Jakarta, Semarak.news – paska diberhentikannya Archandra Tahar sebagai Menteri ESDM karena terkait status kewarganegaraan ganda dan anggota paskibraka asal Depok, Jawa Barat, Gloria Natapraja-Hamel telah menjadikan perdebatan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Dahrin La Ode mengatakan, konsep dwikewarganegaraan bertentangan dengan trilogi pribumi, sehingga ia menolak apabila diterapkan di Indonesia. “Trilogi itu artinya pribumi pendiri negara, pemilik negara dan harus menjadi penguasa negara” dalam diskusi politik “Nasionalisme dan Masalah Dwikewarganegaraan di Indonesia” di Tebet, Jakarta, Kamis (25/8)

Dahrin menambahkan bahwa bardasarkan Ilmu Negara, negara dibentuk tanpa demokrasi, HAM dan diskriminasi, namun negara dibentuk berdasarkan pertimbangan kesepakatan.

Selain itu, selaku sebagai penyelenggara diskusi dari Sabang Mauaruke Circle Dr. Syahganda Nainggolan mengatakan Indonesia saat dihadapkan dengan tantangan kapitalisme dan globalisme. Dengan dilakukannya dispora asing maka akan menguntungkan pihak asing karena warga asing semakin berkuasa di Indonesia. Sebagai contoh negara China, saat ini China telah menguasai 80% perekonomian  indonesia dan 75% tanah produktif di Indonesia.

“Pemerintah memperhatikan hal tersebut dan harus mengembalikan peraturan UUD 45 Pasal 6 yang telah diubah oleh Amin Rais,” kata Dr. Syahganda Nainggolan dalam diskusi.

Isu kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia saat ini menjadi masalah yang sangat penting untuk dikaji. Hal ini dikarenakan adanya rasa kehawatiran masyarakat bahwa jika dwikewarganegaraan berlaku di Indonesia maka ada 7 juta WNI keturunan China yang akan mempunyai dwikewarganegaraan, selain itu adanya rencana RRC mengirim tenaga kerjannya sejumlah 10 juta jiwa ke Indonesia tentunya akan menjadikan ancaman bagi negara indonesia karena kekayaan negara ini akan dikontrol oleh etnis China, yang juga merupakan diaspora bagi negara RRC.

Hadir juga pembicara dalam acara diskusi politik ini yaitu, Dr. Sidratahta Mukhtar (Universitas Kristen Indonesia), Drs. Djoko Edhi Abdurrahman (LPBH Nahdatul Ulama), Taufan Putra Revolusi (Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiah), serta Cokro Wibowo Sumarsono (Mantan Sakjen GMNI) sebagai moderator. (PAP)

Sumber: semarak.news/Puguh Aris/26 Agu 2016

(nahimunkar.com)