SOLO (Voa-Islam) Menurut Ustadz Drs. Abu Deedat Syihab, MA ada dua kesibukan yang semakin memberatkan kerja-kerja MUI yaitu pemurtadan dan penyesatan Ummat. Secara khusus, Ustadz Abu Deedat menyebut bahwa kegiatan penyesatan dengan lahirnya banyak aliran sesat dalam tubuh kaum muslimin sangat terkait dengan program Yahudi (Freemasonry, red.)

Gerakan Yahudi Internasional (Freemasonry) memiliki program yang disebut Takkim, yakni program penghancuran agama-agama untuk menaklukan dunia. Caranya adalah dengan membuat aliran-airan sesat didalam tubuh ummat beragama. Dengan realita sudah munculnya ‘negara’ Israel maka semua program Freemasonry ini menjadi kenyataan yang membumi di seluruh negri-negri muslim. (Ahmad Deedat Sihab, 2014, hal. 2)

Dalam terminologi dakwah, terkait pemurtadan karena yang gencar melakukannya adalah kaum Kristiani dengan proyek penginjilannya maka sering disebut Tabsyiriyah, sedangkan penyesatan yang merupakan produk cabang dari gerakan Yahudi dan Nasrani dalam menghancurkan Islam adalah strategi Syetan yang disebut dengan Tadhliil.

Karena itu MUI Pusat, menurut ust. Abu Deedat telah membentuk satu komite yang menangani perkara-perkara spesifik semisal gerakan-gerakan sesat. Komite ini dinamakan Komite Dakwah Khusus (KDK) MUI. Karena memang harus ada juga strategi khusus dan juga penanganan khusus terhadap maraknya berbagai aliran- sesat di tanah air ini.

Dalam paparan Ust. Abu Deedat, gerakan Al Qiyadah Al Islamiyah melahirkan Ahlul Kitab dan Rasul Palsu. Mossadeq menganggap kerasulan palsunya didukung oleh ‘Waroqoh bin Naufal’ palsu yang bernama Robert P. Walean (RPW). Dimana setelah tirakat di Gunung Bunder, Pamijahan, Bogor pada tanggal 23 Juli 2006, Mossadeq mengumumkan kerasulannya dihadapan 54 pengikutnya.

Robert P Walean adalah pendeta Kristen Advent Hari Ketujuh yang menjadi pimpinan Last Events Duty Institute Koja, Jakarta Utara. Pria asal Manado ini pernah membawa ajaran ‘Islam Hanif”, yang banyak dinilai sebagai gabungkan Kristen-Islam.

Ummat Islam mesti menyadari, bahwa kaum Kristiani dalam menjalankan aksi pemurtadannya sudah berani memakai idiom-idiom dan symbol-simbol yang diindetikkan dengan Islam. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan Robert P. Walean yang mendirikan Islam Hanif. Di Jakarta Utara ada Yayasan Aulia, ada juga Yayasan Jalan Al Rahmah, Yayasan Nurkalimatullah, Yayasan Amal Sholeh dan lain-lain.

Adapun yang dilakukan Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) pimpinan Mossadeq ini jauh lebih parah. Mossadeq yang pernah menjadi pimpinan NII KW IX yang jelas kesesatannya ini juga menyerap ajaran Islam Hanif produk Robert P. Walean. Buku-buku yang menjadi sumber ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah alias Gafatar jelas menunjukkan hal demikian. Misalnya buku yang berjudul Al Masih Al Maw’ud dan Rohul Kudus yang dengan sangat gamblang memuat ide-ide Islam Hanif-nya Robert P. Walean.

Dengan begitu, sebagaimana Ahmadiyah, GAFATAR membawa missi penghancuran ganda terhadap kaum muslimin. Menghancurkan ajaran Islam dengan mencampur-adukkan Islam, Kristen dan aliran menyimpang serta memurtadkan ummat Islam yang tertipu dengan ‘kebaikan-kebaikan’ kegiatan sosial yang mereka lakukan. Disamping kebodohan yang merata, kondisi kesenjangan yang amat lebar antara si kaya dan si miskin juga menjadi salah satu sebab maraknya penerimaan masyarakat yang sedang linglung kepada gerakan sesat semisal Gafatar ini.

Reaksi Ummat Islam

Sebenarnya, ummat Islam sudah menolak deklarasi dan keberadaan GAFATAR ini, seperti penolakan di Solo pernah terjadi. Pada 2 tahun silam, deklarasi daerah Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Jawa Tengah (Jateng) yang sedianya digelar di Kota Solo, Minggu (29/4/2012), batal.

Bahkan tiga tempat yang digadang-gadang menjadi tempat deklarasi organisasi masyarakat (Ormas) itu tidak mendapat izin. Yaitu di Pendhapi Gede Balaikota Surakarta tidak diizinkan Pemkot. Kemudian dipindah di Lorin Hotel & Resort namun juga tidak mendapat izin dari pihak keamanan Kabupaten Karanganyar. Terakhir, saat persiapan di GOR Sritex Arena pun terpaksa diminta dihentikan oleh pihak kepolisian daerah setempat.

Bahkan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Pemkot Solo, Suharso, waktu itu mengungungkapkan bahwa sejumlah organisasi massa (Ormas) di Solo bereaksi atas keberadaan Gafatar. Menurut Suharso, sweeping bahkan dilakukan sejumlah Ormas saat menjelang deklarasi berlangsung.

Sikap Laskar Ummat Islam dan Ormas Kepemudaan di Solo

Menurut apa yang disampaikan Ustadz Endro Sudarsono, SPd.I selaku Humas dan Jubir Laskar Ummat Islam Surakarta, penolakan terhadap Gafatar pada tahun 2012 bahkan bukan hanya digerakkan oleh ummat Islam. Ormas Pemuda Pancasila malah datang dan berada di depan ikut membubarkan acara deklarasi Gafatar di Surakarta.

Ustadz Endro menghimbau agar pihak pemerintah dalam hal ini Pemkot tetap mengawasi dan melarang setiap kegiatan yang diadakan oleh Gafatar. Karena jika dibiarkan, maka khawatir akan menimbulkan ketegangan bahkan bukan tidak mungkin benturan antar masyarakat.

Beliau juga mengajak komponen Islam semisal organisasi laskar-laskar di kota Solo ini untuk lebih meningkatkan sensitifitasnya terhadap berbagai issu nasional dan tidak membatasi garapan pada sebagian penyakit masyarakat. Munculnya aliran sesat semisal Gafatar yang memakai kedok gerakan sosial dan budaya juga harus mendapat perhatian dan respon yang memadai dari para Laskar Islam.

Di negeri yang berideologi ‘gamang’ ini memang menjadikannya sebagai tempat yang subur bagi tumbuh berkembangnya aliran-aliran sesat yang terang-terangan menistakan Islam. Nah, apakah rezim baru nanti juga akan memberi ruang, tempat dan momen bagi massifnya penghancuran Islam dan kaum Muslimin? Tunggu saja…. (AF/Voa Islam.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.015 kali, 1 untuk hari ini)