Rabu, 16 Rabiul Awwal 1436 H / 7 Januari 2015 13:22 wib

Tahun 2010 tidak akan pernah dilupakan oleh pendiri lembaga training sumber daya manusia ESQ (The Emotional and Spiritual Quotient), Ary Ginanjar Agustian. ESQ Leadership Training yang didirikannya 15 tahun lalu itu telah difatwakan sesat oleh salah seorang Mufti Malaysia dan anggota Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Majelis Ulama Malaysia), Datuk Haji Wan Zahidi Bin Wan Teh. Padahal hingga sekarang ESQ telah memiliki lebih dari 1 juta alumni di Indonesia, AS, Australia, Belanda, Malaysia dan beberapa negara lain. Di Indonesia dan Malaysia, alumni ESQ termasuk para manajer perusahaan dan pejabat tinggi negara.

Sebagai salah seorang dari 14 Mufti di Malaysia, posisi Datuk Haji Wan Zahidi sangatlah strategis sekaligus dihormati. Sebab dia menjadi Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia yang meliputi ibukota Kuala Lumpur, Pusat Pemerintahan Putra Jaya dan Labuan. Maka tidaklah mengherankan pasca keluarnya fatwa itu, 28 perusahaan terkemuka Malaysia menunda training ESQ bagi pegawainya.

Padahal Ary Ginanjar sudah sesumbar ESQ Leadership Training akan mendunia pada tahun 2050 nanti. Tetapi baru dalam lingkup negeri jiran Malaysia, ternyata sudah tersandung fatwa Mufti Malaysia dan dinyatakan ajarannya sesat.

 

Kesesatan ESQ

 

Sebagaimana disebutkan dalam www.muftiwp.gov.my yang merupakan situs resmi Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, terdapat 10 penyimpangan aqidah dan syariah Islam yang diajarkan dalam ESQ Leadership Training dari Ary Ginanjar.

Penyimpangan tersebut antara lain:

Pertama, ESQ dinilai mendukung faham liberalisme dengan mentafsirkan Al Qur’an dan Hadist secara bebas dengan melanggar aqidah dan syariah Islam.

Kedua, ESQ mendukung faham pluralisme dimana semua agama adalah sama dan semua agama sumber kebenaran.

Ketiga, ESQ juga mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran di luar Islam seperti Yahudi, Kristen, Hindu dan Buddha.

Keempat, ESQ menekankan konsep suara hati (conscience) sebagai sumber rujukan utama dalam menentukan baik dan buruk suatu perbuatan. Padahal menurut Imam Abu Al-Abbas, pendapat demikian termasuk zindiq dan kufur.

Kelima, ESQ selalu menjadikan logika sebagai sumber rujukan utama. Jelas ini bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber rujukan utama dalam Islam.

Keenam, Ary mengingkari mukjizat, sebab tidak dapat diterima oleh logika akal sehat.

Ketujuh, Ary juga menyamakan bacaan surat Al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari dalam sholat lima waktu disamakan dengan amalan Bushido orang Jepang yang berdasarkan pada ajaran Buddha.

Sementara itu kalau kita baca buku resmi ESQ karangan Ary Ginanjar Agustian yang berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual”, pada cetakan ke 19 (Maret 2005) yang diterbitkan oleh Penerbit PT Arga Bangun Bangsa, Jakarta, terdapat banyak penyimpangan yang merupakan penafsiran secara liberal dari Ary terhadap Al-Quran dan As-Sunnah. Ary juga menafsirkan Asmaul-Husna secara salah kaprah. Padahal Ary Ginanjar bukanlah seorang ulama ahli tafsir maupun ahli hadist meski mengaku pernah menjadi murid Ketua MUI Bali, KH Habib Adnan. Ary Ginanjar kok berani-beraninya menafsirkan Al Qur’an dan Hadis sesuai dengan pikiran bebasnya dan seenak perutnya sendiri!

Di situ disebutkan suara hati sebagai sumber kebenaran. Padahal sumber kebenaran adalah Al-Quran dan As-Sunnah. “Pergunakanlah suara hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, yang merupakan karunia Tuhan”, (hal iiv). Esa diartikan dengan terintegrasi. “Keputusan yang Esa (terintegrasi)”, (hal 36). Ary juga menolak mukjizat Nabi Muhammad SAW dan para Nabi lainnya karena tidak bisa diterima oleh akal sehat. “Itulah tanda bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi penutup atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, bukan mukjizat-mukjizat ajaib semata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat saat ini”, (hal 100).

Ary dengan beraninya mengartikan Hadist mengenai anak sholeh dan amal jariyah. “Menurut salah satu Hadis Rasulullah SAW yang terkenal, bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan tingkat ini: (1) Anak yang sholeh, artinya sumber daya manusia berkualitas. (2) Amal jariyah, artinya sarana dan prasarana. (3) Ilmu yang berguna”. (hal 106). Demikian pula mengartikan ayat Al-Quran dengan sekenanya tanpa rujukan kitab-kitab tafsir. “Di dalam Al Quran, kecerdasan emosi itu dinamakan akhlakul karimah”, (hal 131). “Ihdinash shiraathal mustaqim. Tunjukilah kami ke jalan yang luas dan lurus,” (hal 133).

