Firqah Pro Bid’ah dan Firqah Pro Kepemimpinan Sekuler dan Semacamnya Apakah Termasuk Dhahirina ‘alal Haq?

 

Dalam hadits disebutkan:

“Dari Muawiyah radhiallahu anhu berkata, aku mendengar Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذلِكَ

“Selalu ada dari umatku senantiasa yang menegakkan perintah Allah. Tidak dapat mencelakai mereka orang yang menghinanya dan juga orang yang menyelisihinya, hingga Allah datangkan kepada mereka perkaranya sedangkan mereka tetap kondisi seperti itu.” (HR. Bukhari, 3641 dan Muslim, 1037) 

 “Dari Umar bin Khatab radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة

 “Selalu akan ada kelompok dari umatku akan membela kebenaran hingga datang hari kiamat.”

Dari Mugirah bin Syu’bah radhiallahu anhu berkata, aku  mendengar Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال من أمتي قوم ظاهرين على الناس حتى يأتيهم أمر الله

“Selalu aka ada umatku yang membela (kebenaran) di tengah manusia sampai datang keputusan Allah kepada mereka.”

Dari Imran bin Husain radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال طائفة من أمتي يقاتلون على الحق ، ظاهرين على من ناوأهم ، حتى يقاتل آخـرهم المسيح الدجال

“Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang berperang dalam kebenaran. Mereka akan menang menghadapi orang yang memusuhinya.  Sampai akhir dari mereka akan memerangi Al-Masih  Dajjal.”

Perkataan para ulama seputar  kelompok ini, tidak dikhususkan pada golongan tertentu dari manusia, sebagaimana tidak ditentukan pada negara tertentu. Meskipun terakhirnya berada di Syam dan mereka memerangi Dajjal sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Tidak diragukan, bahwa mereka adalah orang yang sibuk dengan ilmu agama –baik akidah, fikih, hadits, tafsir, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, membantah ahli bid’ah. Semua itu harus dibarengi dengan ilmu yang benar dan bersumber dari wahyu. Kita memohon kepada Allah semoga kita dimasukkan ke dalam golongan mereka. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad.

)
Sifat Kelompok Yang Ditolong (Thaifah Manshurah) Dan Ahlus Sunah Wal Jamaah, https://islamqa.info/id
, Refrensi: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid, 22-03-2016/ dikutip sebagiannya.)

Pertanyaannya kini: Firqah Pro Bid’ah dan Firqah Pro Kepemimpinan Sekuler dan Semacamnya Apakah Termasuk Dhahirina ‘alal Haq? Yakni orang-orang yang senantiasa membela kebenaran dan disebut thoifah manshurah, golongan yang ditolong oleh Allah?

Pertanyaan itu muncul, karena orang-orang yang pro bid’ah punya sikap yang membela bid’ah, dengan mencari-cari dalil, sedangkan bid’ah itu sendiri tidak di jalur yang haq.

Sementara itu, mereka yang pro kepemimpinan sekuler dan semacamnya, berupaya menampilkan dalil2 demi membela (tetap ditaatinya) kepemimpinan sekuler dan semacamnya itu, sedangkan kepemimpinan sekuler itu sendiri bukan di jalur yang haq dan sama sekali tidak didukung oleh Islam. Karena sekulerisme itu sendiri (orangnya disebut orang sekuler) jurusannya adalah ilhad (ateis), hingga ilhad itulah tingatan sekuler paling tinggi. Sedangkan ilhad itu justru bertentangan secara total dengan Islam. Maka orang yang sangat membenci ilhad itulah yang disifati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang merasakan manisnya (ni’matnya) iman.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ

“Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari no. 21 dan Muslim no. 43).

