Gara-gara Corona, Mereka Akhirnya “Meniru Tata Cara Islam”



Merebaknya wabah virus corona jenis COVID-19 telah mengubah perilaku berkomunikasi di seluruh dunia. Perubahan perilaku berkaitan dengan kekhawatiran penularan virus mematikan ini.

Kini, mereka tidak mau jabat tangan, tolak setiap kecupan pipi dan hindari memeluk, seperti kebiasaan sebelumnya kepada lawan jenis. Sebagai gantinya, cukup dengan isyarat tangan. 

Itulah yang terjadi dalam video saat pertemuan pemimpin-pemimpin dunia yang terekam dalam siaran TV.

“Maha benar Islam dgn segala aturannya. Mereka tak lagi salaman apalagi cipika cipiki. #CoronaVirus membuat mereka meniru cara muslim tanpa mereka sadari,” komen @pakaipeci.

[Video]
https://twitter.com/i/status/1234684627228323840

 

Maha benar islam dgn segala aturannya.
Mereka tak lagi salaman apalagi cipika cipiki. #CoronaVirus membuat mereka meniru cara muslim tanpa mereka sadari pic.twitter.com/HIQ0eOjVVo

— follow ig & fb = @pakaipeci (@pakaipeci) March 3, 2020

 

[portal-islam.id]   Rabu, 04 Maret 2020  Berita Internasional

***

Sebaliknya yang pemimpin ormas Islam atau pemimpin di negeri maoritas Muslim malah seperti berikut ini.

***

Memalukan! Ketum PBNU Ngambek, tapi Malah Salaman dengan Wanita yang Diambeki yang Hukumnya Haram dalam Islam

  • Adapun hukum berjabat tangan dengan selain mahram adalah haram, dalilnya sangat jelas

Inilah berita dan fotonya.

***

Akhirnya Menkeu Sri Mulyani Sowan ke PBNU, Netizen: Cair Nih… Batal Ngambek
?



Setelah disentil keras beberapa waktu lalu… akhirnya Menteri Keuangan Sri Mulyani sowan ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Rabu (22/1/2020).

Sri Mulyani yang tampak berkerudung diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Momen foto pertemuan ini diunggah akun resmi twitter PBNU.

“Kunjungan Menkeu RI Sri Mulyani Indrawati  ke gedung PBNU. Atas saran & masukan dari PBNU, Menkeu bersepakat untuk memperbaiki & menyempurnakan skema Program Kredit Ultra Mikro kepada masyarakat tidak mampu dengan bunga serendah-rendahnya sebagai afirmasi kepada rakyat kecil,” tulis akun twitter @nahdlatululama, Rabu (22/1/2020).

Kunjungan Menkeu RI Sri Mulyani Indrawati ke gedung PBNU.
Atas saran & masukan dari PBNU, Menkeu bersepakat untuk memperbaiki & menyemputnakan skema Program Kredit Ultra Mikro kepada masyarakat tidak mampu dengan bunga serendah-rendahnya sebagai afirmasi kepada rakyat kecil. pic.twitter.com/uHKX4YNZ9d

— Nahdlatul Ulama (@nahdlatululama) January 22, 2020


Kunjungan Sri Mulyani ke PBNU ini mendapat beragam respon dari warganet.

“Cairrr bos,” ujar @arifsuryo_83.

“Udah yah jangan ngoceh” lagii.. udah cairr kann ?,” sentil @basoe_mercon.

“Batal ngambek ni ye???,” timpal @Waffen___SS.

“Akhirnya kritis dan lantangnya ketum PBNU didengar……..kita lihat hbs ini masih kritis dan lantang atau tidak,” ujar @18syaban1400.

Sebagaimana diketahui, beberapa lalu sempat heboh viral video Ketum PBNU Said Aqil menagih janji Sri Mulyani kucuran kredit Rp 1,5 Triliun yang dijanjikan sebelum Pilpres.. tapi usai pilpres sepeserpun belum terlaksana!

Cairrr bos

— arif suryo priyatmojo (@arifsuryo_83) January 22, 2020

Udah yah jangan ngoceh” lagii.. udah cairr kann ?

— Keponakannya wiranto (@basoe_mercon) January 22, 2020

Batal ngambek ni ye???

