | 18:29:03 WIB

Jakarta (SI ONLINE) – “Jika mau serius menetapi NKRI sebagai negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, ya jangan ada hukum dan peraturan perundangan di NKRI ini yang melanggar hukum Tuhan YME, Allah SWT. Kalau hukum Tuhan YME dilanggar, seperti hukum Allah Tuhan YME tentang miras ini, maka orang akan mempelesetkan sila pertama Pancasila bukan lagi Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi Kesetanan Yang Luar Biasa!”.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) KH. Muhammad Al-Khaththath langsung di depan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan jajaran petinggi Kemendagri di kantornya Jalan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat pagi (13/1/2012).

Sekjen FUI yang menyertai rombongan Habib Rizeq Syihab dan jajaran pengurus DPP FPI yang berdialog dengan Mendagri tentang masalah pencabutan Perda Miras menyampaikan hal itu mengingat alasan Mendagri memerintahkan Pemkab Indramayu mencabut Perda Anti Miras adalah karena dianggap bertentangan dengan produk hukum yang lebih tinggi, yakni Keppres 1997 yang mengatur peredaran minuman beralkohol.

Selanjutnya dalam forum tersebut Sekjen FUI membacakan firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 90-91,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٩٠)إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (٩١)

yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan kotor termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat; Maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu. (QS. Al-Maidah: 90-91)

Menurut Al-Khaththath, hukum Allah Tuhan YME dalam dua ayat di atas tegas mengharamkan khamar atau miras dan menyebutnya sebagai perbuatan syetan dan syetan punya program untuk merusak generasi manusia. “Jadi kami mengingatkan bahwa siapa saja yang melegalkan miras, maka kemungkinannya dia adalah mendapatkan bisikan syetan. Kalau tidak dibisiki syetan, berarti dia disuruh syetan. Kalau tidak disuruh syetan berarti dia adalah syetan itu sendiri”, ingatnya.

Ketegasan hukum ini, lanjut Al-Khaththath, direspon oleh para sahabat dengan cepat. Mereka mengatakan, kami berhenti Ya Tuhan!. Ada yang masih sedang minum, mirasnya dibuang. Ada yang masih baru menuangkan ke gelas, mirasnya dibuang. Bahkan mereka membuang yang masih tersimpan di dalam guci-guci di dalam gudang.

“Juga ada pengusaha yang baru datang dari perjalanan dagang ke kota Madinah hendak menghadiahi miras kepada Rasul, maka Beliau Saw mengatakan bahwa khamar atau miras sudah diharamkan. Lalu pengusaha itu mengatakan bagaimana kalau saya jual kepada Yahudi? Rasul menjawab yang sudah diharamkan tidak boleh dijual!  Lalu pengusaha itu bertanya lagi bagaimana kalau saya hadiahkan kepada seorang Yahudi? Beliau Saw menjawab: Yang sudah diharamkan tidak boleh dihadiahkan! “Lalu harus saya apakan miras ini?” tanya orang itu. Nabi Muhammad saw. menjawab: “Buang saja ke selokan!”, Al-Khaththath mengingatkan Gamawan dengan kisah pada zaman Rasulullah.

“Maka gerakan serempak dari warga negara kota Madinah waktu itu yang sadar hukum Allah Tuhan YME yang mengharamkan miras adalah ramai-ramai membuang miras mereka di selokan sehingga kota Madinah banjir miras”, lanjutnya.

Pemimpin umum Suara Islam itu juga mengingatkan Gamawan dengan hadits riwayat At-Tirmidzy  yang dikatakan bahwa Rasulullah Saw melaknat 10 golongan orang yang berkaitan dengan miras yaitu: pembuatnya, yang meminta dibuatkan, peminumnya, pembawanya, yang dibawakan untuknya, orang yang menuangkannya, yang menjualnya, yang memakan harganya, yang membelinya, dan yang dibelikan untuknya (Sunan At Tirmidzy Juz 3/589).

“Nah kalau 10 golongan itu dilaknat, apalagi yang melegalkan miras?. Tentu laknatnya lebih besar lagi. Na’udzubillahi mindzalik!”, tandasnya.

“Pak Menteri, kalau melihat uraian Al Quran dan As Sunnah sebagai hukum dari Tuhan YME di atas, maka jelas larangan peredaran miras itu total. Jadi yang layak dibatalkan bukan Perda anti miras, tapi justru Keppresnya. Oleh karena itu, kami menyadari posisi pak Menteri, maka bagusnya diusulkan perubahan Keppres atau meningkatkan Perda Anti Miras yang melarang peredaran miras secara total itu supaya menjadi Undang-undang Anti Miras biar tidak dianulir karena dianggap bertentangan dengan keppres”, kata Al-Khaththath.

“Pak Menteri, mumpung masih di dunia, kami menyampaikan nasihat ini karena rasa sayang kami kepada pak Menteri, agar jangan pak Menteri melanggar hukum Allah Tuhan YME yang wajib dijunjung tinggi di NKRI yang berdasarkan Ketuhanan YME!” tegas Al Khaththath menutup tawashaubil haqq kepada Menteri Dalam Negeri yang sewaktu menjadi Bupati Solok pernah membuat Perda Wajib Baca Al Quran bagi kaum muslim dan melarang orang menikah bila belum bisa membaca Al Quran.

Rep: SI/Pina (SI online)

Ilustrasi baltyra.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.026 kali, 1 untuk hari ini)