Ilustrasi. Foto/ krakatau-quelle.co.id/

Ada hadits, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (otomatis termasuk muslimah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَي كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (H.R. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913).

Yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf (orang yang dikenai kewajiban) mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan” (Fathul Baari, 1/92).

Dari penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah di atas, jelaslah bahwa ketika hanya disebutkan kata “ilmu” saja, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan sebagian orang yang membawakan dalil-dalil tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dari Al Qur’an dan As-Sunnah, tetapi yang mereka maksud adalah untuk memotivasi belajar ilmu duniawi. Meskipun demikian, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam keburukan, maka buruk. (Lihat Kitaabul ‘Ilmi, hal. 14).
https://buletin.muslim.or.id/keutamaan-menuntut-ilmu-agama/

Kewajiban menuntut ilmu di situ adalah ilmu syari’at (agama), agar penyembahan kepada Allah Ta’ala itu berdasarkan ilmu yang benar, dan agar dalam hidup ini berdasarkan ilmu agama hingga menghindari mana-mana yang diharamkan, dan melaksanakan apa2 yang diwajibkan agama.

Adapun ilmu selain itu, maka ada yang mubah (boleh) dan ada yang haram seperti ilmu sihir, santet, pengasihan, susuk, perdukunan, ilmu kebal, klenik sulap untuk menipu, hipnotis dan sebagainya, itu haram, bahkan pelakunya bisa jadi kafir. Tukang sihir/ santet itu terhitung kafir, dan hukumannya menurut Islam adalah hukum bunuh. Termasuk juga ilmu musik itu ya haram, maka dalam Islam jelas tidak diseyogyakan. Ilmu tentang kebiasaan manusia atau adat istidat yang berupa kemusyrikan atau warisan agama kemusyrikan seperti ruwatan, tepung tawar, sesajen, tumbal, sedekah bumi, larung laut dan sebagainya itu ya haram dipelajari, walau hanya di pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya. Karena itu akan merusak keyakinan Tauhid. Maka para guru wajib berhati-hati dalam pelajaran macam ini yang menjerumuskan murid ke kemusyrikan, dosa paling besar.

Adapun ilmu yang mubah itu bisa menjadi wajib ketika sebagai alat untuk ilmu agama, misalnya ilmu hitung itu untuk menunjang ilmu faraid (pembagian waris dalam Islam). Juga ilmu yang boleh itu bisa menjadi fardhu kifayah bagi yang akan menekuni satu profesi untuk menjadi penjaga umat. Misal ilmu kesehatan, menjadi fardhu kifayah bagi yang akan jadi dokter dsb.

Namun klasifikasi itu kini telah tenggelam dan mungkin dianggap aneh.

Kenapa?

Karena dunia pendidikan telah dipandang sebagai pembelajaran untuk bekal hidup di dunia ini belaka. Jadi mereka disekolahkan agar nanti bisa kerja atau dapat kedudukan di dunia ini. Sedang akheratnya tidak dipikir. Padahal hidup ini adalah kesempatan untuk cari bekal untuk hidup di akherat. Nah, mengumpulkan bekal akherat itu harus pakai ilmu, itulah ilmu agama. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu yaitu ilmu agama untuk menjadi landasan dalam mengumpulkan bekal untuk akherat.

Pandangan duniawi semata itu sejatinya lah yang disebut sekulerism, membuang agama dari kancah kehidupan. Tetapi malah sudah mencemari hampir segala otak manusia masa kini. Sehingga dunia pendidikan sejatinya telah terjerembab dalam jurang sekulerism, bahkan yang di bawah kementerian agama pun bisa lebih dahsyat lagi, karena untuk memencongkan agama dengan istilah yang tak dikenal agama misalnya moderasi beragama. Itu tak lain telah terendus bahwa tujuannya agar menjadi pluralisme agama, menyamakan semua agama, yang itu pada dasarnya adalah pemurtadan. Sehingga telah ditulis buku oleh Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada pemurtadan di IAIN terbitan Pustaka Al-Kautsar Jakarta.

