Emha Ainun Nadjib (ist)

.

  •  LBH APIK : Sitok Srengenge agar dijerat pasal perkosaan (pasal 285) dan perbuatan cabul (pasal 289 ) dan perbuatan tidak menyenangkan (pasal 335) KUHP.

… budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), yang menyatakan simpati kepada tersangka perkosaan mahasiswi itu, menjadi bulan-bulanan Saut di sosial media Twitter, tulis itoday.co.id

Sementara itu , LBH APIK meminta kepolisian untuk menjerat Sitok yang merupakan aktivis Salihara dengan pasal perkosaan (pasal 285) dan perbuatan cabul (pasal 289 ) dan tidak semata-mata hanya menggunakan perbuatan tidak menyenangkan (pasal 335) KUHP.

Kasus Sitok itu jelas pemerkosaan, menurut penilaian ini : Kenapa ini dibilang pemerkosaan karena satu ketidak berdayaan si korban dalam menghadapi pemerkosa. Saya merasa perempuan itu terlalu disudutkan padahal secara psikis, secara fisikpun, dia bukan suka sama suka, ditambah lagi korbannya bukan hanya satu. Jadi ini seperti ada di mindsetnya pelaku bahwa setelah ini saya punya target lain, dengan cara yang berbeda-beda tapi grand designnya tetap sama. Pemaksaan     kan tidak selalu harus melalui tindakan force, represif, pemaksaan juga bisa dilakukan persuasif, kata Donny Damara yang dikenal sebagai seorang artis, yang juga merupakan alumni dari Universitas Indonesia dan dosen di lembaga pendidikan.

Anehnya, Sitok pelaku yang diduga keras memperkosa bukan hanya satu mahasiswi itu justru dibela oleh Emha Ainun Nadjib, maka menjadi bagian Emha lah bila ada orang yang « menalanjanginya ».

Orang yang diduga memperkosa, bahkan yang diperkosanya bukan hanya satu mahasiswi, kok malah  dibela. Apakah Emha tidak pernah membaca ayat ini ?

{وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا} [النساء: 105]

dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS An-Nisaa’: 105)

Inilah beritanya.

***

Cak Nun Bela Sitok, Saut Situmorang: Dia Bela Bakrie Soal Lumpur Lapindo

By : F. Hadiatmodjo

itoday – Panyair Saut Situmorang terus menyerang pihak-pihak yang membela atau simpati kepada penyair Sitok Srengenge. Bahkan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), yang menyatakan simpati kepada tersangka perkosaan mahasiswi itu, menjadi bulan-bulanan Saut di sosial media Twitter.

Tidak tanggung-tanggung, Saut “menelanjangi” masa lalu Emha, termasuk isu soal pembelaan Emha kepada Bakrie Group terkait kasus Lumpur Lapindo. “Dia (Emha) jugak bela Bakrie dalam Kasus Lumpur Lapindo kok! Keren ya nabi yg sukak kali omongin Rakyat Kecil ini!” ungkap Saut melalui akun Twitter ‏@AngrySipelebegu.

“Mereka masih dukung dia kok,” kicau ‏@AngrySipelebegu me-retweet @SirIbrahim: “Mestinya paham. Kenapa SS (Sitok Srengenge) datang ke Cak Nun. Ketika tidak ada satupun orang Salihara yg membela.”

Diberitakan sebelumnya, Emha Ainun Nadjib meminta agar semua pihak tidak memojokkan Sitok Srengenge. Menurut Emha, persoalan yang menimpa Sitok Srengenge sudah sangat berat, sehingga   seharusnya tidak ditambah-tambahi karena manusia bisa punya salah.

“Justru ketika dia melakukan kesalahan kita harus menemaninya. Jadi jangan diinjak-injak. Apalagi kalau saya kenal dengan wanitanya, saya pasti juga akan datang ke dia. Sama dengan kasus korupsi saya bantu KPK, tapi sayajuga ketemu Mulyawa W. Kusumah, Burhanudin Abdullah, Saya ketemu Antasari Azhar, semua saya temui sepanjang saya punya kesempatan,” ungkap Emha Ainun Nadjib seperti dikutip Jogjanews./ itoday.co.id/

***

KabarSosial

LBH APIK : Sitok Terjerat Pasal Pemerkosaan dan Cabul

Oleh : Ivrin

Sabtu, 14 Desember 2013 – 16:47:02 WIB

Sitok Srengenge, aktivis Salihara terancam terkena pasal pemerkosaan atas tindakannya terhadap mahasiswi Universitas Indonesia

KabarJakarta.com – Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK)Jakarta menilai, hubungan intim yang dilakukan oleh penyair Sitok Srengenge kepada mahasiswi Universitas Indonesia, RW bukanlah atas dasar suka sama suka.

