.

Kenalilah kesesatan aqidah2 syi’ah, salah satunya bagaimana bentuk keyakinan Syi’ah Rafidhah terhadap Al-Qur’an Al-Karim ?

Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa Ulama Ahlul Bait sepakat mengatakan: “Al-Qur’an diturunkan dengan empat bagian; seperempat diturunkan kepada kita, seperempat pada musuh kita, seperempat berupa sejarah dan perumpamaan-perumpamaan dan seperempat berupa kewajiban dan hukum.

Mereka berkata: “Jika Al- Qur’an dibaca sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka akan muncul dalam Al-Qur’an 70 orang laki-laki Quraisy yang terlaknat nama–namanya serta ayah ibunya. Yang dimaksud mereka adalah para shahabat. Mereka meyakini bahwa Ahlul Bait mempunyai Mushaf yang isinya tidak sama dengan Mushaf umat muslim pada umumnya dan menyebutnya dengan nama Mushaf Fatimah. Mereka juga meyakini bahwa orang yang mengumpulkan Al-Quran dengan sempurna hanyalah sayyidina Ali.

Ni’matullah Al-Jaza-iri -ulama Syi’ah- dalam kitab Al-Anwar An-Nu’maniyah (vol 2 hal 360)
berkata: “Sudah begitu masyhur dalam hadits-hadits bahwa Al-Qur’an sebagaimana ketika diturunkan tidak ada seorangpun yang menyusunnya kecuali Amirul Mu’minin ‘Alaihi sallam (Ali bin Abi Thalib) atas wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Setelah Nabi wafat Imam Ali melaksanakan wasiat tersebut selama 6 bulan, kemudian setelah selesai mengumpulkan Al-Qur’an seperti yang diturunkan, beliau mendatangi Khalifah-khalifah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam seraya berkata kepada mereka: “Ini adalah kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.”

Umar bin Khaththab menjawab: “Kami tidak butuh kamu dan Al-Qur’anmu. Kami sudah punya Al-Qur’an yang ditulis oleh Utsman.

Ali berkata: “Kalian tidak akan bisa melihatnya setelah hari ini dan siapapun juga sampai lahirnya keturunanku yang bernama al-Mahdi, dan Al-Qur’an yang dibawa Al-Mahdi banyak tambahan dan tidak mengalami distorsi sedikit pun. Dikarenakan Utsman termasuk penulis wahyu yang sesuai dengan maslahat yang diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam yaitu jangan sampai ada orang menuduh bahwasannya Al-Qur’an adalah buatan seseorang, atau bukan yang diturunkan oleh malaikat Jibril, sebagaimana yang dituduhkan oleh para pendahulu mereka, ternyata mereka juga berkata seperti itu. Begitu juga Mu’awiyah, diangkat menjadi penulis wahyu selama 6 bulan sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dengan alasan seperti di atas. Utsman dan para shahabat tidak pernah berkumpul bersama kecuali di masjid dengan orang banyak. Mereka hanya menulis Al-Qur’an yang telah dibawa oleh malaikat Jibril ‘Alaihi sallam. Adapun Al-Qur’an yang tersimpan dalam rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam tidak ada seorang pun yang menulisnya selain Amirul Mu’minin ‘Alaihi sallam, karena beliau punya hubungan mahram yang memudahkannya untuk keluar masuk rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam.” (Al-Anwar An-Nu’maniyah , vol 2 hal 360).
Statemen di atas tidak perlu dikomentari karena jelas mengandung kedustaan yang nyata.

Di bawah ini merupakan sebagian dari penjelasan ulama-ulama Syi’ah supaya Ikhwan wa Akhwat bisa mengetahui bahwasannya realita yang ada tidak seperti yang selama ini dituduhkan:

Inilah pendapat ulama Syi’ah yg sangat menyimpang:

1. Syaikh Al-Mufid, yang diklaim orang Syi’ah termasuk salah satu pendiri madzhab Syi’ah berkata: “Beberapa hadits sudah masyhur dari kalangan keluarga Nabi bahwasanya Al-Qur’an itu mengalami perubahan dan terdapat pengurangan dan pembuangan yang dilakukan oleh orang-orang yang dhalim. Disadur dari kitab Awa’il Al-Maqolat hal 91.

2. Abu Al-Hasan Al-‘Amili berkata: “Ketahuilah sesungguhnya kebenaran yang harus diakui berdasarkan hadits-hadits mutawatir adalah, “Al-Qur’an yang ada saat ini mengalami banyak perubahan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan para shahabat yang mengumpulkannya banyak membuang kalimat-kalimat dan ayat-ayat. Dikutip dari kitab Mir’atul Anwar wa Misykatul Asror hal 36 pasal keempat yang berjudul Bayanu Khulashoti Aqwali Ulamaina fi Taghyiri Al-Qur’an wa ‘adamihi wa Tazyifi Istidlali Man Ankara At-Thaghyir. Selanjutnya Al-‘Amili mengatakan:

Sesungguhnya meyakini Al-Qur’an telah mengalami distorsi merupakan pokok dari ajaran Syi’ah. Redaksi aslinya sebagai berikut: “Dan menurut saya sudah jelas kebenaran asumsi di atas setelah menganalisis hadits-hadits dan meneliti beberapa atsar sehingga memungkinkan untuk mengatakan bahwa pendapat itu menjadi keyakinan mazhab Syi’ah dan termasuk ambisi besar dalam perampasan khilafah.”

3. Ni’matullah al-Jaza-iri berkata: “Menerima kemutawatiran Al-Qur’an merupakan wahyu illahi dan seluruhnya telah diturunkan oleh malaikat Jibril berarti mendustakan hadits-hadits yang sudah masyhur bahkan mutawatir yang menjelaskan terjadinya distorsi dalam Al-Qur’an baik kalimatnya, materinya dan I’robnya. Padahal hadits-hadits tersebut telah disepakati keshahihannya oleh ulama kami. Dari kitab Al-Anwar al-Nu’maniyah (vol:2 hal:357)

4. Sulthan Muhammad al-Khurasani berkata: “Ketahuilah sudah banyak hadits-hadits yang diriwayatkan dari imam–imam yang suci yang menyatakan adanya penambahan, pengurangan dan perubahan dalam Al-Qur’an”.

 Refrensi dari kitab Bayanu al-Sa’adah fi Maqomat al- ‘Ibadah.

Pernyataan-pernyataan mereka yang demikian ini sangat banyak. Mereka meyakini bahwasannya para shahabat keliru dalam mengumpulkan dan menyusun mushaf. Pengurangan, penambahan dan kesalahan adalah hasil kerja dari tangan-tangan mereka.

(Hermanzsyah Reza) via fp nahimunkar.com

***

Firman Allah Ta’ala:

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [الحجر: 9]

9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[793]. (QS Al-Hijr/15: 9)

[793] Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

Silakan, Anda mau percaya kepada perkataan orang-orang syiah atau kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Kepercayaan itu akan dibawa sampai mati. Bagi yang mengingkari firman Allah Ta’ala, pasti akan mendapatkan balasan siksa kekal di nereka karena kafir. Sebaliknya bagi yang mengimani firman Allah Ta’ala tentu akan mendapatkan pahala, dimasukkan ke surga. Betapa bahagianya.

Di dunia ini tinggal memilih. Bila salah pilih, maka penyesalan di akherat kelak akan menimpanya dan tidak ada tebusannya. Hati-hati dan waspada, sebelum menyesal tiada tara.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 880 kali, 1 untuk hari ini)