Mengambil Hikmah Keputusan Khalifah ‘Umar Bin Al-Khaththâb Menebang Pohon Bai’atur-Ridhwan

Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb, muncul gejala pada sebagian kaum muslimin yang memiliki ketergantungan kepada barang-barang peninggalan dan situs-situs sejarah yang tidak tercantum keutamaannya dalam nash. Fenomena ini dapat mempengaruhi dalam hal beragama. Maka Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb dan para sahabat melarang dan memperingatkan manusia dari perbuatan tersebut.

Ibnu Wadhdhâh meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ma’rur bin Suwaid, ia bercerita:
Kami pergi untuk mengerjakan haji bersama ‘Umar bin al-Khaththâb. Di tengah perjalanan, sebuah masjid berada di depan kami. Lantas, orang-orang bergegas untuk mengerjakan shalat di dalamnya. ‘Umar pun bertanya,”Kenapa mereka itu?”

Orang-orang menjawab,”Itu adalah masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat di masjid itu,” maka ‘Umar berkata: “Wahai manusia. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa, lantaran mereka melakukan perbuatan seperti ini, sampai akhirnya nanti mendirikan masjid baru di tempat tersebut. Siapa saja yang menjumpai shalat (wajib), maka shalatlah di situ. Kalau tidak, lewatilah saja”[Diriwayatkan oleh ‘Abdur-Rzzâq dalam Mushannaf, 2/118-119. Abu Bakr bin Abi Syaibah dalam Mushannaf, 2/376-377 dengan sanad shahîh].

Ibnu Wadhdhâh juga meriwayatkan, bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththâb memerintahkan untuk menebang sebuah pohon di tempat para sahabat membaiat Rasulullah di bawah naungannya (yaitu yang dikenal dengan Syajaratur-Ridhwân). Alasannya, karena banyak manusia mendatangi tempat tersebut untuk melakukan shalat di bawah pohon itu. Beliau Radhiyallahu ‘anhu mengkhawatirkan timbulnya fitnah (kesyirikan) pada mereka nantinya, seiring dengan perjalanan waktu [Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsihâm, 1/346. Dinukil dari Dirâsatun fil Ahwâ wal-Firaqi wal- Bida’ wa Mauqifu as-Salafi minha, hlm. 222].

Dpat disimak selengkapnya di sini: https://www.nahimunkar.org/pelestarian-situs-sejarah-dalam…/

***

Kenapa Ada Tokoh Dipersoalkan Soal Pakai Slempang Ber-capal?

Ada tokoh Islam dikabarkan pakai slempang yang ada gambar capal (replika sandal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) sedangkan di masyarakat, dikabarkan sebagian orang meyakini capal sebagai jimat (menjurus pada kemusyrikan). Tentunya orang-orang yang meyakini capal sebagai jimat itu akan lebih mantap keyakinan batilnya dengan adanya tokoh agama yang memakai capal pula (walau apakah tokoh itu meyakininya atau tidak sama sekali).
Bandingkan dengan kejadian riwayat berikut ini.

Dalam salah satu kisah diceritakan, bahwa Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah mendera orang-orang yang minum khamr dan yang ikut menyaksikan jamuan mereka itu, sekalipun orang yang menyaksikan itu tidak turut minum bersama mereka.

Dan diriwayatkan pula, bahwa pernah ada suatu qaum yang diadukan kepada Umar bin Abdul Aziz karena minum khamr, kemudian beliau memerintahkan agar semuanya didera. Lalu ada orang yang berkata, bahwa diantara mereka itu ada yang berpuasa. Maka jawab ‘Umar, “Dera dulu, dia !”. Apakah dia tidak mendengar firman Allah Ta’ala :

وَ قَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى اْلكِتبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ ايتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَ يُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِى حَدِيْثٍ غيْرِهِ اِنَّكُمْ اِذًا مّثْلُهُم. النساء:140

Sungguh Allah telah menurunkan kepadamu dalam Al-Qur’an, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah ditentang dan diejeknya. Maka itu janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka itu memasuki dalam pembicaraanan yang lain. Sebab sesungguhnya jika kamu berbuat demikian adalah sama dengan mereka. [QS. An-Nisaa’ :140]

ابن تيمية ,مجموع الفتاوى (32/254)
وَقَدْ رُفِعَ إلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَقْوَامٌ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ فَأَمَرَ بِجَلْدِهِمْ الْحَدَّ فَقِيلَ: إنَّ فِيهِمْ صَائِمًا؟ فَقَالَ: أَبَدَءُوا بِالصَّائِمِ فَاجْلِدُوهُ: أَلَمْ يَسْمَعْ إلَى قَوْله تَعَالَى {وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ} ؟

***

Rawan Kemusyrikan.

Klenik, jimat, tathoyyur (suara burung dsb yang dianggap sebagai alamat sial ataupun keberuntungan), perdukunan, ramalan-ramalan, perbintangan (percaya pada bintang2 dikaitkan dengan nasib dsb) begitu merajalela. Sedangkan Islam memberantasnya dari awal, karena memang itu semua jurusan kemusyrikan yang merupakan dosa besar, bahkan kemungkinan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam menjadi musyrik besar alias kafir tidak ada imannya lagi. Maka setiap Muslim wajib menjaga diri dari itu semua. jangan sampai ada gejala yang memperparah, misalnya tingkah laku yang dapat disalahfahami ataupun dimaknakan oleh umat sebagai membolehkannya atau dijadikan landasan untuk mereka meneruskan keyakinan yang menjurus ke kemusyrikan.
ilustrasi capal/ foto fb Menebar Ilmu Berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.189 kali, 1 untuk hari ini)