Cerai_Ilustrasi_843675238742
Ilustrasi: tribunnews.com

  • Minta Dithalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’ Maka Haram baginya Bau Surga

Kosa kata emansipasi begitu lekat dalam keseharian kita. Biasanya emansipasi dimaknai sebagai persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Kalau laki-laki bisa jadi birokrat, maka wanita juga bisa. Kalau laki-laki boleh jadi anggota legislatif, maka wanita juga boleh. Begitu seterusnya strereotipe emansipasi yang dimaknai masyarakat awam, terutama kaum wanitanya.

Namun, tidak semua wanita tersesat ke dalam pemahaman emansipasi keliru seperti itu. Salah satu diantaranya adalah Hasri Ainun Besari yang lebih dikenal dengan sebutan Ainun Habibie, istri mantan presiden RI ketiga B.J. Habibie.

Meski berpendidikan tinggi, Hasri Ainun Besari yang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) ini memilih menjadi ibu rumahtangga profesional. Dalam bahasa awam, ia tidak bekerja. Meski sesungguhnya ia sedang bekerja. Mengurus rumah tangga, mengurus anak-anak dan suami sesungguhnya merupakan pekerjaan mulia yang tidak kalah hebatnya dengan profesi lain.

Ketika ditanya mengapa tidak bekerja, padahal bisa memberikan masukan tambahan, Hasri Ainun Besari menjawab: “… saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu-bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu…”

Namun tidak banyak diantara wanita modern yang berpendidikan tinggi bersikap seperti Hasri Ainun Besari. Mereka mengekspresikan sikap modernnya dengan ikut larut dalam sebuah industri, misalnya industri hiburan, atau industri lain yang menguras waktu dan perhatiannya sehingga kasih sayangnya tercecer di jalanan. Dari sini, lahirlah wanita-wanita yang terlibat kasus korupsi. Juga, wanita-wanita yang kian berani menuntut cerai dari suaminya: sebuah sikap yang langka ditemukan pada dua dekade sebelumnya.

Wanita Koruptor

Dari pemaknaan emansipasi sesat dan keliru ini lahirlah sejumlah wanita koruptor. Ada sejumlah nama yang dilansir media massa terlibat tindak pidana korupsi. Mereka antara lain: Wa Ode Nurhayati, Nunun Nurbaeti, Miranda Swaray Goeltom, Neneng Sri Wahyuni, Angelina Sondakh, Artalyta Suryani alias Ayin, Mindo Rosalina Manulang, Malinda Dee, Hartati Murdaya Po, dan sebagainya.

Wa Ode Nurhayati kelahiran Wakatobi, Sulawesi Tenggara, tanggal 6 November 1981 ini adalah politikus Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga menjadi Anggota Badan Anggaran DPR RI. Pada hari Kamis tanggal 18 Oktober 2012, Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan hukuman pidana enam tahun penjara kepada Wa Ode Nurhayati, karena dianggap terbukti melakukan dua perbuatan tindak pidana, yakni menerima suap terkait pengalokasian Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) dan melakukan tindak pidana pencucian uang atas kepemilikan uang sebesar Rp 50,5 miliar dalam rekeningnya.

Nunun Nurbaeti kelahiran Sukabumi 28 September 1950 ini adalah istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun, dan pemilik Wahana Esa Sejati. Pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012, Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan hukuman dua tahun enam bulan penjara terhadap Nunun Nurbaeti, yang dianggap terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memberi suap ke sejumlah anggota DPR 1999-2004 terkait pemenangan Miranda S Goeltom sebagai DGSBI 2004 (Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004).

Miranda Swaray Goeltom kelahiran Jakarta tanggal 19 Juni 1949 ini selain pejabat Bank Indonesia juga menyandang predikat sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pada hari Kamis tanggal 27 September 2012, Majelis hakim pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan pidana penjara selama 3 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan hukuman, karena Miranda dianggap bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwan pertama pasal 5 ayat 1 huruf b jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Neneng Sri Wahyuni kelahiran Pekanbaru tanggal 15 Februari 1982 ini adalah istri Muhammad Nazaruddin, terpidana kasus Wisma Atlet. Sementara itu Neneng menjadi tersangka kasus korupsi proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Setelah buron berbulan-bulan, Neneng akhirnya berhasil ditangkap KPK, Rabu 13 Juni 2012, saat berada di rumahnya di Pejaten, Jakarta Selatan.

Angelina Sondakh alias Angelina Patricia Pingkan Sondakh kelahiran Australia, 28 Desember 1977 ini adalah mantan Puteri Indonesia 2001 yang menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. Pada hari Kamis tanggal 20 Desember 2012 ia dituntut hukuman 12 tahun penjara ditambah denda Rp 500 juta yang dapat diganti dengan kurungan enam bulan. Angelina dianggap terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima suap senilai total Rp 12,58 miliar dan 2.350.000 dollar AS dari Grup Permai secara bertahap.

