• Wajah politisi yang dikhawatirkan menggadaikan aqidah dengan berbagai apologi.

  anis mattaAnis Matta/ swkfr.wordpress

 MUDA dan terkenal, itulah predikat yang bisa disandangkan kepada sosok bernama Anis Matta, yang kini menjabat sebagai Presiden sebuah partai berbau Islam, menggantikan presiden sebelumnya yang diduga terlibat kasus korupsi impor sapi.

 Anis Matta kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, pada tanggal 7 Desember 1968 ini, sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal pada partai berbau Islam tadi, mendampingi empat presiden sebelumnya, termasuk Luthfi Hasan Ishaaq yang sebelum mengundurkan diri telah ditetapkan KPK sebagai tersangka, pasca Ahmad Fathanah alias Olong Achmad Fadeli Luran tertangkap basah menerima uang suap.

 Sebelum tertangkap, Fathanah sempat bertemu Luthfi dan Anis. Bahkan Luthfi memerintahkan Fathanah mengambil uang sebesar satu miliar rupiah di kantor PT Indoguna Utama yang terletak di Jalan Taruna Nomor 8, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Hal itu terjadi pada hari Selasa siang tanggal 29 Januari 2013.

 Usai mengambil uang satu miliar rupiah, Fathanah sempat menemui Anis Matta. Kemudian, malam harinya, ia (Ahmad Fathanah) ditangkap KPK di kamar sebuah hotel dalam keadaan berduaan dengan seorang mahasiswi muda. Mahasiswi itu bernama Maharani Suciyono.

Keberadaan  Maharani Suciyono dalam peristiwa penangkapan Ahmad Fathana, staf Luthfi Hasan Ishaaq, Selasa, 29 Januari 2013 ternyata punya cerita tersendiri.  Sumber Tempo di KPK mengatakan Maharani tertangkap dengan Ahmad tanpa berbusana di dalam sebuah kamar hotel.

“Mereka berdua (Maharani dan Ahmad Fathanah) tidak sempat lagi memakai pakaian saat kamarnya dibuka tim dan security hotel,” ujar sumber Tempo yang menyaksikan penyergapan Maharani dan Ahmad Fathanah. (tempo.co,  KAMIS, 31 JANUARI 2013 | 08:11 WIB).

 Fathanah selain punya kedekatan dengan Luthfi juga punya kedekatan dengan Anis Matta. Ketika Fathanah ditangkap KPK, ditemukan beberapa lembar salinan sertifikat rumah atas nama Anaway Irianti Mansyur, istri pertama Anis, yang tersimpan di dalam tas Ahmad Fathanah.

 Anis Matta adalah praktisi poligami dengan sebelas anak. Istri kedua Anis adalah wanita Hungaria. Sebagai lulusan lembaga pendidikan Islam bidang Syari’ah (tahun 1992), kemungkinan Anis mempraktikkan poligami berlandaskan ilmu syari’ah yang dikuasainya. Artinya, bukan karena nafsu semata, atau gagah-gagahan karena sudah punya banyak uang dan menduduki jabatan bergengsi, misalnya.

 Tentunya masyarakat juga berharap dengan bekal ilmu syari’ah yang pernah ditekuninya selama bertahun-tahun, Anis Matta semestinya paham betapa korupsi dan kemusyrikan adalah sesuatu yang tergolong dosa besar. Namun harapan masyarakat itu sepertinya tak bersambut.

 Ketika korupsi impor sapi terkuak, Anis mengumandangkan retorika apologetik yang memukau kalangan yang mudah terpedaya gaya pidato sang “Sukarno Muda” itu. Julukan “Sukarno Muda” bagi Anis Matta tentu saja menarik. Karena, Sukarno adalah sosok sekuler yang condong kepada komunisme hingga akhirnya terjerembab dari kekuasaannya.

 Kesamaan Anis dan Sukarno selain berkaitan dengan kemampuan berpidato, keduanya sama-sama praktisi poligami. Bahkan Sukarno tercatat pernah menikahi sembilan wanita. Beberapa diantaranya gadis remaja yang masih sekolah.

