Menjual aqidah tapi berkedok memperjuangkannya

Adol iman nanging ngaku merjuangake iman

(Silakan menikmati yang Bahasa Jawa di bagian bawah di lembar ini pula).

  • Mungkin lebih sulit dibanding seorang kyai yang anaknya mau menikah, sedang sang Kyai hanya diminta pendapatnya:  Pilih menantu yang pendangdut atau pendombret.
  • Sang Kyai hanya geleng-geleng kepala sambil mengelus dada… memangnya tidak ada pilhan lain, wahai anakku…?
  • Mak comblang pembujuk anak kyai ternyata secara terang-terangan membujuk sang Kyai bahwa pendangdut lebih Islami…
  • Hus!… beranikah kamu menanggung kemaksiatannya, hingga kamu bilang itu lebih Islami?! bentak Kyai.
  • Sang Kyai dihadapkan pada pilihan yang kedua-duanya sama sekali tidak sesuai dengan syari’at, menurut pandangannya.
  • Bagaimana kelak nasib anak cucu, kalau begini? keluhnya.

APABILA SYARI’AH Islam yang dijadikan dasar bertindak, dasar menilai dan memutuskan sesuatu, maka niscaya dari dua kandidat gubernur DKI Jakarta yang maju ke putaran kedua (20 September 2012) nanti, boleh jadi tidak ada satu pun yang layak didukung oleh umat Islam yang mendambakan tegaknya syari’ah di ibukota Republik Indonesia ini.

Dari pasangan Jokowi-Ahok, tidak hanya Ahok yang dipermasalahkan, tetapi juga Jokowi yang disebut-sebut bahwa orangtuanya adalah non Muslim. Padahal, orangtua Jokowi Muslim. Bapaknya, almarhum Noto Mihardjo sudah menunaikan ibadah haji, begitu juga dengan ibunya Hajjah Sujiatmi. Bahkan anak dan menantu kedua pasangan tersebut sudah menunaikan ibadah haji semua, termasuk Jokowi.

Namun, sekitar pekan ketiga April 2012, Jokowi yang sudah haji ini mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengabaikan simbol-simbol kebetawian sekaligus keislaman, yaitu baju koko. Ketika berkunjung ke salah satu media, dan ditanya mengapa tidak mengenakan baju koko, ketika itu Jokowi menjawab bahwa penggunaan baju koko dan peci merupakan pencitraan gaya lama, basi dan membosankan.

Pernyataan itu tentu saja merupakan weak point pasangan Jokowi-Ahok, yang dengan segera akan disambar oleh para ‘pendukung’ dan ‘simpatisan’ pasangan lawan untuk di-blow up sedemikian rupa. Sejumlah media Islam (online) rupanya juga tertarik mengangkat weak point Jokowi tadi.

Dari pernyataan Jokowi itu, sebagian masyarakat Jakarta menjadi khawatir yang peduli kepada agamanya. Alasannya, bila Foke yang ‘hanya’ pernah bersekolah di lembaga pendidikan Katolik saja sudah berani mempersulit izin pendirian madrasah, apalagi jika Wakil Gubernurnya (dalam hal ini Ahok) benar-benar beragama Katolik, jangan-jangan lebih sulit lagi dibanding Foke.

Meski diserang dengan isu bernuansa SARA, ternyata usai prosesi pencoblosan berlangsung (Rabu, 11 Juli 2012), perhitungan cepat (quick count) justru mengumumkan pasangan Jokowi-Ahok berada pada peringkat tertinggi perolehan suara warga DKI Jakarta. Mereka mengalahkan incumbent yang mengaku-ngaku orang Betawi. Pasangan Foke-Nara yang oleh sejumlah penyelenggara survei diprediksi akan meraih suara terbanyak diantara kandidat lain, bahkan sebagian meyakini pasangan Foke-Nara akan menang dalam satu putaran, ternyata gagal.

