Ilustrasi foto/twitter

Tanya :

“Apakah kami boleh berpuasa dua hari di negeri kami sini selama dua hari, yaitu untuk puasa ‘Arafah ? karena kami mendengar di radio bahwa hari ‘Arafah esok (di Saudi) bertepatan dengan tanggal delapan Dzulhijjah di sini”.

Jawab :

Hari ‘Arafah adalah hari dimana orang-orang melakukan wuquf di ‘Arafah. Dan puasa di hari tersebut disyari’atkan bagi selain orang yang menunaikan ibadah haji. Apabila engkau ingin berpuasa, maka berpuasalah pada hari ini. Jika engkau ingin berpuasa sehari sebelumnya, maka tidak mengapa. Dan jika engkau ingin sembilan hari dari awal bulan Dzulhijjah, maka itu baik, karena hari-hari itu merupakan hari-hari yang mulia yang dianjurkan untuk berpuasa berdasakan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak ada hari yang amal shalih dilakukan padanya lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari sepuluh ini (di bulan Dzulhijjah)‘. Dikatakan : ‘Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah ?’. Beliau menjawab :‘Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan diri dan hartanya, kemudian tidak kembali sesuatupun darinya (yaitu, orang tersebut mati syahid)‘. Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy.

Wabillaahit-taufiiq, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi wa sallam.[1]

[Fatwa Lajnah Daaimah 10/393, ketua : ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Baaz, anggota : ‘Abdullah bin Ghudayaan –http://dean4me.com/play-130.html].

https://www.kompasiana.com/tentarakecilku/55004133813311681ffa73bc/fatwa-lajnah-daaimah-asy-syaikh-al-ubailaan-dan-asy-syaikh-muhammad-al-maghrawiy-tentang-puasa-arafah

13 November 2010   04:06 Diperbarui: 26 Juni 2015   11:39  134  0 0

 

***

 

هل نستطيع أن نصوم هنا يومين لأجل صوم يوم عرفة؛ لأننا هنا نسمع في الراديو أن يوم

منذ 2006-12-01

السؤال: هل نستطيع أن نصوم هنا يومين لأجل صوم يوم عرفة؛ لأننا هنا نسمع في الراديو أن يوم عرفة غداً يوافق ذلك عندنا الثامن من شهر ذي الحجة؟

الإجابة: يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس، وإن صمت الأيام التسعة من أول ذي الحجة فحسن؛ لأنها أيام شريفة يستحب صومها؛ لقول النبي صلى الله عليه و سلم : «ما من أيام العمل الصالح فيهن خير وأحب إلى الله من هذه الأيام العشر» قيل: يا رسول الله ولا الجهادفي سبيل الله؟ قال: «ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، ثم لم يرجع من ذلك بشيء» رواه البخاري

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

 

اللجنة الدائمة

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

https://ar.islamway.net/fatwa/481/%D9%87%D9%84-%D9%86%D8%B3%D8%AA%D8%B7%D9%8A%D8%B9-%D8%A3%D9%86

 

 

puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

 
 

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

 
 

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس

“Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah.” (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

 https://www.beritaaktualislam.com/2018/08/17/waktu-puasa-arafah-tahun-ini/ / dikutip yang fatwa Lajnah Daimah saja, tanpa menyertakan kelanjutannya, karena hanya untuk memperkuat bahwa fatwa tersebut telah beredar di sini dan dimuat dengan bahasa Indonesia.

Ini masalaha khilafiyah

Ini masalaha khilafiyah, sebagaimana ditulis Ustadz Firanda dalam judul Puasa Arafah, yang diakhiri dengan penekanan sebagai berikut:

(Kutipan bagian akhir dari tulisan beliu berjudul Puasa Arafah):

Intinya permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Meskipun penulis lebih condong kepada pendapat kedua -yaitu setiap negeri menyesuaikan 9 Dzulhijjah berdasarkan rukyat hilalnya-, akan tetapi sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya pendapat pertama pun sangat kuat dan dipilih oleh mayoritas ulama kontemporer.

Permasalahan seperti ini sangatlah tidak pantas untuk dijadikan ajang untuk saling memaksakan pendapat, apalagi menuding dengan tuduhan kesalahan manhaj atau kesalahan akidah dan sebagainya. Semoga Allah mempersatukan kita di atas ukhuwwah Islamiyah yang selalu berusaha untuk dikoyak oleh setan dan para pengikutnya. Hendaknya kita beradab dengan adab para ulama dalam permasalahan khilafiyah, dan hendaknya kita mengenal manhaj salaf dalam menyikapi permasalahan khilafiyah. Jangan sampai kita mengaku-ngaku bermanhaj ahlus sunnah tapi justru tidak tahu manhaj ahlus sunnah dalam permasalahan khilafiyah.

Karya : Ustadz DR. Firanda Andirja, MA
Tema : Bekal Puasa
https://bekalislam.firanda.com/10402-puasa-arafah.html

(nahimunkar.org)