Ilustrasi Foto: islami.co


Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Setelah memasuki kota Makkah dan berhasil menguasainya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menetap di kota Makkah agak lama. Pasca kemenangan perang, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasanya memerintahkan pasukannya untuk menetap beberapa hari saja. Selama menetap di Makkah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada pasukannya untuk  membersihkan berhala-berhala yang selama ini dijadikan sesembahan orang-orang kafir. Inilah yang menjadi spirit kenabian sekaligus sebagai misi besar seorang utusan, bukan membagi-bagi kekuasaan, tetapi membebaskan penghalang manusia dari peribadatan kepada selain Allah. hal ini sesuai dengan misi besar para rasul yakni mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan melepaskan diri dari sesembahan dan pelindung selain Allah.

Kebijakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Pasca Kemenangan

Setelah Fathu Makkah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pasukannya menetap selama 19 hari di kota Makkah. Dalam belasan hari itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada beberapa sahabat untuk menyelesaikan urusan berhala. Khalid bin Walid adalah orang pertama yang diutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk pergi merobohkan Uzza, berhala yang disembah bangsa Quraisy. Berhala Uzza itu merupakan pohon kurma besar yang disembah oleh kabilah Quraisy dan Kinanah. Dengan 30 pasukan, Khalid berangkat dan berhasil menumbangkan pohon besar dengan mudah, dan segera kembali menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah sampai di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Khalid diminta untuk kembali lagi. Hal ini karena berhala yang sesungguhnya belum ditumbangkan. Begitu kembali, Khalid menemukan Uzza yang sebenarnya, yakni wanita telanjang, hitam, dengan rambut terurai dan acak-acakan.  Begitu melihatnya, Khalid langsung memennggal lehernya hingga mati. Begitu selesai, Khalid kembali kepada Nabi tentang tugasnya yang sudah selesai. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan bahwa itulah iblis dalam bentuk manusia yang selama ini disembah oleh bangsa Arab.

Orang kedua yang diperintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memberantas berhala adalah Amr bin ‘Ash. Dia diutus untuk menghancurkan berhala Suwa’. Begitu sampai disana, Amr bin ‘Ash bertemu dengan juru kuncinya yang mengatakan “Apa yang akan kamu lakukan, kamu akan kualat jika berbuat sesuatu kepada berhala ini. Amr bin ‘Ash langsung mengatakan : “Kamu yang akan celaka. Apakah berhala ini bisa mendengar, memberi manfaat bagi kita ? Amr bin ‘Ash langsung menghancurkannya.

Orang ketiga yang diutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Sa’ad bin Zaid bersama 20 orang pasukan. Dia bersama pasukannya pergi ke Manat. Begitu sampai di tempat, Sa’ad bertemu dengan juru kunci yang mengatakan : Apa yang kamu lakukan ? Kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa terhadap berhala ini.” Maka keluarlah wanita telanjang, hitam dengan rambut terurai. Maka Sa’ad membunuhnya dengan cepat dan segera bergegas kembali ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Setelah itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan Khalid bin Walid untuk pergi ke kabilah Jadzimah guna mendakwahi mereka. Dengan pasuan 350 orang, Khalid pergi kesana. Ketika sampai disana, kabilah Jadzimah tidak mengatakan “Aslamna” (kami masuk Islam) tetapi “Shabakna.” (Kami murtad dari agama nenek moyang). Kemudian Khalid membunuh mereka dan segera kembali ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan bahwa sebenarnya mereka masuk Islam  tetapi tidak bisa mengatakan Aslamna.

Kepedulian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap Akidah Umat

Apa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai pemimpin layak untuk diteladani dengan beberapa kebijakannya saat kemenangannya dalam penaklukan kota Makkah. Pertama, menerapkan kebijakan untuk menerapkan rasa aman ketika memasuki kota Makkah. Penduduknya dibuat aman dan bebas untuk memeluk agama, serta tidak memaksakan penduduknya untuk masuk ke dalam agama Islam. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa Islam bukanlah ancaman dan orang tidak boleh beragama dengan terpaksa. Tetapi dengan kebijaksanaan itu, justru masyarakat Makkah justru berduyun-duyun memasuki dan memeluk Islam.

Kebijakan berikutnya adalah membersihkan berhala. Apa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini merupakan bentuk tanggung jawab sebagai pemimpin, baik di dunia amaupun di akherat. Pembebasan manusia dari sesembahan berhala merupakan tugas pemimpin yang harus dikedepankan kepada rakyatnya. Pembiaran terhadap berbagai berhala yang disembah oleh masyarakat membuat masyarakat itu terikat dengan sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kepada dirinya.

Sebagai pencipta dan pemelihara sekaligus pemberi rizki selayaknya Allah diutamakan. Bukan justru menundukkan diri terhadap makhluk yang tidak bisa memberi keuntungan apa-apa dan menjamin keselamatan serta menjaga keberlangsungan hidupnya. Nabi ingin menunjukkan bahwa Uzza, Mannat dan, Lata merupakan berhala yang ditakuti oleh masyarakat Arab dan dianggap menentukn nasib dan hidup serta matinya manusia. Padahal mereka adalah makhluk Allah juga, dan Iblislah yang membuat manusia menjadi tunduk dan patuh terhadap berhala itu.

Sebagai pemimpin yang melindungi masyarakatnya, dari kesetan dunia dan akherat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memprioritaskan perlindungan akidah umatnya dari berbagai penyimpangan. Bukan justru mengambil keuntungan dari umatnya dengan memanfaatkan mereka untuk kepentingan pelanggengan kekuasaan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukanlah seorang raja yang demikian bebas merengkuh harkat dan martabat rakyatnya dengan mengeksploitasinya. Kebanyakan pemimpin meraih kepemimpinan untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru memanfaatkan kekuasaan untuk mengajak manusia bisa beribadah hanya kepada Allah dan menghindarkan ketergantungan kepada selain-Nya.

Fathu Makkah merupakan stereotype kepemimpinan ilahiyah yang mengajak manusia untuk berbakti kepada Allah, bukan kepemimpinan yang berorientasi kekuasaan yang berujung membuka peluang kepada hawa nafsu (kepentingan) duniawi untuk menguasai dan menghamba kepada makhluk selain Allah. Dengan kepemimpinan ilahiyah itulah membuka peluang bagi terciptanya dunia yang mengabdi dan menundukkan jiwa kepada hanya kepada Allah. ketika jiwa tunduk kepada Allah, maka tidak akan memberi ruang bagi hawa nafsu untuk merusak jiwa manusia.

Yogyakarta, 8 Oktober 2018

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP) Surabaya

(nahimunkar.org)

(Dibaca 926 kali, 8 untuk hari ini)