Sebuah Vihara di Tanjung Balai Sumatera Utara terbakar oleh amukan massa yang dipicu pelarangan adzan


Tanjung Balai (SI Online) – Ketua Forum Umat Islam (FUI) Tanjung Balai, Sumatera Utara Ustaz Indra Syah mengatakan, seharusnya yang dijadikan tersangka dalam peristiwa kerusuhan adalah warga etnis Cina bernama Meliana (41) yang memicu konflik dengan melakukan protes terhadap suara adzan.

“Seharusnya dia yang dihukum karena telah melecehkan syiar agama dan melanggar toleransi beragama,” ujar Indra saat dihubungi Suara Islam Online, Senin (1/8/2016).

Menurutnya, Meliana telah melanggar UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

“Jadi kita minta keadilan hukum, karena seharusnya si pemicu konflik yang dihukum tetapi hanya dijadikan saksi saja,” jelas Indra.

Dia jelas telah melecehkan adzan sebagai syiar ajaran agama dan tidak bertoleransi terhadap agama lain. “Akibat sikap arogan itulah akhirnya memicu kemarahan warga sehingga terjadilah kerusuhan,” tandasnya.

Seperti diketahui, sikap intoleran Meliana tersebut menyebabkan warga marah. Dan kemarahan itu meluas melalui media sosial sehingga menimbulkan terjadinya kerusuhan di Tanjung Balai. Dalam kerusuhan itu, polisi telah menahan 12 orang warga yang dituding sebagai pelaku pengrusakan dan pembakaran Vihara.

red: adhila/suara-islam.com/Selasa, 02/08/2016 

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 747 kali, 1 untuk hari ini)