 Ketika Luthfi dipastikan tersangka, Anis tampil berpidato di berbagai kesempatan, terutama di kalangan partainya sendiri. Antara lain Anis mengatakan, “… yang dihadapi oleh PKS hari ini adalah sebuah konspirasi besar yang bertujuan menghancurkan partai ini…”

 Jadi, terkuaknya korupsi sapi impor sehingga Luthfi tertangkap adalah sebuah konspirasi jahat yang bertujuan menghancurkan partai berbau Islam tadi. Sementara itu, pada kesempatan lain Anis mengatakan bahwa kasus korupsi itu adalah urusan pribadi bukan institusi.

 Dari dua pernyataan Anis tadi, maka bisa disimpulkan bahwa korupsi yang dilakukan Luthfi adalah urusan pribadi sang presiden partai, bukan urusan partai, namun hal itu sengaja diungkap oleh pihak-pihak tertentu yang bermaksud menghancurkan partai berbau Islam tadi melalui sebuah konspirasi besar.

 Masih di forum yang sama, apologi Anis Matta sang “Sukarno Muda” ini berbunyi: “Ikhwan sekalian, saya tidak ingin kita semua di sini memahami bahwa kita semuanya adalah ingin melawan gerakan pemberantasan korupsi, sama sekali tidak. Itu adalah agenda kita semuanya. Itu agenda Islam dan juga nasional. Tapi yang akan kita lawan adalah penggunaan otoritas dalam pemberantasan korupsi yang bersifat tirani.”

 Jadi,(perkataan Anis itu punya makna) diungkapnya kasus korupsi impor sapi yang menyangkut diri pribadi Luthfi adalah sebuah tirani yang dilakoni sebuah otoritas yang berdalih melakukan pemberantasan korupsi. Tirani inilah yang mereka lawan.

 Sebuah apologi yang luar biasa. Ibarat memproses tinja dengan teknologi tinggi kemudian diberi merk “ikan sardines” atau “corned beef” yang berlabel halal. Pengetahuan syari’ah seorang Anis Matta dikalahkan oleh nafsu dunia, sehingga korupsi yang munkar bisa dilukiskan bagai panorama yang menyentuh hati.

 Sebagai presiden baru dalam satu partai, menggantikan presiden lama yang terkait kasus korupsi, Anis Matta melakukan roadshow dari Jakarta hingga Yogyakarta. Di Yogyakarta, Anis sowan ke kediaman Emha Ainun Nadjib, budayawan asal Jombang Jawa Timur yang lebih dikenal sebagai seniman Yogya. Emha yang sepak terjangnya terindikasi gerombolan aliran sesat syi’ah ini menjadi pilihan Anis Matta untuk disowani, tentu menarik perhatian kita. Karena, kecenderungan Anis itu menunjukkan siapa dia sesungguhnya.

 Di kediaman Emha Ainun Nadjib, Ndalem Kadipiro, Yogyakarta, Jum’at dinihari, 8 Februari 2013, Anis Matta menebar retorika apologetiknya: “Kami masih tak tahu sebenarnya dijebloskan atau terjeblos sendiri karena itu kadang bersamaan…”

 Jadi,(dari perkataan Anis itu mengandung makna) kasus korupsi impor sapi dengan komisi 40 milyar, namun baru diambil satu milyar dan keburu tertangkap basah; bagi Anis bisa saja merupakan rekayasa kekuatan di luar diri pelakunya yang melalui konspirasi besar menjebloskan sang pelaku; atau bisa juga memang sang pelaku terjeblos. Dalam bahasa sederhana, “Luthfi itu dijebloskan, atau kejeblos.” Begitulah kira-kira maksud Anis Matta.

 Mengerti syari’ah tanpa dibarengi dengan rasa malu, cenderung melahirkan retorika apologetik sebagaimana diproduksi Anis Matta. Seharusnya Anis mengatakan: “Kesalahan Luthfi adalah kesalahan saya juga. Oleh karena itu, saya harus ikut mundur.”

 Namun hal itu tidak terjadi. Mungkin karena daya pukau harta dan tahta lebih dominan bagi seorang Anis Matta. Apalagi, dengan tetap bertahan di kursi kekuasaan partai berbau Islam ini, ia mungkin saja lebih mampu mengerahkan kekuatannya menghindar dari jerat hukum sebagaimana sedang dialami Luthfi.

 Sampai sejauh ini Anis Matta memang tidak dinyatakan terbukti terlibat dalam korupsi impor sapi. Namun, ia tidak bersih dari tuduhan korupsi. Salah satunya sebagaimana dilontarkan Wa Ode Nurhayati, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang pernah menjadi Anggota Badan Anggaran DPR.

