Pimpinan delegasi Muslim Rohingya, Noor Husain Arakani di Mansoora, Pakistan mengatakan, warga Muslim Myanmar dipaksa untuk berpindah agama ke Budha. Jika menolak, maka mereka akan mendapat tindakan brutal.

“Mereka dipaksa untuk memakan daging babi dan minum minuman keras. Kasus pemerkosaan oleh gerombolan gang meningkat. Di beberapa tempat, orang-orang Muslim dibakar hidup-hidup. Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk menggunakan telepon seluler. Faktanya, pemerintah Myanmar ingin membersihkan Myanmar dari populasi Muslim,” ungkapnya seperti dilansir The News International, Kamis (26/7/2012).

Inilah beritanya

***

Soal Rohingya, Hanya SBY Presiden Muslim yang Mati Rasa

OPINI | 04 August 2012 | 12:17l

Stop Pembantaian Muslim Rohingya (http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2012/07/pembantaian-muslim-rohingya.jpg)

Follow Me : @assyarkhan

Setidaknya Itulah kesimpulan sementara Saya membaca berita di media-media Eropa dan Amerika tentang “lembeknya” SBY dan tidak bersikapnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait Tragedi Rohingya, Burma.

Beberapa Media Eropa menyebutkan sebuah Ironi, terjadinya diskriminasi terhadap minoritas Muslim Rohingya yang terjadi di ASEAN dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Indonesia dinilai hanya bisa berdoa atas kejadian ini dan tidak ada protes dan sikap yang jelas dari Susilo Bambang Yudhoyono terhadap tragedy pembantaian dan Pembakaran Muslim Rohingya oleh Junta Myanmar, 26 Juli 2012.

Sebuah Ironi yang tidak masuk akal, Diskriminasi terburuk di dunia menghabisi EtnisMuslim terjadi di Asia Tenggara, rumah bagi penduduk Muslim terbesar di duniademikian berita yang dilansir AFP.

AFP menilai aneh saja ketika terjadinya pembantaian yang tidak berperikamunisiaan di Burma, Mengapa Para pemimpin Muslim di negara-negara lain di kawasan ASEANtidak menggunakan pengaruh mereka pada junta militer Myanmar, bahkan Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar hanya bia menonton foto-foto di facebook dan Youtube, saja karena semua Televisi di Indonesia tidak memberitakan sedikitpun tentang pembantaian tersebut.

ASEAN sebagai kawasan yang mencakup Negara dengan mayoritas Muslim lainnya dan kaya minyak, padahal memiliki hubungan dekat dengan Burma.

Ini adalah ambiguitas Asia Tenggara yang memiliki jumlah terbesar umat Islam, namun pemerintah dan terutama Muslim di wilayah ini telah hidup dengan masalah Rohingya puluhan tahun di halaman rumah mereka sendiri,” Haris Azhar, koordinator hak asasi manusia Indonesia advokasi KontraS kelompok, mengatakan kepada wartawan.

Myanmar & Kediktatoran Militernya

Indonesia, selama puluhan tahun di bawah kediktatoran militer Presiden Soeharto,Sangat dikecam karena banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia secaraterang-terangan tetapi tidak pernah dihukum sampai akhir hayatnya.

Negara anggota ASEAN memeliki keanehan daripada wilayah-wilayah lainnya, masing-masing Negara mengalami Individiualistik yang sudah akut, tidak berani bersuara terhadap kebijakan Negara tetanga, Bahkan sekalipun pelanggaran HAM yang terang benderang sekalipun, Kediktaroran Soeharto, dan Pemerintah lainnya di ASEAN tidak pernah dibahas dalam pertemuan ASEAN.

