Senin 1 Safar 1436 / 24 November 2014 18:00

PELANTIKAN kontroversial Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta menimbulkan gelombang protes yang tak berkesudahan. Baru ini, Forum Ulama Muda Jakarta mengkategorikan Ahok sebagai pemimpin yang zhalim kepada umat Islam.

Dalam rilisnya, FUMJ menjelaskan perbedaan pemimpin yang adil dan zhalim. Pemimpin yang adil adalah mereka yang takut kepada Allah dan menerapkan syariat-Nya di muka bumi. Karenanya, dia selalu berusaha menjadikan rakyatnya mengikuti syariat Allah, menjaga agama mereka, dan menunaikan hak-hak rakyatnya dengan baik.

Sebaliknya, pemimpin yang tidak adil (zhalim) adalah mereka yang tidak takut kepada Allah dan menelantarkan syariat-Nya. Berbuat dalam kepemimpinannya yang mendatangkan murka Allah, melarang rakyatnya menerapkan syariat-Nya, dan bahkan berbuat sesuatu yang membahayakan agama mereka. Maka pemimpin seperti ini tidak akan pernah termasuk dalam tujuh golongan yang akan diberikan naungan oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dicintai dan dimuliakan oleh-Nya.

“Maka kita berlindung kepada Allah dari kejahatan pemimpin seperti ini. Kita memohon kepada-Nya agar tidak dipimpin oleh orang-orang semacam itu. Karena, kepemimpinan mereka akan membahayakan agama kita, kita dipaksa dengan kasar atau lembut untuk mengingkari ajaran Rabb semesta Alam. Kemaksiatan dia biarkan, sedangkan amar ma’ruf nahi munkar tidak ditunaikan. Bahkan, berani melecehkan syariat dan memperolok-olok Allah SWT (lihat Petisi Ulama Muda Jakarta https://www.change.org/p/basuki-tjahaja-purnama-taushiyah-kepada-kaum-muslimin) Wal ‘iyadzu billah!” seru koordinator FUMJ, Fahmi salim dalam rilisnya yang diterima Islampos, Senin (24/11).

Bahaya Pemimpin Zhalim

Lebih lanjut dia mengingatkan bahwa pemimpin yang durhaka kepada Rabbnya dan bertindak zalim kepada rakyatnya menjadi sebab dihancurannya suatu negeri.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’: 16)

“Karenanya kita berlindung kepada Allah dari memiliki pemimpin yang durhaka kepada Allah, menelantarkan syariat-Nya dan tidak mengasihi rakyatnya,” ajaknya.

Pesan ini disampaikan FUMJ khususnya kepada umat Islam di DKI Jakarta dan wilayah Indonesia pada umumnya.

“Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan ekses-ekses negatif yang ditimbulkan oleh pemimpin yang zhalim di dunia dan akhirat kelak,” tutupnya. [andi/islampos]


Kemendagri Nyatakan FPI Terlarang di Jakarta

Ahad 30 Muharram 1436 / 23 November 2014 13:47

AKHIRNYA Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan bahwa Front Pembela Islam (FPI) sebagai sebuah organisasi masyarakat terlarang di Jakarta. Dinyatakannya FPI sebagai organisasi illegal karena ormas pimpinan Habib Riziq Shihab ini karena FPI tidak terdaftar dalam administrasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.

“Dari koordinasi kami dengan DKI memang FPI belum terdaftar,” ujar Direktur Ketahanan Seni Budaya, Agama dan Kemasyarakatan, Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kemendagri Budi Prasetyo di Jakarta, Rabu (8/10/2014), seperti dilansir yahoonews.

Budi mengatakan dinyatakannya FPI sebagai organisasi illegal dapat berdampak pada pemberian sanksi terhadap segala sesuatu yang dilakukan kelompok tersebut. Sanksi tersebut diberikan oleh Pemprov DKI.

Pun demikian, Budi menyatakan FPI secara nasional merupakan organisasi legal. “FPI pusat sudah terdaftar di Kemendagri,” ujarnya.
 [sa/Islampos/yahoonews]


Ancaman Keras bagi Pemimpin Zalim atau Khianat

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

 “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak meliputinya dengan nasihat, kecuali tidak mendapat bau surga.” (HR BUKHARI – 6617)

وَأَخْرَجَ مُسْلِمٌ { مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَجْتَهِدُ مَعَهُمْ وَلَا يَنْصَحُ لَهُمْ إلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ } وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَزَادَ : كَنُصْحِهِ لِنَفْسِهِ .

Dan Imam Muslim telah mengeluarkan hadits: Tidaklah seorang amir yang memimpin urusan Muslimin yang ia tidak bersungguh-sungguh beserta mereka, dan tidak menasihati kepada mereka kecuali ia tidak masuk surga bersama mereka. (HR Muslim). Dan riwayat Thabrani menambah;  seperti nasehatnya kepada dirinya sendiri.

مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

شرح المشكاة للطيبي الكاشف عن حقائق السنن (8/ 2570)

فإذا خان فيما ائتمن عليه فلم ينصح فيما قلده إما بتضييع حقهم وما يلزمه من أمور دينهم ودنياهم أو غير ذلك، فقد غشهم

Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka.

فيض الباري على صحيح البخاري (6/ 480)

وهذا حديث في الأئمة يحدِّرُهم أنهم لا يَشمُّون رائحةَ الجنَّة إِن ظَلَمُوا رعيتَهم، فافهم.

Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakytanya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 421 kali, 1 untuk hari ini)