Ary juga ngawur dalam menafsirkan Asmaul Husna. “Di dalam Al-Quran terdapat 99 sifat Allah, dimana sifat-sifat ini telah terekam di hati manusia dan terbukti bahwa suara-suara hati manusia itu sesuai dengan sifat-sifat Asmaul Husna (God Spot). Maka dapat dipastikan bahwa seluk beluk emosi manusia dapat diidentifikasi melalui telaah dan pemahaman sifat Allah dalam teori Asmaul Husna,” (hal 245).

Berbicara mengenai Zakat, Ary juga terkesan tidak faham dan tidak mampu membedakan antara Rukun Iman dan Rukun Islam. Sebab Zakat disebutnya sebagai Rukun Iman, padahal Rukun Islam. (hal 244). Selain itu Ary juga menambahi Zakat yang selama ini hanya ada Zakat Fitrah, Zakat Mal dan Zakat Profesi sebagai hasil ijma para ulama. Tetapi oleh Ary ditambahi lagi dengan Zakat Sanubari (hal 246), Zakat Kepemimpinan (hal 251), Zakat Ilmu (hal 253), Zakat Suara Hati (hal 254), Zakat Visi (hal 257) dan Zakat Kolaborasi (hal 259).

Selain itu dalam buku karangan Ary Ginanjar itu, Asmaul Husna diartikan dengan seenaknya sendiri bahkan sangat menyimpang. Misalnya “Al-Majid” diartikan saya bersifat mulia. “Al-Majid”nya Allah diartikan Ary Ginanjar dengan makna “saya bersifat mulia.” Padahal mengaku kalau dirinya sebagai orang yang mulia itu adalah sifat yang angkuh dan sombong. Kalau orang lain yang menilai kita mulia, itu tidak masalah. Tapi kalau kita sendiri yang mengaku mulia, ini kan pengakuan yang angkuh dan sombong dari seorang manusia yang bernama Ary Ginanjar.

Sedangkan contoh lainnya Asmaul Husna “Huwal awwalu wal-akhir” diartikan menjadi “saya bersikap selalu menjadi  orang pertama dan terakhir.” Ayat “Huwal awwalu wal-akhir” itu disamakan dengan kita. Padahal manusia tidak bisa masuk menyerupai asma Allah, kekuasaan Allah, kebesaran Allah, dan rahman rahimnya Allah. Jangan dibandingkan manusia sebagai makhluk yang dhoif ini dengan al Khaliq Allah Swt. Apa sih artinya manusia, kok dibandingkan dengan kebesaran Allah Swt. Hal itu menunjukkan Ary Ginanjar sangat sesat karena ingin menyamai dan menyaingi Allah SWT sebagaimana yang dilakukan Raja Fir’aun laknatullah. Itulah kesyirikan yang besar, naudzubillah min dzalik.

Hal itu bermula dari penyimpangan makna Asmaul Husna yang dilakukan Ary Ginanjar, baik disengaja maupun karena kebodohannya dalam memahami makna Asmaul Husna.

 

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana seharusnya sikap umat Islam mengenai ajaran dan doktrin ESQ Ary Ginanjar ini. Meski Ary menyatakan ESQ adalah lembaga training sumber daya manusia bukan lembaga agama, tetapi kenyataannya selalu menggunakan dan merujuk pada dalil-dalil agama yang dimaknai secara bebas sesuai dengan logika fikirannya dan seenak perutnya sendiri.

 

Kalau Ary juga menyatakan setelah mengikuti ESQ, para alumninya sama rajin sholat, rajin puasa, tepat membayar zakat dan pergi haji, sekarang pertanyaannya adalah, apa manfaatnya kalau ibadah rajin tetapi aqidah menyimpang ? Seluruh pahala ibadahnya akan hangus dan tidak dinilai Allah SWT sebagai amal ibadah.

Setelah keluarnya fatwa Mufti Malaysia dan koreksi dari para tokoh umat Islam seperti mantan anggota MUI Pusat Ustadz Amin Jamaluddin dan Direktur Islamic Center Al-Islam Bekasi Ustadz Farid Ahmad Okbah, Ary Ginanjar menyatakan akan memperbaiki dan mengkoreksi buku karangannya tersebut sebagai dasar dan landasan dari training yang dilakuan ESQ.

Namun kenyataannya hingga 5 tahun ini hal itu tidak pernah dilakukannya dan training ESQ sekarang masih seperti dulu yang mengajarkan kesesatan dan penyimpangan dari aqidah Islam. Naudzubillah min dzalik./voaislam.com

***

Buku Rekayasa Pembusukan Islam Memuat Bahaya ESQ

By nahimunkar.com on 8 July 2010

Buku Rekayasa Pembusukan Islam Memuat Bahaya ESQ

Kini sedang ramai diberitakan di mana-mana tentang sesatnya ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) milik Ary Ginanjar Agustian yang sangat terkenal di Indonesia. Berita ramai itu lantaran adanya fatwa dariMufti Wilayah Persekutuan Malaysia yang memfatwakan, ESQ sesat dan banyak bertentangan dengan Islam.

