said aqil siroj-02

Said Aqil Siradj

BATAM, BANGSAONLINE.com – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batam, KH Khoirul Saleh didampingi konsultan hukumnya Babun Najib, SH menyatakan bahwa elit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah melakukan aksi serobot terhadap tanah milik PCNU seluas 5 hektar. Kejadian tersebut berlangsung sekitar empat tahun lalu, saat Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj baru setahun terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

‘’Waktu itu PCNU Batam dan PWNU Kepri memang tengah meminta bantuan agar PBNU memberikan solusi terhadap kebuntuan yang diderita PCNU tentang pembayaran Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO). Maunya kami mendapatkan keadilan, malah tanah tersebut dijual elit PBNU,’’ kata Kiai Khoirul, kemarin (31/7).

Diceritakan Kiai Khoirul, sebenarnya PCNU sudah melakukan kewajibannya yaitu membayar Rp.18.000.000, Bahkan pihaknya ketika itu sudah membawa uang Rp 1 miliar ke pihak otorita, namun uang itu ditolak tanpa diketahui alasannya. “Pihak otorita sendiri menyarankan agar minta tolong ke PBNU mencari solusi,’’ jelas Kiai Khoirul Shaleh kepada wartawan.

PCNU bersama PWNU lalu mengadukan masalah ini ke PBNU. Lalu dicapai kesepakatan PBNU akan mencarikan solusinya. Andai di kemudian hari ada keputusan harus mempergunakan pihak ketiga yang memberi solusi, maka PBNU sepakat akan melibatkan PCNU dan PWNU.

‘’Namun kesepakatan itu tak pernah ditepati oleh PBNU, malah mereka menjual tanah tersebut sekitar 4 hektar. Andai solusinya main jual seperti itu, kami mestinya tidak perlu ke PBNU,’’ ujar Khairul yang dikenal sebagai pengusaha ini.

PCNU dan PWNU marah karena PBNU main serobot dan melakukan aksi jual sepihak. Hal itu tidak sesuai dengan kesepakatan yang disetujui bersama, bahwa dalam hal apapun yang menyangkut pemanfaatan tanah tersebut harus melibatkan PCNU dan PWNU.

‘’Kami menganggap PBNU serong dan tidak jujur. Bahkan mereka telah berlaku tiran kepada kami, sampai-sampai Bina Suhendra selaku Bendahara Umum PBNU marah-marah dan menantang berkelahi,’’ papar Kiai Khoirul.

Menurut Kiai Khoirul, Bina Suhendra mengklaim sepihak bahwa tanah tersebut sudah bukan haknya PCNU lagi, tetapi sepenuhnya hak PBNU. Karena pihak otorita sudah mengalihkan hak pengelolaan lahan (HPL) dari PCNU ke PBNU.

Begitu juga pengakuan dari Kiai Said Aqil. Menurut Khoirul, Said Aqil menyatakan bahwa tanah tersebut merupakan limpahan dari PWNU Kepri. “Padahal PWNU tidak pernah merasa memberikan hak tersebut kepada PBNU,” kata Kiai Khoirul. (Baca juga: Kasus Tanah Milik NU di Batam, PWNU Kepri Kecewa Said Aqiel)

Sengketa antara elit PBNU versus PCNU dan PWNU masih terus berlangsung. Karena pihak PBNU dituding melakukan aksi jual sepihak. Konon, tanah itu sudah dipecah-pecah. Yang 4 hektar dijual dengan harga Rp 16 miliar. Sedang sisanya 1 hektar diberikan kepada PWNU dan PCNU sebagai NU Center.

Sudah diketahui masyarakat luas bahwa tanah 4 hektar yang dijual itu jatuh kepada pengusaha etnis Tionghoa hasil kesepakatan dengan elit PBNU di Jakarta. PWNU dan PCNU tidak terima dengan perlakuan tiran dan tidak adil ini dari PBNU. Mereka mengaku akan memprotes keras di muktamar dan bahkan tidak menerima laporan pertanggungjawaban Prof Dr KH Said Aqil Siradj.

Menurut konsultan hukum PCNU Batam, Babun Najib, SH pihaknya sedang mengumpulkan data-data dan bukti-bukti untuk membawa masalah ini ke ranah hukum. Karena perilaku elit PBNU ini main serobot dan bisa jadi masuk kategori penipuan. ‘’Ini termasuk white collar crime, kejahatan elit yang dilakukan kalangan elit di PBNU,’’ tegas Babun Najib.

Menurut Najib, andai PCNU nanti melakukan penuntutan dan penggugatan, maka pihaknya yakin bahwa hak PCNU bisa dikembalikan seutuhnya. Karena belum ada bukti bahwa hak tersebut telah dihapus dari otorita dan klausul lainnya bahwa hak itu telah dipindahtangankan.

Sementara Kiai Said Aqil ketika dikonfirmasi kasus tersebut tak merespon. Ketika di sms dua nomor handphone Said Aqil tak membalas. (Baca juga: Merasa Tertipu Kiai Said Aqil, Janji Bangun Islamic Center, Ternyata Bangun Seminari) (tim) bangsaonline.com, Sabtu, 01 Agustus 2015 23:48 WIB

(nahimunkar.com)