Secara aksiomatik, Islam sama sekali tidak mendukung sekulerisme yang puncaknya adalah ilhad ateis alias kekufuran. Maka siapapun yang disebut ‘merasakan manisnya iman’ itu pasti sadar betul akan bahaya sekulerisme. Hingga sama sekali tidak akan mendukungnya, dalam bentuk apapun, apalagi sekulerisme dalam bentuk yang mampu menentukan keadaan, misalnya kepemimpinan sekuler yang tentunya akan menentukan keadaan yang sejurus dengan ilhadiyah alias kekufuran itu. Tentu saja dihindari jauh2 dan sama sekali tidak dicari-carikan dalil untuk ke arah yang dapat dimaknakan menguatkan mereka, atau secara tersirat mengakibatkan lebih kokoh nya mereka (dalam menghadapi Islam).

Oleh karena itu, entah lebih drastis yang mana jauhnya dari sebutan thoifah manshuroh yang dhahirina ‘alal haq, antara kedua firqah yang dibicarakan ini. Apakah firqah pembela bid’ah ataukah firqah pembela kepemimpinan sekuler dan semacamnya itu yang lebih tidak nyambung dengan thaifah manshurah dhahirina ‘alal haq. (Boleh jadi yang melakukan dua sisi: sudah membela bid’ah ataupun kesesatan, masih pula mendukung kepemimpinan sekuer dan semacamnya; kalau memang ada yang begitu). Wallahu a’lam bisshawab.

Sekadar memberi gambaran, mari kita simak artikel singkat mengenai sorotan terhadap dua firqah itu.

***

Membela Kepemimpinan Sekuler dan Semacamnya dengan Hadits?


Posted on 8 Desember 2019

by Nahimunkar.org


Ilustrasi foto/slideshare

 Sebagian kalangan selalu beralasan dengan hadits ini (… Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian.  … HR Muslim) serta hadits lainnya yang semakna dan menerapkannya kepada setiap penguasa sekuler, selama para pemimpin tersebut masih mengerjakan shalat maka wajib taat kepadanya. Mereka tidak melihat muthlaq dan muqayyad-nya suatu dalil; serta menjadi kelompok yang suka memakai satu ayat atau hadits dan menyembunyikan ayat atau hadits lainnya yang sebenarnya berfungsi sebagai tafsirannya.

Istinbath hukum dari satu atau dua dalil tanpa melihat dalil lainnya akan menghasilkan hukum yang cacat, serba kontradiktif dan tidak utuh. Padahal permasalahan ini sangat urgen dalam kehidupan umat Islam hari ini. Masih ada dalil lain yang menjelaskan tentang syarat ulil amri yang harus ditaati. Misalnya hadist:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ مَا أَقَامَ لَكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah, walaupun yang memimpin kalian seorang budak habasyi yang pesek hidungnya (buruk atau cacat rupanya) tetaplah kalian mendengarnya. Taatilah selama ia menegakan kitabullah di tengah kalian.” (HR. Muslim, no. 1298 dan 1838, Tirmidzi no. 1706[5], serta dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 7861[6]).

Inilah syarat selanjutnya agar diakui sebagai ulil amri yang wajib ditaati, yaitu menegakkan hukum Allah dan menjadikannya sebagai asas tunggal negara yang wajib oleh seluruh rakyatnya. Ali bin Abi Thalib berkata, “Wajib atas pemimpin untuk memerintah dengan hukum Allah dan menunaikan amanah. Dan apabila telah dijalaninya, maka wajib bagi rakyat mendengarnya dan mematuhinya.”[7]

Imam an-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas, beliau berkata, “Tidak dibenarkan memberontak kepada penguasa hanya karena ia berbuat zhalim dan melakukan perbuatan fasik, selama mereka tidak merubah prinsip-prinsip atau pondasi agama Islam.”[8]

Dr. Ali Juraisyah berkata, “Tidak diragukan bahwa syarat mendirikan shalat adalah isyarat mendirikan dien seluruhnya, hanya saja nash cukup menyebut shalat saja karena shalat merupakan tiang agama.”[9]