Artalyta Suryani alais Ayin kelahiran Bandar Lampung pada tanggal 19 Maret 1962, dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta dan dijatuhi vonis 5 tahun penjara pada tanggal 29 Juli 2008 atas penyuapan terhadap Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus BLBI Urip Tri Gunawan senilai 660.000 dolar AS. Ayin adalah istri mendiang Suryadharma mantan boss PT Gajah Tunggal milik konglomerat hitam Sjamsul Nursalim. Ayin sendiri saat itu menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama di Indonesia Prima Property Tbk, salah satu perusahaan swasta raksasa yang bergerak di bidang properti dan real estate.

Mindo Rosalina Manulang kelahiran Dolok Sanggul (Sumatera Utara) pada tanggal 2 Maret 1975, adalah Direktur Pemasaran PT Anak Negeri. Ia dinyatakan terlibat dalam kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang dengan berusaha menyuap Sekretaris Kemenpora Wafid Muharam. Majelis hakim Pengadilan Tipikor, pertengahan 2011, memvonis dua tahun enam bulan untuk Rosa. Pada 17 Agustus 2012 Mindo mendapat remisi, dan pada September 2012 bebas bersyarat.

Malinda Dee alias Inong Malinda Dee binti Siswowiratno (lahir 5 Juli tahun 1965) mantan Senior Relationship Manager Citibank yang terbukti membobol dana nasabah private banking Citibank. Pada hari Rabu tanggal 7 Maret 2012, Majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis delapan tahun penjara dan denda sebesar 10 miliar rupiah, dan apabila denda tersebut tidak dibayar akan diganti dengan pidana kurungan tiga bulan.

Hartati Murdaya Po atau Siti Hartati Tjakra Murdaya (Chow li ing) terlahir di Jakarta, tanggal 29 Agustus 1946 adalah Direktur Utama PT Hardaya Inti Plantation. Hartati diduga terlibat kasus penyuapan terhadap Bupati Buol Amran Batalipu sebesar Rp 3 milyar. Hartati menyuap Amran dengan harapan dapat menerbitkan surat Ijin Usaha Perkebunan dan Hak Guna Usaha (HGU) lahan seluas 4.500 hektar atas nama PT CCM dan penerbitan IUP terhadap tanah di luar 4.500 hektar dan diluar tanah 22.780,76 hektar yang telah memiliki HGU. Hartati diancam hukuman pidana lima tahun penjara.

Menggugat Cerai

Emansipasi keliru menghasilkan fenomena yang tak pernah terbayangkan dua dekade sebelumnya, yaitu lahirnya keberanian di kalangan wanita menggugat cerai suaminya. Misalnya, artis Lyra Virna menggugat cerai Suaminya Eric Scada alias Syarif Kasim di Pengadilan Agama Jakarta Pusat pada 14 November 2012 lalu. Mereka menikah pada Oktober 2005 meski saat itu tidak direstui ibundanya. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai 2 orang anak.

Artis Kiki Amalia yang menikah dengan Markus Horison kiper Timnas berkepala plontos, menggugat cerai suaminya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan tanggal 10 Desember 2012. Mereka menikah pada pada 27 November 2010 di Gedung Kriya Asri, Kemang, Jakarta Selatan. Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai anak berusia tujuh bulan bernama Kaliv. Uniknya, tak berapa lama Kiki megajukan gugatan cerai, Markus sang suami melakukan hal yang sama pada hari yang sama.

Pada tanggal 6 November 2012, Anne J. Coto mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Anne menikah dengan Mark Hanusz pada 25 Juli 2005. Dari pernikahannya dengan pria berkewarganegaraan Amerika Serikat itu mereka dikaruniai seorang putra bernama Avi Hanusz. Sidang perdana mereka digelar pada 10 Desember 2012 lalu.

Pada hari Senin tanggal 28 Mei 2012 Yulia Rachman menggugat cerai suaminya Demian Aditya sang ilusionis di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Yulia-Demian menikah pada tanggal 19 Desember 2008. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai anak laki-laki bernama Kiandra Aldya Arka. Sebelumnya Yulia pernah menikah dan dari perkawinan dengan suami pertamanyaitu mereka dikarunia seorang putri bernama Kayla Aura Fabhian yang lahir pada tanggal 20 Februari 2004.

Pemain sinetron Cornelia Agatha menggugat cerai suaminya Sony Lalwani pada 29 Oktober 2012 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pasangan beda agama ini menikah di Hongkong pada 18 Maret 2006. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai anak kembar bernama Makayla Athaya Lalwani dan Tristan Athala Lalwani.