1.ESQ difatwakan, bahwa ajaran, pegangan, dan pemahamannya menyeleweng dari Islam dan dapat merusak aqidah Islam.

2.Ada sepuluh ciri yang terdapat dalam ajaran ESQ ditengarai oleh fatwa itusebagai sesat dan dapat membawa kepada kekufuran.

3.Siapa saja hendaknya menjauhi ajaran, pegangan dan fahaman tersebut.

Di Indonesia pun suara-suara yang mengkritisi ESQ telah muncul ke permukaan sejak beberapa waktu lalu. Yang secara tertulis pun sudah beredar. Di antaranya dimuat di buku Rekayasa Pembusukan Islam, karya Hartono Ahmad Jaiz dkk terbitan Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, Februari 2009/ Shafar 1430H. Buku itu beredar di Indonesia dan luar negeri terutama Timur Tengah. Di pameran buku sekarang, Pesta Buku Jakarta 2010 di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, 2-11 Juli 2010 ada di beberapa stand Sukses Publishing, stan nomor 17, 36, dan 96.

Dalam Bab Menyusupkan Syubhat ke Islam, di buku ini dimuat tentang ESQ Dibicarakan Orang. Isinya menguak 27 poin sisi negative yang perlu dihindari. Sisi negative itu ada yang dinilai sangat berbahaya.

Dalam catatan 27 poin itu di antaranya berdasarkan tulisan Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ Model-nya yang fenomenal. ESQ Model ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, bahkan buku monomental Ary yang berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual” sudah terjual lebih dari 150.000 eksemplar dan sudah dicetak lebih dari 20 kali!

Hal negative yang berbahaya dari buku tulisan Ary, dikritik pada poin 15 dan 16 dari 27 poin kritikan sebagai berikut:

  1. Bagi Ary, sumber utama kebenaran adalah suara hati. Kebenaran ‘Suara hati’ bagi Ary di atas kebenaran al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahualaihi wasallam. Berikut ungkapnya: “Pergunakanlah suara hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, …..” Lebih lanjut ia mengatakan: “…., dan ayat-ayat Al Qur’an sebagai dasar berpijak (legitimasi). Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati anda sendiri, sebagai nara sumber kebenaran sejati” (Lihat: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Hal. Liv).

Suara hati dalam bahasa kaum sufi sering disebut dengan Dzauq (rasa hati) yang pada prinsipnya sama, yaitu sumber kebenaran sejati. Maka tidak heran kalau dari mulut mereka kita dengar ungkapan “haddatsanii robbii ‘an nafsii” (Tuhan ku menginformasikan kepada ku melalui jiwa ku). Juga ungkapan: “kalian belajar kepada orang yang sudah mati,

sedangkan kami belajar langsung kepada Yang Maha Hidup”.

  1. Keyakinan Ary yang lebih rancu dan sangat berbahaya lagi adalah ungkapannya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalamkepribadiannya sebagai Rasul yang sekaligus sebagai pemimpin abadi sangat mengandalkan logika dan suara hati. Berikut ungkapannya: “Itulah tanda bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam merupakan nabi penutup, atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, …….” (Lihat buku Rahasia Sukses …. ESQ, hal. 100).

Padahal kita kaum muslimin meyakini bahwa Nabi Shallallahu alaihi

wasallam selalu bersandar kepada wayu ilahi yang diturunkan melaui Jibril. Wahyu ilahi bukan suara hati! (Rekayasa pembusukan islam, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, Februari 2009, halaman 232-233).

Dengan munculnya kritikan terhadap ESQ dan bahkan fatwa dari Mufti yang menyatakan sesatnya dan bahayanya seperti tersebut, tampaknya ada reaksi dari orang-orang tertentu yang berani berkata dengan rancunya. Seakan Islam itu tergantung jumlah banyaknya orang yang setuju atau bersuara. Misalnya berkilah bahwa yang berfatwa tentang sesatnya itu kan hanya satu Mufti… dan sebagainya. Kilah seperti itu adalah satu bentuk pemikiran rancu. Karena Islam sama sekali tidak memerlukan banyaknya orang yang setuju. Ketika sesuatu itu benar secara dalil (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dengan pemahaman yang shahih, walau tidak disetujui oleh banyak orang maka tetaplah benar.

Jadi dalam kasus fatwa yang menyatakan sesatnya ESQ, atau catatan yang dimuat di buku yang menyatakan bahayanya, apabila itu dalilnya shahih, maka shahih pula alias benar. Tinggal lagi nanti orang yang ahli tentang evaluasi anggaran atau analisis tentang betapa besar pemborosan yang dihabiskan untuk penataran mahal itu dari berbagai kantor dan hasilnya pun negeri Indonesia banyak koruptornya bahkan sangat menonjol di dunia, maka evaluasi semacam itu akan menambah poin tersendiri pula. (nahimunkar.com).

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 14.636 kali, 8 untuk hari ini)