Ramainya sorotan terhadap PBNU (yang kini dlakukan oleh Kyai-kyai NU sendiri maupun kalangan luar), sebenarnya sebelum muktamar ke 32 di Makassar 2010 sudah diingatkan. Jangan sampai  orang liberal terpilih dalam Muktamar NU.

Namun kenyataannya, justru Said Aqil Siradj yang mereka pilih sebagai ketua Umum adalah orang yang kini ditengarai dekat dengan pihak gereja dan aliran sesat Syiah serta aliran sesat LDII. Keruan saja rekannya yang kyai Betawi, Saifuddin Amtsir selaku salah seorang ketua Syuriah PBNU berani “jualan PKI” dengan menyanyikan lagu PKI dan “menjilat” Syiah di acara mencaci terhadap para Sahabat Nabi yang dilaksanakan Syiah dalam apa yang disebut Idul Ghadir di Jakarta, Sabtu 26/10 2013.

Bahkan sebelumnya, Said Aqil Siradj sendiri tertangkap basah bersepakat kerjasama dengan Syiah.

Menurut Cholil Nafis, diam-diam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Mustafa al-’Alamiyah, Qom, Iran.  Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Dewan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia. (lihat berita Soal Syiah, NU Dikhianati Oknum-oknum PBNU https://www.nahimunkar.org/soal-syiah-nu-dikhianati-oknum-oknum-pbnu/ ).

Bagaimanapun, sebenarnya NU sekarang yang dikhianati oleh oknum-oknum PBNU itu ternyata sudah diingatkan.

Sebelum Muktamar NU di Makassar belangsung memilih Ketua Umum PBNU periode “gonjang-ganjing” sekarang ini, ternyata sudah santer diingatkan. Inilah di antara tulisan yang mengingatkannya.

***

Selasa, 16 Feb 2010

Mencari Calon Ketua Umum PBNU yang tidak Pro-Liberal

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

NU
Sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, 22-27 Maret mendatang. (antarajatim.com, 25 Jan 2010).

“Tujuan berdirinya NU itu salah satunya untuk membendung faham liberalisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme, karena itu para kiai di Jatim sepakat membendung faham itu,” kata Rais Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar di Surabaya, Senin.

Hingga kini, tujuh kandidat Ketua Umum PBNU mencuat ke permukaan yakni KH Said Agil Siradj (ketua PBNU), KH Salahudin Wahid (Gus Solah/mantan ketua PBNU), Prof KH Ali Maschan Moesa MSi (mantan Ketua PWNU Jatim), Masdar F Mas’udi (ketua PBNU), Achmad Bagdja (ketua PBNU), Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Abshar Abdalla (aktivis Jaringan Islam Liberal/JIL).

Dari ketujuh nama bakal calon Ketua Umum PBNU itu, satu-satunya nama yang terang-terangan berpaham liberal hanyalah Ulil Abshar Abdalla. Lantas, apakah keenam calon lainnya bebas dari paham liberal? Inilah catatan kecil mengenai para bakal calon Ketua Umum PBNU:

…Tujuan berdirinya NU itu salah satunya untuk membendung faham liberalisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme, karena itu para kiai di Jatim sepakatmembendung faham itu…

1. KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

Adik kandung Gus Dur ini adalah orang yang belum tentu jelas wala’nya. Dia pernah menjadi juri Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) dalam acara Peradah Indonesia menganugerahkan Peradah Award, Juni 2009.  Bertindak sebagai dewan juri adalah KH Salahuddin Wahid, Pdt Nathan Setiabudi dan Ngakan Putu Putra.

Di antara yang diberi anugerah adalah mendiang Pramoedya Ananta Toer tokoh sastrawan Lekra (Lembaga milik PKI – Partai Komunis Indonesia) yang berideologi komunis dengan dituangkan dalam tulisan-tulisannya hingga pemerintah sering melarang buku-bukunya untuk dibaca.

