By nahimunkar.com on 11 December 2014

Suatu hari terjadi dialog antara da’i ahlus sunnah dengan tokoh syi’ah,

(Sunni) : Apakah menurutmu Abu Bakar itu najis dan khobits (menjijikkan)?

(Syi’i) : iya, tentu!

(Sunni) : Apakah berarti istri Abu Bakar juga khobits? karena dalam Al-Qur’an disebutkan lelaki khobits untuk wanita dan begitu pula sebaliknya.

(Syi’i) : Tentu! istri dia juga khobits.

(Sunni) : tapi ternyata salah satu mantan istri Abu Bakar, dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib! yaitu Asma’ binti ‘Umais, apakah Ali juga khobits?

(Syi’i) : [agak bingung], o.. tidak! jelas tidak! Asma’ dulunya khobits, kemudian dia bertaubat lalu menjadi suci dan dinikahi oleh Ali.

(Sunni) : berarti sebelum dinikahi oleh Ali, Asma’ seorang wanita yang khobits?

(Syi’i) : Tepat!

(Sunni) : tapi sebelum dinikahi oleh Abu Bakar, Asma’ ini adalah istrinya Ja’far, saudara kandung Ali! apakah Ja’far seorang yang khobits?

(Syi’i) : hah? tentu tidak!

(Sunni) : kata anda sebelum dinikahi Ali, Asma’ adalah wanita yang khobits bukan? Jika demikian suami dia juga khobits, yaitu Ja’far! Atau sebenarnya Asma’ ini wanita yang baik, dan suami dia juga baik, yaitu Abu Bakar! Bukan demikian logika yang anda terapkan? Apa anda akan mengatakan, “Asma adalah wanita yang baik ketika dinikahi oleh Ja’far, dan menjadi khobits ketika dinikahi oleh Abu Bakar, dan menjadi baik lagi ketika dinikahi oleh Ali? Jadi standar kalian dalam menerapkan kaidah ini bagaimana?

(Syi’i) : [diam tak bersuara].

Dikisahkan oleh Syekh Badar Muhammad Baqir (mantan syi’ah yang kini menjadi pakar anti syi’ah di Kuwait), saat acara Dauroh anti syi’ah di Ma’had Bin Baz Jogja, tahun 2011.
# Faedah dari Ust Yasin Aminullah

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.096 kali, 1 untuk hari ini)