Ilustrasi buah semangka, luarnya hijau, dalamnya merah./ foto Pasti Seru


Ada gerombolan yang ditengarai sikapnya selalu ela-elu. Kurang lebihnya, sikap ela-elu itu adalah  mudah menclok ke tempat yang sedang dianggap kuat, hingga ketika yang dianggap kuat itu goyang atau bahkan jatuh atau keok, maka segera pula menclok ke yang dianggap lebih kuat yang baru lagi, walu tadinya itu musuhnya.

Dengan bersikap ela-elu seperti itu, gerombolan macam ini akan terlihat senantiasa mendapatkan tempat kapan saja dan siapa saja yang sedang di atas angin. Tetapi itu hanya kelihatannya. Bila dilihat secara cermat, justru nasib gerombolan semacam itu adalah hanya sebagai manusia-manusia yang menyediakan diri untuk diperalat, bahkan jadi semacam ‘bumper’ pun tidak mengapa.

Jadi seolah mereka selalu mendapat tempat, padahal hakekatnya justru tidak.

Sebenarnya bukan dapat tempat, tapi hanya dijadikan ‘bumper’ untuk menghadapi bahkan melawan para penolong agama Allah.

 Lha kok mau?

 Ya mau, karena ada semacam kesamaan dalam kepentingan.

Apa itu?

Yaitu yang satu takut agama Allah tegak, yang satunya takut bid’ahnya, perdukunannya, jimatnya dan sebagainya tidak laku lagi, kalau sampai agama Allah tegak. Jadi Islam ya biar masih ada, tapi jangan sampai memberantas kemunkaran. Amar ma’ruf (memerintahkan kebaikan) boleh-boleh saja. Tapi nahi munkar (mencegah kemunkaran-keburukan) jangan. Makanya gerombolan itu sampai kini berani usul, agar khutbah-khutbah di masjid-masjid, ceramah-ceramah di pengajian-pengajian diawasi dengan ketat.

Kenapa begitu?

Ya kalau ga’ diawasi dengan ketat, nantinya akan mencegah kemunkaran juga (yang dalam Islam disebut nahi munkar). Bila dibiarkan untuk ber-nahi munkar, maka nantinya segala jimat, perdukunan, kemusyrikan, klenik, santet, pelet, bid’ah, takhayyul, khurofat, kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar seperti kepada jin, tuyul, wewe dombel dan sebagainya akan diberantas lewat mimbar-mimbar. Hingga sekian persen dari jimat, pelet, santet, sihir dan acara-acara bid’ah dan kemusyrikan larung sesajen dan sebagainya tidak laku lagi.

Jadi kedua belah pihak itu (yang dipencloki dan yang menclok) sama-sama dalam menghadapi Agama Allah. Caranya, Islam yang amar ma’ruf, menyuruh kebaikan, sampai menyuruh shalat subuh berjamaah dan sebagainya, ya silakan. Kalau perlu malah didatangi, diadakan dan sebagainya. Tapi jangan sampai ada nahi munkar (mencegah kemunkaran).

Kalau begitu kembali ke masa zaman sebelum merdeka dong? Sampai untuk ibadah haji saja dihalang-halangi, dalam sejarahnya, karena takut nantinya ada pelajaran mengenai nahi munkar.

Ya wallahu a’lam. Yang jelas, kenyataan kini pengajian-pengajian pun dihalang-halangi, dibubarkan. Padahal mereka bukan petugas. Itu sama dengan mengangkangi petugas. Tapi dibiarkan saja.

Kira-kira kenapa?

Ya, karena tahu sama tahu (tst) seperti uraian tersebut di atas.

Bukankah mereka juga orang-orang yang mangaku Islam?

Ya jelas, tapi kan itu tadi. Amar Ma’ruf dan nahi munkar, jangan diambil secara keseluruhan. Cukup amar ma’ruf saja. Nahi munkar jangan.

Lho kenapa?

Wah, masih ga’ mudeng lagi. Ya kalau nahi munkar ditegakkan, maka dagangan-dagangan yang haram-haram itu tadi bahkan sampai miras, pelacuran, perjudian, klub malam, tempat-tempat maksiat, transaksi riba, wisata-wisata berbau perzianaan, perdukunan, perklenikan, jimat, sampai keyakinan pesugihan, dan aneka bid’ahnya, glembuk, bujuk, ngapusi, ingkar janji dan sebagainya nanti terkikis, tidak dipercaya dan tidak laku lagi.

Wow, jadi takut kehilangan (aneka kemunkaran tapi ada duitnya) itu semua?… Kalau begitu, apakah tidak takut kepada Allah Ta’ala?

Justru yang perlu dipertanyakan, Umat Islam yang sebenarnya dijamin oleh Allah Ta’ala ketika betandang membela agamaNya, itu kenapa malah sebagian ngikut ke gerombolan ela-elu itu. Padahal Allah Ta’ala telah menjamin bagi yang membela agama Allah, di antaranya Allah Ta’ala berfirman:

 وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh Allah akan menolong orang yang membela-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40)

Allah juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ؛ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Nah, jadinya, betapa ruginya kalau sampai Umat Islam terpengaruh oleh gerombolan Ela-Elu itu, apalagi malah ngikut-ngikut pula. Dan Sejatinya tidak ada untungnya, kalau hanya didukung oleh gerombolan Ela-Elu itu.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 997 kali, 1 untuk hari ini)