Sedangkan media yang dimenangkan justru media yang disebut plural (dalam arti pluralisme agama, menyamakan semua agama) yakni Majalah Tempo.
Dari Islam, yang dimenangkan dan dianugerahi Penghargaan MPU Peradah 2009 (yang jurinya dari Islam Salahuddin Wahid Itu) adalah tokoh yang mengusung faham pluralisme agama yang telah diharamkan MUI, yakni Ahmad Syafii Maarif mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. (lihat detiknews Minggu, 14/06/2009 06:44 WIB).

2. KH Ahmad Bagja

Mengenai kontroversi Undang-undang Penodaan Agama yang sedang digugat oleh para Gerombolan liberalis, Ahmad Bagja menilai undang-undang tersebut bisa membuat orang menghakimi orang lain sesukanya:

“Bagi kalangan yang kontra, apabila MK mengabulkan permohonan ini, akan terjadi anarki. Pendapat ini, antara lain, disuarakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ahmad Bagja. Menurut Bagja, di satu sisi, orang bisa berbuat sesukanya membuat agama sesuai selera. Di sisi lain, masyarakat yang tak terima akan berbuat sesukanya untuk melakukan penghakiman” (metrotvnews.com, Kamis, 4 Februari 2010 09:23 WIB , lihat:http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newscat/hukum/2010/02/04/10115/MK-Gelar-Uji-Materi-UU-Penistaan).

3. Slamet Efendi Yusuf

Dia adalah mantan ketua umum Gerakan Pemuda Ansor, saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi Kerukunan Antarumat Beragama MUI Pusat.

…secara tegas Slamet Effendy Yusuf menyatakan dukungannya terhadap pengukuhan UU Penodaan Agama…

Mengenai kontroversi Undang-undang Penodaan Agama yang sedang digugat oleh para Gerombolan liberalis, secara tegas Slamet Effendy Yusuf menyatakan dukungannya terhadap pengukuhan UU Penodaan Agama. Berikut kutipan berita dari Media Indonesaia:

“Menurut Slamet, keberadaan undang-undang itu sebagai bagian upaya untuk membuat tatanan sosial terjamin mengingat persoalan agama seringkali sensitif.

“Ketika agama yang oleh pemeluknya dinilai suci kemudian dinodai, jelas akan memancing emosi dan konflik,” kata mantan ketua umum Gerakan Pemuda Ansor itu.

Dikatakannya, saat ini saja banyak aliran kepercayaan yang jelas-jelas merupakan penodaan terhadap agama yang sah karena sebagian atau seluruh ajaran atau praktik peribadatannya merupakan penyelewengan dari ajaran dan praktik ibadah agama yang sah.

Apalagi, lanjut kandidat ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, jika tidak ada aturan yang membatasi.

“Mereka tentu akan dengan leluasa melakukan penodaan dengan dalih kebebasan beragama. Saya nggak ngerti, penodaan kok dianggap sebagai kebebasan beragama,” katanya.

Yang tidak kalah penting, tambah Slamet, dalam UU yang diajukan uji materi itu ada aturan yang memberikan tugas kepada pemerintah untuk melakukan pengawasan. Jika UU itu dicabut, maka otomatis tugas pengawasan pemerintah terhadap persoalan keagamaan turut tercabut.

“Artinya, masyarakat akan mengawasi sendiri. Ini bisa timbul anarkhi,” katanya.

Menurutnya, kebebasan memeluk dan menjalankan agama yang dijamin UUD 1945 seharusnya dimaknai positif, yakni memeluk agama yang sah.

