Foto Jokowi Doakan Mendiang Istri Yasonna Laoly, Habib Noval Assegaf: Haram Doa untuk Mayat Non Muslim


Presiden Joko Widodo (Jokpwi) ikut melayat istri Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Elisye W. Ketaren yang meninggal dunia pada Kamis (10/6/2021).

 

Foto layatan Jokowi terhadap mendiang, ikut diunggah oleh akun media sosial resmi milik Sekretariat Kabinet, @setkabgoid.

 

Dalam keterangannya, Presiden Jokowi melayat bersamaan dengan mantan Ketua DPD RI, Oeman Sapta Odang di Rumah Sakit Gatot Subroto.

 

“Kabar duka datang dari Menkumham Yasonna Laoly. Sang istri, Elisye W. Ketaren, meninggal dunia Kamis (10/06/2021). Presiden @jokowi melayat ke Rumah Duka Sentosa, di RSPAD Gatot Subroto, bersamaan dengan mantan Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang,” demikian tulis akun Twitter Sekretariat Kabinet.

 

Hanya saja, salah satu foto jadi sorotan. Foto tersebut terlihat Jokowi mengangkat kedua tangannya setinggi dada dan seolah berdoa di depan jenazah Istri sang Menteri.

 

Foto tersebut jadi perdebatan. Kemudian dikaitkan dengan ajaran Islam tentang larangan berdoa keada non muslim. Salah satu netizen menanyakan foto itu kepada tokoh Nahdatul Ulama (NU) Habib Noval Assegaf.

 

“Bukankah tidak boleh muslim mendoakan jenazah non muslim. Apakah ini dibenarkan pak de @NovalAssegaf,” kata pemilik akun twitter @akhdanZiyad.

 

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Habib Noval Assegaf bahwa haram berdoa kepada non muslim.

 

“Takziah ke non muslim boleh selama tidak pada atau ada ritual agamanya,” katanya.

 

“Mengenai mendoakan pada non muslim meninggal Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Adapun menyalati dan mendoakan mayit kafir, agar diampuni dosanya, hukumnya HARAM berdasarkan ketentuan Alqur’an dan Ijma,” sambung Habib Noval.

 

“Jika mau mendoakan ya doakan agar keluarganya yang masih hidup dapat hidayah masuk Islam ,” katanya.

 

Sebelumnya, Kemenkumham mengabarkan bahwa istri Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly yaitu Elisye W Ketaren meninggal dunia.

 

Kepala Bagian Humas Kemenkumham, Tubagus Erif Faturrahman mengemukakan Elisye W Kataren sempat dirawat inap selama beberapa hari di RS Medistra Gatot Subroto. (fin). 

Takziah ke non muslim boleh selama tdk pada atau ada ritual agamanya. Mengenai mendoakan pada non muslim meninggal Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Adapun menyalati dan mendoakan mayit kafir, agar diampuni dosanya, hukumnya HARAM berdasarkan ketentuan Alqur’an dan Ijma” https://t.co/W30DCLoIqB

— noval assegaf (@NovalAssegaf) June 11, 2021

Jika mau mendoakan ya doakan agar keluarganya yang masih hidup dapat hidayah masuk Islam .

— noval assegaf (@NovalAssegaf) June 11, 2021

[PORTAL-ISLAM .ID] Sabtu, 12 Juni 2021 BERITA NASIONAL

***

Itu perbuatan kleru bahkan haram serta mencontohi perbuatan haram, bisa jadi dosa jariyah, dosa yang terus mengalir kepada pemberi contoh selama masih ditiru orang. Staf ahli agamanya boleh jadi akan dimintai pertanggung jawabannya pula.

***

 

Haram Mendoakan Mayat Kafir

Posted on 16 November 2015

by Nahimunkar.org

 

Haram mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahwa hal ini diharamkan:

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nash Alqur’an dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع

Ibnu Taimiyah -rohimahulloh- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Alqur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113)

/ konsultasisyariah.com

 (nahimunkar.org)

***

Bila perbuatan tersebut terhitung sebagai mencontohi perbuatan haram, maka akan mendapatkan dosa terus menerus selama masih ditiru orang.

