Salam oplosan lintas agama (salam Islam -Assalmu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh-, lalu disertai salam-salam agama2 lain) itu sangat gawat bagi umat Islam.

Gawat apanya?

Gawat dalam hal bisa menghancurkan aqidah (keimanan) Islam. Padahal kalau aqidahnya hancur, maka semua amal tidak diterima oleh Allah Ta’ala, akibatnya ketika mati masuk kubur dalam keadaan tidak membawa iman lagi. Termasuk orang-orang yang sangat rugi, bila iman Islamnya sudah hancur alias hilang.

Kenapa?

Karena salam Islam itu mengandung makna Tauhid, Allah Ta’ala, Tuhan yang Esa, itu inti dari keimanan dalam Islam, yaitu Laa ilaaha illallaah
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
artinya: Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah. Sedangkan salam agama2 lain itu mengandung makna ketuhanan yang berseberangan dengan Tauhid itu. Maka bila seorang Muslim mengucapkan salam agama2 lain berakibat rusaknya iman Islam secara prinsipil (karena menyangkut inti keimanan). Maka wajib dihindari. Dan itu sudah diingatkan oleh MUI Jawa Timur. (lihat MUI Jawa Timur Imbau Pejabat Muslim Tidak Ucapkan Salam Lintas Agama )

 

Untuk mengetahui duduk soalnya secara jelas, silakan simak penelusuran yang cukup bermanfaat berikut ini, ditulis oleh Ketua Dewan Dakwah, DR Adian Husaini.

***

Seorang Muslim Harus Tahu Arti Namo Buddhaya 


Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

 

Mungkin akhir-akhir ini kita sering menyaksikan banyak pejabat yang mengucapkan salam lintas agama.  Salah satu ucapan salam yang popular adalah “Namo Buddhaya”. Apa sebenarnya arti ucapan tersebut? 

Jika kita telaah, ternyata, namo Buddhaya, bukan merupakan salam dalam agama Buddha, tetapi artinya adalah : “Terpujilah Buddha!” 

Dalam sebuah situs online agama Budha ditulis: “Namo Buddhaya” bukanlah salam, tetapi ungkapan penghormatan seseorang kepada Buddha. Artinya adalah Terpujilah Buddha (yang telah merealisasi pencerahan Agung). Ungkapan ini amat umumnya diucapkan sebelum membabarkan Dhamma atau tulisan Dhamma. 

Di Indonesia, umat Buddha sering mengucapkannya sebagai salam Buddhis. Jadi sungguh sangat salah kaprah dan keluar dari makna sesungguhnya. Saya pun seringkali memulai tulisan kepada teman Buddhist, dengan kata “Namo Buddhaya”, tapi bukan sebagai salam, melainkan sebagai ungkapan penghormatan kepada Buddha, dan diharapkan menginspirasikan kualitas Buddha kepada teman yang saya tulisi.” (http://buddhistonline.com/sejarah/sejarah2.shtml).

Jadi, menurut pemeluk Budha, ungkapan ‘namo buddhaya’ adalah satu bentuk pujian kepada Tuhan-nya orang Budha. Dalam bahasa Arab, “Terpujilah Buddha”  itu sama dengan: “Alhamdu lil-Buddha!” 

Siapakah Buddha menurut orang Buddha? Dalam sebuah buku berjudul “Kumpulan Ceramah Bhikkhu Uttamo Thera (Buku 5), Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-Hari”, dijelaskan mengapa para dewa tidak mau turun dari sorga dan menemui manusia: 

“Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu sebenarnya baru sekejap saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak berminat mendekati manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah terganggu dengan bau manusia.” (hal. 21). 

Siapakah nama Tuhan orang Buddha? Dalam sebuah buku berjudul “Be Buddhist Be Happy”, ditulis: “Seorang umat Buddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sebutan: “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam”, yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa  di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. (Jo Priastana, Be Buddhist Be Happy, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005), hlm.  28-29). 

Itulah konsepsi Tuhan orang Buddha. Orang Muslim punya konsep Tuhan sendiri. Orang muslim sudah bersaksi, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah”.  Bolehkah seorang muslim, mengganti ungkapan Alhamdulillah, dengan Alhamdu lil-Buddha atau Alhamdu lil-Yesus atau Alhamdu lil-Krishna??? 

***

Dalam ajaran Islam, Tuhan Yang Maha Esa sudah mengenalkan diri-Nya, melalui wahyu-Nya yang diturunkan kepada Nabi terakhir (saw):

{إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي} [طه: 14]

“Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.” (QS Thaha: 14).

Jadi, orang Muslim tidak boleh menyebut nama Tuhan, selain dengan nama yang telah dikenalkan oleh Tuhan itu sendiri. Tentu tidak benar jika ada orang muslim berdoa, meminta sesuatu kepada Sang Buddha. Sebab, nama Tuhan dalam Islam sudah ditentukan melalui wahyu, bukan melalui konsensus atau budaya. 

Itulah makna Islam sebagai agama wahyu yang murni (Islam is the only genuine revealed religion), sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Nama Tuhan tentulah sangat penting. Sangat tidak masuk akal jika manusia menolak menyebut nama Tuhan yang sebenarnya, sebagaimana telah dikenalkan dalam al-Quran. 

Karena terkait dengan aspek keimanan, maka para ulama pun mengimbau agar salam lintas agama itu tidak dilakukan oleh seorang muslim. MUI Jawa Timur secara terbuka telah mengimbau agar umat Islam jangan mengucapkan salam ‘berbagai agama’. Itulah tugas ulama. Sebagai pewaris Nabi, maka ulama harus menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang baik. 

Jika ada yang menolak imbauan MUI dalam soal ucapan salam ini, maka itu merupakan tanggung jawabnya sendiri. Ulama sudah melaksanakan tugasnya. Jika ada orang Islam sendiri yang mengecam imbauan MUI, maka biarlah dia yang menanggung akibatnya. 

Setiap muslim tentu paham, bahwa dalam soal ucapan salam, orang muslim pun mengikuti contoh Nabi Muhammad saw.  Bagi seorang muslim, mengucapkan salam termasuk ibadah. Islam punya salam yang khas Islam: “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”  Redaksinya pun diajarkan oleh Nabi saw. 

Memang sepatutnya, dalam soal ‘salam keagamaan’, para pejabat kita sebaiknya mengikuti tuntutan ulama. Tuhan yang Maha Esa itu sudah punya nama dan nama-Nya pun sudah disebutkan dalam al-Quran. Jangan sampai kita mengharapkan terjadinya kerukunan antar manusia, tetapi tidak mendapatkan ridha dari Allah SWT. 

Kita berharap, bahwa kita hidup bahagia, rukun, dan damai di dunia, tetapi juga mendapatkan keridhaan Allah SWT, sehingga kita selamat dunia-akhirat. Lebih rugi dan merana, jika di dunia pun tidak rukun dan bahagia, di akhirat nanti mendapat murka dan siksa Allah Ta’ala. Ini benar-benar cilaka. Na’udzu billahi min dzalika.

Jumat, 11 Juni 2021 – 21:12 WIB | www.harianterbit.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 169 kali, 1 untuk hari ini)