“UUD sendiri memberikan batasan bahwa kebebasan itu dibatasi oleh undang-undang, bukan bebas sebebas-bebasnya,” kata mantan anggota DPR selama dua periode itu. (http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/05/121304/16/1/MK-Diminta-Hati-Hati-Soal-UU-Penodaan-Agama)

4. Said Aqiel Siradj

Said Aqiel Siradj terlalu berani menulis tudingan beraroma pengkafirkan terhadap para sahabat, seperti dalam tulisannya yang kami kutip ini:

“Sejarah mencatat, begitu tersiar berita Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu bakar (b kecil dari pemakalah), hampir semua penduduk jazirah Arab menyatakan keluar dari Islam. Seluruh suku-suku di tanah Arab membelot seketika itu juga. Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau dikaji secara saksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah. Pikiran yang mendasari sikap orang Makkah untuk tetap memeluk Islam adalah logika bahwa kemenangan Islam adalah kemenangan Muhammad; sedang Muhammad adalah Quraisy, penduduk asli kota Makkah; dengan demikian, kemenangan Islam adalah kemenangan suku Quraisy; kalau begitu tidak perlu murtad. Artinya, tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Saqifah; “Al-a’immatu min Quraisy,” bahwa pemimpin itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.” (Dr. Said Agil Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, hlm. 3-4).

Sebegitu sengitnya terhadap para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai berani menulis:

“Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau dikaji secara saksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah. Artinya, tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Saqifah: “Al-a’immatu min Quraisy,” bahwa pemimpin itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.”

Betapa langcangnya Aqil Siradj! Keimanan adalah masalah yang tidak dapat dilihat. Ketika orang masih memeluk Islam, apakah kleislamannya itu karena keimanan atau karena kekabilahan/kesukuan,  sama sekali bukan urusan manusia. Karena manusia sama sekali tidak berhak dan bahkan tidak tahu apa isi hati seseorang. Sampai-sampai ketika ada sahabat yang membunuh orang kafir dalam perang, ketika si kafir ini sudah mengucapkan syahadat, maka ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya langsung bertanya dan diulang-ulang: “Sudahkah engkau membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak?”  Inilah haditsnya:

حَدِيث أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di al-Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah pada waktu pagi. Aku berjumpa seorang lelaki, lelaki tersebut menyebut ‘la ilaha illallah,’ lalu aku menikamnya. Aku menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah. Rasulullah bertanya dengan sabdanya: Adakah kamu membunuhnya sedangkan dia telah mengucapkan kalimah syahadat ‘la ilaha illallah.’ Aku menjawab: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takut akan ayunan pedang. Rasulullah bertanya lagi: Sudahkah engkau membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak? Rasulullah mengulangi soal itu kepadaku sampai-sampai aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islam pada hari itu. (Muttafaq ‘alaih).

Said Aqiel Siradj suka blusak-blusuk ke gereja, dan memang memberi kata pengantar buku pendeta Kristen Ortodox, dengan menyamakan tauhid Ahlis Sunnah wal Jama’ah dengan keyakinan Kristen.

Dalam buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam yang ditulis oleh Bambang Noorsena, Said Aqiel Siradj memberikan kata penutup yang sangat berbahaya dan menyesatkan:

“Dari ketiga macam tauhid di atas (tauhid al-rububiyyah, tauhid al-uluhiyyah dan tauhid asma’ wa shifat), maka tauhid Kanisah Ortodox Syria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara al-rububiyyah, Kristen Ortodox Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyyah, ia juga mengikrarkan Laa ilaaha illallah: “Tiada tuhan (ilah) selain Allah”, sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah, secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut.” (hal 165).

Pernyataan Said Aqiel Siradj itu sudah sangat dan terlalu jauh penyimpangannya dari akidah Islam.Dengan menyamakan tauhid Islam dan Kristen, (berarti sama dengan) secara langsung dia berfaham bahwa Islam dan Kristen itu sama-sama syirik kepada Allah SWT. Karena pada halaman 167 buku tersebut, dicantumkan dengan jelas Qanun Al Iman Al Muqaddas (Pengakuan atau syahadat Iman) Kristen Ortodoks Syria dalam bahasa Arab berdampingan dengan bahasa Aram:

