Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-

Hayatus Shohabah adalah sebuah kitab pegangan dan pedoman Jama’ah Tabligh. Kitab ini mereka ajarkan dimana-mana dan amat mereka muliakan. Namun di dalam kitab ini ada sebagian perkara yang perlu kita ketahui. Lantaran itu, kami dalam edisi ini akan mengangkat fatwa dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy, seorang ulama Ahlus Sunnah di Negeri Syam.

Banyak diantara kaum muslimin yang mempertanyakan kitab ini. Untuk menjawabnya, Syaikh Al-Albaniy rahimahullah– berkata,

Kitab Hayatus Shohabah adalah bukti tentang apa yang kami nyatakan. Nah, orang menyusun kitab ini, bukanlah person diantara person-person Jamaah Tabligh, bahkan jika ia (si Penulis) bukan pemimpin mereka, maka ia adalah pemimpinnya para pimpinan mereka. Dia (Muhammad Yusuf Al-Kandahlawiy) telah menulis kitab ini, sedang Jamaah Tabligh berangkat berdasarkan petunjuknya. Hanya saja kitab ini mengumpulkan apa saja (yakni, haq maupun batil).

Pertama: Kitab ini tidak khusus menyebutkan sesuatu (hadits-hadits) yang shohih dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Sebab, ucapan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bukanlah seperti ucapan manusia selain  beliau, walaupun mereka adalah wali-wali dan orang-orang sholih.

Kedua: Ia telah menyebutkan banyak riwayat dari para sahabat -radhiyallahu anhu-. Jika hadits-hadits yang ia (Penulis Hayatus Shohabah) sandarkan saja kepada Rasul, di dalamnya terdapat beberapa hadits yang tidak shohih penyandarannya kepada Rasul menurut para ulama melalui jalur ilmu hadits, sanad, biografi para tokoh (rawi) sanad dan sejenisnya, maka tentunya akan ia lebih menyebutkan lagi di dalam kitab itu banyak riwayat dari para berupa ucapan mereka, perbuatan, manhaj dan suluk mereka, sedangkan kebanyakan diantaranya adalah tidak shohih!!

Menakjubkan aku pada kesempatan ini, ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- dan ini termasuk mutiara ucapan beliau dan kejelian manhaj keilmuan beliau, di saat beliau berkata yang maknanya sebagai berikut, “Sesungguhnya setiap bahits (orang yang mengkaji dan dan meneliti sesuatu) hendaknya mengecek sesuatu yang ia riwayatkan dari para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana ia mengecek sesuatu yang ia riwayatkan dari Allah dan Rasul-Nya.

Inilah kalimat (pernyataan) mayoritas ulama sejak dahulu, bukan hanya sekarang!! Sejak dulu dan sekarang!!!

Mereka (para penulis) melanggar hal ini. Anda tak akan kembali (merujuk) suatu kitab, kecuali jarang sekali, misalnya : Kitab Nailul Awthor karya Asy-Syawkaniy. Ini termasuk kitab yang kami dorong para penuntut ilmu untuk memperhatikannya dengan mempelajarinya dan mengambil faedah darinya. Hanya saja anda akan mendapatinya mengumpulkan di dalamnya ucapan-ucapan para sahabat, tabi’in dan lainnya, hubungannya komentar tentang sebuah ayat atau hadits. Akan tetapi ia tidak menempuh jalan ini, jalan tatsabbut (mengecek dan mengkaji) tentang sesuatu yang nisbahkan kepada para sahabat, sebagaimana halnya wajib mengecek sesuatu (hadits) yang dinisbahkan (disandarkan) kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Jarang sekali ada yang melakukan hal ini!! Dari sinilah masyarakat Islam tertimpa oleh penyimpangan. Mengapa?! Ini merupakan nuktah (titik permasalahan) yang amat penting.

Kami telah katakan selalu dan selamanya, sesungguhnya manhaj (jalan hidup) kami adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan di atas sesuatu yang dipijaki oleh salaf (pendahulu) kita yang sholih.

Pada hari ini tidak cukup  kita mengajak orang kepada Al-Kitab dan Sunnah saja! Karena, anda tak akan menemukan pada semua kelompok (sekte) yang berselisih, sejak dulu dan sekarang; kamu tak akan menemukan suatu sekte diantara mereka, walaupun ia dari kalangan sekte Murjiah ataukah Mu’tazilah menyatakan, “Kami tidak berada di atas Al-Kitab dan Sunnah”.

Semunya akan menyatakan demikian (yakni, di atas Al-Kitab dan Sunnah). Kalau begitu apa bedanya antara kelompok-kelompok tersebut yang semuanya menyatakan demikian, sedang ia jujur dalam perkara ia nyatakan?

Kita tak akan mampu menuduhnya dalam pernyataannya. Kelompok-kelompok itu berkata, “Kami di atas Al-Kitab dan Sunnah”, hanya saja mereka tidak jujur (tidak benar) dalam menerapkan keduanya berdasarkan sesuatu yang dipijaki oleh Salaf kita yang Sholih -radhiyallahu ta’ala anhum-.

Dari sini kami katakan, haruslah mengenal sesuatu (berupa manhaj) yang dipijaki oleh para salaf agar kita meminta bantuan dengannya dalam memahami Al-Kitab dan Sunnah!! Jika ada suatu riwayat yang datang kepada kita dari sebagian sahabat, sedang ia tidak shohih, lalu kita pun berpegang dengannya dengan dasar bahwa ia (riwayat itu) adalah penjelasan bagi Al-Kitab dan Sunnah, maka kita akan menyimpang, sebagaimana halnya jika kita berpegang dengan hadits yang dho’if (lemah) atau maudhu’ (palsu).

