Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengendarai motor baru berkelir hijau beraliran custom untuk berkeliling Kota Tangerang, Minggu (4/11/2018). Turut bersamanya Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah, dan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar./Dok Biro Pers Istana


TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA – Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun menilai Joko Widodo telah gagal sebagai petahana.

Pasalnya, eklektablitas Joko Widodo yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin di Pilpres 2019 justru hanya berselisih 12,2 persen dengan penantang Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno.

“Jadi disurvei yang kami lakukan di awal bulau ini jokowi-maruf di 47,7 persen, kemudian angka pasangan prabowo sandiagaitu 35,5 persen. itu artinya ada selisih kurang lebih 12 ,2 persen. selisih elektabilitasnya,” kata Rico Marbun di acara ILC TV One.

“Warningnya adalah jangan lupa beliau ini adalah petahanan,.dan kita lihat pengalaman dari pilkada di banyak tempat, seharusnya kalau petahana itu dianggap sukses atau berhasil ,umumnya elektabilitasnya akan dengan mudahmenyentuh di angka 60 sampai 70 persen,” tambah Rico Marbun.

Sebelumnya, Pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul di kalangan pemilih Nahdatul Ulama (NU).

Sedangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul di kalangan pemilih Muhammadiyah.

Hal tersebut berdasarkan hasil survei Median yang dilakukan dari 4 hingga 16 November 2018 dengan 1.200 orang responden.

Rico Marbun mengatakan Jokowi unggul 47,6 persen di kalangan pemilih NU.

Sementara Prabowo elektabilitas di kalangan pemilih NU hanya 36,4 persen.

“Muhammadiyah itu mayoritas memilih Prabowo 62 persen, Jokowi 23 persen, secara persentase sepertinya Muhammadiyah memang lebih mutlak ketimbang besaran NU dalam mendukung Jokowi,” kata Rico di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (27/11/2018) lalu.

Rico mengatakan figur seseorang di kalangan tersebut sangat berpengaruh.

Pemilih dari basis NU berhasil meyakinakan untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Ia juga menilai tokoh Muhammadiyah disebutnya berhasil menggaet suara pemilih untuk mendukung Prabowo-Sandiaga.

“Yang jadi pertanyaan seberapa besar figur NU yang simpati ke Jokowi, melakukan, menggerakkan mesinnya ke basis NU untuk meyakinkan pemilih untuk memilih Jokowi. Kalau data ini dilihat, kalau tokoh-tokoh Muhamadiyah itu lebih berhasil meyakinkan grassrootnya sementara ini ketimbang tokoh NU,” kata Rico

Selain unggul di warga NU, Jokowi-Ma’ruf juga unggul di beberapa ormas yaitu Pemuda Pancasila (PP), Nahdathul Wathan (NW), Persatuan Umat Budha, Persatuan Gereja Indonesia, dan juga Majelis Umat Kristen Indonesia.

Sedangkan, Prabowo-Sandi unggul di kalangan Muhammadiyah, Persatuan Islam, Forum Ummat Islam, Front Pembela Islam, organisasi pemuda (HMI, GMNI, KNPI, KAMMI).

Berikut elektabilitas pasangan capres-cawapres per organisasi masyarakat (Ormas) :

  1. Nahdatul Ulama (NU)Jokowi-Ma’ruf : 47,6 persen
    Prabowo-Sandiaga : 36,4 persen
    Undecided : 16,0 persen
  2. Muhammadiyah
    Jokowi-Ma’ruf : 23,0 persen
    Prabowo-Sandiaga : 62,0
    Undecided : 15,0 persen
  3. Pemuda Pancasila
    Jokowi-Ma’ruf : 56,3 persen
    Prabowo-Sandiaga : 40,0 persen
    Undecided : 3,7 persen
  4. Nahdatul Wathan
    Jokowi-Ma’ruf : 36,3 persen
    Prabowo-Sandiaga : 33,3 persen
    Undecided : 30,3 persen
  5. Persatuan Islam
    Jokowi-Ma’ruf : 35,0 persen
    Prabowo-Sandiaga : 60,0 persen
    Undecided : 5,0 persen
  6. Forum Ummat Indonesia
    Jokowi-Ma’ruf : –
    Prabowo-Sandiaga : 80,0 persen
    Undecided : 20,0 persen
  7. Front Pembela Islam (FPI)
    Jokowi-Ma’ruf : –
    Prabowo-Sandiaga : 77,8 persen
    Undecided : 22,2 persen
  8. Organisasi Pemuda (HMI, KNPI, KAMMI)
    Jokowi-Ma’ruf : 31,6 persen
    Prabowo-Sandiaga : 57,1 persen
    Undecided : 11,3 persen
  9. Persatuan Umat Budha
    Jokowi-Ma’ruf : 80,0 persen
    Prabowo-Sandiaga : –
    Undecided : 20,0 persen
  10. Persatuan Gereja Indonesia
    Jokowi-Ma’ruf : 80,0 persen
    Prabowo-Sandiaga : –
    Undecided : 20,0 persen
  11. Majelis Ummat Kristen Indonesia
    Jokowi-Ma’ruf : 80,0 persen
    Prabowo-Sandiaga : –
    Undecided : 20,0 persen

Sertifikat Tanah
Pengamat komunikasi Effendi Gazali diinterupsi Irma Chaniago, Anggota Tim Kemenangan Jokowi-Ma’ruf, usai membongkar ketidakadilan dalam program sertifikat tanah Jokowi lewat cerita pengalaman pribadinya.