Rupanya prediksi lembaga survei dan isu SARA yang menyerang pasangan Jokowi-Ahok ini tidak mempengaruhi keputusan warga Jakarta memilih mereka. Barangkali ini sebuah pertanda bahwa isu Agama dan Suku sudah tidak mempengaruhi elektabilitas. Apalagi bila warga Jakarta sudah bisa merasakan betapa negatifnya kinerja Foke saat ini, juga ketika ia sebelumnya menjadi Wakil Gubernur di masa kepemimpinan Sutiyoso: banjir dan macet yang tak terselesaikan, dan sebagainya

Sekitar satu pekan usai dinyatakan unggul pada putaran pertama versi quick count, Ahok yang merupakan tandem Jokowi ini diduga menyebarkan pesan singkat (sms) bernuansa SARA yang tak patut. Ada dua belas poin, satu diantaraya berbunyi: “Kita belajar dari Singapura, Cina kuasai melayu. Jakarta milik kita.”

Nampaknya, itu merupakan sebuah pesan yang mengkhawatirkan warga Jakarta. Terbukti, di pinggir-pinggir jalan, masyarakat Jakarta membincangkan hal ini: “.. kalau Jokowi-Ahok menang, ntar Jakarta jadi kayak Singapur…” Intinya, mereka takut dominasi Cina terjadi terhadap kehidupan mereka.

Tidak hanya warga biasa yang mengkhawatirkan kemenangan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta kelak, juga kelompok masyarakat yang selama ini diidentifikasi sebagai ustadz atau ulama (yang katanya Islam), seperti Alfian Tanjung dan Rhoma Irama si Raja Dangdut.

Alfian Tanjung yang mengidentifikasi dirinya sebagai “anak Betawi keturunan Maninjau, Sumatera Barat” [sic!] mengirimkan pesan singkat kepada sejumlah pihak (Kamis, 26 Juli 2012). Isinya: Bismillahi, Allahu Akbar! Ayo Selamatkan Betawi! Dari Alfian Tanjung, anak Betawi keturunan Maninjau, Sumatera Barat. Membaca geopolitik DKI menjelang putaran kedua, 20 September 2012. Ramadhan ini menjadi momentum untuk memenangkan aspirasi politik Islam dan umat Islam dengan memilih Fauzi Bowo-Nachrowi. Ayo selamatkan Jakarta dari anasir PKI, Kristen dan kafir sekuler! Alfian Tanjung. Pakar Anti Komunis.

Menurut anggapan Alfian sendiri, pernyataannya itu bukanlah kampanye SARA melainkan paradigma politik yang dimiliki seorang Muslim. Namun bagi yang masih waras akalnya, dan sedikit berilmu, pernyataan seperti itu jelas mengandung SARA, provokatif, menolak pasangan Jokowi-Ahok, sekaligus menunjukkan keberpihakannya kepada pasangan Foke-Nara.

Secara substansial, paradigma politik seorang Muslim yang ditunjukkan oleh Alfian nyaris persis dengan paradigma politik seorang Cina-Katolik seperti telah ditunjukkan oleh Ahok. Bedanya, Ahok tidak membawa-bawa ‘lembaga’ keulamaan.

Tiga hari kemudian, saat ceramah shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, pada hari Minggu tanggal 29 Juli 2012 lalu, Rhoma Irama si Raja Dangdut dianggap menyampaikan kampanye bernuana SARA yang juga bernuansa keberpihakan kepada pasangan Foke-Nara. Apalagi pada saat ceramah Rhoma menyampaikan informasi tak akurat dengan menyebut kedua orangtua Jokowi non Muslim.

Rhoma menolak ceramahnya dikatakan kampanye SARA. Ia bersikukuh ucapannya itu termasuk dakwah. Karena, ia merasa sedang menyampaikan sebuah ayat yang berbunyi: “Bahwa orang beragama Islam dilarang untuk memilih non muslim menjadi pemimpin, dan hukuman bagi yang memilih pemimpin non muslim adalah menjadi musuh Allah.”

Argumen itu disampaikan Rhoma di Panwaslu pada hari Senin tanggal 6 Agustus 2012 lalu. Bahkan Panwaslu pada 12 Agsutus 2012 sudah menyatakan ceramah Rhoma bukan kampanye SARA. Kita percaya bahwa keputusan tersebut objektif, bukan karena ‘takut’ kepada selain Allah SWT.