Menurut LBH APIK, Sitok menggunakan kekuasaan dan janjinya untuk memberikan bantuan penyelesaian skripsi.

“Komunikasi yang terjadi antara SS dengan korban pada walnya disebabkan karena SS menjanjikan untuk memberikan bimbingan skripsi kepada korban,” kata LBH APIK dalam pernyataan rilisnya.

LBH APIK pun menilai, Sitok secara sengaja menciptakan situasi dimana korban merasa ketergantungan dan akhirnya rentan terhadap eksploitasi seksual.

Untuk itu, LBH APIK meminta kepolisian untuk menjerat Sitok yang merupakan aktivis Salihara dengan pasal perkosaan (pasal 285) dan perbuatan cabul (pasal 289 ) dan tidak semata-mata hanya menggunakan perbuatan tidak menyenangkan (pasal 335) KUHP. http://kabarjakarta.com/

***

Donny Damara: Butuh Gerakan Sosial (Kasus perkosaan yang dilakukan SS thdp RW by solidaritas Alumni FIBUI)

Kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan SS terhadap RW menyita perhatian berbagai kalangan, termasuk kalangan artis. Adalah seorang Donny Damara yang dikenal sebagai seorang artis, yang juga merupakan alumni dari Universitas Indonesia dan dosen di lembaga pendidikan, melihat bahwa sudah saatnya dilakukan suatu gerakan bersama untuk menghentikan kasus pemerkosaan di Indonesia yang secara kuantitas dan kualitas semakin meningkat tiap tahunnya.

 Wawancara dilakukan pada tanggal 9 Januari 2014 di rumah Donny Damara yang mengatakan siap melakukan dukungan terhadap gerakan anti pemerkosaan.

 E:   Banyak yang menyangsikan bahwa kasus ini merupakan perkosaan karena korbannya seorang mahasiswi yang justru mendatangi pelaku. Mengapa anda yakin bahwa ini adalah kasus perkosaan?

D:  Perkosaan itu umumnya dilakukan oleh orang-orang yang dikenal oleh korbannya. Yang kedua bisa mengatur, ber-impression management terhadap korbannya, seolah-olah dia mengayomi, melindungi, lalu dia bisa berperan entah itu sebagai ayah, sebagai kakak dalam tanda kutip, sehingga korban merasa secure. Kenapa ini dibilang pemerkosaan karena satu ketidak berdayaan si korban dalam menghadapi pemerkosa. Saya merasa perempuan itu terlalu disudutkan padahal secara psikis, secara fisikpun, dia bukan suka sama suka, ditambah lagi korbannya bukan hanya satu. Jadi ini seperti ada di mindsetnya pelaku bahwa setelah ini saya punya target lain, dengan cara yang berbeda-beda tapi grand designnya tetap sama. Pemaksaan     kan tidak selalu harus melalui tindakan force, represif, pemaksaan juga bisa dilakukan persuasif.

 E:   Bagaimana anda melihat perkembangan kasus ini?

D:  Saya ngelihat adanya peredaman dari suatu kelompok tertentu melawan si victim ini. Maksud dari peredaman, yah dari status sosial,  bagaimana dia lebih dominan di mata masyarakat. Itu menjadi seperti pembenaran. Kasihan juga melihat RW ini menjadi korban yang dimarjinalkan dan dikesampingkan sedemikian rupa. Kenapa bisa terjadi peredaman itu, dia sebagai salah satu komunitas yang bisa mempengaruhi opini masyarakat.

 E:   Dalam kasus RW, bagaimana anda melihat dukungan alumni UI?

D:  Saya disini ngga bicara tentang alumni UI, kebetulan disini RW adalah alumnus dari Universitas Indonesia, tapi saya berbicara sebagai seorang laki-laki dan saya melihat ada korban seorang wanita. Kalau dia sekolah atau almamater dari SD cemong pun, saya akan tetap bela dia. Artinya disini jangan lihat primodial dari kasus ini, oh dia dari intitusi ini, kita lihat dia sebagai mahluk Tuhan, saya sebagai mahluk Tuhan, pemerkosanya pun sebagai “mahluk Tuhan” mungkin. Artinya Hitam harus hitam,  putih harus putih dalam kasus ini. Jelas-jelas kok diperkosa, jelas-jelas korbannya ngga cuma satu,  jelas-jelas juga berantai.

 E:   Korban perkosaan sangat membutuhkan dukungan untuk proses hukum kasusnya dan memulihkan mentalnya. Apakah masyarakat sudah cukup memberi dukungan pada korban?

D:  Saya berharap kita-kita semua bukan cuma sekedar pencetus, ayo dung ngadu dung, lapor dung, tapi harus melalui satu gerakan. Gerakan itu harus benar-benar gerakan verbal. Benar-benar eksplisit bahwa ini loh kaum perempuan atau kaum lainnya yang termarjinalkan telah terjadi perkosaan, jadi tidak cukup sekedar  tulisan  atau sekedar informasi, kalau tidak si pelaku semakin dapat melenggang kangkung.