ᵉⁱⁿʳⁱᶜʰ ᵘⁱᵗᵖᵒˡᵈ ℋℐℳℳℒℰℛ (@Waffen___SS) January 22, 2020

Cairrrr dong, hahahaa bakalan lembek lagi deh kritikan2nya ke Pemerintah nih, hahahaa

— PARTAI HARIMAU JAYA (@PARTAI_HARIMAU) January 22, 2020

[portal-islam.idKamis, 23 Januari 2020  SOSIAL MEDIA

***

Hukum Berjabat Tangan dengan Selain Mahram


by nahimunkar.com, Mar 22nd, 2014


Ilustrasi.Tokoh ini berjabatan tangan, sedangkan secara Islam hukumnya haram
karena bukan mahram. Itu bukan ibu kandung, hanya ibu dalam kepartaian. Jadi bukan mahram, yang di Indonesia orang salah sebut, mahram disebut muhrim. /nm

Penulis: Ustadz Abul Fadhl Shobaruddin

Adapun hukum berjabat tangan dengan selain mahram adalah haram, dalilnya sangat jelas, antara lain :

  1. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallammenegaskan :

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبَهُ مِنَ الزَّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زَنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذَنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zananya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan“.

Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim (16/316) menjelaskan : Hadits ini menerangkan bahwa haramnya memegang dan menyentuh selain mahram karena hal itu adalah pengantar untuk melakukan zina kemaluan”.

  1. Hadits Ma’qil bin Yasar radhyiallahu ‘anhu:

لَأَنْ يُطْعَنُ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya“. (HSR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226)

Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram adalah dosa besar (Nashihati lin-Nisa hal.123).

Berkata Asy-Syinqithy (Adwa` Al-Bayan 6/603) : “Tidak ada keraguan bahwa fitnah yang ditimbulkan akibat menyentuh/berjabat tangan dengan selain mahram lebih besar dan lebih kuat dibanding fitnah memandang”.

Berkata Abu ‘Abbas Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Al-Makky Al-Haitamy (Az-Zawajir 2/4) bahwa : “dalam hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh dan berjabat tangan dengan selain mahram adalah termasuk dosa besar”.

  1. Hadits Amimah bintu Raqiqoh radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘alahi wasallambersabda :

إِنِّيْ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita“. (HSR. Malik no. 1775, Ahmad 6/357, Ishaq Ibnu Rahaway dalam Musnadnya 4/90, ‘Abdurrozzaq no. 9826, Ath-Thoyalisy no. 1621, Ibnu Majah no. 2874, An-Nasa`i 7/149, Ad-Daraquthny 4/146-147, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 4553, Al-Baihaqy 8/148, Ath-Thobary dalam Tafsirnya 28/79, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad wal Matsany no. 3340-3341, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thobaqot 8/5-6, Ath-Thobarany 24/no. 470,472,473 dan Al-Khollal dalam As-Sunnah no. 45. Dan dihasankan oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bary 12/204, dan dishohihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 529 dan Syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fii Ash-Shohihain.

Dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Asma` binti Yazid diriwayatkan oleh Ahmad 6/454,479, Ishaq Ibnu Rahawaih 4/182-183, Ath-Thobarany 24/no. 417,456,459 dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 12/244. Dan di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Syahr bin Hausyab dan ia lemah dari sisi hafalannya namun bagus dipakai sebagai pendukung.)

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 12/243 : “Dalam perkataan beliau “aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita” ada dalil tentang tidak bolehnya seorang lelaki bersentuhan dengan perempuan yang tidak halal baginya (bukan mahramnya-pent.) dan menyentuh tangannya dan berjabat tangan dengannya”.

  1. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhadalam riwayat Bukhary-Muslim, beliau berkata :

وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ قَطٌّ فِي الْمُبَايَعَةِ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ

Demi Allah tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah menyentuh tangan wanita dalam berbai’at, beliau hanya membai’at mereka dengan ucapan“.

Berkata Imam An-Nawawy (Syarh Muslim 13/16) : “Dalam hadits ini menjelaskan bahwa bai’at wanita dengan ucapan, bukan dengan menyentuh tangan”.

Berkata Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 4/60) : “Hadits ini sebagai dalil bahwa bai’at wanita dengan ucapan tanpa dengan menyentuh tangan”.

Jadi bai’at terhadap wanita dilakukan dengan ucapan tidak dengan menyentuh tangan. Adapun asal dalam berbai’at adalah dengan cara menyentuh tangan sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam membai’at para shahabatnya dengan cara menyentuh tangannya. Hal ini menunjukkan haramnya menyentuh/berjabat tangan kepada selain mahram dalam berbai’at, apalagi bila hal itu dilakukan bukan dengan alasan bai’at tentu dosanya lebih besar lagi.

Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=AnNisa&article=89&page_order=4

July 6th, 2009 http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/akhlak-adab/hukum-berjabat-tangan-dengan-selain-mahram/

(nahimunkar.com)

https://www.nahimunkar.org/jabat-tangan-lawan-jenis-non-mahram-hari-raya-dosanya-tiada-terkira-2/

 

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 3.236 kali, 1 untuk hari ini)