Namun bagi yang waras dan berilmu, ceramah seperti itu dapat dikatakan tidak etis, bahkan agak cenderung pro salah satu pasangan. Bila dalam ceramah tadi tidak dihadiri salah satu pasangan kandidat yang sedang bertarung saja, sudah dapat dikatakan tidak etis. Apalagi bila saat ceramah berlangsung salah satu kandidat juga hadir? Jelas bukan ketidak-sengajaan. Apalagi waktunya berdekatan dengan kampanye SARA yang lebih dulu disampaikan Alfian Tanjung yang ngaku-ngaku anak Betawi di musim pilkada kali ini.

Terlebih lagi, salah satu pasangan yang dikesankan didukungnya itu, nggak bagus-bagus amat, tidak lebih baik dibanding dengan pasangan yang satunya lagi dari segi akidah. Keduanya cenderung kepada kemusyrikan sebagaimana bisa dibuktikan melalui sejumlah pemberitaan media massa terhadap aktivitas mereka. Bahkan, dalam salah satu rangkaian ‘silaturahim’ politiknya, Foke juga berkunjung ke Gereja Mawar Saron, Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan minta didoakan (Rabu, 8 Agustus 2012).

Fenomena sms Alfian Tanjung dan ceramah si Raja Dangdut, meski berusaha keras dikesankan sebagai murni non politik, namun bagi yang waras dan berilmu, itu bisa dirasakan bagian dari rangkaian money politic yang sedang dimainkan oleh salah satu pasangan kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Nuansa money politic ini semakin terasa kuat, ketika PKS menyatakan dukungannya kepada pasangan Foke-Nara. Triwisaksana (Wakil ketua DPRD DKI Jakarta asal PKS) yang menyampaikan sikap resmi PKS mendukung Foke-Nara bukan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI putaran kedua, di Gedung DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2012 lalu, sehari sebelum Panwaslu DKI Jakarta menyatakan Rhoma tidak terbukti melakukan kampanye berbau SARA.

Sebuah tulisan berjudul Engkong Bilang, Biar Ape Mau Dikate? di voa-islam edisi 13 Agustus 2012, seolah ingin memberikan isyarat bahwa sikap PKS mendukung Foke-Nara karena faktor mahar politik yang lumayan besar. Opini redaksi yang ditulis dengan gaya kebetawi-betawian, namun terasa cemplang (maklum aje, penulisnye bukan orang betawi) itu memberi kesan seolah-olah mahar politik dari Foke-Nara itu dimasukkan melalui pintu perempuan. Maksudnya, via sang istri dari tokoh yang gagal melaju ke putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2012 ini. (http://www.voa-islam.com/news/opini/2012/08/13/20216/engkong-bilang-biar-ape-mau-dikate/)

Fenomena ini tentu saja membuat kita prihatin. Pertama, umat Islam yang katanya mayoritas ini sama sekali tidak punya alternatif untuk menentukan pilihannya. Karena, calon yang tersedia sama-sama tidak layak secara syar’i. Ibarat mengusung dangndut dan dombret, beda sebutan namun substansinya sama saja. Namun, oleh sebagian tokoh (yang katanya Islam), sang pendangndut dikatakan lebih Islami dibanding sang pendombret, sehingga perlu didukung, dengan alasan: “… supaya Jakarta jangan jadi kayak Singapur…”

Kedua, para tokoh (yang katanya Islam) ini, bermain politiknya sama saja dengan gaya permainan orang kafir. Ada duit ada dukungan. Tidak ada urusannya dengan membelaan akidah dan kesejahteraan umat. Mereka membungkus argumennya dengan kebohongan, bahkan menyeret-nyeret dakwah sebagai alasan membenarkan hawa nafsunya. Astaghfirullah…

Ketiga, para tokoh (yang katanya Islam) ini, menjadikan umat sebagai tukang dorong mobil mogok semata. Keempat, mereka menjual agama Allah dengan muraaaaah sekali.

