KIBLAT.NET, Jakarta – Penggerebekan yang berujung pada penembakan hingga merenggut nyawa aktivis Islam, Nurdin, di rumah orang tuanya di Dusun Kala Timur, Desa O’o, Kabupaten Dompu, Sabtu lalu (20/09) mendapat perhatian serius dari Forum Umat Islam (FUI) Dompu. FUI mengemukakan sejumlah kejanggalan atas tindakan Densus 88 itu.
Kepada kiblat.net, Ustadz Taqiyudin selaku Sekjend FUI Dompu mengajukan tiga pertanyaan menanggapi tindakan brutal Densus tersebut. Beliau mempertanyakan tentang hukum yang membenarkan menembak orang yang beribadah.
“Pertama, hukum dan aturan mana yang membenarkan atau membolehkan menembak orang yang sedang shalat atau beribadah. Itu pertanyaan dari saya!” tegas Taqiyudin bertanya-tanya dalam sambungan telepon, Ahad (21/09).
Yang kedua, lanjutnya, kenapa penembakan hanya kepada akhi Nurdin yang sedang shalat, sedangkan terduga teroris lainnya di Bima bisa ditangkap hidup-hidup?
Yang ketiga, akhi Nurdin ini dituduhkan oleh mabes Polri melakukan perlawanan. Mana mungkin dia bisa melawan, padahal dia sedang shalat di kamar yang cukup sempit. Rumahnya itu merupakan rumah sederhana yang ukuran kurang lebih 5 m x 7 m. Kamar-kamarnya pun kecil, luasnya kurang dari 2 m x 2,5 m.

“Logika hukum apa yang membenarkan orang ditembak dalam keadaan salat. Saya kira agama apapun, bukan hanya islam, agama apapun tidak membenarkan itu. Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beragama,” tandas Ustadz Taqiyudin.

Melihat sejumlah keganjilan ini, Taqiyudin khawatir hal itu digunakan untuk mengalihkan isu dengan mengorbankan seorang aktivis Islam. Saat ini warga sedang hangat membicarakan penolakan pembangunan Pure Hindu terbesar di NTB.
“Jangan-jangan ini pengalihan opini masyarakat Dompu yang saat ini sedang hangat membicarakan Pure,” pangkasnya.
Reporter: Imam S
Editor: Hunef/ kiblat.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 388 kali, 1 untuk hari ini)