Efendi Gazali menceritakan kisah ketidakadilan dalam program sertifikat tanah Jokowi di acara ILC Tv One, yang rekaman videonya diposting di akun youtube Indonesia Lawyers Club dengan judul ‘[FULL] “PascaReuna 212 : Menakar Elektabilitas Capres 2019 || ILC (4/12/2018)’.

Effendi Gazali memulai kesempatan bicaranya bicara panjang lebar terlebih dahulu terkait teori komunikasi dalam menyikapi reuni 212 sebelum akhirnya diinterupsi TKN Jokowi.

Ya, Jokowi memang sedang gencar-gencarnya membagikan sertifikat tanah tanah kepada masyarakat secara gratis sebagai bagian dari program sertifikat tanah Jokowi.

Terakhir, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendampingi Presiden RI Joko Widodo saat pembagian sertifikat hak atas tanah bagi warga Jakarta Timur, tepatnya di Rusunawa Rawa Bebek, Jalan Inspeksi Kanal Timur, Cakung, Senin (3/12/2018) sore.

Selain Anies, Jokowi juga ditemani Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil.

Anies sendiri diketahui telah menemani Jokowi membagikan sertifikat pada tiga wilayah berbeda di Ibu Kota.

Sebelumnya, Anies bersama Jokowi membagikan sertifikat tanah untuk warga di wilayah Jakarta Utara, kemudian menyusul Jakarta Selatan, dan teranyar hari ini bagi warga di Jakarta Timur.

Dalam sambutannya, Gubernur DKI itu mengapresiasi program strategis nasional Jokowi dengan membagikan sertifikat tanah kepada warganya yang diserahkan langsung Kepala Negara tersebut.

“Atas nama Pemprov dan warga DKI izinkan kami sampaikan terima kasih dan apresiasi. Alhamdulillah program yang sudah dicanangkan tahun 2018 sertifikat tanah program strategis nasional terlaksana dengan baik. Ini menjadi kota ketiga yang didatangi langsung Presiden untuk diserahkan secara langsung,” tutur Anies di lokasi, Senin (3/12/2018).

Dirinya juga memberikan penghargaan tinggi kepada jajaran Kementerian ATR/BPN terkait penyelenggaraan acara hari ini.

“Kami sampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada ATR atas terselenggaranya acara ini,” ujar Anies.

Sementara itu, Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil mengungkap ada 5.000 penerima sertifikat tanah hadir dalam acara sore itu yang diwakili 12 orang untuk diberikan secara simbolis oleh Presiden Jokowi.

Untuk wilayah kota administrasi Jakarta Timur, Sofyan mengungkap sebanyak 229 ribu dari 448 ribu bidang tanah telah terdaftar. Sedangkan pada tahun ini, ada 140 ribu bidang tanah yang didaftarkan. Sisanya, 160 ribu bidang tanah di Jakarta Timur akan diselesaikan tahun depan.

“Jadi Bapak, Ibu sekalian di Jakarta Timur sisanya 160 ribu bidang akan kita selesai tahun depan,” jelasnya.

Sofyan menjelaskan bagi warga yang belum mendapatkan sertifikat agar tetap bersabar. Sebab, komitmen Presiden yang didukung oleh Gubernur DKI diharapkan seluruh tanah di Ibu Kota bisa terdaftar pada tahun depan.

“Yang belum mendapat harap sabar, komitmen pak Presiden didukung Gubernur DKI Jakarta Insya Allah tahun depan seluruh tanah di Jakarta terdaftar,” kata Sofyan.

Ketidakadilan

Kembali kepada Effendi Gazali yang membongkar ketidakadilan di program sertifikat tanah Jokowi di acara ILC Tv One terbaru, Effendi Gazali mengungkapkan itu usai bicara panjang lebar tentang teori komunikasi dalam reuni 212.

Usai membicarakan hal tersebut, barulah Effendi Gazali berbicara bahwa dirinya menemukan ketidakadilan yang dialaminya sendiri.

“Saya menemukan kata ketidakadilan. Tapi ketidakadilannya seperti apa, saya maukasih contoh sederhana saja supaya tidak bawa-bawa oranglain,” kata Efendi Gazali.