Tapi jangan sampai [erkataan ini dimaknai bahwa penulinya ini membela orang kafir. Sama sekali tidak. Untuk apa… lha kan dalilnya sudah jelas. Seperti di bawah nanti.

***

Seandainya, pada putaran kedua nanti Foke-Nara tetap kalah, yang menang adalah pasangan Jokowi-Ahok, apa para tokoh (yang katanya Islam) itu tidak malu? Akidah sudah diabaikan, kalah pula. Kalau toh yang menang Foke-Nara, bagaimana mereka mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah SWT ketika berhadapan dengan fakta bahwa sang Gubernur menghambat pendirian Madrasah, membiarkan prostitusi, membiarkan tempat-tempat hiburan bernuansa maksiat tetap eksis, membiarkan korupsi terjadi di tubuh birokrasi yang memang sudah korup sejak dulunya, menghadiri bahkan membiayai kegiatan syirkiyah berkedok religi (musyrik)? “Ape ente ude siap nanggung dosenye…?”

Tentu akan lebih mulia bila sosok ustadz atau ulama menjadi pencerah bagi umat, bersikap bijak sebagai pembela yang haq, bukan justru menjadi ‘provokator’ agar memilih “pendangdut” padahal sama saja dengan “pendombret”. Dari fenomena Pilkada DKI Jakarta 2012 ini, ternyata terlihat dengan jelas fenomena ulama su’ sedang bermain politik praktis dengan gaya yang sama saja dengan politisi berideologi kuffar. Mereka hampir tidak ada bedanya.

***

Ada ayat-ayat yang memperingatkan:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (١٢٠)

120. orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al-Baqarah: 120).

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS Al-Maaidah: 82)

 لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨)

28. janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS Ali Imran: 28)

[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٥٧)

57. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS Al-Maaidah: 57).

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Israa’: 36).

Ilustrasi: surabayapagi.com

(haji/tede/nahimunkar.com)

***

Fenomena Pemilukada DKI Jakarta

Nyade iman nanging ngaku merjuangaken iman

(Bahasa Jawa Krama)

  • Bokmenawi langkung sulit dipun banding setunggaling kyai ingkang anakipun kersa emah-emah, saweg sang Kyai naming dipun suwuni pemanggihipun: pileh menantu ingkang pendangdut punapa pendombret.
  • Sang Kyai namung geleng-geleng sirah kaliyan mengelus dhadha… pancenipun mboten enten pilhan sanes, wahai anak kula…?
  • Mak comblang pembujuk anak kyai jebulna sacara terang-terangan membujuk sang Kyai bahwa pendangdut punika langkung Islami…
  • Hus!… beranikah sampeyan nanggel kemaksiatannya, ngantos sampeyan sanjang pendangdut punika langkung Islami?! bentak Kyai.
  • Sang Kyai dipun sodori ing pilehan ingkang kalih-kalihipun babar blas mboten cocok kaliyan syari’at, miturut pandangannya.
  • Kados pundi mbenjing nasib anak putu, menawi begini? keluhnya.

Menawi SYARI’AH Islam ingkang dipun dadosaken dasar bertindak, dasar menilai lan memutusaken samukawis, mila niscaya saking kalih kandidat gubernur DKI Jakarta ingkang majeng datheng kaping puteran kalih (20 September 2012)mangke, ketingalipun mboten enten setunggala ingkang prayogi didukung dening umat Islam ingkang mendambakan jejegipun syari’ah ing ibukota Republik Indonesia punika.
Saking pasangan Jokowi-Ahok, mboten namung Ahok ingkang dipermasalahkan, nanging ugi Jokowi ingkang kanaman-sebat bahwa tiyang sepuhipun yaiku non Muslim. Padahal, tiyang sepuh Jokowi Muslim. Bapaknya, jenat Noto Mihardjo sampun menunaikan ibadah haji, mekaten ugi kaliyan ibunipun Hajjah Sujiatmi. Bahkan anak kaliyan menantu kalih pasangan kesebat sampun menunaikan ibadah haji sedaya, klebet Jokowi.

