Fatwa Mufti Mesir soal Peringatan 40 Hari Kematian *

Bid’ahnya Peringatan 40 Hari Kematian


Ilustrasi cover
buku Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede,  Kuburan-Kuburan Keramat di Nusantara, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,

Silakan simak ini.

***




 

 

Alfan Edogawa

KSeamrtiariStSgnsgS tgrpponrsucoklrulS 05ed.4ou4t  · 

40 HARI KEMATIAN

Dengan adanya komentar dari

Muhammad R. Ridho

pada status saya kemarin, apalagi komentar

Yudha Muhammad Aga

“Masih ada di Mesir kayak gitu itu hanya saja kebetulan istrinya dia (Ustaz

Hafez Mohamed

) mungkin kena pengaruh wahaboys” katanya, maka saya akhirnya iseng² untuk mencari tahu lebih mendalam bagaimana bisa acara selamatan kematian di Mesir bisa dihapuskan, yang mana selamatan kematian ini di Indonesia disebut dengan istilah Tahlilan.

Sedangkal bacaan saya, upaya menghapus tradisi tahlilan di mesir ini mulai massif dilakukan pada zaman Mufti Agung Syekh Ḥasanayn Muḥammad Makhlūf (1307–1410 H) rahmatullah ‘alayh, yang mana beliau pernah mendapat pertanyaan tentang peringatan malam 40 hari kematian. “inna iqāmah ma’tam laylah al-arba’īn: bid’ah sayyi’ah mażmūmah syar’an (sesungguhnya mengadakan ma’tam malam 40 hari kematian adalah bidah yang jelek lagi tercela secara syariat)” jawabnya tegas, lalu sang Mufti memaparkan hujahnya.

Dibagian akhir pemaparan hujahnya, salahsatu Ulama Kibar Al-Azhar ini mengatakan sebuah pernyataan yang sangat bagus untuk kita perhatikan bersama², yakni:

أهبنا بالمسلمين أن يقلعوا عن هذه العادة الأربعينية الذميمة، التي لا ينال الميت منها رحمة ولا مثوبة، بل لا ينال الحى منها غالبا سوى المضرة، وخاصة إذا كان القصد بإقماتها مجرد التفاخر والسمعة، أو دفع الملامة والمعرة، وأن يعلموا أنه لا أصل لها في الدين، وأنها بدعة سيئة.

و في الحديث:

{كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار}

“Telah kami berikan kesadaran kepada kaum muslimin agar membuang adat/tradisi memperingati 40 hari (kematian) yang tercela tersebut, yang mana si mayit tidak memperolehi rahmat maupun pahala dari tradisi tsb, bahkan galibnya orang yang hidup sendiri tidak memperoleh selain mudarat dari perbuatan tersebut. Lebih-lebih lagi jika tujuan melakukannya semata-mata karena ingin bermegah² dan berbangga², atau juga untuk mengelakkan celaan (masyarakat) dan perasaan malu (jika tidak melakukannya), dan telah kami berikan kesadaran agar umat Islam (Mesir) tahu bahwa perbuatan tersebut tidak ada asalnya dalam agama Islam dan termasuk bidah yang jelek/buruk…dst” [Ḥukm Asy-Syarīʻah Al-Islāmīyah fī Maʼtam Laylah Al-Arbaʻīn, hal. 9]

Demikian sekelumit sedangkal pencarian saya yang iseng², ma’tam disitu tentu bukan sekedar kumpul² dan makan² dirumah duka, tentu juga disertai dengan doa (bersama) untuk si mayit. Dan ma’tam yang jelek dan tercela tsb tidak sebatas pada malam 40 hari kematian, bisa 1-7hari, 100 hari, setahun, dll.

Saya memang tidak tahu secara pasti realita umat Islam Mesir saat ini, apakah tradisi selamatan kematian benar² sudah tidak ada atau masih ada. Yang jelas fatwa resmi itu ada, dan upaya penyadaran kepada umat juga dilakukan. Tapi masih saja ada orang yang mengatakan “…mungkin kena pengaruh wahaboys”, saya tak habis thinking pada orang² yang dikit² wahabi ini. Bagaimana dengan Anda? Wallahualam

Sekian dulu, semoga berfaedah. Amin…

Salam Persahabatan,


Alfan Edogawa

 

Mochamad Santoso

15tg SSjiponStasosredmgr  · 

=========

* Tulisan ini berkaitan dengan Tentang Tahlilan

Alfan Edogawa

tSpo5o nsohrjeahtmdfm  · 

PERSIAPAN SETAHUN KEMATIAN https://www.nahimunkar.org/tentang-tahlilan/

***

Peringatan Empat Puluh Hari Kematian Adalah dari Adat Fir’aun

Posted on 9 Oktober 2013

by Nahimunkar.org

بدعة الأربعين عادة فرعونية

 Soal:

Apa asal mulanya peringatan empat puluh (hari kematian) itu, dan apakah ada dalil atas disyari’atkannya mengenang (memperingati) mayit?