Tetapi dengan tragedi Pemerkosaan wanita Muslim Rohingya oleh Milieter Myanmar dan pembantaian disana tak sedikitpun digubris dan Presiden Susilo Yudhoyono hanya menyatakan “KHAWATIR” terhadap tragedi Rohingya. Paradoks Negara Muslim terbesar di Dunia ini dalam perkiraan karena sudah menyebarnya Faham Liberal Sekular yang membuat “Matinya Rasa” di Pemerintahan Yudhoyono.

Partai Demokrat melalui kadernya Ulil Abshar Abdallah di Twitternya menghina Ummat Islam Indonesia yang menggalang bantuan untuk Rohingya, sebagaimana diketahui Ulil merupakan dedengkot Liberalis Sekular di Indonesia dan pastinya sudah mempengaruhi jalan berfikirnya semua kader Demokrat termasuk Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia Menantikan Hukuman Allah SWT dengan Presiden yan Mati Rasa

Sumber Bacaan :

Abu Bakar Ba’asyir Kirim Surat Ancaman Pada Pemerintah Myanmar

Amerika Serikat Surati Presiden Myanmar Soal Rohingya

Hamas Palestina Serukan Selamatkan Muslim Rohingya

Dan SBY Hanya “Khawatir” Soal Muslim Rohingya

Bandung, 4 Agustus 2012

ADI SUPRIADI (Assyarkhan)/ http://hukum.kompasiana.com

***

Muslim Rohingya Dibantai dan Diusir, Kata SBY itu Bukan Genosida?

JAKARTA– Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya berbicara soal konflik Myanmar. Namun pernyataan SBY tersebut justru tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi terhadap muslim Rohingya di Myanmar.

SBY menyatakan bahwa tidak ada indikasi genosida terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya. “Sejauh ini tidak ada indikasi genosida,” ujar Presiden SBY dalam keterangan pers di kediaman pribadinya di Cikeas, Kab. Bogor, Sabtu (4/8/2012).

Pernyataan SBY tersebut jelas amat bertentangan dengan fakta yang ada. Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.

Jika saja Presiden SBY bersikap jujur, indikasi genosida terhadap etnis Muslim Rohingya di Myanmar begitu jelas. Pimpinan delegasi Muslim Rohingya, Noor Husain Arakani di Mansoora, Pakistan mengatakan, warga Muslim Myanmar dipaksa untuk berpindah agama ke Budha. Jika menolak, maka mereka akan mendapat tindakan brutal.

“Mereka dipaksa untuk memakan daging babi dan minum minuman keras. Kasus pemerkosaan oleh gerombolan gang meningkat. Di beberapa tempat, orang-orang Muslim dibakar hidup-hidup. Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk menggunakan telepon seluler. Faktanya, pemerintah Myanmar ingin membersihkan Myanmar dari populasi Muslim,” ungkapnya seperti dilansir The News International, Kamis (26/7/2012).

Hal senada juga diungkapkan salah seorang perwakilan Arakan Rohingya Union (ARO), Kamaruddin dalam pertemuan negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Malaysia.

Kamaruddin menjelaskan, Rohingya adalah bangsa minoritas yang paling teraniaya di dunia. Tidak ada negara yang mengakui padahal mereka telah mendiami daerah ini ratusan tahun.

“Junta mengusir kami, memperkosa perempuan-perempuan, merampas harta, dikejar bagai binatang, Bangladesh memusuhi kami, kami dari etnis mayoritas di provinsi Arkhine yang terdiri 17 kabupaten. Sekarang kami menjadi minoritas di negeri kami, tiada makanan untuk kami makan, walau untuk berbuka puasa, tiap hari dalam dua bulan ini korban meninggal kelaparan, dibunuh, disiksa dan lain-lain. Kain kafan pun tidak ada sehingga kami kebumikan dengan apa adanya,” kata Kamaruddin, Jumat (3/8/2012).

Apalagi upaya pengusiran secara terang-terangan terhadap Muslim Rohingya didalangi oleh pemerintah Myanmar sendiri.