Silakan simak ini.

***

Dosa yang Terus Mengalir


Posted on 25 Oktober 2016

by Nahimunkar.org

Assalamualaikum,  dosa apa yg trus mengalir meski qt sudah meninggal??

Dari: Devi Suherna

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita sering mendengar istilah sedekah jariyah. Itulah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Kita akan tetap terus mendapatkan kucuran pahala, selama harta yang kita sedekahkan masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk melakukan ketaatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).

Sebagai orang beriman, yang sadar akan pentingnya bekal amal di hari kiamat, tentu kita sangat berharap bisa mendapatkan amal semacam ini. Di saat kita sudah pensiun beramal, namun Allah tetap memberikan kucuran pahala karena amal kita di masa silam.

Dosa Jariyah

Disamping ada pahala jariyah, dalam Islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Betapa menyedihkannya nasib orang ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa dan dosa. Anda bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini.

Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, Islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.

Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.

Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Sumber Dosa Jariyah

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Pertama, mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam Islam , maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Anda bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain rok mini, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak ngajak khalayak untuk memakai rok mini, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.

Tak jauh beda dengan mereka yang memasang video parno atau cerita seronok di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.

Termasuk juga para wanita yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lelaki yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak para lelaki untuk memandanginya.

Kedua, mengajak melakukan kesesatan dan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)

Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Anda bisa perhatikan para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah tauhid dan sunah, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.

Sepanjang masih ada manusia yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan dan penghasung pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amal jariyah dan menjauhkan kita dari dosa jariyah. Amin…

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: konsultasisyariah.com/ Oct 17, 2014

(nahimunkar.org)

***

Di antara contoh kemusyrikan yang dicontohkan orang seperti ini. Boleh jadi ini merupakan contoh dosa jariyah.

***

Yang Satu Ruwatan dengan Sesajen, yang Satunya Sujud di Kubur


Posted on 13 Agustus 2018

by Nahimunkar.org


Ilustrasi (Kiri) Ruwatan dengan sesajen/ foto rmol. (Kanan) Sujud di kubur Blitar./ foto fb


Beredar postingan itu di salah satu fp.

Lalu ada yang bertanya:

Abi Menunggumu: Terus kudu piye tadz?

Dijawab:

 Mereka harus bertobat benar2. karena jadi contoh akibat tersebarnya berita ke mana2, maka mrk harus memberi klarifikasi, bertaubat dari perbuatannya, dan menyatakan kepada umum bahwa itu salah besar. pihak2 yang dekat dg mereka ini dan mampu menasihatinya maka wajib menasihati. bila masih tetap seperti semula itu, maka Allah jelas tidak ridho kepada kekafiran/ kemusyrikan. Sedang Umat Islam tidak boleh meridhoi apa yang Allah tidak ridhoi.

Abi Menunggumu Maksudnya terus kudu milih yg mana? Adanya ya 2 itu

Dijawab:

 Kita bilang dulu, kalau mereka ga’ ngumumin pertobatannya dari perbuatan syirik itu, karena para penasihat mereka tidak menasihati benar2, maka kami tidak mau memilih. karena takut kepada Allah ta’ala yang sangat benci kepada kesyirikan.

***

Contoh Perbuatan Kemusyrikan: Ruwatan dan Nyembah Kubur


Posted on 11 Mei 2018 – by Nahimunkar.org

 
 

Ilustrasi Foto/ rmol

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan KemusyrikanPemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala’. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.org)

Ustadz, beliau ini kan pernah memimpin ruwatan mobil esemka..ruwatan itu syirik asghar atau syirik akbar ustadz?/ Karyono.

Jawaban: Ruwatan itu dimaksudkan untuk membuang sukerto (sial) disertai sesaji/ sesajen. Kalau sesajennya ada sembelihannya (ayam dan sebagainya) dan itu memang untuk selain Allah, serta minta dihilangkannya sukerto (sial) itu kepada yang disajeni (selain Allah), maka jelas syirik akbar. wallahu a’lam.

Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar selamat dari kesialan dengan upacara ruwatan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian,termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106).

{ إنك إذاً من الظالمين } : أي إنك إذا دعوتها من المشركين الظالمين لأنفسهم .

“…maka sesungguhnya kamu, dengan demikian,termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” Artinya sesungguhnya kamu apabila mendoa kepada selain-Nya adalah termasuk orang-orang musyrik yang mendhalimi kepada diri-diri mereka sendiri. [أيسر التفاسير للجزائري – (ج 2 / ص 153)]

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(107)

“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia- Nya…”( Yunus: 107).

Kesimpulan: 1.Ruwatan Mendatangkan Dosa Terbesar. 2.Ruwatan itu kepercayaan non Islam berlandaskan cerita wayang. Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak Batoro Guru/ raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk jelmaan dari sperma Batoro Guru yang berceceran di laut, setelah gagal bersenggama dengan permaisurinya, BatariUma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan.

Upacara ruwatan itu bermacam-macam:
ada yang dengan mengubur sekujur tubuh selain kepala,
atau menyembunyikan anak/ orang yang diruwat,
ada yang dimandikan dengan air kembang dan sebagainya.
Biasanya ruwatan itu disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa.

Itulah kepercayaan kemusyrikan/ menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selainNya yang berlandaskan cerita wayang penuh takhayyul, khurofat, dan tathoyyur (menganggap sesuatu sebagai alamat sial dsb).

***

Sujud kepada Selain Allah

 

Ilustrasi Ketum Partai politik yang bersujud di depan makam Bung Karno di Blitar Jawa Timur, Jum’at (4/5/2018)/ foto ist

السجود : وضع الجبهة على الارض على وجه التعظيم، هذا لا يكون الا لله. لا يجوز ان يسجد لاحد، فان سجد لغير الله فهو مشرك

Sujud adalah meletakkan kening di atas tanah dalam rangka pengagungan,  maka sujud tdk boleh di lakukan kecuali kpd Allah. tdk boleh seseorang sujud kpd orang lain, maka barangsiapa yg sujud kpd selain Allah maka dia Musyrik.

(Syaikh Sholih Al-Fauzan : Syarah Al-Jaami’ Li’ibaadatillahi Wahdah. hal: 172 cet: Daarul Ma’tsuur)

via fb Abdillah

***

Hukum Meminta Berkah kepada Kuburan

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Apa Hukumnya meminta berkah kepada kuburan dan mengelilinginya untuk tujuan meminta hajat atau mendekatkan diri. Bagaimana hukumnya bersumpah kepada selain Allah?

Jawaban: Meminta berkah kepada kuburan hukumnya haram dan termasuk syirik, karena orang yang melakukan tindakan itu telah menganggap sesuatu yang tidak diberi kekuatan oleh Allah mempunyai pengaruh, dan meminta berkah semacam itu bukan termasuk kebiasaan para salafus shalih. Bila dilihat dari sudut pandang ini, maka meminta berkah kepada kuburan bisa disebut bid’ah. Jika orang yang meminta berkah itu yakin bahwa penghuni kubur itu mempunyai pengaruh atau kekuatan untuk menolak bahaya atau memberikan manfaat, berarti dia telah berbuat syirik besar, apalagi jika ia berdoa kepadanya untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudharat. Begitu pula termasuk syirik besar jika seseorang menyembah penghuni kubur dengan ruku’, sujud atau menyembelih untuknya dan mengagungkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ} [المؤمنون: 117]

“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mukminun: 117).

Kemudian Allah juga berfirman,

{فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا } [الكهف: 110]

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110).

Orang yang melakukan syirik besar adalah kafir yang abadi di dalam neraka dan diharamkan baginya masuk surga, karena Allah berfirman,

{… إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ } [المائدة: 72]

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)./ alislamu.com

(Dirangkum oleh Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.org)

 

 

 


 

(Dibaca 154 kali, 1 untuk hari ini)