“Jagalah diri kalian dari neraka walau dengan sepotek korma.” [H.R. Bukhary dan Muslim]

Seorang sahabat Nabi pernah bertanya, “(Karakter) Islam apa yang terbaik?” Lalu Nabi menjawab salah satunya adalah memberi makan. Memberi makan ternyata memang salah satu amalan penting untuk menjaga stabilitas sosial, selain stabilitas perut tentunya. Tak peduli bahkan tetangga mau kaya atau miskin, selama itu disebut ‘sedekah’, maka itu berpahala. Bahkan, kalau kita menggodok sayur lalu aromanya berlari ke hidung para tetangga, merupakan akhlak Islam: bagi-bagi ke mereka.

Memberi makan juga termasuk persoalan dan cerminan hati. Ia adalah akhlak mulia. Ia adalah perbuatan ihsan. Disebut persoalan hati, karena kata Nabi: “Saling menghadiahkanlah kalian, maka kalian akan saling mencintai satu sama lain.” Kalau mau menjalin hubungan sosial yang enak dengan tetangga, teman, rekan kerja dan lainnya, maka memberi makanan bisa menjadi salah satu solusi bagus. Orang-orang sekarang rata-rata lebih suka diberi makanan daripada disuapi ilmu. Saking melencengnya pemikiran kaum Muslimin sekarang yang lebih dekat pada sisi materialisme (kebendaan) dan syahwat perut, dibandingkan sisi religiusitas dan keislaman.

Makanya, untuk banyak kampung, kita akan sangat kesulitan mengajak siapapun untuk ikutan ngaji, baik itu pematerinya kita sendiri atau orang lain. Harus ada langkah-langkah ‘akhlaq’ dahulu agar hati mereka bisa kita tawan. Memberi hadiah adalah salah satu solusi, sekali lagi. Lebih bagus lagi, kalau sudah bisa mengunjungi rumah-rumah sambil bawa bingkisan. Ini semua diinginkan oleh Allah sebagai ujian dan penambahan pahala. Sebenarnya sangat mudah bagi Allah, tanpa bingkisan, hati-hati mereka diberi hidayah untuk ikut kajian. Tapi Allah lebih menyukai kita kedapetan pahala sekian banyak. Tidak ingin cara simple dan instan buat kita; supaya kita terdidik sabar, ikhlas, tekun dan jujur. Kalau dikasih instan terus, kita akan mudah marah saat kesepian, hilang keikhlasannya, mudah patah dan suka berbohong. Alhamdulillah. Allah memang Maha Lembut.

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi mengabarkan bahwa sebaik-baik kita adalah yang memberi makan. Tapi ya tentu harus ikhlas lho memberi makannya. Menginginkan ridha Allah, dan juga menghendaki adanya keeratan jalinan sosial (ukhuwwah) fi sabilillah. Ya ujung-ujungnya semuanya harus dikembalikan atau dikaitkan dengan Allah Ta’ala. Tidak sekadar ingin dapat ‘makasih’ atau reward balik. Coba perhatikan firman Allah:

{وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا * إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا * فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورً}

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” [Q.S. Al-Insan: 8-11]

Syuf, lihat pula, ada satu point yang sering dilalaikan kita membaca ayat di atas. Yaitu: bahwa sedekah makanan rupanya bisa menjadi penyebab Rabb kita memelihara diri kita dari adzab hari Akhir, bahkan memberikan kita kejernihan wajah dan kegembiraan hati nanti. Gegara berbuat ihsan dengan memberi makan!

Makanya, Rasulullah bersabda:

«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»

Jagalah diri kalian dari neraka walau dengan sepotek korma.” [H.R. Bukhary dan Muslim]

Maka dari ini, saya mengajak teman-teman semua para pembaca yang dirahmati Allah: yuk, hari ini memberi makan pada orang yang membutuhkan. Semoga Allah lindungi kita dari keburukan neraka. Aamiin.

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.918 kali, 1 untuk hari ini)