ilustrasi deskgram.org

Merosot hingga tinggal angka 0,5 persen

Elektabilitas Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) sebagai capres maupun cawapres alternatif merosot drastis

Pada rilis survei Median pada April lalu, TGB memiliki tingkat elektabilitas sebesar 2,5 persen. Namun hasil itu berubah drastis setelah dia menyatakan dukungan untuk Jokowi. Alih-alih meningkat, tingkat elektabilitas TGB sebagai capres pada survei Median di bulan Juli malah merosot hingga menyentuh angka 0,5 persen.

Hal itu sebagaimana hasil survei terbaru yang dirilis Media Survei Nasional (Median) yang dilakukan pada 6 Juli hingga 15 Juli tahun 2018, ungkap Direktur Riset Median, Sudarto.

Selasa, 24 Juli 2018 , 01:33:00 Wib | Laporan: Widian Vebriyanto

politik.rmol.co

Demikian,  kutipan secara ringkas.

***

Ketika Kutu Loncat Bangga Jadi Pendukung Sang Teman Dekat Penista Agama

Seorang kutu loncat dikabarkan loncat jadi pendukung orang yang dekat dengan penista agama (ayat Al-Qur’an). Bahkan tampak bangga pula, sambil mengeluarkan kata-kata yang bernada menantang.

Lhah, kenapa berani bersuara lantang? Padahal yang didukung itu adalah jelas-jelas manusia yang berteman dekat dengan penista agama. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Mestinya sang kutu loncat itu malu, dan berterimakasih (atau tidak pun ga’ apa-apa) kepada orang atau pihak yang mengingatkannya bahkan mengkritiknya.

Apalagi kalau sang kutu loncat itu mau melihat ke belakang sedikit, siapakah yang kini dia dukung itu. Lha wong sebelum ini, dia juga menjadi teman dekat dari kaum walan tardho, bahkan menjadikannya sebagai wakilnya. Hingga ketika teman dekat penista agama yang menjadikan sosok walan tardho sebagai wakilnya ini meraih kursi lebih tinggi hingga meninggalkan kursinya, maka sosok walan tardho yang jadi wakilnya itu pun naik menduduki kursi sang teman dekat penista agama itu.

Ternyata babak sebelumnya pun begitu. Ketika teman dekat penista agama ini masih di daerah, dia menjadikan wong walan tardho pun sebagai wakilnya. lalu ketika dia meraih jabatan lebih tinggi di ibukota, maka sang wakil yang wong walan tardho itupun naik menduduki kursi sang teman dekat penista agama, kursi yang sudah dia tinggalkan karena mencolot ke ibukota itu.

Lha wong jelas-jelas gampang banget untuk dibaca dengan berlandaskan hadits yang tegas seperti itu, kok kini ada kutu loncat yang malah bangga menjadi pendukung teman dekat penista agama. Kedoktoranmu dari perguruan tinggi Islam terkemuka, ditaruh di mana?

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.782 kali, 1 untuk hari ini)