“Qaanuun al-iimaan al-muqaddas: Nu’min birobbin waahidin ‘Iisaa al-Masiih ibnullaahil-waahidi, al-mauluudu minal aabi qabla kullid-duhuur, nuurun min nuurin, ilaahun haqq min ilaahin haqq, mauluudin ghoiru makhluuqin, waahidun ma’al-aabi fid-dzaati, alladzii bihi kaana kullu syai-in, haadzal-ladzii min ajlina nahnul-basyar, wamin ajli kholaashinaa, nazala minas-samaa’…wa min maryam al adzraa al bathuul, waalidatul ilah…”

(Dan  kami beriman kepada satu-satunya Tuhan (Rabb) yaitu Isa al-Masih (Yesus Kristus) Putra Allah Yang Tunggal, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad, Terang dari sumber Terang, (firman) Allah yang keluar dari (Wujud) Allah, dilahirkan dan bukan diciptakan, yang satu dengan Allah dalam Dzat-Nya yang Esa, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan. Untuk kita manusia dan demi keselamatan kita, telah nuzul dari surga… dan dari perawan Maryam yang suci, ibunya Tuhan (walidatul ilah).

Umat Kristen yang beriman bahwa satu-satunya rabb (tuhan) adalah Yesus Kristus, dikatakan masih sama tauhidnya dengan Islam?? Kemudian doktrin bahwa Maryam adalah ibunya Tuhan (walidatul ilah) dikatakan substansinya sama dengan Islam?? Subhanallahi ‘amma yashifuun. Kami berlindung kepada Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Dengan pemikiran seperti itu, maka sesungguhnya “teologi” KH Said Aqiel Siradj lebih Kristen daripada para pendeta dan teolog Kristiani. Jika masih merasa sebagai umat Islam, maka seharusnya dia bertobat kepada Allah saat ini juga, sebelum terlambat. Karena ucapan itu bisa menggugurkan keislamannya, dan sangat kontradiktif dengan ayat-ayat Ilahi berikut ini:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ.

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS At-Taubah: 31).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا(36)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS An-Nisaa’: 36).

(Majalah Bidik, Edisi Perdana, Th I, januari 2003, halaman 42, 43, dan 46; lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kiyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010).

5. Ulil Abshar Abdalla

Jum’atan saja membolos pulang sebelum shalat, bahkan pernah sengaja tidak berjum’atan

Kombinasi antara “kecerdasan” dan keliberalan Ulil boleh jadi telah mendasari keberaniannya membuat aturan sendiri dalam hal shalat Jum’at. Pertama, ia selalu datang menjelang shalat dimulai, berarti tidak mengikuti khotbah. Kedua, ia tak sungkan mengurungkan shalat Jum’at tanpa alasan yang syar’i yaitu hanya karena khatib dan isi khotbahnya kurang berkenan di hatinya, maka dia langsung berdiri dan walk out dari tempat duduknya di barisan orang berjum’atan, pulang alias bolos. Jum’atan kok bolos he! Bahkan sama sekali meninggalkan shalat Jum’at (sengaja tidak hadir?) pernah dilakukan Ulil, hanya karena ia seminar, membahas tentang Tuhan dari jam 10 hingga 13, bersama-sama kaum kafirin, sebagaimana diberitakan MBM (Majalah Berita Mingguan) GATRA edisi 26 Februari 2005.

Itu semua sebenarnya telah menyelisihi adab-adab Jum’atan yang diatur oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bahkan memberi contoh buruk yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena justru diperintahkannya adalah untuk bersegera Jum’atan, dan ada pahala besar bagi yang datang awal-awal. Bahkan ada ancaman bagi yang meninggalkan Jum’atan tanpa udzur syar’i.

{ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ } .رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hendaklah kaum-kaum berhenti dari meninggalkan jum’at-jum’at, atau Allah akan menutup hati mereka sehingga mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai. (HR Muslim nomor 856, dan An-Nasaai 3/ 88). (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz dkk, Islam dan Al-Qur’an pun Diserang, Pustaka Nahimunkar, Jakarta, Januari 2009/ Muharram 1430H, halaman 191-193).

