FENOMENA PENGHANCURAN BANGSA (2 selesai)

 

Merknya Pendidikan, Isinya Penjahiliyahan

 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Apakah semuanya sudah rusak?

Pertanyaan itu terbalik. Tentang kerusakan, jangan ditanyakan, apakah semuanya sudah rusak. Tetapi tanyakanlah, apakah ada pintu-pintu yang menuju kerusakan?

Lha, tetapi kan masalahnya sudah berada di dalam kerusakan! Bukan lagi hanya di pintu kerusakan?

Ya memang. Yang normal sesuai kaidah, adalah pintu-pintu atau jalan-jalan yang menuju bahaya itu wajib ditutup. Sebelum adanya bahaya, pintu yang menuju bahaya sudah harus ditutup, istilahnya saddu dzaroi’ (menutup jalan-jalan yang menuju bahaya). Bahkan kalau ada manfaat namun mengandung mafsadat (kerusakan/ bahaya) maka harus didahulukan menolak bahaya itu. Istilahnya, dar’ul mafaasid muqoddamun ‘alaa jalbil masholih. Menolak kerusakan itu didahulukan ketimbang mengambil manfaat.

Kaidah-kaidah itu telah dilanggar. Justru kerusakan pun kalau ada duitnya maka diambil. Manfaat pun kalau tak ada duitnya maka tak diambil. Bahaya pun kalau ada duitnya (biasanya orang kafir dari dalam maupun luar mensponsori) ya diteruskan. Maka yang tersisa justru pertanyaan terbalik yang bunyinya; Apakah semuanya sudah rusak?

Jawabannya adalah dalam bentuk pertanyaan: Apakah memang tujuannya itu agar semuanya jadi rusak?

Kira-kira saja, karena rahmat Alloh, maka dalam kenyataan, tidak semuanya rusak. Di antara yang rusak itu masih ada yang baik. Sebagai buktinya, kalau berbicara masalah informasi misalnya, kini akan ada gerakan mencekal situs-situs porno. (Tampaknya belum maksimal, sebab gambar-gambar porno yang tak diakses pun masih bermunculan di internet kala membuka email dan semacamnya). Indonesia jumlah pengakses situs porno terhitung di jajaran paling banyak. Sangat memalukan, karena penduduk ini ternyata sangat unggul dalam hal memasang lafal sex untuk mencari adanya di mana saja lafal itu di dunia maya sejagad ini. (Ya pantas saja, karena pendidikannya kan untuk syahwat perut dan syahwat seks).

Itulah di antara hasilnya yang sangat memalukan. Karena dari awalnya sudah diarahkan oleh para bapaknya, pemimpinnya, dan penyelenggara pendidikannya, serta media massa, agar yang dikejar itu hanya sekadar apa yang memenuhi syahwat perut dan seks. Itu saja masih disesatkan pula, agar keyakinannya yang Tauhid, mengesakan Alloh swt, itu diganti jadi kemusyrikan, pluralisme agama, lewat jalur sistematis yaitu perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Sudah diingatkan dengan buku Ada Pemurtadan di IAIN dan lain-lain, masih tetap diam saja.

Di balik itu semua, sebagian masyarakat kini mulai sadar. Hidup bukan hanya untuk mengejar makanan, memenuhi syahwat, dan meningkatkan gengsi. Kehidupan akherat itu lebih baik dan kekal. Alloh swt telah memperingatkan dengan tegas:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(16)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى(17)

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al-A’la: 4).

Peringatan dari Alloh swt ini disunnahkan untuk dibaca oleh imam shalat Jum’at, maka setiap Jum’at senantiasa kita dengar imam membaca surat Al-a’la ini. Karena memang ada haditsnya:

عَنْ نُعْمَان بنِ بَشِيرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم قَرَأَ فِى الْعِيدَيْنِ ب (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ) وَإِنْ وَافَقَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَرَأَهُمَا جَمِيعاً.

Dari Nu’man bin Basyir bahwa Nabi saw dalam shalat dua ‘Ied (hari raya) membaca (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ) sabbihisma rabbikal a’la dan hal ataaka hadiitsul ghoosyiyah. Dan jika bertepatan dengan hari Jum’at maka beliau membaca kedua-duanya semua. (Hadits Riwayat Ahmad).

Ukuran Sukses

Dalam praktek sekarang, biasanya imam shalat Jum’at juga membaca dua surat itu (Al-A’la dan Al-Ghasyiyah). Ayat-ayat itu menegaskan tentang pedihnya adzab di akherat akibat kufur dan mementingkan kehidupan dunia, sebaliknya betapa ni’matnya surga di akherat bagi yang beriman dengan beramal shalih, sholat, zakat, mensucikan jiwanya, mengingat Alloh dan sebagainya. Namun karena dari awal tujuan disekolahkannya anak-anak kita itu untuk nantinya biar mampu cari makan dan punya gengsi, maka pandangan hidup rata-rata masyarakat ini hanya tertuju pada materi, kesenangan sesaat di dunia ini. Hingga apa-apa hanya diukur dengan materi. Ukuran yang dipakai di masyarakat bukan ukuran dari Al-Qur’an tetapi ukuran materi. Semuanya diukur dengan banyak atau sedikitnya harta. Hingga yang disebut sukses oleh masyarakat jauh berbeda dengan sukses menurut Al-Qur’an.

