KONFRONTASI – Ratusan elemen masyarakat yang mengatasnamakan Front Wong Cilik mendatangi kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016). Mereka meminta agar PDIP tidak mengusung calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Berdasarkan pantauan, ratusan masa Front Wong datang sekitar pukul 12.50WIB dengan berbagai spanduk penolakan dan kesenian Betawi seperti ondel-ondel, delman, musik tanjidor, serta atraksi palang pintu. Akibatnya lalu lintas di Jalan Diponegoro tersendat.

Selain itu, mereka terus berteriak tolak Ahok dan meminta agar Ketua Umum Megawati Soekarnoputri membela warga wong cilik. Bahkan, mereka mengancam akan menarik dukungannya terhadap Presiden Joko Widodo.

“Kami disini adalah pemilih Gubernur dahulu, Pak Jokowi. Ahok saat ini tidak meneruskan program Jokowi. Kami digusur seenaknya, janjinya bukan digusur tapi ditata,” kata Eli perwakilan Front Wong Cilik dari jaringan rakyat miskin kota di depan Gedung DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).

Eli menjelaskan, pemberian rusun terhadap korban gusuran tidak mencakup seluruh warga. Ironisnya, pemberian rusun membuat warga korban penggusuran bertambah miskin. Bahkan anak-anak yang tinggal di rusunawa dinilai menjadi bodoh. Sebab, kata dia, mata pencharian warga penggusuran tidak difasilitasi. Termasuk dengan pendidikan anak-anak.

Tukang Gusur

Juru bicara Front Wong Cilik, Deni Riyanto menuturkan Front Wong Cilik Bersatu merupakan gabungan dari sejumlah organisasi dan forum warga di Jakarta. Seperti Forum Warga Lenteng Agung, Forum Warga Rawa Bebek, Forum Warga Penjaringan, Forum Warga Kelapa Gading, Forum Warga Cawang dan lain-lain.

Menurut Deni, Ahok adalah tukang gusur yang tidak mau bermusyawarah dengan warga. Menurutnya, Ahok sangat mencederai nawacita sebagaimana program Jokowi.

“Sebelumnya, aksi sudah dilakukan masing-masing kelompok warga. Kami hingga saat ini kelompok-kelompok yang ada masih berkoordinasi untuk menyaring masyarakat mana saja yang satu suara dengan mereka,” ujarnya.

Berselang dua jam berunjuk rasa, akhirnya Ketua DPP PDI-P bidang Keagamaan dan Kepercayaan kepada Tuhan YME, Hamka Haq menemui massa aksi di depan Gedung DPP PDIP. Seperti jawaban-jawaban perwakilan DPP PDIP sebelumnya, Hamka Haq mengatakan, hingga saat ini partainya belum memutuskan cagub dan cawagub yang akan diusung pada Pilkada DKI 2017.

Hamka menyatakan akan menyampaikan aspirasi dari para massa aksi ke Ketua Umum Megawati. Dia mengimbau agar massa aksi yang menyebut adalah pemilih PDIP untuk menjalankan aksi unjuk rasa dengan damai.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Ahok meminta agar para saingannya tak lagi mengunakan massa untuk mendorong supaya dirinya tidak ikut dalam Pilkada DKI 2017.

Mantan Bupati Belitung Timur itu menyebutkan masa yang menolak dirinya itu mayoritas datang dari Tangerang, Bogor dan Bekasi. Seperti yang terjadi setiap Minggu pagi di Bundaran HI. Parahnya, kata dia, Hizbut Tahir seorang tokoh yang ingin membangun khilafah anti Barat tiba-tiba pro demokrasi dan menyatakan tolak Ahok.

“Udahlah baguslah gabung aja semua gitu lah. Takut amat Ahok jadi Gubernur gitu lho. Suka ga suka Ahok sampe Oktober  2017,” ujarnya.

Aksi Tolak Ahok

Aksi penolakan terhadap Ahok terus berlangsung. Kesatuan mahasiswa, buruh, profesional muda, dan warga Jakarta yang tergabung dalam “Indonesia Bergerak”, Kamis (8/9/2016) di Bundaran HI akan melakukan aksi damai dengan tema #TOLAhokK AHOK. (Juft/HT)

Sumber : konfrontasi.com – Kamis, 8 Sep 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.428 kali, 1 untuk hari ini)