Farriq tasud, devide et impera


Farriq tasudفَرِّقْ تَسُد cerai beraikanlah maka kamu akan dapat memimpinnya. Itu cara licik dengan menimbulkan bibit2 perpecahan, pertentangan satu sama lain, kemudian akan saling bentrok bahkan perang, lalu lemah dan terkuras tenaga dan hartanya, tinggallah mudah untuk dikuasai oleh sang pembuat rencana jahat.

Cara penjajah kafir seperti itu biasanya dikenal dengan istilah devide et impera.

Politik pecah belah, politik adu domba, atau devide et impera adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. (lihat id.wikipedia.org).

Sekadar omong-omong (btw), jadi ingat penjajah kafir Belanda dulu, di wilayah Minang Sumbar (Kerajaan Pagaruyung) penjajah kafir Belanda membela kaum adat berperang melawan kaum paderi Muslim ahlussunnah anti maksiat dan bid’ah, dikenal dengan perang paderi 1803-1838.

Akhirnya penjajah kafir Belanda melalap kaum adat maupun paderi Muslim anti maksiat itu, semua ditaklukkan.

Itu istilah arabnya, farriq tasud فَرِّقْ تَسُد
, cerai beraikanlah maka kau akan bisa memimpin. Atau dikenal dengan istilah devide et impera, politik memecah belah untuk menaklukkan.

He he… mungkin partai2, ormas2, jamaah2 pun bisa juga dibegitukan. Kalau agar loyo semua dan terkuras tenaganya, biar mudah dikuasai, maka diserang dengan cara penjajah kafir seperti itu. Bahkan tingkat negara pun bisa dibegitukan, apabila para pengendalinya orang yang dalam istilah Islam disebut berpenyakit wahn (lemah) yaitu hubbud dun-yaa wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut mati. Makanya Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu pernah wanti-wanti (berpesan dengan sangat), ” Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” Ia menjawab ,Jika orang-orang yang pengkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”
[Umar Bin Khattab: Suatu Negeri akan Hancur Jika Para Pengkhianat Jadi Petinggi, dan Harta Dikuasai Orang-orang Fasik

(Dari disertasi DR. Jabirah bin Ahmad Al Haritsi, pada program S3 Ekonomoi Islam Fakultas Syariah dan Studi Keislaman Universitas Ummul Qura Makkah dengan predikat Summa Cumlaude)]
https://www.nahimunkar.org/umar-bin-khattab-suatu-negeri-akan-hancur-jika-para-pengkhianat-jadi-petinggi-dan-harta-dikuasai-orang-orang-fasik/

Cara licik penjajah kafir tersebut, ditambah dengan kelemahan pengendali-pengendali suatu negeri Ketika mengidap penyakit cinta dunia alias ambisi harta dan jabatan, maka pihak penjajah pun menggunakan cara pakai pancingan harta. Yaitu dengan memberikan apa yang kadang disebut dana bantuan, padahal aslinya adalah utangan berbunga alias riba, dosa besar yang sangat dikecam oleh Allah Ta’ala.

Nah, persoalannya adalah: Masalah tersebut ditambah dengan dijerat utang pakai syarat ini itu. Sehingga negara itu bisa dipermainkan sekehendak pemberi utangan sebagai majikan yang memainkannya.

Nah, pada gilirannya, sang majikan tinggal memberi aba-aba. Bila ada yang gelagatnya ada yang menyampaikan lontaran2 terhadap majikan, maka tinggal antek2nya diberi aba2 agar memainkan cara2 licik penjajah kafir tersebut di atas, yakni farriq tasud atau devide et impera. Sedang sang majikan cukup hanya menyumpal para antek2nya… dan itu diperhitungkan sudah bisa beres…

Kemungkinan yang terjadi adalah Umat Islam menjadi sasaran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Riwayat Tsauban.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tsauban, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ». فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ». رواه أبو داود عن ثوبان

“Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya “apa saat itu kita sedikit?” jawab beliau “bahkan saat itu kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih di laut. Allah akan cabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan Allah sungguh akan mencampakkan penyakit wahn dalam hatimu.” Seseorang bertanya “Ya Rasulullah ap aitu wahn?” beliau menjawab “cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

Semua penyakit muaranya adalah kerena kecintaan kepada dunia dan takut mati

Semua penyakit muaranya adalah kerena kecintaan kepada dunia dan takut mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ada 7 penyakit yang akan menimpa umat ini. Penjelasannya adalah sbb:

Lafazh Hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «سَيُصِيبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللّهِ، وَمَا دَاءُ الأُمَمِ؟ قَالَ: «الأَشَرُ وَالبَطَرُ، وَالتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا، وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ، حَتَّى يَكُونَ البَغْيُ» رواه الحاكم (4/168 رقم 7311).

Arti Kata-kata:

سَيُصِيبُ             : akan menimpa

دَاءُ                   : penyakit

 الأُمَمِ                : umat (j)

الأَشَرُ                : kufur ni’mat

البَطَرُ                : kelewat batas saat mendapat nikmat, terlalu senang dan bahagia

                               dan selalu merasa kaya

التَّكَاثُرُ               : mengumpulkan harta.

التَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا  : berlebihan dalam masalah dunia

التَّبَاغُضُ            : saling membenci

التَّحَاسُدُ              : saling iri hati (mengharapkan hilangnya ni’mat dari orang lain)

البَغْيُ                : melampui batas

Arti Hadits:

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umatku akan terjangkiti penyakit umat-umat terdahulu” maka mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa saja penyakit umat-umat terdahulu itu? Rasulullah bersabda: “Kufur ni’mat, berlebihan saat mendapat ni’mat, menumpuk harta dan berlebih-lebihan dalam masalah dunia, saling membenci, saling iri hati sehingga ia menjadi orang yang melampuai batas” (HR. Al-Hakim 4/168 no. 7311).

Sanad Hadits:
a.Al-Hakim
b.Abu Hani’ Humaid bin Hani’ Al-Khulaany
c.Abu Sa’id Al-Ghifary
d.Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu

Kedudukan Hadits:

Al-Hakim rahimahullah berkata: Sanadnya shohih, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya.
Al-Albany rahimahullah berkata: rijalnya (periwayatnya) tsiqat dan merupakan rijalnya Muslim selain Abi Sa’id. Menurutnya rahimahullah derajat hadits ini adalah Hasan.

Pengertiannya:

Hadits ini merupakan ancaman yang berat tentang saling berlomba dalam masalah dunia karena sebenarnya ia merupakan pokok-pokok kehancuran, biangnya kejelekan, sumber fitnah dan menyebabkan menyebarnya kejahatan.

Tujuh dosa atau petaka ini telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai “Penyakit Umat” ini terdapat pada kebanyakan orang, hingga sampailah perkaranya ke meja hijau sedangkan yang berperkara adalah dua orang saudara, antara orangtua dan anak hal ini disebabkan karena masalah di atas atau karena yang lainnya.

Kita hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya.
https://griyahilyah.wordpress.com/2012/04/13/penyakit-umat/

Peringatan yang hampir serupa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian telah berjual beli dengan sistem inah, mengikuti ekor sapi, rela dengan pertanian, serta meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (Sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud)

 

Ilustrasi devide et impera/ foto seteteshidayah

 

***

 

Menghadapi keadaan seperti itu, apakah ada solusi dari Islam?

Simak penjelasan berikut ini.

***

 

 

 

ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM

 

Oleh

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

 

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?”

 

Jawaban.

Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

 

“Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah – termasuk riba, red NM– (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah -red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu”. [Hadist Shahih riwayat Abu Dawud].

 

Jadi asasnya ialah rujuk (kembali) kepada Islam.

 

Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma’tsur yang ditulis dengan tinta emas : “Barangsiapa mengada-adakan bid’ah di dalam Islam kemudian menganggap bid’ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah”. Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”. [al-Maaidah/5 : 3].

 

“Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini”

 

Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :

 

لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

 

“Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini”.

 

Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah rujuk (kembali) kepada al-Kitab was-Sunnah.

 

Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama’ah serta golongan-golongan di “lapangan” mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam.

 

Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firmannya.

 

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”. [al-An’am/6 : 153].

 

Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.

 

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda:

 

هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ سَبِيل مِنْهَا الشَّيْطَانَ يَدْعُوا لَهُ

 

“Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya”. [Shahih sebagaimana terdapat di dalam “Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah : 16-17].

 

Allah ‘Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya.

 

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

 

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali”. [an-Nisaa/4 : 115]

 

Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikatkan “jalannya orang-orang mukmin” kepada apa yang telah di bawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab :

 

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

 

“(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya” [Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah : 203]

 

Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Allah menyebutkan “Jalannya orang-orang mukmin (sabiilul mukminim)” dalam ayat tersebut .? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka .? Jawabannya, bahwa para shahabat radliyallahu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah) langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.

 

Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

 

إنَ الشَّاهِدَ يَرَى مَا لا يَرَى اْلغَائِبُ

 

“Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir” [Lihat Shahih Al-Jami’ : 1641].

 

Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang-orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mutawatir :

 

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

 

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi ” [Muttafaq ‘alaihi].

 

Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami al-Kitab dan as-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.

 

Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam “mengajak orang kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” untuk menambahkan prinsip “berjalan di atas apa yang ditempuh oleh as-Salafu as-Shalih” dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Allah menyebutkan “Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu’minin)”, dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh kaum salaf generasi pertama dari kalangan shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.

 

Kemudian, dalam hal ini ada satu persoalan yang teramat penting namun dilupakan oleh banyak kalangan jama’ah serta hizb-hizb Islam. Persoalan itu ialah : “Jalan mana gerangan yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang ditempuh oleh para shahabat dalam memahami dan melaksanakan sunnah ini..?”.

 

Jawabannya : “Tiada jalan lain untuk menuju pemahaman itu kecuali harus rujuk (kembali) kepada Ilmu Hadits, Ilmu Mushtalah Hadits, Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil dan mengamalkan kaidah-kaidah serta musthalah-musthalah-nya tersebut, sehingga para ulama dapat dengan mantap mengetahui mana yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mana yang tidak shahih”.

 

Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan ‘izzah (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara :

 

Pertama.

Anda harus mengembalikan syari’at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan firmannya :

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu” [al-Maaidah/5 : 3].

 

Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.

 

Kedua.

Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu.

 

Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana yang dipahami para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu’minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Allah.

 

Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Allah agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh salafuna ash-shalih.

 

Kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia Sami’ (Maha Mendengar) lagi Mujib (Maha Mengabulkan Do’a).

 

والله أعلم

 

(Diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah, edisi 11, tgl. 15 Dzulhijjah 1414H)

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 13/Tahun ke-II (03/II/1416-1995). Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]


Referensi: https://almanhaj.or.id/3976-asas-kebangkitan-dunia-islam.html

(nahimunkar.org)