Nanging, sekitar pekan ketelu April 2012, Jokowi ingkang sampun haji punika medhalake pernyataan ingkang dipun anggep mengabaikan simbol-simbol kebetawian sekaligus keislaman, yaiku rasukan koko. Nalika tuwi datheng salah setunggal panggenan piyambakipun dipun takeni kenging punapa mboten ngangge rasukan koko, nalika punika Jokowi mangsuli bahwa pangginaan rasukan koko kaliyan peci ngrupikaken pencitraan gaya lama, basi kaliyan mbosenaken.

 Pernyataan punika tentu kemawon ngrupikaken weak point pasangan Jokowi-Ahok, ingkang kanthi enggal badhe disamber dening para ‘pendukung’ kaliyan ‘simpatisan’ pasangan mengsah konjuk ing-blow up samekaten rupi. Sejumlah media Islam (online) rupinipun ugi kegeret ngangkat weak point Jokowi wau.

Saking pernyataan Jokowi punika, menggahing masyarakat Jakarta  ingkang praduli dhateng agaminipun dados kuwatos. Alasannya, menawi Foke ingkang ‘namung’ nate bersekolah ing lembaga pamucalan Katolik kemawon sampun wantun mempersulit  izin pembangunan madrasah, apalagi menawi wakil Gubernurnya (lebet hal punika Ahok) leres-leres nduwe agami Katolik, jangan-jangan langkung sulit malih dipun banding Foke.

Meski diserang kaliyan isu bernuansa SARA, jebulna bibar prosesi pencoblosan nglajeng (Rabu, 11 Juli 2012), petangan gelis (quick count) justru mengumumkan pasangan Jokowi-Ahok enten ing peringkat paling inggil deningan suwanten warga DKI Jakarta. Piyambake sedaya ngawonaken incumbent ingkang ngaku-ngaku tiyang Betawi. Pasangan Foke-Nara ingkang dening sawilangan penyelenggara survei diprediksi badhe meraih suwanten paling kathah ing antawis kandidat sanes, bahkan sakunjukan mitadosi pasangan Foke-Nara badhe mimpang lebet setunggal puteran, jebulna gagal.

Rupinipun prediksi lembaga survei kaliyan isu SARA ingkang nglawan pasangan Jokowi-Ahok punika mboten mempengaruhi keputusan warga Jakarta mileh piyambake sedaya. Barangkali punika setunggal pertanda bahwa isu agami kaliyan Suku sampun mboten mempengaruhi elektabilitas. Apalagi menawi warga Jakarta sampun sami rumaosaken ebo negatifnya kinerja Foke kala punika, ugi nalika piyambakipun saderengipun dados Wakil Gubernur ing masa kepangajengan Sutiyoso: banjir kaliyan macet ingkang mboten karampungaken, kaliyan sanes-sanesipun.

Sekitar setunggal peken bibar dipun nyatakaken linangkung ing puteran setunggal versi quick count, Ahok ingkang ngrupikaken tandem Jokowi punika diduga ndhawakaken pesan singkat (sms) bernuansa SARA ingkang mboten patut. Enten kalih welas poin, setunggal diantaraya ngungel: “kita sedaya sinau saking Singapura, Cina kuwaosi melayu. Jakarta milik kita.” 

Nampaknya, punika ngrupikaken setunggal pesan ingkang mutawatosi warga Jakarta. Bukti, ing pinggir-pinggir radin,masyarakat Jakarta membincangkan hal punika: “.. menawi Jokowi-Ahok mimpang, mangkih Jakarta dados kados Singapur…”Intinya, piyambake sedaya ajrih dominasi Cina kedadosan nguasani kegesangan piyambake sedaya.

Mboten namung warga biyasa ingkang mutawatosi kemimpangan Jokowi-Ahok dados Gubernur kaliyan wakil GubernurDKI Jakarta mbenjing, ugi kelompok masyarakat ingkang salebetipun punika diidentifikasi dados ustadz utawi ulama (ingkang cariyosipun Islam), kados Alfian Tanjung kaliyan Rhoma Irama si raja Dangdut.