Presiden Myanmar, Thein Sein mengatakan bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi konflik Muslim dan Buddha di Myanmar adalah dengan mengusir Muslim Rohingya ke luar Myanmar. Ia meminta Muslim Rohingya dikirim ke kamp pengungsi yang dikelola United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

“Kami akan mengusir mereka jika ada negara ketiga yang mau menerima mereka. Ini adalah solusi terbaik untuk masalah ini,” ujar Presiden Myanmar, Thein Sein Kamis (12/7/2012).

Jadi berdasarkan fakta-fakta sebenarnya sulit dibantah adanya indikasi genosida terhadap muslim Rohingya, tapi hal itu justru tak diungkapkan Presiden SBY. [Ahmed Widad/dbs] (voa-islam.com) Ahad, 05 Aug 2012

***

SBY Sebut Tak Ada Genosida terhadap Muslim Rohingya

Redaksi Salam-Online – Ahad, 17 Ramadhan 1433 H / 5 Agustus 2012 10:23

JAKARTA (salam-online.com): Presiden SBY akhirnya berbicara tentang Muslim Rohingya. Setelah beberapa kalangan mendesak agar dirinya memberikan pernyataan pers terhadap nasib kaum Muslimin etnis Rohingya di Myanmar, Sabtu (4/8/2012) bertempat di kediaman pribadinya di Cikeas, Jawa Barat, Presiden SBY berbicara persoalan yang menyita perhatian dunia tersebut.

Dalam keterangan persnya, SBY menyatakan tak ada genosida (pembantaian massal) terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. “Sejauh ini tidak ada genosida,” ujarnya. SBY menjelaskan, konflik yang terjadi di Myanmar tersebut serupa dengan peristiwa yang pernah terjadi di Poso, Sulawesi Tengah.

Dengan gaya khasnya, SBY juga meminta kita berhati-hati dengan mengedepankan jalur diplomasi, karena Myanmar saat ini sedang membangun upaya rekonsiliasi dan demokratisasi. “Sebenarnya pemerintah Myanmar sedang berusaha untuk mengatasi. Kita ketahui pemerintah Myanmar sekarang ini tengah melakukan upaya yang juga sangat serius untuk demokratisasi dan rekonsiliasi di antara pihak berseberangan dan nation building di antara komponen yang ada setelah dilaksanakan pemilu beberapa saat lalu,” jelas SBY.

Apa benar pemerintah Myanmar sedang berusaha membangun upaya rekonsiliasi dan demokratisasi? Yang jelas, menurut Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim, yang terjadi terhadap etnis Rohingya di Myanmar adalah pelanggaran HAM yang disponsori oleh negara. Pernyataan Ifdhal disampaikan dalam dialog interaktif mengenai nasib Muslim Rohingya yang diselenggarakan oleh Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS),  di Jalan Dempo, Jakarta Pusat (4/8/2012).

Senada dengan Ifdhal, Muhammad Rafiq, pengungsi Rohingya yang hadir dalam acara dialog tersebut menyatakan bahwa tragedi yang menimpa kaum Muslimin Rohingya melibatkan aparat Junta militer Myanmar.

“Mereka melakukan patroli tiap tengah malam, masuk ke rumah-rumah penduduk Muslim, kemudian membantai  dan membuang korban yang sudah tewas begitu saja di depan rumah,“ tuturnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Muhammad Rafiq juga menceritakan, aparat militer dan oknum kelompok Budha terlibat dalam aksi yang memilukan tersebut. “Militeri dan Budhis, dua-duanya menyerang,” tegasnya.

Jadi, bagaimana dengan pernyataan SBY di atas yang jauh berbeda dengan kebanyakan orang? Tak sesuai pula dengan kenyataan seperti diceritakan para pengungsi? (AW/salam-online)

*maido, bahasa Jawa, artinya tidak percaya sambil membantah (belum tentu pakai dasar).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.891 kali, 1 untuk hari ini)