Al- Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata :

” Saya berpandangan bahwa orang yang mengajarkan anaknya bahasa inggris dari kecil, akan DIHISAB atasnya pada hari kiamat, karena membuat anaknya cinta kepada bahasa ini serta lebih mengutamakannya daripada yg lainnya, yg selanjutnya membuatnya cinta kepada orang-orangnya yg berbahasa demikian, serta merendahkan orang-orang yg tdak berbahasa dengan bahasa ini “

[Ust Abu Ya’la Kurnaedi, Lc]

Tambahan dari saya (Abu Ayaz) : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” [HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Ini berarti amalan/perbuatan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun orang tuanya sudah wafat, karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

Namun sayang, orang tua saat ini melupakan modal yang satu ini. Mereka lebih ingin anaknya menjadi seorang penyanyi atau musisi, atau lulusan2 ilmu dunia dari luar negri (negri2 barat) , berorientasi ke kultur barat, sehingga sejak si anak kecil sudah dididik les macam-macam (terutama bahasa inggris), dibanding anaknya menjadi seorang da’i atau orang yang dapat memberikan manfaat pada umat dalam masalah agama.

Sehingga orang tua pun lupa dan lalai mendidik anaknya untuk mempelajari Iqro’ dan Al Qur’an.

Sungguh amat merugi jika orang tua menyia-nyiakan anaknya padahal anak sholih adalah modal utama untuk mendapatkan aliran pahala walaupun sudah wafat kelak.

Dan atas hasil usahanya tsb (si orang tua), ia akan ditanya, dihisab di yaumil hisab nanti.

Wallahu a’lam.

Ben kapok tuh orang tua yg sok modern, tapi agamanya blangsak.

Nah…

Nah, bolehkah anak seorang muslim belajar bahasa inggris?

Kalau saya pribadi mah, gak kaku2 amat lah….

JAdi, dalam pandangan saya, boleh2 saja, ASALKAN !! :

Sebelum itu dilakukan, kita sudah terlebih dahulu mementingkan dan mendahulukan perkara ilmu alat (agama) kepada anak2 kita tsb, seperti :

  • membekalinya dengan ilmu Iqro (baca Qur’an)
  • Ilmu Tajwid
  • Bahasa arab tingkat dasar
  • Hafalan qur’an, surat2 pendek dalam juz amma dulu (minmal)
  • Ilmu2 dasar agama lainnya, terutama perkara aqidah/tauhid.
  • Adab dan akhlak
  • Ilmu2 fiqh standard utk anak2 lah
  • dll

Ilmu dunia apapun, sejauh itu manfaat ya gak papa.

Ini kan kaitannya dgn hisab orang tua terhadap “usaha” nya mendidik anak2nya.

Makin “cerdas” orang tua, dia makin tahu apa2 yg bermanfaat bagi anak2nya yg bisa “menguntungkan” dirinya di yaumil akhir nanti.

Nah…

Intinya, seorang anak yg sekolah tinggi, S1, S2, S3, S mambo, multiple language capability, jago software ini itu, ya silahkan saja, TAPI bagaimana ilmu agamanya? Shalih?

Bagus kah?
Kalau bagus, maka beruntunglah dirinya, dan orang tuanya.

Kalau jelek, blangsak?
Maka merugilah dirinya, dan orang tuanya kelak. Hasil usaha orang tuanya “memajukan” anaknya, ternyata tidak bisa menyelamatkan dirinya (si orang tua) dari pertanggung jawaban di yaumil hisab nanti.

Sik ra kapok?

Nah…

—- ??—-

Ana, saya, aku (nhc),

˝Asli, kapok! “

(Kebanyakan kita as orangtua, bangga punya anak cerdas, pintar bahasa Inggris, lulusan Eropah Amerika, juara ini itu disekolahnya, sertifikat bertumpuk-tumpuk tapi akhlak dan adabnya minus. Tidak tau cara menghormati orangtua, om, tante, uwak dan kerabat2 orang tuanya, bahkan kelu lidahnya menjawab dan mengucap salam secara Islam)

Copas status dan komennya akhi Rostiyan Novario ?

NHawadaa Chan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.350 kali, 1 untuk hari ini)