Peringatan Maulid di Greja

.

[1]
Ketika kita memperbincangkan masalah Maulid, antara pro, kontra dan tawaqquf [no pro no kontra just nyimax], ada yang nyeletuk:

“Hare gene masih ributin Maulid?”

Padahal, yang ribut atau yang paling ribut atau yang tukang ribut adalah teman-teman yang Maulid-an, terutama di Kuburan Keramat.

[2]
Maulid itu, sekali lagi, adalah bid’ah hasanah.

Bid’ah = Mengada-ada dalam agama = Jelek
Hasanah = Bagus

Jelek tapi bagus? Kontradiktif, bukan? Biar tidak berbenturan, kita simpulkan bahwa:

Bid’ah Hasanah = Jelek Yang Dibagus-bagusi

Jadi: “Maulid Nabi adalah kejelekan yang dibagus-bagusi atau yang dianggap bagus atau YANG BISA DIGANTI namanya supaya terkesan bagus.”

[3]
Maulid itu menciptakan ‘keberkahan’ tersendiri. Dan ini relatif menguntungkan bagi para penjual kopiah, CD dan peniaga lainnya. Tapi, yang paling diuntungkan tentu saja para pebisnis religius, baik itu ustadz/habib/kyai/ulama yang menjadikan Maulid ladang meraup keuntungan finansial atau pamor, baik dengan cara menitip nomor rekening, atau menggelar acara yang requiring sumbangan atau infaq [baca: iuran faqsa] bagi pengikutnya.

Lebih-lebih para penjaga kuburan keramat. Mereka akan gagah malam Maulid-an. Sebentar lagi duit mengalir deras. Kalau perlu, main tipu-tipu sedikit, baik dengan cara menaruh kendi, bejana atau semacamnya berisi air kembang, mengklaim keberkahan, atau jualan kitab kecil wiridan yang dibisniskan. Berkah, bukan?

[4]
Maulid itu bahasa pelosoknya: “BIRTHDAY”. Demi Birthday, banyak yang rela safar. Tapi, demi shalat jama’ah yang jelas diperintahkan, sedikit sekali. Memang boneng, gan…kalau yang namanya bid’ah terangkat, sunnah bakal turun, baik itu sunnah yang bersifat wajib, atau tidak wajib.

Apakah ada yang memakai lilin sekalian? Nanti jam 12 malam tiup lilin bareng.

[5]
Tidak dipungkiri lagi, bahwa mafsadat dan madharat banyak sekali terkandung dalam perayaan Maulid. Tapi, masa bodoh lah dengan yang namanya bid’ah, syirik, dan lainnya. Yang penting: having fun, bisa keluar rumah, rame-rame nongkrong, dan tentu saja: cinta Nabi.

Cinta Nabi tapi ternyata tidak cinta sunnah Nabi. Saking cintanya terhadap Nabi, dan tidak cintanya pada sunnah Nabi, akhirnya melakukan bid’ah hasanah.

[6]
Dalih Nabi berpuasa hari Senin, dikatakan sebagai perayaan hari kelahiran Nabi. Emeng keseng!

Lucunya:

a. kawan-kawan pro-Maulid tidak pernah menyinggung masalah puasa Senin-Kamis.
b. kenapa tidak pada Maulid-an setiap hari Senin? Kok cuma setahun sekali? Oh iya, saya lupa, namanya juga Hari Ulang Tahun. ckck

[7]
Dikatakan, kita yang mempermasalahkan Maulid dan bid’ah, adalah pemecah belah. Padahal, ada teori begini:

“Sesuatu yang asalnya mulus, dipecahkan disebabkan kedatangan sesuatu yang memecahkannya setelah kemulusannya.”

Syariat Islam asalnya mulus dan murni; lalu datanglah bid’ah yang menggores kemulusannya. Pelaku bid’ah lah yang menjadikannya tergores dan terpecah-belah.

Syariat Islam asalnya tidak mengenal perayaan Maulid Nabi. Lalu, datanglah Maulid Nabi, sesuatu yang baru. Dengan kedatangannya, protes di sana-sini. Disebabkan Maulid, perpecahan terjadi.

[8]
Jika satu keburukan dilakukan, ditakutkan bercabang dan melahirkan keburukan baru. Dan itulah yang terjadi pada Maulid.

Maulid itu buruk…eehh…hasanah dink…lalu tumbuhlah amalan-amalan baru, seperti wiridan bareng di depan kuburan keramat. Karena tidak puas wiridan di atas tanah dan tikar, akhirnya kuburannya dibuat seperti rumah dan berlantai kinclong. Tidak puas hanya wiridan, didatangkanlah gendang dan rebana. Tidak puas dengan itu, dibawalah speaker dan sound system. Tidak puas dengan itu, lama-lama saya yakin: kalian akan menjadi orang gila.

Dan bukan sebuah hot news jika seorang sufi bertingkah selayaknya orang gila dan kehilangan akal.

[9]
Sebagian peraya Maulid tidak tahu apa-apa, sebagian tidak mau tahu apa-apa, sebagian tahu tapi berkata, ‘Cyus miyapa!?’, sebagian sudah tahu tapi tak peduli apa-apa, dan semoga Allah memberi petunjuk pada semuanya, tak terkecuali kita.

[10]
Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Jikalau Natal dinamai Maulid, maka sah-sah saja. Atau bahkan nama Maulid lebih cocok untuk Natal. Karena keduanya sama-sama:

“Memperingati/merayakan Hari Lahir Nabi”

Lucunya, sebagian ulama tarikh [sejarah] tidak menyatakan Nabi lahir tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Dan…beliau wafat kapan, btw?

Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Masalah buat umat Islam? Masalah!

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.691 kali, 1 untuk hari ini)