Jawab:

Pertama: Asal mulanya, peringatan (empat puluh hari kematian) itu adalah adat Fir’aun, dahulu terjadi di hadapan Fir’aun-fir’aun sebeum Islam, kemudian menyebar dari mereka dan berjalan ke kalangan selain mereka. Dan peringatan (empat puluh hari kematian) itu adalah bid’ah munkaroh (hal yang diada-adakan secara baru –dalam agama– yang buruk), tidak ada asal mula baginya dalam Islam, (maka) ditolak oleh hadits yang tetap (kuat riwayatnya) dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR Muslim)

Kedua: Mengenang (memperingati) mayit dan meratapinya dengan cara yang ada sekarang, berupa kumpul-kumpul untuk itu, dan keterlaluan dalam menyanjungnya, itu tidak boleh. Karena ada hadits yang diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan al-Hakim dari hadits Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْهَى عَنْ الْمَرَاثِي

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang al maratsi (meratapi mayit). (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan al-Hakim dari hadits Abdullah bin Abi Aufa)

Dan (tidak boleh pula) tatkala dalam penyebutan sifat-sifat mayit berupa kebanggaan pada umumnya dan memperbarui duka cita dan membangkitkan kesedihan.

Adapun sekadar memuji mayit ketika menyebutnya, atau lewatnya jenazah, atau untuk mengenalkannya, dengan menyebut perbuatan-perbuatannya yang besar dan semacam itu, yang menyerupai ratapan sebagian sahabat karena kematian seseorang dan lainnya, maka boleh. Karena ada hadits yang tetap (kuat riwayatnya) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

 مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَا وَجَبَتْ قَالَ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “wajabat” (Pasti baginya). Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Beliaupun bersabda: “Pasti baginya”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Apa yang dimaksud “wajabat” (pasti baginya)?. Beliau menjawab: “Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga sedang jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”. (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasaai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, dan al-Baghawi). (Al-Lajnah Ad-Daaimah juz 11 halaman 165, fatwa nomor (2612)

Bid’ahnya Peringatan 40 Hari Kematian

Syaikh Abu Thariq Al-Buwaihiyawi Abdullah Hashruf Al-Jazairy menjelaskan tentang bid’ahnya empat puluhan (peringatan 40 hari kematian). Pada akhirnya beliau menjelaskan:

Bid’ah empat puluhan (peringatan orang mati pada hari keempat puluh, Jawa :matang puluh, pen)  itu adalah adat Fir’auniyah yaitu mayit baru dikubur setelah 40 hari dari pembalsemannya, dan tampak bagi ahli-ahli pembalseman dari orang yang memiliki keahlian dan pengalaman, mereka berpandangan bahwa jangka (40 hari) ini telah cukup untuk menyela-nyelai bahan pembalseman ke jasad mummi, dan jauh dari pembusukan atau lembek setelah dipendam. Mereka menyambut pelayat dua kali: pertama ketika wafatnya, dan yang kedua setelah dipendamnya (dikuburkannya). Adat ini masih tersisa di Mesir setelah memeluk agama Masehi berhalais. Dan (masih tersisa pula) di kalangan orang-orang awam dari pengikut taqlid buta setelah masuknya Islam ke Mesir, kemudian tersebarlah (sisa adat Fir’aun itu) ke seluruh dunia Islam.

Dan demikianlah kerancuan kaum Muslimin terhadap pengadopsian bid’ah ini sehingga mereka memakaikan “sorban” Islam padanya. (Abu Thariq Al-Buwaihiyawi al-Jazairi, بدعة الأربعين 09 shafar 1420H/ 25 Mei 1999, www.majles.alukah.net)

و بدعة الأربعين عادة فرعونية و هي أن الميت يدفن بعد أربعين يوما من تحنيطه، و يبدو أن خبراء التحنيط ممن لهم خبرة و ممارسة قد رأوا أن هذه المدة كافية في أن تتخلل مواد التحنيط في جسم المومياء، و تبعد عنه التعفن و التحلل بعد دفنه، و يتقبلون العزاء مرتين: مرة عند الوفاة و مرة ثانية بعد الدفن، و بقيت هذه العادة في مصر بعد اعتناق المسيحية الوثنية، و بين عوام الناس من أهل التقليد الأعمى بعد دخول الإسلام مصر ثم انتشرت إلى العالم الإسلامي.

و هكذا تهافت المسلمون إلى تبني هذه البدعة حتى ألبسوها “عمامة ” الإسلام.

09 صفر 1420 هـ

25 ماي 1999 مـ

أبو طارق البويحياوي الجزائري

http://www.merathdz.com/upload/aln3esa-1204328935.gif

http://www.merathdz.com/play.php?catsmktba=1540

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede,  Kuburan-Kuburan Keramat di Nusantara, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2011).

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 366 kali, 1 untuk hari ini)