taufiq-kiemas-dapat-gelar-doktor-kehormatan-002-mudasir 

  • Betul-betul ngawur.

 GELAR doktor honoris causa atau doktor kehormatan mulanya diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia melalui karya-karyanya yang luar biasa. Tidak sembarang orang bisa menerima gelar akademis ini, dan tidak sembarang perguruan tinggi bisa menganugerahkan doktor kehormatan.

 Namun kini, pemberian gelar doktor honoris causa lebih bernilai politis dan didasarkan oleh hal-hal yang sulit dicari dasar pijak secara akademis dan ilmiah. Misalnya, sebagaimana baru-baru ini terjadi pada Taufiq Kiemas (Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Taufiq Kiemas).

 Pengukuhan penganugerahan gelar doktor kehormatan Universitas Trisakti kepada Taufiq Kiemas berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Ahad tanggal 10 Maret 2013.

 Menurut penilaian Universitas Trisakti, Taufiq Kiemas telah melahirkan gagasan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia, sehingga nilai tersebut dapat dipahami pejabat negara dalam berbangsa dan bernegara. Empat Pilar Kebangsaan Indonesia ini terdiri dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, Taufiq Kiemas juga dinilai berjasa dalam mendorong pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta.

 Sementara itu, masyarakat lebih menilai Taufiq Kiemas sebagai ‘penjual asset’ nasional kepada pihak asing dengan harga murah. Artinya, mayarakat mempertanyakan nasionalisme seorang Taufiq yang menantu nasionalis sekuler Bung Karno. Penjualan asset nasional itu berlangsung saat Megawati menjadi Presiden RI.

 Berkenaan dengan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia, itu merupakan prosedur tetap yang harus dijalani oleh calon pejabat termasuk anggota legislatif. Hal itu sudah berlangsung jauh sebelum Taufiq Kiemas menjabat sebagai Ketua MPR RI. Begitu juga bagi peserta kursus Lemhanas setiap angkatan, sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia diberlakukan bagi mereka.

 Begitu juga dengan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Soekarno-Hatta, dikatakan sebagai jasa Taufiq Kiemas, sehingga ia layak mendapat gelar doktor honoris causa. Padahal, pemerintah Soeharto pada tahun 1986 melalui Keppres nomor 81/1986 sudah pernah menganugerahkan Pahlawan Proklamator yang derajatnya lebih tinggi dari gelar Pahlawan Nasional.

 Selama ini dipahamkan, bahwa gelar Pahlawan Proklamator adalah edisi terbatas dari gelar Pahlawan Nasional, karena hanya disandang oleh dua orang itu saja yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Sedangkan Pahlawan Nasional, disandang oleh banyak orang. Jadi, upaya Taufiq yang dinilai berjasa tadi, sesunguhnya merupakan upaya menurunkan derajat kepahlawanan Bung Karno dan Bung Hatta.

 Latar belakang seperti itukah yang mendorong Universitas Trisakti memberikan gelar doktor honoris causa kepada taufiq Kiemas?

 Kalau seandainya Taufiq Kiemas tidak punya posisi penting di dunia politik dan tidak berduit, apakah ada Universitas lokal yang mau memberinya gelar doktor honoris causa? Rasanya mustahil. Dari cara bicaranya saja, masyarakat sudah bisa menyimpulkan, bahwa sosok tambun ini jauh dari kesan intelek, jauh dari layak menerima gelar akademis yang prestisius tadi.

 Selain Taufiq Kiemas ada sosok yang selama ini suka memuji-muji Panji Gumilang dan Al-Zaytun, serta pernah berjanji membubarkan Ahmadiyah namun hingga kini janji yang berupa hutang itu tak juga ditunaikan. Mungkin karena ia sudah berhasil DIHARGAI dan DISEGANI oleh aktivis aliran dan paham sesat tadi.

 Sosok kelahiran Jakarta 19 September 1956 ini bernama Suryadharma Ali, Ketua Umum PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama. Pada hari Sabtu tanggal 23 Februari 2013 lalu, Suryadharma Ali dianugerahi Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Penganugerahan tersebut berlangsung di Kampus UIN Maliki, Jl Gajayana, Malang, Jawa Timur.

 Kalau seandainya Suryadharma Ali tidak punya posisi penting di dunia politik, tidak menjabat Ketua Umum PPP, tidak menjabat Menteri Agama, apakah ada Universitas lokal yang mau memberinya gelar doktor honoris causa?