Oleh karena ini, Ibnu Taimiyyah berkata, “Wajib mengecek sesuatu yang kita riwayatkan dari para sahabat, sebagaimana halnya kita mengecek sesuatu yang kita riwayatkan dari Allah dan Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Nah, Kitab Hayatush Shohabah ini telah menyelisihi manhaj ilmiah ini. Ia mengumpulkan riwayat apa saja!! Aku berikan contoh yang global bagi kalian. Ia (Penulis Hayatush Shohabah) menukil –misalnya- sebuah hadits dari kitab Majma’ Az-Zawa’id. Dia  (Penulis Hayatush Shohabah) berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thobroniy. Ia (Al-Haitsamiy) berkata dalam Majma’ Az-Zawa’id: rijal (rawi-rawinya) adalah tsiqoh”.

Orang-orang yang mengambil kitab ini di saat mereka membacanya (lalu terdapat di dalamnya): “Ia (Al-Haitsamiy) berkata dalam Majma’ Az-Zawa’id: rijal (rawi-rawinya) adalah tsiqoh”.

Nah, apa yang mereka pahami darinya? Sebagaimana yang mereka katakan di sisi kami dalam sebagian kebiasaan di Suriah, “Ambil saja hadits itu selama rawi-rawinya tsiqoh, maka ia telah menjadi hadits tsabit (shohih)”. Tidak demikian halnya!!

Di sisi para ulama, hadits apa saja yang dikatakan seorang ahli hadits padanya, “Rijal (rawi-rawinya) tsiqoh”, maka ahli hadits ini memaksudkan bahwa hadits itu adalah hadits shohih. Bahkan hadits apa saja yang dikatakan oleh seorang penulis kitab tentangnya, “Rijal (rawi-rawinya) adalah rijal Kitab Shohih”, maka ia tidaklah maksudkan bahwa hadits itu shohih.

Ini (pernyataan kedua) lebih mengesankan shohihnya hadits tersebut dibandingkan pernyataan yang pertama. Jika ia (seorang Penulis kitab) menyatakan, “Rijal (rawi-rawinya) tsiqoh”, maka terkadang sebagian orang menyangka hadits itu shohih. Akan tetapi pemberian kesan dengan menggunakan ungkapan kedua (“Rijal (rawi-rawinya) adalah rijal Kitab Shohih”) adalah lebih mengesankan.

Akan tetapi tidak ini dan tidak pula yang itu –menurut ilmu hadits- menyatakan shohihnya hadits itu!!

Kalau begitu, sewajarnya Penulis Kitab ini (yakni, Kitab Hayatush Shohabah) agar ia memilih; kami tak katakan, “agar ia men-shohih-kan semua riwayat-riwayat ini dan merinci pembicaraan tentangnya. Karena, pada hakikatnya aku yakin andaikan ada seorang berilmu ingin men-shohih-kan atau men-dho’if-kan (riwayat-riwayat tersebut) dan menulis sebuah kitab semisal Hayatush Shohabah, maka ia akan menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya. Karena, sebuah hadits, penelitian padanya membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan terkadang ia menghabiskan waktu satu wari dan beberapa hari. Perkara ini kami tahu berdasarkan pengalaman.

Jadi, andaikan seseorang mau menyusun seperti kitab ini dan berdasarkan metode seperti ini, maka ia akan menghabiskan umurnya atau minimal sebagian umurnya.

Akan tetapi dahulu kami mengharapkan agar ia (Penulis Kitab Hayatush Shohabah) memilih riwayat-riwayat yang shohih di sisinya dengan metode yang paling mudah, tanpa perlu mengkhususkan pembicaraan  tentang semua hadits diantara hadits-hadits ini.

Nah, inilah jawabannya tentang Kitab Hayatush Shohabah bahwa tidak pantas untuk berpatokan padanya, kecuali dengan kehati-hatian seperti halnya dengan kebanyakan kitab-kitab lainnya.

Sekarang aku akan meletakkan di depan kalian sebuah kaedah agar kalian tidak terhalangi dari meraih faedah dari kitab seperti ini. Karenanya, aku katakan, “Pertama, setiap kali kalian melihat sebuah hadits yang dinisbahkan kepada Kitab Ash-Shohihain (karya Al-Bukhoriy dan Muslim) di dalam kitab ini atau selainnya, seraya ia (Penulis Hayatush Shohabah), “Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy dan Muslim, diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy, diriwayatkan oleh Muslim”, maka gigitlah dengan gerahammu. Ini yang pertama.

Kedua: Jika kalian melihat ia menukil dari seorang ahli hadits bahwa ia berkata, “Ini adalah hadits yang sanadnya shohih”, atau ia (ahli hadits tersebut) berkata, “Sanadnya adalah hasan”, maka pegamglah. Adapun selain itu, maka berpalinglah darinya dan jangan berpatokan padanya”.

Sumber Fatwa : Durus li Asy-Syaikh Al-Albaniy (9/8)—Asy-Syamilah.

Sumber: pesantren-alihsan.org

(nahimunkar.org)

(Dibaca 842 kali, 1 untuk hari ini)