Effendi Gazali mengatakan apabila dirinya menonton televisi kerap mendapati ada urusan pembagian sertifikat tanah oleh Presiden Jokowi.

Effendi Gazali kemudian menggambarkan dalam pembagian itu Jokowi selalu memanggil beberapa orang untuk ditanyai, dan pengakuannya membuat sertifikat tanah selalu cepat.

“Saya kalau nonton di televisi misalya ada urusan sertiifikat tanahtuh oleh pak jokowi, saya ikut berbahagia , itu program yang sangat luar biasa. Lalu sering ditanya, berapa lama anda mengurus sertifikat tanah. Selalu cepat sekali itu, selalu cepat. dan ada ratusan ribu hampir jutaan lah sudah dibagi-bagikan,” ujar Effendi Gazali.

Sejak melihat itu Effendi Gazali kemudian mencoba mengurus sertifikat tanah di Jakarta.

“Lalu saya ikut serta mengurus sertifikat gitu ya. Kebetulan di Kanwil BPN Jaksel, kebetulan di dekat rumah Datuk Karni Ilyas ini kanwilnya. Saya uirus dari maret, sampai sekarang belum jadi-jadi tuh,” ujar Effendi Gazali.

“Jadi menarik karena ada perbedaan antara orangkaya dan orang miskin kalau mengurus hak kita dalam mengurus sertifikat tanah. kan kita nggak minta dijatahkan sebagai orang miskin, nggak minta supaya proses kita dipercepat,” sambung Effendi Gazali.

Dari situ, kata Effendi Gazali, dirinya membawa perasaaan ketidakadilan itu untuk datang ke acara kemarin.

Dia mengaku datang dengan tetap tersenyum, dan mendapati ternyata banyak juga orang lain yang mengalami ketidakadilan.

Diinterupsi

Usai Effendi Gazali membongkar ketidakadilan dalam program sertifikat tanah Jokowi lewat pengalaman pribadinya pun langsung mendapat interupsi dari Irma Chaniago, anggota TKN Jokowi yang juga hadir di acara ILC Tv One terbaru itu.

“Saya ingin pertanyakan sesuatu kepada Bang Effendi Ghazali. Anda duduk disini untuk memberi pencerahan kepada bangsa ini, atau mau bicara dari sisi sebelah, atau mau bicara sebagai seseorang yang ada di tengah,” ujar Irma Chaniago.

Irma Chaniago lalu melanjutkan bahwa ia merasa sejak tadi Effendi Gazali menyampaikan sesuatu yang sifatnya provokatif.

“Saya terus terang , kami tak sama sekali khawatir dengan 212. kami santai-santai saja. Tapi sebagai pengamat seharusnya anda bicara jujur, bicara tidak berat sebelah, anda bicara fair dan jangan mengarahkan opini kepada masyarakat,ini nggak baik juga bang Effendi Gazali,” kata Irma Chaniago.

Menurut Irma Chaniago, segala sesuatunya harus didudukkan terlebih dahulu sehingga apa yang keluar dari Effendi Gazali adalah sebuah pencerahan.

Siapa Effendi Gazali

Dikutip dari wikipedia, Effendi Gazali memiliki gelar Ph.D., MPS ID, dan lahir di Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 5 Desember 1966.

Effendi Gazali adalah tokoh Indonesia yang terkenal dengan acara yang digagasnya yaitu Republik Mimpi yang merupakan parodi dari Indonesia dan para presidennya.

Effendi sekarang ini merupakan salah satu staf pengajar program pascasarjana ilmu komunikasi Universitas Indonesia.

Effendi lulus sarjana dalam bidang Komunikasi Universitas Indonesia tahun 1990, kemudian mendapatkan gelar Master dalam bidang Komunikasi dari universitas yang sama pada 1996, serta Master dalam bidang International Development (konsentrasi: International Communication) dari Universitas Cornell Ithaca, New York tahun 2000. Gelar Ph.D. dalam bidang Komunikasi Politik kemudian diperolehkan dari Radboud Nijmegen University Belanda tahun 2004 dengan disertasi “Communication of Politics & Politics of Communication in Indonesia: A Study on Media Performance, Responsibility, and Accountability” (diterbitkan oleh: Radboud University Press, Belanda, 2004)

Beberapa penghargaan yang diperolehnya antara lain adalah sebagai salah satu Peneliti Terbaik UI 2003 di bidang Social & Humanityberdasarkan publikasi di jurnal internasional serta penerima ICA (International Communication Association) Award, pada ICA Annual Conference, di New Orleans Mei 2004 untuk Research, Teaching & Publication (dari the ICA Instructional & Developmental Division).

Editor: ade mayasanto

Sumber : http://jakarta.tribunnews.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.340 kali, 5 untuk hari ini)