.

 

Tak disangka, hiruk-pikuk situasi perpolitikan di Indonesia akhirnya sampai juga di Tanah Suci Madinah. Tersebutlah seorang peserta pengajian Kitab Shahih Muslim mengajukan pertanyaan tentang solusi pemilu Indonesia pada tahun 2014 ini.

“Ya Syeikh sebentar lagi di negara kami akan diadakan pemilu, bagaimana kami menyikapinya?

Syeikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr, seorang ulama besar Madinah yang mengasuh kajian tersebut menjawab,

“Pada asalnya, apabila para kandidat yang ada hanya mendatangkan mudharat bagi manusia maka sebaiknya perkara ini (pemilu) dijauhi dan tidak perlu menyibukkan diri dengannya (pemilu). Namun berbeda bila diantara kandidat ada yang baik dan ada yang buruk, maka tidak diragukan lagi bahwa memberikan hak pilih pada kandidat yang baik itulah yang semestinya dilakuan. Hal ini sebagaimana yang berlaku di negeri kafir, bila diantara kandidat ada yang hubungannya baik dengan kaum muslimin dan yang lainnya tidak, tentunya berbeda (dalam menyikapi) kedua kandidat tersebut.” (Majlis Shahih Muslim, Masjid Nabawi, Madinah al-Munawwarah, 18 Jumadal Ula 1435 H.)

(Ibnu Ahmad/lppimakassar.com)

(nahimunkar.com)