Dunia Pendidikan, aslinya menurut Islam adalah untuk mendidik generasi dengan ilmu agama agar tahu mana yang haq dan mana yang batil, mana yang wajib disembah dan mana yang haram disembah serta bagaimana tatacaranya, itulah sejatinya yang wajib dituntut dan diajarkan ilmunya, yaitu ilmu syariat agama itu tadi.

Itu bukan berarti semua harus jadi ulama, tapi itu adalah mengembalikan pengertian asal tentang pendidikan secara agama. Sehingga setiap muslim wajib tahu ilmu agamanya, hingga ketika dilaksanakan akan selamat di dunia dan akherat. Dan itu tidak menafikan (meniadakan) pendidikan ilmu umum. Tetap dihargai sebagai ilmu yang mubah (bisa berubah jadi wajib/ wajib kifayah) tapi ada juga yang haram.

Akibat dari telah terjerembabnya dunia pendidikan ke jurang sekularism, maka manusia2 yang dihasilkan dari dunia pendidikan adalah hanya pintar mengenai masalah2 dunia tapi jahil banget tentang agamanya. Bahkan yang dididik ilmu agama tetapi telah diliberalkan sedemikian rupa, maka lebih parah lagi, menjadi orang-orang pengacau agama yang melontarkan pendapat2 aneh dalam agama dan menyesatkan. Bahkan sampai bisa mengakibatkan murtad, sebagaimana akhir-akhir ini ada prof NU yang membela penyimpangan seks LGBT tanpa malu-malu. Na’dzubillahi min dzalik.

Dua bahaya sekaligus:

  1. Yang dididik secara sekuler menjadi hanya lihai soal keduniaan, jahil mengenai ilmu akherat/ agama.
  2. Yang dididik ilmu agama tapi diliberalkan, dipluralisme agamakan (yang telah difatwakan haramnya oleh MUI 2005) maka menjadi manusia-manusia penjegal agama dengan pendapat2 yang aneh, bahkan ada yang sampai membela keharaman yang sangat haram misalnya penyimpangan seks LGBT. Padahal sekadar lihai ilmu keduniaan tapi jahil ilmu akherat itu saja sudah dicela sekali dalam Islam, apalagi memencongkan agama dan bahkan menentang keharaman.

Terdapat dalil-dalil yang menunjukkan celaan bagi orang yang hanya pandai dalam ilmu duniawi, namun lalai terhadap urusan akhirat (ilmu syar’i). Inilah kondisi mayoritas kaum muslimin saat ini ketika ilmu syar’i sudah benar-benar terlupakan dari perhatian mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)

Maksudnya, sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِي جَوَّاظٍ سَخَابٍ فِي الأَسْوَاقِ جَيْفَةٌ بِاللَّيْلِ حِمَارٌ بِالنَّهَارِ عَالِمٌ بِالدُّنْيَا جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ

Allah sangat membenci orang ja’dzari (orang sombong), Jawwadz (rakus lagi pelit), suka teriak di pasar (bertengkar berebut hak), bangkai di malam hari (tidur sampai pagi), keledai di siang hari (karena yang dipikir hanya makan), pintar masalah dunia, namun bodoh masalah akhirat.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya 72 – Al-Ihsan. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini dha’if, lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, no. 2304. Adapun Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Shahih Ibnu Hibban menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih  sesuai syarat Muslim)


Sumber https://rumaysho.com/13104-punya-banyak-gelar-dunia-namun-buta-agama.html

Bagi penyelenggara2 sekolah Islam, dan guru2nya wajib mengubah pemahaman sekuler dalam pendidikan (menjadi berfikir kembali secara Islami seperti uraian tersebut di atas), agar tidak salah arah atau bahkan kebalikan dari yang seharusnya menurut Islam.

Semoga bermanfaat.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)