Alfian Tanjung ingkang mengidentifikasi badanipun dados “anak Betawi turun Maninjau, Sumatera kilen” [sic!] ngentunaken pesan singkat dhateng sawilangan pihak (Kamis, 26 Juli 2012). Isinya: Bismillahi, Allahu Akbar! mangga wilujengaken Betawi! saking Alfian Tanjung, anak Betawi turun Maninjau, Sumatera kilen. maos geopolitik DKI menjelang kaping puteran kalih, 20 September 2012. Ramadhan punika dados momentum konjuk ngrenakaken aspirasi politik Islam kaliyan umat Islam kaliyan mileh Fauzi Bowo-Nachrowi. mangga wilujengaken Jakarta saking anasir PKI, Kristen kaliyan kafir sekuler! Alfian Tanjung. Pakar Anti Komunis.

Miturut anggepane Alfian piyambak, nyatanipun punika sanesa kampanye SARA mbentenaken paradigma politik ingkang dipun pek sa tiyang Muslim. nanging kunjuk ingkang taksih waras manahipun, kaliyan sekedhik nduwe elmi, nyatan mekoten genah ngandung SARA, provokatif, menolak pasangan Jokowi-Ahok, sekaligus nunjukaken keberpihakannya dhateng pasangan Foke-Nara.

Sacara substansial, paradigma politik satiyang Muslim ingkang dipun tunjukaken dening Alfian nyaris persis kaliyan paradigma politik satiyang Cina-Katolik kados sampun dipun tunjukaken dening Ahok. Bedanipun, Ahok mboten mbekta-bekta ‘lembaga’ keulamaan.

Telu dinten lajeng, kala ceramah sholat tarawih ing Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta kilen, ing dinten Ahad tanggal 29Juli 2012 lajeng, Rhoma Irama si raja Dangdut dipun anggep ndumugekaken kampanye bernuansa SARA ingkang ugi bernuansa keberpihakan dhateng pasangan Foke-Nara. Apalagi ing kala ceramah Rhoma ndumugekaken informasi mboten akurat kaliyan mastani kaping kalih, tiyang sepuh Jokowi non Muslim.

Rhoma menolak ceramahnya dipun ginem kampanye SARA. piyambakipun bersikukuh ucapannya punika klebet dakwah. amargi, piyambakipun rumaos saweg ndumugekaken setunggal ayat ingkang ngungel: “Bahwa tiyang nduwe agami Islam dipun awisi konjuk mileh non muslim dados pangajeng, kaliyan hukuman kunjuk ingkang mileh pangajeng non muslim yaiku dados mengsahe Allah.”

Argumen punika katur Rhoma ing Panwaslu ing dinten Senin tanggal 6 Agustus 2012 lajeng. Bahkan Panwaslu ing 12Agsutus 2012 sampun ngginem ceramah Rhoma sanes kampanye SARA. kita sedaya pitados bahwa keputusan kesebat objektif, sanes amargi ‘ajrih’ dhateng kajawi Allah SWT.

Nanging kunjuk ingkang waras kaliyan nduwe elmi, ceramah mekoten saged dipun ginem mboten etis, bahkan semu cenderung pro salah setunggale pasangan. menawi lebet ceramah wau mboten dihadiri salah setunggale pasangan kandidat ingkang saweg nandhing kemawon, sampun saged dipun ginem mboten etis. Apalagi menawi kala ceramah nglajeng salah setunggale kandidat ugi hadir? genah sanes kemboten-sengajaan. Apalagi wancinipun nyelakan kaliyan kampanye SARA ingkang langkung riyen katur Alfian Tanjung ingkang ngaku-ngaku anak  Betawi ing musim  pilkada punika.

langkung=lamgkung malih, salah setunggal pasangan ingkang dikesankan didukungnya punika, nggak sae-sae sanget, mboten langkung sae dipun banding kaliyan pasangan ingkang setunggalipun malih saking segi akidah. kekalihipun cenderung dhateng kemusyrikan sami kaliyan saged dipun buktikaken langkung sawilangan pawartan media massa tumrap aktivitas piyambake sedaya. Bahkan, lebet salah setunggal rangkaian ‘silaturahim’ politiknya, Foke ugi tuwi datheng Gereja Saron, Kelapa Gading, Jakarta ler, kaliyan nyuwun didoakan (Rabu, 8 Agustus 2012).