Mantan artis dan mantan pembaca berita di Metro TV yang saat ini menjadi anggota DPRD DKI Jakarta Wanda Hamidah menggugat cerai suaminya, Cyril Raoul Hakim. Wanda melayangkan gugatan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada hari Jumat tanggal 3 Agustus 2012 lalu. Mereka menikah pada tahun 2001. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga orang anak. Dari pernikahan sebelumnya, Cyril telah dikaruniai dua orang anak.

Artis Wiwid Gunawan menggugat cerai suaminya, Disa Sandi Ardiansyah di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, pada tanggal 8 November 2012. Mereka menikah pada tanggal 18 April 2010 di Bandung. Namun, tampaknya mahligai rumah tangga yang telah mereka bina berujung perpisahan.

Wanita menggugat cerai suaminya di Indonesia akhir-akhir ini tampaknya cukup memprihatinkan. Karena menurut seorang penulis di kompasiana mengutip data Kemenag 2010, perceraian di Indonesia justru 70% karena gugatan isteri kepada suami. Data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, yaitu dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, maka ada 285.184 perkara yang berakhir dengan percerain per tahun se-Indonesia.

Jadi tren perceraian di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Adapun faktor perceraian disebabkan banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. faktor ekonomi merupakan penyebab terbanyak dan yang unik adalah 70 % yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Nama-nama tersebut di atas hanyalah secuplik gugatan perceraian yang dilakukan sejumlah wanita pada paruh kedua tahun 2012.

***

Dalam Islam ada ancaman keras bagi wanita yang minta cerai kepada suami tanpa alasan yang syar’I, sebagaimana diuraikan dalam situs alsofwah.or.id berikut ini.

***

Minta Dithalak Suami Tanpa Sebab yang Dibolehkan Syara’ Maka Haram Baginya Bau Surga

Ketika terjadi sedikit percekcokan dengan suami, banyak di antara para istri yang langsung mengambil jalan pintas, minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

Padahal, terkadang keputusan itu diambil hanya karena pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya.

Semua mengetahui, bahwa thalak melahirkan banyak kerugian besar, di antaranya; putusnya tali keluarga; lepasnya kendali anak dan terkadang disudahi dengan menyesal pada saat penyesalan tak lagi berguna dan sebagainya.

Dengan akibat-akibat seperti disebutkan di atas, menjadi nyatalah hikmah syariat mengharamkan perbuatan tersebut. Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Tsauban radhiallahu ‘anhu disebutkan:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.

“Siapa saja wanita yang minta diceraikan oleh suaminya tanpa alasan yang dibolehkan, maka haram baginya bau Surga.” ( Hadits riwayat Ahmad, 5/277; dalam Shahihul Jami’ , hadits no. 2703.)

Hadits marfu’ lain riwayat Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu menyebutkan,

إِنَّ الْمُخْتَلِعَاتِ وَالْمُنْتَزِعَاتِ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ.

“Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik.” ( Hadits riwayat Ath-Thabrani, 17/339, dalam Shahihul Jami’, hadits no. 1934.)

Adapun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara’, seperti: Suaminya suka meninggalkan shalat; Suka minum-minuman keras dan narkotika; Memaksa istrinya berbuat haram; Suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri; Tidak lagi mau mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan), maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai, sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya. (alsofwah.or.id)

***

Perlu pencegahan secara intensip

Demikianlah gejala nyata di masyarakat tentang tingkah polah wanita yang tidak mengenakkan. Ada sejumlah wanita yang berani korupsi hingga terjerat hukum, dan ada yang menggugat suami dengan lantangnya seakan merupakan trend keberanian wanita. Padahal bila tanpa alasan syar’i (alasan syar’I seperti: suami tak dapat memberi nafkah lahir atau batin) maka wanita yang menggugat cerai itu diancam tidak mendapatkan bau surga. (Kalau sampai terbukti anaknya saja lebih dari satu, misalnya, ya jelas sang suami dapat  memberi nafkah batin, dong).

Apakah tidak takut neraka, yang sudah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa penghuninya kebanyakan adalah wanita, wahai para wanita?

Ini bukan karena benci wanita, tetapi nasihat dan bahkan peringatan itu penting. Semoga saja berbagai pihak mau mengevaluasi persoalan ini, lalu mencegahnya secara intensip, sehingga keburukan yang seolah ngetrend ini dapat dihentikan, sebelum keadaannya makin parah.

*keb·li·nger Jw v sesat; keliru (KBBI)

 (haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 955 kali, 1 untuk hari ini)