Syaikh Hamid bin Abdullah al-Ali, ulama Kuwait lulusan Universitas Islam Madinah menjelaskan, “Hadits-hadits tersebut dan lainnya menjelaskan tentang ulil amri yang melakukan kedzaliman terhadap rakyat namun tidak sampai kepada kekafiran yang nyata, yaitu tidak sampai mengingkari syariat, tidak menolak berhukum dengannya, dan tidak meninggalkan kewajiban menegakkan dien. Dzalim yang demikian adalah kezaliman yang bersifat duniawi. Dalam hal ini rakyat tidak boleh merebut kekuasaannya. Karena ini akan meruntuhkan kesatuan umat. Menjaga persatuan umat lebih utama daripada melawan kedzaliman penguasa.”[11]

***

Hadits yang dimaksud adalah ini:

Imam Muslim meriwayatkan:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1855).[4]

————

[4]  Abu Husain Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim, (Kairo: al-Maktabah al-Islamiyyah, 1432 H).

[5] Muhammad bin ‘Isa bin Surah bin Musa at-Tirmidzi, Jami’ at-Tirmidzi, Bab Ma Ja’a Fi al-Imam, (Riyadh: Daru as-Salam, 1420), hlm. 408

[6] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shahih al-Jami’ ash-Shagir, (Beirut: al-Maktabah al-Islami, 1408 H), vol. II, hlm. 1297

[7]  Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, (Beirut: Dar Thayyibah, 1417), vol. II, hlm. 240.

[8] Imam an-Nawawi, Syarhu Shahih Muslim, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H), Vol. 12, hlm. 204.

[9] Dr. Ali Juraisyah, Askanasy Syariyah al-Islamiyah , hlm.  103, sebagaimana dinukil dari makalah ilmiyah; Syubhat-Syubhat Jihad Melawan Penguasa Kafir, Rahmat Hidayatullah, hlm. 15

[11] Majalah Digital Kiblat; Pemerintah Sekuler Bukan Ulil Amri, Edisi Muharram 1435, hlm. 7

 
 

(Dipetik sebagian, dari artikel ‘Batasan Ta’at Pada Penguasa (Kajian Hadits dan Siyasah Syar’iyyah)’ oleh Oleh: Feri Nuryadi Sumber : annursolo.com, Posted on 27 Maret 2019 by Nahimunkar.com
https://www.nahimunkar.org/batasan-taat-pada-penguasa-kajian-hadits-dan-siyasah-syariyyah/ )

***

 

Ibnu Taimiyah: “Sesungguhnya kepemimpinan (Imarah) (yang wajib ditaati-pent) adalah selama mereka menegakkan agama (iqamatuddin)…” (Minhajus Sunnah An Nabawiyah 1/143)

Kalangan As Salaf As Shalih tidak mengenal istilah pemimpin (ulil amri pent-) yang tidak menjaga agama. Menurut mereka pemimpin seperti ini bukanlah ulil amri. Yang dimaksud kepemimpinan (ulil amri) adalah menegakkan agama. Setelah itu baru ada yang namanya kepemimpinan yang baik dan kepemimpinan yang buruk.” (Al Wajiz fi Aqidati Salafis Sholih Ahlussunnah wal Jamaah, hal 103. Buku ini dimuraja’ah oleh Syaikh Sholih Fauzan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Syaikh Sholih bin Abdul Azis Alu Syaikh, Syaikh Su’ud Syuraim dll)

Sementara itu syaikhul Islam Ibnu Tamiyah di dalam Minhajus Sunnah An Nabawiyah memberikan batasan ketaatan terhadap pemimpin. beliau berkata, “Sesungguhnya kepemimpinan (Imarah) (yang wajib ditaati-pent) adalah selama mereka menegakkan agama. kemudian, ada imam yang baik dan ada imam yang jahat. Ali bin Abi Thalib berkata, “Manusia (umat Islam-pener) wajib memiliki pemimpin. Bisa yang baik maupun yang buruk. Ditanyakan kepadanya, “kami paham maksud pemimpin yang baik, tapi pemimpin yang buruk?” Ali menjawab, “Pemimpin yang buruk adalah yang memberikan keamanan di jalan, menegakkan hudud, berjihad melawan musuh dan mendistribusikan fai’.” (Minhajus Sunnah An Nabawiyah 1/143)