Fenomena sms Alfian Tanjung kaliyan ceramah si raja Dangdut, meski berusaha sanget dikesankan dados murni nonpolitik, nanging kunjuk ingkang waras kaliyan nduwe elmi, punika saged karaosaken kunjukan saking rangkaian moneypolitic ingkang saweg dipun mainaken dening salah setunggal pasangan kandidat Gubernur kaliyan wakil Gubernur DKI Jakarta.

Nuansa money politic punika tambah kraos kiyat, nalika PKS ngginem dukungannya dhateng pasangan Foke-Nara.Triwisaksana (wakil pandega DPRD DKI Jakarta asal PKS) ingkang ndumugekaken sikap resmi PKS mendukung Foke-Nara sanes Jokowi-Ahok ing Pilkada DKI kaping puteran kalih, ing Gedung DPP PKS, radin TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ing dinten Sabtu tanggal 11 Agustus 2012 lajeng, sadinten sadereng Panwaslu DKI Jakarta ngginem Rhoma mboten bukti numindakake kampanye mambet SARA.

Setunggal seratan berjudul Engkong sanjang, kajengipun bade diginem punapa? ing voa-islam edisi 13 Agustus 2012, seolah kersa nyukakna isyarat bahwa sikap PKS mendukung Foke-Nara amargi faktor mahar politik ingkang lumayan ageng.Opini redaksi ingkang dipun serat kaliyan gaya kebetawi-betawian, nanging kraos cemplang (maklum aje, penulisnye sanes tiyang betawi) punika nyukani kesan seolah-olah mahar politik saking Foke-Nara punika dipun lebetaken liwat pintu estri. pangangkahipun, via sang semah saking tokoh ingkang gagal melaju datheng kaping puteran kalih PilkadaDKI Jakarta 2012 punika. http//wwwvoa-islamcom/news/opini/2012/08/13/20216/engkong-sanjang-kajengipun-ape-kersa-dikate/
Fenomena punika tentu kemawon ndamel kita sedaya prihatos. Setunggal, umat Islam ingkang cariyosipun mayoritas punika babar blas mboten gadhah alternatif konjuk menentukan pilehanipun. amargi, calon ingkang sampun dicawis sami-sami mboten prayogi sacara syar’i. Ibarat mengusung dangndut kaliyan dombret, beda nama nanging substansinya sami kemawon. nanging, dening sakunjukan tokoh (ingkang cariyosipun Islam), sang pendangndut dipun ginem langkung Islami dipun banding sang pendombret, dadosipun betah didukung, kaliyan alasan: “… kajengipun Jakarta ampun dados kados Singapur…”

Kaping kalih, para tokoh (ingkang cariyosipun Islam) punika, dolanan politiknya sami kemawon kaliyan gaya dolanan tiyang kafir. enten duit enten dukungan. mboten enten urusanipun kaliyan pembelaan akidah kaliyan kesejahteraan umat. piyambake sedaya membungkus argumennya kaliyan kedoran/ bohong, bahkan menyeret-nyeret dakwah dados alasan ngleresaken hawa nafsunya. Astaghfirullah…

Ketelu, para tokoh (ingkang cariyosipun Islam) punika, dadosaken umat dados tukang surung mobil mogok blaka, piyambake sedaya sade agami Allah kaliyan muraaaaah pisan. Nanging ampun ngantos ungelan punika dimknani bilih penulisipun niki mbela tiyang kafir. Babar blas mboten. Kangge punapa… lha rak dalilipun sampun jelas. Kados ing ngandap mangkeh.

