Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)


Para Syndcate: Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Turun, Prabowo-Sandi Naik

Jakarta – Direktur Eksekutif Para Syndcate Arie Nurcahyo menyebut tren elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengalami penurunan. Sementara tren pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cenderung naik. Kenapa?

Awalnya, Arie menjelaskan kesimpulan tren elektabilitas ini diambil melalui beberapa lembaga survei yang dirilis sejak penetapan nama cawapres, yaitu pada Agustus hingga November yang kemarin dirilis. Menurutnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf trennya menurun karena beberapa faktor.

“Tren keduanya dari beberapa lembaga survei kita lihat cenderung elektabilitas capres stagnan, tapi kalau kita kumpulkan semua hasil survei dan kita tarik regenerasi linier tren gradien, untuk Jokowi-Ma’ruf gradiennya negatif itu minus, secara umum pergerakan Jokowi-Ma’ruf trennya nurun, kalau untuk Prabowo-Sandi itu trennya justru naik walaupun tipis,” ujar Arie saat diskusi di Kantor Para Syndcate, Jl Wijaya III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (14/12/2018).

Arie melihat ada fenomena naiknya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided votters). Menurutnya, fenomena ini menarik untuk dicari penyebabnya.

“Setelah kita tarik garis lurus dari beberapa survei terbaca, undecided vottersitu naik, ini menarik apakah ini yang milih Jokowi ragu atau separuh suaranya milih Prabowo-Sandi atau yang lainnya,” imbuhnya.

Arie kemudian merinci faktor apa saja yang membuat Jokowi-Ma’ruf menurun. Salah satunya adalah karena strategi pemenangan Jokowi-Ma’ruf dinilai monoton dan terkadang terhanyut dengan permainan politik lawan yang cenderung memainkan wacana retorika.

“Sekarang kenapa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf turun? Pertama, strategi pemenangan Jokowi-Ma’ruf cenderung monoton dan ter-branding status quo, sehingga banyak wacana retorika dimainkan dari Jokowi-Ma’ruf cenderung reaktif dan responsif,” jelasnya.

Jokowi juga dinilai cenderung hanyut dengan permainan narasi kubu lawan dengan timbulnya pernyataan genderuwo, sontoloyo. Sehingga terlihat kampanyenya belum terfokus.

Selain itu, Arie menilai belum ada pembagian peran yang apik antara Jokowi dan Ma’ruf Amin. Figur Ma’ruf juga dinilai Arie belum bisa menambahkan elektabilitas Jokowi.

“Capres Jokowi dan Ma’ruf belum ada pembagian peran, gimana mainkan isu dan topik didistribusikan untuk Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf. Jadi memang sejak ini keliatan figur Pak Ma’ruf belum bisa datangkan tambahan elektoral untuk suara dukung Jokowi,” kata Arie.

Sementara itu, untuk pasangan Prabowo-Sandi yang dinilai trennya naik karena salah satunya tim mereka mengambil keuntungan dari petahana dengan melakukan serangan-serangan, kemudian diladeni oleh pihak lawan.

“Keuntungan mengkontes petahana, sehingga branding mereka ter-branding, sebagai penantang dia efektif menyerang, gimana isu ekonomi tempe dimainkan secara apik oleh Prabowo-Sandi, secara umum menaruh genderang yang memancing lawan tarung, dan Pak Jokowi masuk tergiring genderang kubu mereka,” ujarnya.

Selanjutnya, Arie menilai kubu Prabowo juga diuntungkan dengan adanya politik identitas seperti penyematan gelar ulama pada Sandiaga Uno. Kemudian, Prabowo-Sandi juga diuntungkan dengan pembelahan suara masyarakat dalam konteks sentimen agama.

“Jadi berhasil simbolik politik identitas dan tugas utamanya bisa mengambil keuntungan elektoral ketika ada pembelahan sentimen agama, itu menguntungkan elektoralnya kubu Prabowo-Sandi,” pungkasnya.

Terakhir, Arie menyebut ada dua faktor lagi yaitu, kubu Prabowo dinilainya pintar memainkan retorika emosi dan memecah preferensi nasional dan juga permainan gimik Sandiaga dengan metode blusukan yang menguntit gaya Jokowi.
(zap/jbr)

Sumber : news.detik.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.147 kali, 1 untuk hari ini)