Di dalam nukilan di atas Ibnu Taimiyah ingin menyatakan bahwa syarat seorang pemimpin wajib ditaati adalah menegakkan agama (iqamatuddin), setelah terpenuhi syarat itu maka barulah ketaatan menjadi wajib bagi kaum muslimin. Hal ini senada dengan hadits :

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ – حَسِبْتُهَا قَالَتْ: أَسْوَدُ – يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ، فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا


Artinya, “Jika kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya yang buruk rupa – saya kira perawi menambahkan kata hitam- yang memimpin kalian dengan kitab Allah, maka dengarkanlah dan taatilah.” (HR. Muslim)/ (Dikutip seperlunya dari artikel berjudul ‘

Menimbang Status Ulil Amri Penguasa Sekuler’ 

https://www.nahimunkar.org/menimbang-status-ulil-amri-penguasa-sekuler/? ).


***

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: Laknat Allah atas Pemimpin yang Menyulitkan Umat Islam


Posted on 30 Agustus 2019

by Nahimunkar.org

 
 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)
“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).
{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ
Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).
Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

(nahimunkar.org)

Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam. 
Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu untuk membela Umat Islam. 
Bila ada yang menyembunyikan doa itu padahal sering menegaskan bahwa Islam itu sudah komplit, maka seakan mengingkari ucapannya sendiri. 
Bila akibatnya murid2nya hanya tahu apa yg mereka anjurkan untuk mendoakan kebaikan untuk para pemimpin, dan berani mengecam orang yang berdoa sesuai doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, maka sang dai itu berat tanggung jawabnya. 
Di dunia belum tentu dapat apa2, di akherat entah bagaimana beratnya. Maka jangan sampai kita terhitung sebagai orang yang sikapnya jadi pendukung pemimpin zalim lagi dusta, apalagi menyulitkan umat Islam.
https://www.nahimunkar.org/membela-kepemimpinan-sekuler-dan-semacamnya-dengan-hadits/?

 (nahimunkar.org)

***

Hadits-Hadits tentang Bahaya dan Tercelanya Bid’ah


Posted on 23 Agustus 2015

by Nahimunkar.com


Banyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bid’ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang dalil-dalil syar’i. Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bid’ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti- wanti umat Beliau agar tidak terjerumus pada bid’ah.
Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri.
HADITS I
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

HADITS II
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

HADITS III
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan

«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

 (yang artinya):
Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
Dalam riwayat An Nasa’i :

«مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar- benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, Shahiih, lihat dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

HADITS IV
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676, ia berkata : “hadits ini hasan shahih”)

HADITS V
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

«إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Shahiih, lihat dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

HADITS VI
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

” أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ “

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu yang mereka ada-adakan (bid’ah) sepeninggalmu’ ” (HR. Bukhari no. 6576, 7049).
Dalam riwayat lain dikatakan :

” إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي “

“Wahai Rabb, sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku’ “(HR. Bukhari no. 7050).

Setelah menukil berbagai pendapat para ulama mengenai siapakah yang dimaksud dengan orang yang terhalang untuk minum dari telaga Rasul shallallahu’alaihi wasallam, Imam an-Nawawy menutup keterangannya dengan menukil perkataan Imam Ibn Abdil Bar :

“Setiap orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama, mereka termasuk golongan yang terusir dari telaga. Semisal orang-orang Khawarij, Syi’ah, dan segenap ahlul bid’ah. Begitu pula orang- orang zalim yang melampaui batas dalam ketidak adilan dan mengaburkan kebenaran, serta para pelaku dosa besar yang terang-terangan melakukannya di hadapan umum. Mereka semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang dimaksud hadits ini. Wallahu a’lam” [Musnad Ahmad]