Sukses menurut masyarakat, tidak jauh dari seputar: banyak harta, punya jabatan, anak-anaknya bertitel, menantunya juga kaya, bertitel, punya jabatan dan sebagainya. Semuanya serba bendawi.

Itu mirip dengan sukses menurut Qorun dan orang-orang yang sependapat dengannya:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ(79)

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al-Qashash: 79).t

Pandangan Qorun dan sebangsanya itu sangat tercela:

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ(80)فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ(81)وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ(82) تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ(83)مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(84)إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ(85)

80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”.

81. Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Alloh. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

82. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Alloh melapangkan rezki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Alloh tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar dia Telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Alloh)”.

83. Negeri akhirat[1140] itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik)[1141] itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

84. Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, Maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, Maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang Telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.

85. Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali[1142]. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”. (QS Al-Qashash: 80, 81, 82, 83, 84, 85).

[1140] yang dimaksud kampung akhirat di sini ialah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat.

[1141] Maksudnya: syurga.

[1142] yang dimaksud dengan tempat kembali di sini ialah kota Mekah. Ini adalah suatu janji dari Tuhan bahwa nabi Muhammad s.a.w. akan kembali ke Mekah sebagai orang yang menang, dan Ini sudah terjadi pada tahun kedelapan hijrah di waktu nabi menaklukkan Mekah. Ini merupakan suatu mukjizat bagi nabi.

Sukses menurut Fir’aun adalah sukses dalam menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaannya; salah satu wujudnya adalah mengerahkan dukun sihir, maka siapa yang menang dalam main sihir itulah yang dianggap sukses. Itu dibantah oleh Alloh swt. Alloh Ta’ala mengisahkan dalam Al-Qur’an, ungkapan Fir’aun:

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى(64)

Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini. (QS Thaha: 64).

65. (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”

66. Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.

67. Maka Musa merasa takut dalam hatinya.

68. Kami berkata: “Janganlah kamu takut, Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).

69. Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.

70. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami Telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”.

71. Berkata Fir’aun: “Apakah kamu Telah beriman kepadanya (Musa) sebelum Aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka Sesungguhnya Aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik[931], dan Sesungguhnya Aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan Sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”.

[931] Maksudnya: tangan kanan dan kaki kiri dan sebaliknya.

72. Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang Telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang Telah menciptakan Kami; Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.

73. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. dan Alloh lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)”.

74. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, Maka Sesungguhnya baginya neraka jahannam. ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup[932].

[932] maksud tidak mati ialah dia selalu merasakan azab dan maksud tidak hidup ialah hidup yang dapat dipergunakannya untuk bertaubat.

75. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh Telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),

76. (yaitu) syurga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan). (terjemah QS Thaahaa: 65-76).

77. Dan Sesungguhnya Telah kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu[933], kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)”.

78. Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.

79. Dan Fir’aun Telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk. (QS Thaahaa: 77-79).

[933] Membuat jalan yang kering di dalam laut itu ialah dengan memukul laut itu dengan tongkat. lihat ayat 63 surat Asy Syu’araa.

Sukses menurut Alloh swt:

لْمُؤْمِنُونَ(1)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2)وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ(3)وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ(4)وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5)إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6)فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7)وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ(8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(9)أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ(10)الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(11)

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,

3.Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,

5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

6.Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.

7. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.

8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

9. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

10. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,

11. (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.

[994] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.

[995] Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya.

Kembalikanlah ke pendidikan yang benar

Untuk menjadikan generasi penerus kita agar menjadi orang-orang mukmin yang beruntung atau sukses di dunia maupun akherat, mesti mengikuti petunjuk dari Alloh swt dan RasulNya. Hal itu hanya dapat ditempuh dengan pendidikan yang sesuai dengan yang dijarkan oleh Rasulullah saw, yaitu pendidikan mengenal dan meyakini Alloh sebagai Rabnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad saw sebagai nabi dan rasulnya. Pendidikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw itulah yang akan menghasilkan orang-orang yang takut kepada (siksa) Alloh dan menahan hawa nafsunya. Orang-orang inilah yang tempatnya kelak di surga. Karena Alloh swt telah menjanjikannya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى(40)فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى(41)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS An-Nazi’at: 40, 41).

Oleh karena itu, kembalikanlah pendidikan yang telah berubah jauh ini kepada aslinya, yang mengikuti pendidikan Rasulullah saw, agar manusia ini tidak terjerumus ke jalan syaithon yang benar-benar merugikan di dunia maupun di akherat.

Semoga Alloh swt menyelamatkan muslimin muslimat, mu’minin mu’minat di dunia dan akherat. Amien. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamien. (selesai).

(Dibaca 279 kali, 1 untuk hari ini)