Ulil Abshar Abdalla juga menulis bahwa hukum Tuhan itu tidak ada, dan ia mengatakan, vodca –minuman beralkohol lebih dari 16% bisa jadi di Rusia halal karena udaranya dingin sekali. Ungkapan yang merusak Islam dan menghalalkan yang haram ini ditulis di Kompas 18 November 2002/ Ramadhan 1423H dan dalam wawancara dengan majalah di Jakarta.

6.  Masdar F Mas’udi

Masdar F Mas’udi alumni IAIN Jogjakarta, orang NU yang menyuarakan “kalau lelaki nekad berzina maka hendaknya pakai kondom” (KOMPAS, 14 Maret 2003) dan menyerukan musim haji wuqufnya bukan hanya di bulan Dzulhijjah tapi bisa di Bulan Syawwal dan Dzulqo’dah.

Masdar juga menyamakan pajak dengan zakat. Dosen Ilmu Fiqh, Dr. Khuzaimah T. Yango, alumni Mesir, menjelaskan dalam perkuliahan yang saya ikuti di MUI DKI Jakarta 1997 bahwa pendapat Masdar F. Mas’udi yang menyamakan pajak dengan zakat  adalah jelas pendapat yang tidak benar dan tak punya landasan. Karena zakat jelas beda sekali dengan pajak. Dalam seminar pun sudah banyak yang membantah Masdar, kata Dr. Khuzaimah.

Rupanya setelah bermain-main dengan tema pajak dan zakat, Masdar masih punya “mainan” lagi yaitu tentang waktu pelaksanaan ibadah haji.

Waktu pun berjalan terus, sedang kedudukan seseorang bisa menanjak. Di tahun 2000, Masdar Farid Mas’udi yang tadinya disebut intelektual muda itu telah menjadi Katib Syuriyah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan Anggota Dewan Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia). Dia dengan menulis embel-embel kedudukannya itu membuat artikel yang dimuat secara bersambung di Harian Republika, Jum’at tanggal 6 dan tanggal 13 Oktober 2000, berjudul Keharusan Meninjau Kembali Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji.

Tulisan itu menyodorkan pendapat bahwa pelaksanaan ibadah haji  hendaknya bukan hanya sekitar tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah, tetapi  kapan saja asal selama 3 bulan (Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah). Alasan Masdar, karena jelas di dalam Al-Qur’an Al-Hajju asyhurun ma’lumat. Haji itu di bulan-bulan yang sudah diketahui (3 bulan tersebut). Jadi, menurut Masdar, janganlah Al-Qur’an dikorbankan oleh hadits Al-Hajju ‘arafah, haji itu adalah Arafah. (Istilah Al-Qur’an dikorbankan oleh hadits itu tidak pernah dipakai oleh ulama manapun. Saya baru dengar dari pernyataan Masdar itu).

Landasan pikiran Masdar, ia kemukakan bahwa ibadah haji itu ‘napak tilas’. Maka dimensi ruang itu lebih penting ketimbang dimensi lainnya termasuk waktu. Oleh karena itu, saran Masdar, agar pelaksanaan ibadah haji itu ya kapan saja, asal 3 bulan tersebut.

Penjelasan lebih detil tentang pendapat nyeleneh Masdar ini bisa dibaca dalam buku karya Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, dalam  judul ganjilnya “Pembaruan” Tentang Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji”, halaman 205-213; juga buku Hartono Ahmad Jaiz terbaru,Mengungkap Kebatilan Kiyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2010

7. Prof KH Ali Maschan Moesa MSi (mantan Ketua PWNU Jatim)

Di kalangan Nahdiyin, Ali Maschan Moesa dikenal sebagai jago yang dinilai telah melanggar tatakrama NU dalam hal penetapan Lebaran (Idul Fitri 1427 H). Inilah beritanya:
Perbedaan Lebaran, PWNU Jatim Dianggap Langgar Tata Krama

Sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) menganggap Ketua PWNU Jatim, KH Ali Maschan Moesa telah melanggar tatakrama NU dalam hal penetapan Lebaran (Idul Fitri 1427 H), Senin (23/10 2006).