 Sepertinya, karena posisi penting itulah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang punya kemampuan mengkreasikan landasan bagi lembaga pendidikan tadi untuk memberikan gelar doktor honoris causa kepada pembohong dan pendukung kesesatan ini.

 Pada bulan Oktober 2010, Suryadharma Ali pernah mengungkapkan rencana membubarkan Ahmadiyah, namun hingga kini rencana itu diabaikan begitu saja. Suryadharma Ali juga pernah mengatakan bahwa Syiah bertentangan dengan ajaran Islam, namun beberapa hari kemudian Suryadharma Ali justru mengatakan bahwa ia tidak merasa pernah menyebut kelompok Syiah sebagai aliran sesat yang berada di luar Islam.

 Memuji-muji Al-Zaytun pernah disampaikan Suryadharma Ali usai ia mengunjungi Al-Zaytun untuk pertama kalinya pada tangal 11 Mei 2011 lalu. Begitu juga ketika pada Ahad 25 Maret 2012, saat kunjungan keduanya ke Al-Zaytun, Suryadharma Ali memuji habis-habisan Al Zaytun pimpinan Panji Gumilang ini. Padahal, Panji Gumilang adalah tokoh NII KW-9 yang sesat menyesatkan.

 Selain Suryadharma Ali, ada sosok sejenis yang pada empat tahun lalu menerima gelar doktor honoris causa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 30 Mei 2009. Sosok ini akrab dipanggil dengan sebutan Gus Mus. Nama aslinya Achmad Mustofa Bisri, kelahiran Rembang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1944.

 Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, sekaligus menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU, juga deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Oleh komunitasnya, dan oleh media nasional ia diposisikan sebagai ulama besar. Kalau seandainya Gus Mus tidak punya status sosial sebagai kyai, tidak menjadi pengasuh pondok pesantren, tidak punya popularitas yang menjual, apakah ada Universitas lokal yang mau memberinya gelar doktor honoris causa?

 Meski terkenal suka ngawur, namun Gus Mus ternyata punya daya tarik tersendiri bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sehingga, UIN Sunan Kalijaga mampu mengalirkan daya kreasinya menciptakan landasan pembenar untuk menganugerahkan gelar doktor kehormatan bagi sosok yang pernah mengatakan: “Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”

 Pernyataan Gus Mus itu disampaikan pada Juli 2005, saat ia diwawancarai oleh Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu tentang haramnya pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama.

 Nah, dalam rangka membela pemikiran sepilis tadi, Gus Mus menggunakan pengandaian seperti tadi, yang kalau dibandingkan dengan hadits shahih, terasa pertentangannya:

1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ *

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak. (Muttafaq ‘alaih)

 Begitu juga dalam rangka membela Ahmadiyah, Gus Mus menggunakan pengandaian: “Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.”

 Pengandaian Gus Mus tadi tidak saja terkesan ngawur, tetapi terkesan bodoh. Karena, penganut paham sesat Ahmadiyah tadi tidak merasa sesat. Justru menurut pandangan mereka orang di luar merekalah yang sesat.

 Tidak sekedar menganggap orang di luar mereka sesat, para penganut Ahmadiyah ini dengan keyakinan batilnya menyeru orang lain ikut ke dalam rombongan mereka. Bagi umat Islam yang bodoh seruan tadi kemungkinan akan membuat dirinya tertarik. Namun bagi yang cerdas, seruan itu akan ditolaknya. Tapi kalau seruannya sudah mengandung pembodohan dan pemerasan dana umat, ya wajarlah kalau ditempelengi.

 Bagi kalangan Ahmadiyah, untuk bisa masuk surga, pertama-tama seseorang itu harus menjadi pengikut ajaran Mirza Ghulam Ahmad sang nabi palsu. Setelah itu, harus membeli kapling bakal kuburan yang kelak akan dihuni oleh penganut Ahmadiyah. Harga kapling kuburan sudah ditentukan, bisa dicicil kalau tidak mampu membeli tunai seketika.

 Itulah bentuk pembodohan dan penipuan Ahmadiyah. Padahal, masuk surga atau tidak, sama sekali tak berkaitan dengan lokasi tanah kuburan. Namun dalam rangka cari duit, bakal lokasi kuburan pun dikemas dengan doktrin agama sehingga layak dijual kepada orang bodoh yang terpedaya oleh ajaran sesat Ahmadiyah.

 Pembodohan dan penipuan semacam itukah yang dibela Achmad Mustofa Bisri? Ini pulakah alasan UIN Sunan Kalijaga memberinya gelar doktor honoris causa? Betul-betul ngawur. (haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 1.907 kali, 1 untuk hari ini)