 Ketika diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, pada hari Rabu tanggal 13 Maret 2013, Wa Ode Nurhayati menyebut keterlibatan Anis Matta dalam kasus dugaan suap Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID).

 Menurut Wa Ode Nurhayati, ada keputusan Banggar yang diubah oleh beberapa pimpinannya dan kemudian dilegitimasi oleh Anis Matta. Bahkan, Anis cenderung memaksa Menteri Keuangan untuk menyetujui surat yang sebenarnya bertentangan dengan dokumen keputusan Banggar.

 Setelah terkesan ‘membenarkan’ korupsi yang dilakoni Luthfi, juga agak terseret-seret korupsi sebagaimana dilansir Wa Ode Nurhayati, serta melakukan anjangsana ke Emha sosok yang terindikasi berpaham sesat syi’ah dan cenderung mempermainkan agama dengan eksperimentasi budayanya, kini Anis Matta dikabarkan berziarah ke makam Kalijaga, salah seorang personel Walisongo yang cerita keberadaannya lebih banyak dihiasi kisah mistis yang syirkiyah.

 Bahkan Anis mengatakan, bahwa Partai yang dipimpinnya saat ini adalah bagian dari cita–cita Islam para Wali Songo. Menurut pemberitaan Tempo, sejak Selasa hingga Jumat (2-5 April 2013), Anis Matta melakukan safari di Jawa Tengah, terutama di Demak, Semarang, dan sekitarnya. Dalam kunjungannya ke Demak (03 April 2013), Anis Matta berziarah dan tahlilan di makam Sunan Kalijaga dengan didampingi beberapa pejabat Kabupaten Demak.

 Ziarah makam disertai tahlilan dengan bacaan-bacaan bukan hanya mendoakan mayat namun ibadah di kuburan  merupakan tradisi dan amalan yang sering dilakukan oleh para praktisi bid’ah bahkan merupakan semacam kewajiban bagi aliran dan paham sesat tertentu. Namun demikian, Anis berani menegaskan bahwa jika ada yang menganggap PKS itu tidak melakukan tahlil, maka itu salah. Astaghfirullah…

Tahlil yang dia maksud adalah tahlilan, bukan sekadar lafal Laa ilaaha illaLlah. Karena ucapan itu berkaitan dengan yang dia praktekkan ketika ziarah ke makam yakni: Dalam kunjungannya di Demak Rabu sore, Anis Matta berziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kawasan Kecamatan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. Dalam kegiatannya, Anis bersama rombongannya melafalkan doa dan membacakan kalimat dzikir dan tahlil. (Tempo.co, KAMIS, 04 APRIL 2013 | 08:27 WIB).

 Begitulah wajah politisi dari sebuah partai berbau Islam, Anis Matta, lulusan lembaga pendidikan Islam bidang Syari’ah, yang kini dibebani tanggung jawab memperbaiki citra partai, meraih suara sebanyak-banyaknya pada musim pemilu tahun 2014. Mungkin dalam rangka itulah ia blusak-blusuk ke sana ke mari, masuk hutan keluar hutan, mendaki gunung dan perbukitan, menyeberangi samudera yang terbentang luas, dengan berbagai pidato diwarnai apologi hingga dikhawatirkan menggadaikan akidah alias keyakinan atau iman.

Badrul Tamam seorang penulis di situs Islam ketika menulis tentang fenomena tokoh Islam yang cenderung membela kebatilan, dia sindir dengan mengutip sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

 إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Sesungguhnya aku sangat menghawatirkan terhadap umatku (akan kemunculan) para imam penyesat.” (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud, Ahmad dan lainnya)

Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata: Umar bin al-Khathab pernah berkata kepadaku,

هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Al-Qur’an, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.” (Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih)

Perlu ditegaskan, walau selihai apapun, ketika yang dilakukan adalah mencampur aduk yang haq dengan yang batil, maka tetap tercela, bahkan menyesatkan serta menjerumuskan. Maka lakon seperti itu seharusnya dihentikan. Karena jelas-jelas menabrak ayat, yang seharusnya ayat itu dipatuhi dan ditaati isinya. Sedangkan ayatnya telah jelas:

{وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ } [البقرة: 42]

42. dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 42)

 (haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 10.534 kali, 1 untuk hari ini)