Sementara itu, Sheikh Omar bin Mas’ud Alhaddoshi alias Abu Fadl, menegaskan bahwa berkolaborasi dengan Perancis melawan kaum muslimin di Mali sebagai “murtad dan keluar dari Islam,” katanya dalam pernyataan melalui akun pribadinya di “Facebook “.

Jumat, 18 Januari 2013 18:25 Fath

Pejuang Mali_832674234832

Para Pejuang Muslim Mali Berjaga-Jaga Di Atas Tank (Foto:AFP)

BERITA TERKAIT

Algiers,Pelitaonline

Para ulama  dan da’i dari Mauritania, Maroko dan Aljazair, mengeluarkan fatwa, mengharamkan partisipasi dalam operasi militer yang diluncurkan Perancis terhadap gerilyawan muslim di Mali, atau memberikan fasilitas kepada pasukannya.

Harian El-Khabar Aljazair melaporkan, sekitar 39 Sheikh, ulama dan da’i Mauritania mengeluarkan pernyataan bersama bahwa operasi militer Perancis di Mali “tidak lain  sebagai perpanjangan dari rangkaian kampanye kolonial yang banyak berpengaruh di negara muslim.”

Dalam pernyataan tersebut yang diperoleh koresponden Kantor Berita Anatolia, mereka menekankan bahwa ”permintaan bantuan dari musuh-musuh agama (Islam:red) saat ini dan dukungan perang tidak perlu ditanggapi dalam kondisi apapun, karena membantu orang-orang kafir untuk melawan umat Islam merupakan bentuk kesetiaan kepada orang kafir  dan keluarganya yang dengan jelas bertentangan dengan Islam”, demikian pernyataan tersebut.

Selain itu, pernyataan bersama juga menyerukan umat Islam untuk “menyatukan barisan ” agar tidak dapat dijangkau musuh.”

Di antara penandatangan pernyataan tersebut adalah; Mohamed Mahmoud Ould Ahmed Youro, Mohamed Lamine Ould Hassan, Sheikh Ahmed Ould Kore, ahli hukum Mahfouz Ould Adomu, dan Mohamed Ould Ahmed yang dikenal sebagai seorang penyair.

Sementara itu, para Sheikh Kelompok Salafi Maroko mengutuk operasi militer Perancis di Mali.  Sheikh Abdul Wahab Rafiqi, alias Abu Hafsh menganggap kerjasama dengan Prancis dalam serangan di Mali adalah sebagai ”partisipasi dalam pembunuhan.”

Melalui situs pribadinya di jejaring sosial “Facebook” Sheikh Abdul Wahab menegaskan apa yang terjadi dengan agresi tentara Perancis di Mali merupakan tindakan brutal, mengacaukan keamanan, dan pembunuhan keji. Kejahatan terhadap rakyat tak berdosa merupakan kejahatan besar  dan secara terang-terangan mengganggu urusan umat Islam.

Ia menambahkan, intervensi apapun bentuknya tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apapun, dan tidak dibenarkan dengan alasan apapun. Ia menegaskan bahwa “dosa bekerjasama dengan penjajah Perancis, tidak lebih  kecil dari dosa orang-orang Perancis itu sendiri”, lanjut Sheikh Abdul Wahab seperti dilansir El-Khabar (17/1).

Maka dalam hal ini, membantu kekuatan kolonial dalam melakukan agresi terhadap negara muslim, campur tangan dalam urusan mereka tidak dibolehkan dan teks Syariah sangat jelas tidak dapat diinterpretasi.

Umat Islam Mali juga mengajak sesama mereka memperkuat barisan guna menghadang agresi militer Perancis.

Sementara itu, Sheikh Omar bin Mas’ud Alhaddoshi alias Abu Fadl, menegaskan bahwa berkolaborasi dengan Perancis melawan kaum muslimin di Mali sebagai “murtad dan keluar dari Islam,” katanya dalam pernyataan melalui akun pribadinya “Facebook “.

Di Aljazair, Sheikh Ali Belhadj, wakil Ketua Front Islamic Salvation mengatakan, “sulit bagi seorang muslim untuk melihat tentara Prancis menembaki saudara-saudara mereka seagama, dan sungguh menyakitkan menemukan penjajah kafir baru mendapat dukungan dari para pemimpin yang mengklaim bahwa mereka memimpin masyarakat muslim” tegasnya.

Fatwa dan pernyataan sikap ulama di kawasan Arab Maghreb ini muncul setelah pemerintah Aljazair dan Maroko seperti dilansir media sebelumnya telah mengizinkan pasukan Perancis untuk melintasi negaranya dalam menyerang pejuang muslim di utara Mali. (sumber : El-Khabar)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 169 kali, 1 untuk hari ini)