Al’Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau juga berkata :
“Hadits-hadits yang menjelaskan orang- orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang- orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang- orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada- ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)

HADITS VII
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” إِنَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا “، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ؟ قَالَ: ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللهَ “. قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya”. Ibnu Mas’ud lalu bertanya : ‘Apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka ?’. Nabi bersabda : ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah’ “. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Shahiih, lihat dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)

HADITS VIII
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا تُرْضِي اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا»: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

“Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata : “Hadits ini hasan”)

HADITS IX
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: كَيْفَ؟ قَالَ: «يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ»، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ»

“Wahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan ?
Nabi bersabda : ‘ Ya ‘.
‘ Apakah setelah itu akan datang kebaikan ? ‘
Nabi bersabda : ‘ Ya ‘.
‘Apakah setelah itu akan datang kejelekan ?’
Nabi bersabda : ‘ Ya ‘.
Aku bertanya : ‘Apa itu ?’.
Nabi bersabda : ‘Akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusia’.
Aku bertanya : ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka ?’
Nabi bersabda : ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taat’ ” (HR. Muslim no.1847)

Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebid’ahan.

HADITS X
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«أَوَّلُ مَنْ يُغَيِّرُ سُنَّتِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ»

“Orang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awa’il, no.61. Shahiih, lihat dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)
Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah- ubah ini adalah kebid’ahan.

HADITS XI

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: «أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri- istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama- lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya : “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan kebid’ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk ibadah yang bid’ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bid’ah. Oleh karena itu Nabi bersabda :

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”.
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bid’ah, namun apa yang kita nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.
Wallahu’alam. Hanya Allaah yang memberi petunjuk.

Via Cinta Tauhid Benci Syirik

Diberi teks hadits oleh nahimunkar.com

https://www.nahimunkar.org/hadits-hadits-tentang-bahaya-dan-tercelanya-bidah/

***

Bertentangan hebat, tetapi demi kepentingan duniawi kadang bisa searah sejalan

Dua kelompok yang dibahas itu tampaknya saling bertolak belakang, tapi anehnya, dari satu sisi seakan satu jalur dalam hal bersikap terhadap kepemimpinan sekuler dan semacamnya.

Sekadar perbandingan, ada sikap yang memalukan, dan perlu jadi pelajaran, berikut ini.

Mari kita tengok ke belakang, pada tahun 2005 gerombolan liberal Ulil cs sangat mengecam MUI yang memfatwakan haramnya sepiis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberaisme agama). MUI saat itu juga memfatwakan murtadnya aliran sesat Ahmadiyah. Gerombolan liberal Ulil cs mencak2 marah2 dahsyat sambil membela aliran sesat Ahmadiyah, mereka bersuara lantang menghujat MUI, bahkan dikatakan MUI goblok segala.

Aneh sekali. Lha kelompok liberal Ulil cs itu sendiri sejatinya adalah dikafirkan oleh aliran sesat Ahmadiyah. Sebaliknya, kelompok liberal ya seharusnya mengecam Ahmadiyah, karena menganggap selain golongannya (Ahmadiyah) itu kafir. Tetapi anehnya, gerombolan liberal itu justru mengecam MUI atas nama membela Ahmadiyah. Jadi sesama sesat dan saling menghujat sebenarnya, namun mereka bisa bersama-sama atau seiring sejalan dalam suatu kepentingan duniawi mereka.

Yang seperti itu hendaknya jadi pelajaran pula bagi kita semua. Apakah sejatinya kita ini mengejar akherat atau sekadar mengejar dunia yang sering disebut hina dan hanya sementara belaka ini, namun berkedok Islami. Mari kita merenung kembali. Ini bukan lantaran ingin menyerang siapa2, tetapi sekadar mengemukakan apa yang diharapkan berguna, insyaAllah.

(nahimunkar.org)


 


 

(Dibaca 317 kali, 1 untuk hari ini)