 E:   Gerakan seperti apa yang harus dilakukan?

D:  Harus massif. Sekarang, kita mau coba langsung ke atas ngga mungkin kan karena itu tadi,seorang sastrawan, seorang pujangga dengan hormatnya itu tapi dia tenar terus bisa dianggap benar. Harus ada gerakan sosial.

 E:   Di India yang juga mengalami banyak kasus perkosaan, para pejabat publiknya ikut bergerak. Mengapa pejabat-pejabat publik kita tidak bisa melakukan hal yang sama?

D:  Di India penjabat publik dan tokoh-tokoh yang duduk dalam institusi bergerak, setelah ada yang bergerak di jalanan. Di Indonesia kenapa ngga, karena baru sampai fase pertengahan sudah diredam, sehingga mereka yangdi atas ngga tahu nih sudah sampai dimana. Mereka yang di atas belum tentu bisa melihat secara makro semuanya. Nah sekarang kalau kita ngga dibantu oleh media, dibantu oleh institusi, kita ngga dibantu  lagi oleh  teman-teman yang concern tentang ini,penjabat publik cuma lihat ini sebagai floating mass yang cuma lagi ingin melakukan hura-hura, istilah aku. Ingin mencari sensasi. Nah itu harus dilakukan oleh gerakan yang solid, gerakan yang benar-benar sehingga memang nyampe ke atas, Masa iya sih ngga bisa. Di India yang banyak multi etnik, multiras bisa, kita yang hampir sama dengan di India masa ngga bisa.

 E:   Apa yang terjadi di Indonesia menurut anda sehingga masyarakatnya masih belum bergerak?

D:  Masyarakat Indonesia sih dibodohi kalau saya bilang. Dibodohi oleh siapa? Oleh orang-orang yang membuat ketenaran menjadi suatu kebenaran itu. Manusia Indonesia dibodohi oleh bersikap skeptik. Jangan sampai perempuan disalahi, eh kamu jangan pakai rok mini, kamu jangan pakai skirt, kamu jangan pakai scarf, ngga. Bukan karena masalah itu, itu lebih pada nafsu binatangnya aja. Laki-laki kalau itupun bisa diperkosa kok.

 E: Anda sendiri akanmemberikan dukungan seperti apa?         

D: Menurut saya korban perkosaan dianggap sesuatu yang tabu terutama dalam institusi paling kecil, keluarga. Tugas kita untuk membesarkan hatinya. Meskipun kamu pernah terbunuh tapi kamu belum mati. Masih panjang jalannya. Life is to short to be regret. Saya pribadi kalau dimintakan  bantuan untuk mendukung gerakan ini, saya akan dukung. Saya siap kok.  Tentunya bukan saya sendiri, saya juga perlu bantuan teman-teman yang lain, entah itu gerakan turun ke jalan atau menghadap institusi yang memang mempunyai wewenang untuk membuat ini menjadi UU.

 E:   Bagaimana anda melihat pemberitaan media atas kasus RW ini?

D:  Media masa perlu ditatar bahwa si victim itu bukan obyek materialisme,  si victim itu harus dilindungi. Media sekarangterlalu masuk ke ranah materialisme, artinya mereka cuma mementingkan berita. Mereka menonjolkan ketenaran sebagai suatu kebenaran.

E:   Apa yang harus dilakukan media dalam kasus ini?

Media harus membentuk opini bahwa ini benar kasus perkosaan.  Bukan pertanyaan-pertanyaan bagaimana anda bisa diperkosa. Media harus membentuk opini publik secara obyektif bahwa ini memang kasus perkosaan, bukan suka sama suka, mengapa? Itu yang saya bilang tadi ketenaran bukan kebenaran. Belum tentu orang tenar itu, benar terus. Previllage itu yang harus dipatahkan. Ketenaran menjadi kebenaran itu salah. Terus bagaimana dia membuat opini public bahwa pelaku adalah salah dengan menggunakan strata sosialnya dia di mata masyarakat yang notabene lebih tinggi. Siapa yang tidak mengenal dia. Di satu sisi siapa yang kenal dengan korban. Itu yang harus dibuka,  bukan yang secara tugas mengejar berita, mengejar materialism. Kalau ngga gitu kasihan korbannya . Paling tidak ingin membuat suatu perubahan bahwa ini memang benar-benar korban sehingga menjadi perlindungan korban, adanya UU perkosaan dan pemerkosa itu sendiri. Dihukum yang berat.

By: Solidaritas Alumni FIB UI

Ery Sandra A. Moeis, Diah Laksmi dan MahendrattaSambodho

http://alumni.fibui.com/ January 15, 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.705 kali, 1 untuk hari ini)