“Selain melanggar tatakrama, Ali Maschan sebagai oknum di PWNU Jatim juga telah merusak tradisi dan tatanan di lingkungan NU yang selama ini telah berjalan dengan baik,” katanya di Surabaya, Kamis (26/10).

Sebagaimana diketahui, PWNU Jatim telah mengambil sikap berbeda dengan PBNU dan pemerintah dalam melaksanakan shalat Idul Fitri 1427 H, Senin (23/10), sedangkan hasil isbat pemerintah menetapkan Lebaran jatuh pada Selasa (24/10).
Ikhbar (informasi) itu disampaikan setelah PWNU Jatim menerima laporan bahwa hilal terlihat di Pantai Gebang, Bangkalan, Madura.

Tim rukyat di Bangkalan itu adalah KH Djaelani, H Achmad Ikhsan, H Abd Azis, Satur Hadi, Zakaria, dan Nasir yang disumpah Pengadilan Agama.

Menurut Pak Ud yang adalah paman dari Gus Dur ini, akibat pengumuman PWNU itu, Lebaran tahun ini menjadi kacau. Banyak masyarakat NU di kalangan bawah yang kebingungan dengan adanya pengumuman dari PWNU itu.

“Sebetulnya beda pendapat itu biasa dalam menentukan Lebaran, tapi mestinya yang melakukan ikhbar kepada warga itu bukan PWNU, tapi PBNU. Wilayah tidak bisa memutusi sendiri, melainkan hanya memberi laporan ke PBNU,” ujar anak pendiri NU, KH Hasyim Asy‘ari itu.

Karena itu, ia akan segera mengirim surat ke PBNU agar memberikan terguran keras kepada Ali Maschan Moesa mengenai tindakannya yang telah bersebarangan dengan PBNU itu.

“Sikap seperti oknum PWNU Jatim ini perlu ditertibkan.  Sebab kalau tidak, maka tahun depan akan ada lagi wilayah-wilayah yang melakukan hal serupa dengan PWNU Jatim,” tutur mantan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu.
Ia mengemukakan, mengenai hasil rukyat di Bangkalan harus dipertanyakan, karena hilal (bulan) yang dilaporkan tidak memenuhi syarat dan laporan bahwa di Cakung, Jakarta juga melihat bulan setelah dicek oleh PBNU maupun MUI pusat ternyata tidak benar.

Sementara itu, meskipun PWNU telah mengeluarkan pengumuman Idul Fitri 1427 H jatuh pada 23 Oktober, Pesantren Tebuireng, melaksanakan shalat Ied, Selasa pagi (24/10).

“Hampir semua Ponpes (Pondok Pesantren—Red) di Jombang sudah melaksanakan shalat Id Senin (23/10).  Hanya pondok sini saja (Tebuireng—Red), shalat Id sekarang (24/10), karena mendapatkan telepon dari Menteri Agama,” kata koordinator pengurus Ponpes Tebuireng, Abdul Wahid.

Setelah mengumumkan hasil Sidang Isbat di Jakarta, Minggu malam (22/10), bahwa 1 Syawal 1427 H jatuh pada Selasa (24/10), Menag langsung telepon pengasuh Ponpes Tebuireng KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah.

“Gus Sholah kemudian memerintahkan kepada jajaran pengurus pondok untuk melaksanakan shalat Idul Fitri pada Selasa,” ujar Wahid menambahkan. (gatra.com, 26 Oktober 2006 10:54, http://www.gatra.com/2006-10-30/artikel.php?id=98929)

Itulah catatan kecil mengenai para calon kandidat Ketua Umum  PBNU yang akan bertarung di Muktamar NU ke-32 di Makassar 22-27 Maret 2010.

http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2010/02/16/3357/mencari-calon-ketua-umum-pbnu-yang-tidak-pro-liberal/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.414 kali, 1 untuk hari ini)