***

Sak upami, ing kaping puteran kalih mangke Foke-Nara tetap kawon, ingkang mimpang yaiku pasangan Jokowi-Ahok, menapa para tokoh (ingkang cariyosipun Islam) punika mboten isin? Akidah sampun diabaikan, kawon ugi. menawi toh ingkang mimpang Foke-Nara, kados pundi piyambake sedaya nanggel-jawab piyambakipun ing majengan AllahSWT nalika majengan kaliyan fakta bahwa sang Gubernur menghambat pembangunan Madrasah,membiarkan pelacuran, membiarkan  panggen-panggen hiburan bernuansa maksiat tetap eksis, membiarkan korupsi kedadosan ing badan birokrasi ingkang pancen sampun korup saprikanipun, menghadiri bahkan membiayai acara syirkiyah berkedok religi (musyrik)? “Ape ente ude jagi nanggung dosenye…?”
Tentu badhe langkung mulia menawi sosok ustadz utawi ulama dados pencerah kunjuk umat, bersikap bijak dados pembela ingkang haq, sanes justru dados ‘provokator’ kajengipun mileh “pendangdut” padahal sami kemawon kaliyan“pendombret”. Saking fenomena Pilkada DKI Jakarta 2012 punika, jebulna keningal kaliyan genah fenomena ulama su’ saweg dolanan politik praktis kaliyan gaya ingkang sami kemawon kaliyan politisi berideologi kuffar. piyambake sedaya hampir mboten enten bedanipun.

***

Ada ayat-ayat yang memperingatkan:

 

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (١٢٠)

120. orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al-Baqarah: 120).

120. tiyang-tiyang Yahudi kaliyan Nasrani mboten badhe rena dhateng sampeyan ngantos sampeyan ndhereki agami piyambake sedaya. sampeyan ucapaken: “sasaestunipun pitedah Allah punika pitedah (ingkang leres)”. kaliyan sasaestunipun menawi sampeyan ndhereki kajeng piyambake sedaya sasampun pengetahuan datheng dhumateng sampeyan, mila Allah mboten malih dados pelindung kaliyan panulung kunjuk sampeyan. (QS Al-Baqarah: 120).

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS Al-Maaidah: 82)

82. sasaestunipun sampeyan temoni tiyang-tiyang ingkang paling atos mengsahanipun dhateng tiyang-tiyang ingkang iman yaitu tiyang-tiyang Yahudi kaliyan tiyang-tiyang musyrik. (QS Al-Maaidah: 82) 

 لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٢٨)

28. janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS Ali Imran: 28)

[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.

28. ampuna tiyang-tiyang mukmin mendhet tiyang-tiyang kafir dados wali[192] kaliyan nyingkur tiyang-tiyang mukmin.barang sinten ndamel mekaten, niscaya ucula piyambakipun saking pitulungane Allah, kajawi amargi (siasat) ngingah badan saking samukawis ingkang kinajrihan saking piyambake sedaya. kaliyan Allah ngelingaken sampeyan majeng badan siksa-Nya kaliyan namung dhateng Allah wangsul (mu). (QS Ali Imran: 28)

[192] wali jamaknya auliyaa: nduwe artos rencang ingkang akrab, ugi nduwe artos pemimpin, pelindung utawi panulung.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٥٧)

57. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS Al-Maaidah: 57).

57. Hai tiyang-tiyang ingkang iman, ampuna sampeyan mendhet dados pemimpin sampeyan, tiyang-tiyang ingkang ndamel agami sampeyan dados buah ejekan kaliyan dolanan, (yaiku) ing antawis tiyang-tiyang ingkang sampun dipun sukani kitab sadereng sampeyan, kaliyan tiyang-tiyang ingkang kafir (tiyang-tiyang musyrik). kaliyan bertakwalah dhateng Allah menawi sampeyan leres-leres tiyang-tiyang ingkang beriman. (QS Al-Maaidah: 57).

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Israa’: 36).

36. Lan ampuna sampeyan ndhereki menapa ingkang sampeyan mboten nggadhahi pengetahuan babaganipun. sasaestunipun pamirengan, paningalan kaliyan manah, sedayanipun punika badhe dipun tedha tanggelan wangsulipun. (QS Al-Israa’: 36).

(haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 1.252 kali, 1 untuk hari ini)